
Hari-hari indah mereka ukir bersama menyusul terwujudnya mimpi menjadi kenyataan. Cita-cita pribadi telah mereka lebur menjadi harapan masa depan bersama. Lalu tiba saatnya bagi mereka untuk membawa kedua orangtua Clara berkeliling ke tempat-tempat indah, termasuk mengunjungi Nari dan keluarganya.
Siang itu diwarnai oleh senyum dan tangis. Keduanya mengungkapkan kebahagian dan keharuan yang amat dalam. Clara dan Nari berangkulan di bawah tatapan takjub Wisnu. Keduanya tampak seperti saudara yang memendam perasaan rindu.
“Maaf, saya tak bisa hadir pada upacara pernikahan Kak Clara dan Kak Wisnu,” ucap Nari lirih.
“Tidak apa-apa. Sekarang saya ada di sini bersama suami dan kedua orangtua saya,” tanggap Clara. “Mereka sangat senang ketika saya ceritakan bahwa Nari sudah jadi guru.”
Nari lalu menyalami Wisnu dan kedua orangtua Clara yang juga adalah mantan orangtua asuhnya.
“Terima kasih, kami berutang budi pada kalian. Kami tidak mungkin bisa membalas kebaikan kalian.”
“Jangan bicara begitu, kita adalah keluarga,” kata Nicholas.
Kedua orangtua Nari tidak banyak bicara. Senyum adalah bahasa cinta mereka, yang selalu menghiasi bibir mereka saat beramah-tamah sambil menyuguhkan hasil ladang mereka berupa jagung bakar dan ketela rambat rebus ditemani teh manis.
“Kamu sangat cantik. Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Alyne pada Nari sambil tersenyum. “Saya harap kamu akan mendapatkan pasangan yang akan membuat hidupmu sempurna.”
Nari tersipu sambil menggelengkan kepala. “Saya belum memikirkan hal itu.”
Pertemuan keluarga antarbangsa itu begitu hangat. Sebelum berpisah, seperti yang pernah mereka lakukan pada masa lalu, Nicholas dan Alyne menyerahkan buah tangan pada Nari dan kedua orangtuanya berupa pakaian baru selain sembako. Para tetangga yang terdiri dari beberapa laki-laki, perempuan dan anak-anak tampak ikut bahagia menyaksikan dengan senyum mereka yang polos.
Setelah puas beramah-tamah dengan Nari dan keluarganya, Clara dan Wisnu lalu membawa Nicholas dan Alyne ke Tirta Gangga dan kemudian ke Taman Ujung.
Mereka tidak berlama-lama di kedua tempat itu. Mereka sepertinya tidak sabar untuk segera berada di Bali bagian selatan untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang sering diceritakan teman-teman mereka yang pernah berkunjung ke sana.
Sehabis menikmati masakan laut khas Jimbaran, siang itu mereka menyambangi Taman Budaya GWK di mana patung berukuran raksasa Garuda Wisnu Kencana berdiri. Tegak di atas bukit kapur, patung yang konon memiliki berat 3.000 ton itu tampak demikian megah dan menawan dengan warnanya yang kehijauan. Dengan ketinggian 276 meter di atas permukaan laut, karya seniman lokal Nyoman Nuarta itu disebut-sebut sebagai salah patung tertinggi di dunia.
Ada kebanggaan tersirat di mata Wisnu. Itu pasti merupakan pengejawantahan keterikatan perasaan karena ia dan pematungnya berasal dari daerah yang sama.
“Saya melihat Bali yang lain di sini,” Nicholas berkomentar setelah sempat melihat-lihat fasilitas di areal taman budaya itu.
“Perkawinan unsur tradisi dan teknologi modern yang mengagumkan,” timpal Alyne.
“Awalnya sempat menuai protes,” tanggap Wisnu.
“Kenapa?”
“Coba perhatikan, bentuk patungnya tidak sama dengan patung-patung lainnya di Bali, bukan?”
“Ya, beda dengan patung-patung yang ada di pura. Apanya yang salah? Ini patung profan, bukan?”
“Ada orang yang ingin patung ini dibuat sesuai dengan corak warisan leluhur.”
“Kenapa? Kalau terus-terusan meniru kapan generasi baru bisa menunjukkan ciptaannya sendiri? Ini karya yang sangat bagus. Kelak kalau pematungya sudah tidak ada, ia akan jadi salah satu warisan leluhur juga, bukan? Beragam bentuk karya pada setiap zaman mestinya diapresiasi secara layak, menurut saya.”
“Ini sebuah karya besar. Saya sebelumnya tidak tahu kalau di sini ada taman budaya semegah ini.”
Clara tidak menyangka kalau ayahnya yang apoteker bisa bicara demikan serius tentang produk budaya. Tentu ia sangat kagum dengan segala fasilitas yang melengkapi taman ini seperti plaza, theatre, tempat menyelengarakan acara dengan daya tampung empat ribu orang dan fasilitas lainnya.
Wajah mereka yang begitu ceria selama berada di Bali membuat Clara ikut senang.
Tentu mereka mengerti sekarang mengapa selama ini Clara doyan mondar-mandir ke Bali dan bahkan akhirnya memutuskan untuk menambatkan mimpinya di pulau budaya ini.
“Saya harap Ayah dan Ibu bisa tinggal lebih lama,” pintanya pada mereka.
“Mungkin lain kali,” jawab ibunya. “Kami tak mau mengganggumu terlalu lama.”
“Lagi pula ada tugas yang menanti,” ayahnya menyambung “Cepatlah punya momongan biar kami punya alasan untuk datang lagi.”
“Doakan saja.”
***
Sebagai bagian dari warga desa, Clara harus bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari sanak saudara suami, tetangga, sampai warga banjar dan desa. Awalnya ia merasa kagok. Sebagian wanita-wanita dusun yang lugu mula-mula menjauh ketika ia hadir di tengah mereka pada acara-acara tertentu seperti saat menengok keluarga yang punya bayi baru, misalnya. Acara ramah-tamah seperti ini dengan bawaan berupa beras, mie, telur dan sabun sekadarnya sudah jadi tradisi di desa mereka.
Karena Clara selalu berusaha menyejajarkan diri dengan mereka, lama-lama mereka juga mau ngobrol dengannya dan bahkan akhirnya ia diharapkan bisa hadir pada kegiatan-kegiatan yang melibatkan para wanita, seperti menyiapkan sesaji di pura menjelang upacara piodalan dan semacamnya. Apa yang pernah ia pelajari ketika tinggal di rumah Luh sangat membantu.
Hal yang sama kadang ia lakukan juga di rumah bersama ibu mertuanya. Tetapi yang rutin ia lakukan dan sangat ia sukai adalah memasak. Setelah selesai menyeruput kopi ditemani ubi rebus bersama suaminya pagi itu, ia bergegas ke dapur. Sementara ayah mertua dan istrinyanya sibuk bekerja di kebun, suaminya menenggelamkan diri dalam bacaan yang berkaitan dengan perencanaan usaha.
Semakin hari Clara semakin pandai memasak aneka sayur yang dihasilkan kebun sendiri seperti kubis, kapri, wortel dan lain-lain.
Karena kebetuan ia dan suaminya penyuka cap cay, menu itu sering terhidang di meja makan di samping menu lainnya. Ibu mertuanya sudah mengajarkan banyak resep masakan tradisional seperti ayam betutu, mujair nyatnyat, lawar dan tidak ketinggalan sambel matah.
Hari itu ibu mertuanya pulang lebih awal dari kebun. Dia membawa pucuk-pucuk tanaman dengan helai daun serupa bayam dalam keranjang bambu kecil. Ia menghampiri Clara yang sedang memasak di dapur.
“Clara tahu tanaman ini?” ia bertanya sebelum mencucinya di kran dapur.
Clara menggeleng. Tak sekali pun ia pernah melihat tanaman itu. “Apa itu?”
“Namanya jepen. Bahan sayur yang disukai banyak orang. Ini tanaman liar, Clara.”
“Cara masaknya?”
“Dibuat urap saja.”
Pucuk tanaman itu memang enak dibuat urap dan sangat bagus untuk merawat saluran kemih karena melancarkan buang air kecil. Terdapat banyak tanaman berkhasiat obat semacam itu di lingkungan mereka. Ada kelor, sidaguri, temulawak dan masih banyak yang lain. Kalau saja ia punya pengetahuan yang baik tentang herbal, ingin rasanya ia mengajak suaminya membudidayakan tanaman-tanaman itu secara khusus, karena belakangan ini semakin banyak orang menyukai metode pengobatan dengan herbal karena faktor keamanannya, minim efek samping. Ia sendiri telah diajari oleh ibu mertuanya cara menjaga sistem kekebalan tubuh dengan minuman yang terbuat dari campuran irisan kunyit, temulawak dan jahe yang direbus lalu dicampur madu.