Back To Bali

Back To Bali
Episode 12



Cepat aku mencegat taksi yang sedang meluncur di jalan raya. Tak kuasa lagi aku membendung air mataku. Hatiku begitu sakit, serasa ada sembilu yang menyayat. Aku tak habis pikir kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini. Masih untung memang, karena tak sampai terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan. Tetapi, kenapa aku mesti mengalami kepedihan seperti ini? Adakah ini isyarat bahwa aku pernah berbuat kesalahan di masa lalu dalam hidupku ini, atau bahkan dalam kehidupanku terdahulu sebelum aku lahir sebagai Luh?


"Sudahlah, kamu sudah berada di rumah sekarang dan tak kurang suatu apa pun," kata Reni bijak setelah kuceritakan apa yang barusan kualami. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya.


"Seharusnya tak kuabaikan kata-katamu," kataku sambil terisak menyesali diri.


"Kamu telah mengambil tindakan yang benar. Tak perlu cari alasan untuk menyalahkan diri."


Pengalaman buruk itu ternyata melekat terus dalam memoriku. Inikah yang dinamakan trauma? Kadang-kadang aku merasa takut tanpa alasan kalau kejadian itu kebetulan melintas di benakku. Lebih dari itu aku seperti dihinggapi paranoia. Aku selalu menaruh rasa curiga pada setiap laki-laki yang mencoba akrab denganku. Sehingga aku cenderung menjauh, tak mau menjalin hubungan akrab dengan laki-laki mana pun.


Mungkin aku berlebihan dan pasti gampang mengundang tanda tanya. Dan itu kutahu dari sorot mata Ngurah Andika yang kebetulan bertemu denganku dalam penerbangan Denpasar-Jakarta. Sikap dingin yang kutunjukkan mungkin membuatnya tersinggung dan berkesimpulan aku tak mau lagi bersahabat dengannya. Boleh jadi ia menganggapku sombong karena sudah menjadi warga kota metropolitan dan punya gengsi.


Aku tak peduli. Yang kuinginkan hanya satu: aku tak mau ia mendekatiku lagi. Mungkin aneh kedengarannya. Tetapi bukankah aku punya hak untuk menentukan sikapku sendiri meskipun kelihatan tak wajar menurut takaran orang lain?


Suatu hari, ia tiba-tiba muncul di tempat kosku seperti seorang kurir jasa titipan kilat. Ia menjinjing sebuah paket sebesar kotak kardus monitor komputer ukuran 14 inci.


"Ini titipan dari Ibu," katanya seraya meletakkan paket itu di dekatku berdiri di depan pintu.


"Ibu saya?" aku terbelalak.


"Ya. Dari Ibu juga saya tahu alamat Luh di sini."


Kebangetan! Tak masuk akal. Ibu menitipkan barang lewat seseorang yang belum dikenalnya dengan baik? Ini pasti sebuah permainan. Sebuah sandiwara. Dan aku langsung curiga pada Reni. Pasti dia dalangnya. Sutradaranya. Kalau dia ada di rumah, aku pasti sudah melabraknya.


"Katanya Reni juga kos di sini," suara Ngurah membuatku tersentak dari lamunan.


"Oh, ya… benar," sahutku menggeragap.


"Silakan masuk. Tapi, Reni lagi terbang."


"Ke mana?"


"Banjarmasin. Apa dia tidak bilang kalau hari ini ia tidak di rumah?" pancingku.


Ngurah menggeleng. "Sudah lama kami tak saling bertukar berita."


Betulkah? Jadi, dugaanku meleset bahwa semua ini diatur Reni. Lalu siapa? Mungkinkah Ngurah sendiri yang punya inisiatif?


"Mau minum apa?" aku berbasa-basi setelah Ngurah duduk di ruang tamu.


"Dalam rangka apa Ngurah ke Jakarta?" aku mulai menyelidik.


"Tadinya saya mau langsung ke Makassar, tempat tugas saya. Tapi, karena masih ada yang perlu diurus sehubungan dengan penugasan saya sebagai pegawai tidak tetap, maka mau tak mau saya harus ke Jakarta dulu. Dan begitu teringat Luh dan Reni ada di kota ini, saya langsung ke rumah Luh, minta informasi sama Ibu."


Begitukah? Betapa keliru kalau aku bersikap tak bersahabat pada orang sebaik ini. Tak ada alasan bagiku untuk berbuat demikian, apalagi ia berasal dari satu daerah dan sudah kukenal sebelumnya. Urusan ia naksir aku dan aku tak menanggapi itu soal lain. Toh ia bukan Ruslan dan sedikit pun tak menunjukkan tanda-tanda kalau ia tipe laki-laki buaya seperti Ruslan. Namun, bagaimanapun aku harus selalu waspada. Aku tak mungkin tahu persis isi kepala dan hati orang.


Selang beberapa hari ia menelepon dari Makassar, hanya untuk menanyakan keadaanku dan kesan yang kuperoleh dari pekerjaan yang kujalani. Ini membuatku berpikir betapa seriusnya ia dengan keinginannya untuk mendekatiku. Hal ini semakin kuyakini ketika kemudian kuterima lagi teleponnya pada minggu berikutnya. Anehnya, setelah itu aku selalu berharap dapat menerima teleponnya lagi. Apakah ini pertanda hatiku telah mencair?


Ketika aku ada jadwal terbang ke kota yang terkenal dengan buah markisa yang sangat kusukai itu, ganti aku yang meneleponnya.


Ketahuan benar betapa antusias ia menerima teleponku, dan ia berjanji akan membawaku jalan-jalan kalau aku ada waktu. Ternyata ia tidak hanya membawaku berkeliling kota tetapi juga memberati koperku dengan sirup markisa.


Satu hal yang membuatku kagum adalah ketika ia membawaku mampir ke Puskesmas tempatnya bekerja sekaligus tinggal. Di ujung bangunan di sebelah mess tempat tinggalnya, ada sebuah ruangan yang disulap menjadi bengkel kerja seni. "Sekadar untuk menyalurkan hobi melukis saya," ia memberi alasan.


Sekadar hobi? Kukira tidak demikian. Meskipun apresiasiku terhadap seni lukis masih termasuk kategori taman-kanak-kanak, kiranya aku dapat membedakan mana kerja yang lahir dari kegiatan yang disebut hobi dan mana yang merupakan kreasi seni. Di ruangan itu ia membiarkanku melihat-lihat koleksi lukisannya yang berjumlah puluhan.


"Oh, belum. Belum waktunya saya kira," tanggapnya merendah ketika kutanya apakah ia sudah pernah memamerkan lukisannya.


Saat aku tenggelam ke dalam keasyikan mengamati lukisan demi lukisan, ia lantas menghampiriku dan menyodorkan sesuatu yang dibungkus dengan kertas kado. Melihat ukurannya kukira itu sebuah lukisan.


"Untuk Luh," katanya lembut sambil memandang lurus ke mataku.


Aku terpana, tak menyangka akan mendapat hadiah karena aku tidak sedang merayakan ulang tahun atau hari penting lainnya.


"Sekadar kenang-kenangan dari saya," lanjutnya. "Bukalah!"


Dengan hati yang sulit kugambarkan senangnya pelan-pelan kurobek pembungkusnya. Benar dugaanku kalau itu sebuah lukisan, tetapi aku tidak menyangka kalau itu lukisan potret diriku.


Aku heran bagaimana ia bisa menciptakannya padahal aku tak pernah memberikan sebuah foto pun padanya. Yang lebih mengherankan, ia melukis potret diriku dalam pakaian serba putih lengkap dengan kamboja kuning yang tersunting di rambutku.


"Terima kasih," kataku sambil tersenyum memandangnya. "Ini akan menjadi benda bersejarah dalam hidup saya. Ini potret diri pertama yang pernah saya miliki. Tapi, kenapa dalam pakaian seperti ini?"


"Saya sendiri tidak mengerti. Saya hanya menuangkan apa yang terlintas dalam benak ketika saya hendak melukis. Sama sekali bukan merupakan kesengajaan. Tapi, maaf kalau lukisannya tak seindah aslinya."


"Malah lebih bagus dari aslinya," kilahku.


Ia lalu menyediakan waktu untuk mengajakku bersantai di Pantai Losari yang indah, sebelum akhirnya membawaku jalan-jalan ke Taman Nasional Bantimurung, sebuah tempat wisata berudara sejuk di Sulawesi Selatan. Di sana terdapat berbagai jenis kupu-kupu, namun yang tak kalah menarik adalah air terjunnya yang lembut di mana para pelancong bisa bermain sambil berbasah-basah. Kelihatan sangat mengasyikkan tetapi waktuku tak cukup untuk ikut mencoba.