
Hari masih pagi ketika Wisnu menelepon. Clara baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membantu Luh di dapur.
“Kamu sedang apa?” tanya Clara setelah Wisnu mengatakan dirinya baik-baik saja.
“Mau berangkat kerja,” jawabnya santai.
“Kapan pulang?”
“Segera. Orangtuaku ingin mengenalmu.”
“Wah, pertanda bagus itu.”
“Kapan kamu ada waktu?”
“Itu bisa diatur.”
“Saya harap kamu tidak grogi nanti.”
“Saya siap melamarmu.”
“Memang sudah tahu cara melamar?”
“Saya akan pakai cara sendiri. Saya akan datang dengan pakaian adat Bali. Tidak perlu yang lengkap. Saya akan pakai pakaian adat Bali madya saja. Kamu setuju?”
“Kamu yakin? Saya sih setuju saja.”
“Ya, biar orangtuamu tahu saya orang Indonesia.”
“Orang Bali maksudmu?”
“Bali itu bagian dari Indonesia yang punya banyak hal yang patut dibanggakan, termasuk beragam adat dan budaya.”
“Saya tidak menyangka kamu mencintai negerimu sejauh itu.”
“Ha-ha, saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya tak perlu rendah diri dengan apa yang saya miliki.”
Itulah Wisnu. Clara sangat menyukai caranya membuat kejutan. Ia memang tipe laki-laki yang selalu percaya diri. Selalu optimistis menatap masa depan. Ketika Clara mengatakan mungkin ia akan membuka toko fesien atau bekerja di hotel atau resto di Bali setelah mereka menikah nanti, ia menanggapi dengan enteng.
“Bisa saja. Buka resto juga bagus. Tapi saya ingin kita kelak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.”
“Bagaimana dengan ijin tinggal saya?” Clara mengingatkan.
“Itu bisa kita atur nanti. Kamu bisa kerja di perusahaan milik saya.”
“Perusahaan apa?”
“Belum saatnya saya katakan. Yang jelas itu akan membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.”
“Kamu tidak perlu merahasiakannya, bukan?”
“Tidak. Ini bukan rahasia. Saya pikir saya akan mulai dengan investasi.”
“Investasi macam apa?”
“Rumah yang saya beli di Denpasar bisa jadi aset jika dikontrakkan, bukan? Itu salah satu contoh.”
“Wah, saya jadi ingin punya kos-kosan.”
“Bisa juga yang lain.”
“Misalnya?”
Wisnu mulai bercerita panjang lebar. Lagi-lagi Clara dikejutkan oleh hal yang tak pernah terlintas di kepalanya. Wisnu bilang, sejak mulai bekerja ia telah menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung. Setelah jumlahnya cukup banyak, ia mulai mengivestasikan uangnya di bursa efek. Secara bertahap ia beli saham-saham perusahaan potensial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
“Mulanya saya menggunakan jasa pialang, tapi setelah pengetahuan saya tentang bursa efek bertambah dan yakin tidak membutuhkan jasa pialang lagi, semuanya saya lakukan sendiri,” katanyanya.
Pertanyaannya: apa yang telah menggerakkannya ke arah itu? Belum berumah tangga dalam usia tiga puluh tiga tahun bagi laki-laki yang hidupnya berkecukupan, tidak bisa tidak mengundang tanda tanya. Clara berharap itu merupakan penundaan kesenangan demi sebuah keberhasilan.
“Saya ada rencana investasi di sektor pariwisata,” kata Wisnu lagi.
“Bukankah itu butuh modal besar?” tanggap Clara sangsi. Selintas terpikir olehnya jangan-jangan semua yang dikatakan Wisnu hanya bualan untuk membuatnya terkesan, agar ia tidak berubah pikiran setelah ia menyatakan kesediaan menjadi pendamping hidup Wisnu kelak. Tetapi melihat kondisi rumahnya di desa yang lebih mentereng daripada rumah para tetangga, kesangsiannya sepertinya tidak beralasan.
“Saya tidak akan membangun hotel,”
sambung Wisnu. “Saya akan mulai dari yang sederhana.”
Clara diam, mencoba meraba arah bicara Wisnu dengan pikirannya.
“Mau tahu apa yang akan saya lakukan?”
“Belum bisa saya bayangkan.”
“Saya akan beli unit villa atau kondotel yang dikelola manajemen kredibel, yang bisa menjamin kita mengantongi profit yang bagus.”
“Tapi saya tahu villa atau kondotel di Bali tidak ada yang murah.”
“Jangan khawatir, saham saya di Bursa Efek New York akan saya jual sebagian.”
“Kamu tidak pernah cerita tentang itu sebelumya.,” kesangsian muncul lagi di benak Clara.
“Maaf, baru sekarang saya sempat cerita. Saya sudah beli saham di situ sebelum mulai masuk bursa efek Indonesia.”
Wisnu bilang, ia termotivasi untuk berinvestasi sejak membaca buku mengenai strategi investasi seperti yang dilakukan investor dunia: Warren Buffett.
“Awalnya saya ragu. Orang seperti saya pasti tidak layak untuk itu. Namun, kegetolan saya berselancar di dunia maya akhirnya mengantarkan saya ke situs seorang mahasiswa Amerika yang terbukti bisa kaya dalam waktu relatif singkat.”
“Apa yang ia lakukan?” rasa ingin tahu mencuat di kepala Clara.
“Beli saham recehan yang disebut penny stock. Harga perunit sahamnya yang kurang dari satu dolar sangat terjangkau oleh mahasiswa, apalagi saya yang sudah bekerja.”
Hal yang tadinya terkesan omong kosong akhirnya dapat Clara pahami. Tidak hanya itu. Minatnya juga tersedot setelah Wisnu membeberkan pendekatan yang ia pakai.
Yang ia lakukan sederhana saja, hanya mendaftar menjadi anggota komunitas investor muda yang dipimpin mahasiswa tersebut.
“Bayar iuran hanya sekali, seratus dolar, untuk keanggotaan seumur hidup. Anggotanya tersebar di selurh dunia,” ujarnya.
“Setelah jadi anggota terus dapat apa?”
“Pada hari kerja, setiap anggota akan menerima email berisi rekomendasi mengenai saham perusahaan yang layak dibeli. Tidak hanya didukung analisis fundamental dan analisis teknis, tetapi juga dilengkapi rekomendasi kapan sebaiknya melakukan transaksi beli dan kapan saatnya melepas untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Tahu nggak, dengan mengikuti rekomendasinya, dalam satu periode trading saya bisa meraih puluhan persen profit. Di Indonesia hal serupa kadang terjadi juga, tapi hanya pada saham yang digoreng.”
“Luar biasa. Tapi yang saya tahu, penghasilan tinggi risiko tinggi.”
“Itu betul. Saya pernah mengalami kerugian yang meyesakkan dada ketika tertarik dengan future, berinvestasi pada komoditas minyak dan emas. Waktu itu saya belum tahu bahwa ketamakan itu sangat berbahaya. Sama bahayanya dengan kepanikan ketika harga saham anjlok dan ikut-ikutan mengobral saham, padahal itu momentum untuk mengoleksi.”
“Kedengaran sangat rumit,” tanggap Clara jujur.
“Jangan khawatir, semua bisa dipelajari.”
“Jadi, saya juga bisa ikut?”
“Mengapa tidak?”
Tiket pesawat yang tergeletak di atas meja di kamar Clara tampak seakan tak sabar mengajaknya berangkat agar secepatnya bisa ketemu Wisnu, laki-laki yang telah mampu membuatnya lebih merindukan dirinya daripada orangtua yang telah membesarkannya. Laki-laki yang telah menyemai benih cinta di ladang hatinya dan tumbuh subur begitu cepat.
Menanti waktu berangkat, Clara tidak bisa tidur. Begitu ketemu nanti, ia tidak akan membiarkan Wisnu membuatnya menunggu untuk mengetahui rahasia hidupnya. Clara perlu memahami semua itu karena bagaimanapun ia akan masuk ke dalam lingkaran hidupnya, laki-laki yang akan menyempurnakan hidupnya.
Kejadian tahun lalu terulang lagi. Luh melepasnya di depan ruang keberangkatan bandara sambil melambaikan tangan tapi kali ini tidak dengan mata berkaca-kaca. Ia lihat senyum Luh mengembang seakan ingin mengatakan inilah anugerah tersembunyi itu.