
Clara senang mendapati kenyataan bahwa dirinya sehat dan normal. Lewat tiga bulan sejak upacara perkawinan berlangsung, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda ia berbadan dua. Ia mulai merasa mual. Awalnya Wisnu cemas melihatnya muntah-muntah, namun setelah tes kehamilan menunjukkan hasil positif, wajahnya menyemburatkan kebahagiaan luar biasa. Lebih dari kebahagiaan yang pernah ia tunjukkan sebelumnya, baik ketika mengetahui saham-saham perusahaan yang ia beli harganya naik berlipat ganda maupun ketika berhasil membeli villa yang ia inginkan.
Karena tuntutan memeriksakan diri lebih sering ke dokter kandungan seiring bertambahnya usia kehamilan Clara, mereka lalu memutuskan untuk tinggal di Denpasar, menempati rumah yang kebetulan baru habis masa sewanya dan belum ada calon penyewa baru yang berminat.
Clara biasa bangun pagi sebelum terang tanah. Ditemani Wisnu, pagi itu ia melintasi jalan di kompleks perumahan dengan berjalan kaki. Kegiatan itu sudah rutin mereka lakukan sekalian mampir ke pasar tradisional terdekat, membeli bahan lauk dan keperluan dapur lainnya. Dengan rutin berjalan kaki ia berharap tidak akan mengalami kesulitan saat melahirkan kelak. Biar tidak bosan, pada sore hari ia melakukannya di tempat yang berbeda. Kadang di lapangan Puputan Badung yang letaknya berdekatan dengan kantor wali kota.
Sore itu mereka pergi ke Taman Kota Lumintang. Terletak di pinggir kota bagian utara, taman yang cukup luas itu juga banyak sekali pengunjungnya. Barangkali karena posisinya di pinggir Jl. Gatot Subroto yang punya akses mudah ke mana-mana. Hanya saja, bila terlambat datang, mencari tempat parkir bisa menjadi kegiatan yang menjengkelkan. Rupanya Wisnu sudah mengantisipasi hal itu sehingga ia membawa Clara ke sana dengan sepeda motor.
Wisnu mengajaknya berjalan mengitari tepi taman mulai dari sisi sebelah timur. Sampai di pojok barat daya mereka berhenti sejenak.
“Tempat ini tadinya kantor bupati,” ujar Wisnu.
“Dipindah karena tidak memadai lagi?” tanggap Clara.
“Bukan. Terpaksa pindah karena kantor hancur diamuk massa.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Massa pendukung salah satu calon presiden mengamuk karena calonnya tidak terpilih dalam pemilu.”
“Konyol ya.”
“Sangat konyol. Mestinya di sini dibangun monumen untuk mengingatkan masyarakat bahwa di sini pernah terjadi peristiwa yang memalukan dan tentu saja tidak patut ditiru.”
“Sepertinya kamu masih menyimpan kemarahan.”
“Saya malu. Tidak sedikit teman saya di luar Bali mempertanyaan hal itu, seolah-olah Bali dihuni para preman yang suka mabuk, lupa diri, sampai milik sendiri pun dirusak.”
“Kerumunan memang mudah memicu kesadaran kolektif. Dan itu bisa sangat berbahaya bila ada provakator menyusup di dalamnya.”
“Kamu bicara seperti pakar.”
“He-he, sudahlah, kita tak perlu mengungkit masa lalu. Kamu membawa saya ke sini bukan untuk membahas soal itu, bukan?”
“Tentu tidak. Tapi ada baiknya. Kalau tidak ada kejadian itu, mungkin taman ini tidak pernah ada dan kita tidak akan ada di sini sekarang.”
“Ternyata kamu masih bisa bersyukur walaupun untuk satu hal kecil. ”
Mereka terus melangkah perlahan ke arah utara. Tidak sedikit mata yang memperhatikan mereka. Pasangan gado-gado memang tidak ada yang hadir di tempat itu selain mereka sore itu, sehingga merupakan pemandangan yang unik.
“Boleh saya tanya sesuatu?” Clara mengucapkan kalimat dengan pelan.
“Kenapa tidak?”
“Saya pernah dengar rumor, jika seorang istri belum kunjung melahirkan setelah melewati masa kehamilan sembilan bulan, orang-orang cenderung menganggap si istri lebih kuasa daripada suaminya. Untuk mengatasi hal itu, konon sang suami harus menginjak kepala istrinya. Apakah ada keyakinan semacam itu di desa kita?”
“Mungkin. Tapi bagi saya itu hanya mitos.”
“Seandainya itu terjadi pada saya, apakah kamu akan melakukan itu?”
“Saya akan minta dokter melakukan operasi.”
“Kalau saya ingin melahirkan secara normal?”
“Dengan mempertaruhkan nyawa?”
“Seandainya tindakan itu bisa menolong, apakah kamu tidak akan melakukannya?”
“Tidak, jika bukan kamu yang minta.”
“Kenapa?”
“Karena saya tak mungkin berbuat kurang ajar pada orang yang saya cintai.”
“Jangan khawatir, saya pun tak akan minta yang aneh-aneh pada orang yang saya cintai.”
Wisnu tersenyum memeluk pundak Clara. Dan mereka terus melangkah.
Tidak ada alasan bagi Wisnu untuk tidak menemani Clara ke mana saja dan kapan saja. Waktu sudah tidak mengikatnya lagi, begitu juga uang. Ia betul-betul pensiun dalam usia muda. Bila sekali waktu ia kehilangan suasana hati, ia akan menantang dirinya dengan kegiatan trading seperti yang sering ia lakukan dulu ketika mengikuti arahan mahasiswa Amerika itu. Tetapi kali ini ia melakukannya sendiri dengan berpatokan pada grafik pergerakan saham plus mempertimbangkan rekomendasi beberapa pakar yang ditampilkan pada aplikasi tempatnya membuka akun.
Sebenarnya Wisnu lebih menyukai investasi jangka panjang seperti Buffett, panutannya, namun untuk mengatasi kejenuhan ia juga mempraktekkan investasi jangka pendek untuk sebagian kecil saham yang ia tanamkan di belasan perusahaan potensial, dan dijamin tidak akan begitu berpengaruh pada arus kas seandainya mengalami kerugian. Tentu saja, karena apa pun yang ia lakukan sudah pasti diawali dengan mempertimbangkan risiko. Jika ia merasa tak mampu mengelola riskonya pasti tidak akan ia lakukan.
Wisnu juga sering keluar memantau beberapa gerai makanan cepat saji yang ia gagas sendiri: Ayam Bali Goreng yang disingkat ABG. Dan siang itu, ketika ia membersihkan meja yang barusan ditinggalkan pelanggan di gerainya di kawasan Renon, seorang laki-laki muda mendekat dan menyapanya.
“Bli Wisnu? Kok ikut repot, kan ada karyawan?”
Wisnu menoleh ke arah laki-laki yang menyapanya, lantas terseyum. “Ah mumpung lagi nganggur. Siapa ya?”
“Dengar dari siapa?” Wisnu menyambut uluran tangan Riko.
“Dari karyawan yang kerja di sini.”
“Sudah pernah ke sini sebelumnya?”
“Sudah tiga kali.”
“Sebentar ya, saya mau taruh ini dulu.” Wisnu menghilang ke belakang dan beberapa saat kemudian muncul lagi. Setelah menggeser posisi banner bertuliskan ABG Plus Lawar dengan foto yang demikian menarik ke tempat yang lebih enak dipandang, ia mengajak Riko duduk di pojok sementara pelanggan terus berdatangan.
“Apa kesan Riko mengenai gerai kami?” Wisnu melontarkan pertanyaan sebelum mengedarkan pandangan ke gerainya yang didominasi warna ungu. Ia sengaja memilih warna itu biar berbeda dengan warna gerai ayam goreng lain yang umumnya bernuansa merah.
“Unik dan enak,” jawab Riko. “Bagaimana ceritanya sampai Bli bisa menemukan ide ayam goreng plus lawar?”
“Ah, itu hanya terobosan kecil,” tanggap Wisnu. “Selama ini makanan siap saji kan identik dengan makanan minus serat dan sarat lemak jenuh. Saya ingin membalikkan itu menjadi makanan cepat saji sehat dengan memasukkan unsur sayur dalam paketnya. Selain itu ayamnya digoreng dengan minyak kelapa. Dijamin bebas bahan pengawet dan pewarna. Juga bebas MSG.”
“O, pantas gurihnya khas.”
“Ngomong-ngomong, Riko kerja di mana?”
“Di majalah kuliner,” Riko menunjukkan kartu pers yang menggelantung di lehernya.
“Oh, apa ada rencana menulis tentang Ayam Goreng kami?”
”Ya, Bli. Sebagian informasi sudah saya dapatkan dari manajernya. Karena kebetulan Bli ada di sini, saya ingin juga mendengar penjelasan Bli.”
“Manajer saya pasti sudah memberikan penjelasan lengkap. Tapi, apa ia ada menyingung paket baru yang akan segera kami luncurkan?”
“Kami baru bicara tentang paket ABG Plus Lawar yang laris manis itu.”
“Dalam waktu dekat kami akan perkenalkan paket ABG Plus Jukut Ares dan ABG Plus Jukut Paku.”
“Paket ABG Plus Jukut Paku? Bli yakin bisa menyediakan itu setiap hari? Sayur pakis sekarang kan sudah langka?”
“Siapa bilang? Saya punya stok berlimpah di kebun.”
“Di mana itu?”
“Di sekitar Bedugul.”
“Oh, ya, ya. Di sana kan udaranya sejuk. Pakis pasti gampang tumbuh.”
Seperti paket pertama, dua paket baru yang kemudian diperkenalkan Wisnu juga jadi menu favorit pelanggan. Tentu saja itu membuat hati Wisnu senang dan bangga. Gagasannya untuk mamadukan resep Barat dengan resep warisan leluhurnya tidaklah sia-sia.
Jika nanti usahanya telah berjalan lebih dari tiga tahun dan perkembangannya semakin baik, kelak akan ia daftarkan sebagai franchise, usaha berjejaring yang menghasilkan uang dari menjual lisensi seperti KFC dan McDonald’s. Dengan demikian akan bertambah lagi sumber penghasilan pasifnya.
Meski Clara membanggakannya sebagai salah seorang yang sukses meraih kebebasan finansial di usia muda, ia yakin tidak banyak yang mengenal Wisnu. Suaminya itu tipe orang rendah hati dan sangat menghindari publikasi pribadi. Bila ada media yang meliput usahanya, untuk urusan wawancara ia lebih suka menyerahkannya pada manajer yang dipercayainya. Ia lebih memilih berada di belakang layar.
Pernah Clara mengusulkan agar ia berbagi resep sukses pada sesama, tetapi ia tidak berminat.
“Belum waktunya, Clara,” tanggapnya. ”Masih banyak yang perlu saya pelajari. Saya tidak mau terjebak.”
“Terjebak bagaimana?”
“Keasyikan jadi pembicara. Bagi keluarga kami banyak bicara itu salah satu pantangan.”
“Saya belum pernah dengar tentang itu sebelumnya.”
“Sejak kecil saya sudah diwanti-wanti orangtua. Kata mereka, kita lahir dibekali dua telinga dan satu mulut. Karena itu kita mestinya lebih banyak mendengar daripada bicara.”
“Jika tujuannya untuk berbagi, saya kira tidak masalah.”
“Jika pengetahuan belum memadai, apanya yang mau dibagi?”
“Setidaknya kamu punya pengalaman yang ingin didengar orang.”
“Kamu ingin saya jadi pembicara publik?”
“Jangan tersinggung begitu.”
“Saya tidak tersinggung. Saya tak mau jual omongan.”
“Tapi bagaimana dengan sekolah vokasi yang memintamu ikut mengajar?”
“Itu lain. Saya tidak menolak sekalipun seandainya tidak dibayar.”