Back To Bali

Back To Bali
Episode 11



“Aku mau ke Denpasar, Luh," kata Reni lagi sambil menyudahi olesan lipstik pada bibirnya lantas mengerling ke arahku lewat cermin di depannya.


"Ada apa sih, kok sampai ngomong begitu berkali-kali?" sahutku agak ketus.


"Habis, nggak ada respons, sih?"


"Dari tadi aku bilang iya, iya. Mau respons apa lagi?"


"Barangkali saja mau nitip salam?"


"Memangnya kamu mau ketemu siapa?"


"Walaupun nggak ketemu, aku kan bisa nelpon."


"Kalau begitu aku nitip salam sama Kadek dan Ibu."


"Cuma mereka?"


"Habis siapa lagi? Cuma mereka yang kupunya."


"Mardawa?"


Aku mengeluh. "Tolong jangan sebut-sebut lagi dia. Biarkan dia jadi masa laluku."


Reni mendekat dan menatap mataku lekat-lekat.


"Tapi, semalam aku mimpi kamu berdamai dengannya. Kulihat ia jalan-jalan bersamamu, entah di mana."


"Apa peduliku sama mimpimu?"


"Hei, kamu belum tahu ya, mimpiku jarang meleset lho. Tapi, aku tak memaksamu untuk percaya. Lupakan aja. Aku berangkat dulu ya, daa…."


Kuperhatikan dia menyeret troli berisi koper kecil hitam ke luar sampai menghilang di balik pintu. Kata-katanya barusan tak urung mengusik pikiranku, membuatku jadi gelisah. Tiba-tiba aku ingat pada kejadian yang belum lama lewat.


Gara-gara kurang istirahat, mungkin penampilanku tidak begitu segar saat bertugas hari itu sehingga seorang penumpang menegurku. Ia seorang lelaki muda yang kebetulan duduk pada deretan kursi paling depan dan berhadap-hadapan dengan tempat duduk awak kabin di mana aku duduk pada saat pesawat akan mendarat.


"Lagi sakit ya, Sis?" tanyanya penuh perhatian.


Aku menggeleng. "Apa saya kelihatan seperti itu?" kubuat ucapanku demikian bersahabat buat mengimbangi keramahannya.


"Sepertinya Sis kurang tidur," ia membidikkan pandangnya lurus-lurus ke mataku, tetapi aku tidak merasa ia sedang berbuat yang tak senonoh padaku. Pandang matanya tajam tetapi tak terasa menikam, malah menebar keteduhan di hati.


Tak kuingkari kalau aku terpesona melihat tampangnya yang macho. Dagu kokoh tercukur rapi, hidung panjang di atas bibir yang murah senyum dan alis tebal menaungi kedua bola mata yang berwarna coklat.


Kami segera berkenalan dan berbincang semakin akrab. Manakala ia menyampaikan maksudnya untuk main ke tempatku, aku tak punya alasan untuk menolak. Begitulah, setelah pertemuan berikutnya kudapati diriku telah jatuh hati padanya.


Kutemukan kembali duniaku yang hilang. Waktu pun tak pernah ingkar akan kewajibannya, terus berjalan merekam peristiwa demi peristiwa. Sudah beberapa kali Ruslan datang bertandang pada saat Reni tidak ada di rumah. Maka dia tak urung kaget ketika pertemuan itu kuceritakan padanya.


"Aku turut senang kalau begitu," katanya dengan wajah berseri-seri. "Oke, juga orangnya," komentarnya ketika kuperlihatkan fotonya. "Ia kerja di mana?"


"Kapal."


"Pelaut maksudmu?" Reni tampak terhenyak.


"Betul. Kenapa? Kok kamu kelihatan tak senang?"


"Oh, tidak. Aku cuma.., em, maksudku, kamu tentu sudah tahu betul siapa dia, hingga kamu putuskan untuk memilih dia."


"Ren, sejak dulu kamu kuanggap sebagai saudara, kenapa kamu tak berterus-terang saja? Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu, kenapa mesti sungkan?"


Reni membisu sejenak sebelum menyahut, "Bagaimana tak sungkan kalau aku harus menginjak wilayah pribadimu."


"Ren, sejak kapan kamu lihat aku memagari diri terhadap teman seperti kamu?"


"Katakan saja apa yang mau kamu katakan."


Reni mendekat dan duduk di sampingku di sisi tempat tidur. Kurasakan betul betapa ia berkata-kata seperti seorang kakak bagiku. Dijelaskannya kepadaku dengan hati-hati apa yang dia ketahui tentang anak kapal pada umumnya.


"Aku tidak mengarang-ngarang, Luh. Aku tak punya alasan untuk menjelek-jelekkan orang. Sekarang terserah kamu. Kamu kan sudah dewasa. Tentu kamu bisa lihat dan nilai sendiri."


Kebimbangan kini menyergapku. Aku jadi teringat saat Mardawa melecehkan profesi pramugari. Apakah beda pramugari dengan pelaut? Keduanya lebih banyak menghirup udara di luar rumah, lama terpisah dari kehangatan keluarga, kekasih, suami atau istri. Ini memang bisa membuka peluang bagi hadirnya pihak ketiga dan timbulnya tindakan iseng buat mengisi kekosongan.


Tetapi pasti tidak semua pramugari begitu. Yang begitu paling satu dua orang. Prosentasenya pasti di bawah nol. Namun kenapa orang cenderung menggeneralisasi? Boleh jadi pelaut juga begitu. Mereka hanya jadi korban penilaian orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


***


Aku sudah berdandan rapi ketika Ruslan datang menjemput. Wajahnya cerah sekali. Kesediaanku menerima ajakannya untuk makan malam di luar barangkali yang jadi penyebabnya. Aku tahu ia sudah begitu lama menyimpan keinginan itu.


Kuperkenalkan ia pada Reni yang kebetulan ada di rumah sebelum akhirnya minta izin sama Tante Dewi. Reni melepasku dengan pesan agar aku hati-hati. Dari pandangan matanya aku tahu sepertinya dia sangat khawatir akan diriku. Ah, Reni, memangnya aku anak kecil?


"Ke mana kita?" kudengar suara Ruslan setelah mobil Vitara yang dikemudikannya meluncur di antara padatnya lalu lintas kota Jakarta.


"Ke mana ya? Saya kira Abang sudah menetapkan tempat yang akan kita tuju. Saya sendiri belum pernah ke luar rumah lebih dari lima ratus meter," kataku setengah bergurau.


"Kalau begitu, sekarang Luh akan saya bawa sejauh mungkin. Biar puas."


"Jangan, ah! Saya tak bisa pergi lama-lama."


"Tenang saja, ini kan malam Minggu. Malam panjang yang harus dinikmati oleh anak-anak muda seperti kita."


"Bagi saya tak ada istilah malam Minggu atau malam panjang. Besok saya harus kerja."


Ruslan diam. Kulihat wajahnya berubah muram. Kecewa tampaknya. Baru kali ini kulihat ia seperti itu.


"Kalau mau pergi agak lama, mestinya bilang sebelumnya," kataku lunak.


"Luh tak percaya pada saya?"


"Saya tak akan bersamamu saat ini kalau saya tak percaya."


"Saya ingin membuatmu senang, menikmati kebebasan sekali waktu."


Kini aku yang terdiam. Membuatku senang? Menikmati kebebasan? Apa maksudnya dengan semua itu? Belum lagi habis keherananku tiba-tiba mobil sudah berhenti di depan sebuah klab malam. Aku terhenyak seketika. Bayangan-bayangan buruk pun segera menyerbu benakku, membuatku jadi merinding.


Mungkin aku berlebihan dalam hal ini, namun setidaknya aku tahu klab malam bukanlah tempat yang baik buatku. Citranya telah terbentuk sedemikian rupa di kepalaku, sehingga aku tak dapat menyalahkan diriku jika aku merasa curiga seandainya Ruslan sampai membawaku masuk ke dalam sana.


"Bang, saya mau keluar denganmu untuk makan malam, bukan untuk yang lain," kataku dengan suara gemetar, tanpa bergeser dari tempat duduk.


"Kenapa Luh? Santai saja," sahutnya ringan.


"Tidak. Klab malam bukan tempat main saya."


Ruslan tergelak mendengar ucapanku, sampai aku kaget dibuatnya. Ya Tuhan, kenapa aku tak pernah melihat ia seperti ini sebelumnya? Seperti inikah sesungguhnya dia?


"Kamu pikir saya percaya?" celotehnya enteng. "Seorang pramugari tak suka klab malam? Nonsens itu! Kamu tak usah berlagak sok suci. Saya tak pernah mimpi untuk bertemu wanita seperti itu. Ayolah!"


Amarah mulai menggelegak dalam dadaku dan lantas membuih ke ubun-ubun. Orang yang semula kuimpikan bisa memberikan sesuatu yang indah dalam hidupku kini malah sangat mengecewakan. Aku ingin menangis, tetapi air mata yang hampir tumpah berusaha kebendung.


"Kamu keliru, Ruslan," kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu harus tahu kalau tak semua wanita bisa kamu jebak ke dalam perangkapmu. Dan dengar baik-baik, mulai saat ini saya tak sudi lagi ketemu kamu. Saya betul-betul muak dengan sikapmu!" Pintu mobil langsung kubuka dan lantas kubanting keras-keras.


"Tunggu, Luh," ia memburuku, "kamu salah paham."


"Tidak!" aku berbalik dan menudingnya dengan sengit. "Kamu tak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan seorang wanita. Saya benci kamu! Saya tak akan memaafkan kamu! Kalau kamu berani macam-macam, kamu akan berurusan dengan induk semang saya. Kamu tahu siapa dia!"