
Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di pasar. Aroma dan hiruk-pikuknya yang khas menghadirkan kesan tersendiri dan membuatku antusias. Aku menggelar dagangan di bawah tatapan aneh pedagang-pedagang di sekitarku. Mungkin mereka mengira aku pedagang baru. Namun senyum ramah yang kutunjukkan membuat mereka cepat akrab denganku dan akhirnya tahu kalau aku sedang menggantikan Ibu. Mereka pada menunjukkan rasa simpati karena Ibu sakit dan aku tahu mereka pasti berdoa untuk kesembuhan Ibu.
Di luar dugaan, daganganku sudah habis dalam waktu relatif singkat. Sebagian besar pembeli adalah Ibu-ibu yang bekerja di kantoran. Itu dapat kuketahui dari pakaian yang mereka kenakan dan ketergesaaan mereka melakukan sesuatu karena waktunya mungkin telah dibagi-bagi untuk beragam kegiatan.
Zaman telah berubah. Kaum wanita kini tak lagi puas hanya menjadi ibu rumah tangga. Bekerja di luar rumah telah menjadi kebutuhan karena semakin tingginya tuntutan hidup. Tuntutan untuk menyekolahkan anak-anak sampai tuntas, biar kelak bisa tampil sebagai sumber daya manusia yang siap bersaing di zaman globalisasi. Tuntutan untuk bersosialisasi yang makin beragam bentuk kegiatannya. Akibatnya, ada sebagian kegiatan yang tak lagi dapat ditangani. Ya seperti membuat canang sari, misalnya. Sehingga tak dapat dibendung, benda sakral ini kini menjadi barang dagangan, diperjual-belikan seperti yang kulakukan saat ini.
Tidak salah, memang. Sesaji yang lebih besar pun dibuat setelah melalui proses jual-beli, karena tidak semua bahannya bisa dihasilkan sendiri. Yang jadi masalah, kalau uang yang dipakai membeli adalah hasil dari kegiatan yang tidak dapat dibenarkan, uang yang didapat dari kegiatan yang tidak berlandaskan dharma, kebajikan.
Hari berikutnya aku mendapat pengalaman lain yang tak mungkin kulupakan seumur hidupku. Sekitar pukul sembilan pagi, sepasang suami istri bule datang menghampiri daganganku. Yang laki-laki, bertubuh agak gemuk dengan kepala botak di bagian depan, bertanya padaku: "I’d like to buy some white mangoes. Can you tell me where….?"
“White mangoes?” aku balik bertanya. “Saya pikir tak ada buah itu di sini, Tuan.”
"Jangan bilang begitu. Tahun lalu kami datang ke sini dan menikmati buah itu. Dagingnya putih, baunya wangi, rasanya manis. Bijinya besar dan agak bulat."
Aku berpaling pada Mbok Sarwi yang berjualan di sebelahku. "Buah apa ya, Mbok?"
"Wani barangkali."
Aku terlonjak bangkit dari duduk dan berkata, "Mari ikut saya."
Kubawa mereka ke dalam setelah menitipkan daganganku pada Mbok Sarwi.
"Buah ini yang Anda maksud?" tanyaku setelah sampai di tempat penjualan aneka buah-buahan dan menujukkan sebiji buah kemang.
"Ya, itu dia," kata yang perempuan antusias.
Ketika aku hendak meninggalkan mereka untuk kembali ke daganganku, yang perempuan menyodoriku uang tips tapi kutolak dengan halus.
"Kenapa?" ia memandangku heran.
"Saya bukan pemandu."
Sebenarnya banyak pemandu berkeliaran di depan pasar. Mereka adalah anak-anak perempuan umur belasan tahun yang tahu sedikit bahasa Inggris pasaran tetapi begitu agresif menawarkan jasa untuk memandu para wisman berbelanja. Entah mengapa mereka sampai masuk ke dalam pasar tanpa pemandu. Boleh jadi karena merasa terganggu sehingga mereka memutuskan untuk berbelanja tanpa memanfaatkan jasa pemandu.
Beberapa saat setelah aku duduk kembali untuk berjualan, mereka muncul lagi. Kulihat senyum tersungging di bibir mereka, sementara keduanya menenteng tas kresek yang berisi buah kemang. Mereka lalu berjongkok di depan daganganku.
"Apakah ini sesaji?" tanya yang perempuan.
Aku mengangguk, membenarkan.
"Indah sekali. Kamu sendiri yang buat?"
"Dengan ibu saya."
Ia lalu memandangku dengan tatapan penuh selidik. Aku sendiri sadar kalau penampilanku beda dengan pedagang-pedagang di sekitarku.
"Kamu kelihatan cerdas dan masih muda. Bagaimana kamu sampai berada di sini?"
"Hanya menggantikan Ibu yang sedang sakit."
"Jadi, kamu tidak di sini kalau ibumu tidak sakit. Lalu apa kegiatanmu?"
"Saya mahasiswi. Ibu membiayai kuliah saya dari hasil penjualan sesaji ini."
Entah mengapa aku kemudian merasa terdorong untuk bercerita mengenai keluargaku. Mungkin karena perhatian besar yang mereka tunjukkan padaku, yang membuatku merasa nyaman untuk berbagi.
"Anda dari mana?" tanyaku akhirnya.
"Kami dari Belanda," sahut yang perempuan. "Kami datang ke Bali setiap tahun untuk melihat anak asuh kami. Sebenarnya kami punya dua anak asuh. Satu di Bali dan yang lain ada di Yogyakarta."
"Bagaimana Anda bisa menjadi orangtua asuh untuk anak-anak yang berada begitu jauh dari negeri Anda?"
"Melalui sebuah lembaga sosial yang bernama Plan International. Kamu pernah dengar tentang itu?"
Aku menggeleng.
"Kamu tinggal di mana?"
"Di kota ini."
"Kalau saja kamu tinggal di wilayah operasi Plan, kami akan senang sekali menjadi orangtua asuhmu. Kami senang punya anak asuh yang ulet seperti kamu. Tapi, saya kira kamu sudah terlalu dewasa untuk menjadi anak asuh kami."
"Well, nama saya Franken," sela si laki-laki yang sejak tadi tampak ingin bicara, "dan ini Jolanda istri saya. Boleh saya tahu namamu?"
"Anda bisa panggil saya Luh," tandasku.
"Apakah namamu punya arti," tanya Jolanda.
"Ya, tapi tak penting buat saya. Apalah artinya sebuah nama."
Mereka saling pandang lalu tersenyum.
"O ya, saya mau beli sesaji bikinan kamu," kata Jolanda.
"Untuk apa?"
"Saya mau ke rumah keluarga anak asuh saya. Saya pikir mereka pasti memerlukan ini untuk memuja."
Aku melempar senyum dan bertanya, "Di mana mereka tinggal?"
"Di sebuah desa dekat Bangli."
"Berapa banyak yang Anda perlukan?"
"Saya tidak tahu. Barangkali kamu tahu berapa yang mereka perlukan."
"Saya masih punya dua puluh. Saya bungkus semua ya?"
"Ya. Berapa harganya?"
"Lima ribu."
Begitu canang sari kuserahkan Jolanda menyodorkan selembar dua puluh ribuan lalu bergegas pergi diikuti suaminya.
"Kembaliannya?" kataku setengah berteriak.
"Untuk kamu," kata Jolanda sambil melambai.
Aku bengong, tak menyangka akan menerima kebaikan seperti ini untuk hal kecil yang kulakukan pada mereka. Kupandangi kepergian mereka sampai lenyap di kelok gang dan aku baru sadar kalau aku belum mengucapkan terima kasih.
***
“Mencari Reni, ya?” celetuk seseorang yang berdiri di dekat papan pengumuman.
“Eh, kamu, lihat Reni nggak, Yud?”
“Nggak tuh. Aku juga lagi nungguin dia. Mau ngasih buku.”
“Ada apa ya, tak biasanya ia terlambat?”
“Telpon aja,” usul Yuda.
Aku segera memanfaatkan telepon umum yang ada di dekat kami.
“Reni sudah berangkat,” jawab yang menerima telepon, Ibunya.
“Jam berapa berangkatnya, Tante? Kok hari gini belum sampai di kampus?”
“Dia bilang mau besuk. Ada temannya yang kecelakaan.”
“Kecelakaan? Siapa Tante?”
“Yang kerja di biro perjalanan itu.”
“Wawas maksud Tante?”
“Ya, Wawas.”
“Dirawatnya di rumah sakit mana, Tante?”
“Entah ya. Tapi katanya sudah pulang.”
Sialan Reni! Kenapa ia tak bilang kalau Wawas kecelakaan? Oh, aku baru ingat kalau ia punya telepon genggam sekarang, hadiah ulang tahun dari papanya. Maka kuhubungi dia.
“Kamu ada di mana, Ren?” nada suaraku langsung tinggi begitu tersambung.
“Di tempat Wawas,” sahutnya. “Kamu di kampus ya?”
“Ya di mana lagi kalau bukan di kampus. Ini kan waktu kuliah. Bagaimana keadaan Wawas? Katanya kecelakaan. Kok nggak bilang-bilang sih?” aku nyerocos.
“Nggak usah kuatir, Luh. Ia cuma dapat luka kecil di lututnya. Biasa, akibat meleng saat naik motor. Ngomong-ngomong, kamu bisa ke sini nggak? Tapi, nggak maksa lho. Kan kebetulan Pak Legawa lagi absen.”
“Kata siapa?”
“Aku sudah nelpon tadi ke kampus. Tanya aja kalau tak percaya.”
Telepon kututup.
“Mau ikut?” tanyaku pada Yudi yang masih berdiri di dekatku.
“Ke mana?”
“Mau ketemu Reni.”
“Waduh gimana ya? Aku nitip buku ya. Soalnya ada kuliah penting hari ini.”
“Memang ada kuliah yang tak penting?” godaku.
“Maksudku, aku ingin dapat nilai A dari mata kuliah ini. Makanya aku nggak mau bolos untuk kuliah terakhir ini.”
“Ya, sudah.”
Tak sampai sepuluh menit aku sudah sampai di rumah kontrakan Wawas. Kulihat ada Honda City merah marun parkir di depan rumahnya. Siapa sih yang bertamu? Kakiku terus melangkah memasuki pekarangan. Sesampainya di dalam, kulihat seorang laki-laki klimis, satu-satunya orang dalam ruangan itu yang belum kukenal. Setelah memberiku kesempatan untuk berbasa-basi dengan Wawas yang duduk menyender di sofa, Reni kemudian mengenalkanku pada laki-laki itu.
“Ngurah,” katanya sambil menjabat tanganku dengan genggaman yang agak kuat, sementara kusebut namaku dengan suara yang kehilangan kepercayaan diri.
Aku betul-betul dibuat kikuk oleh tatapan mata elangnya. Tak tahan rasanya aku berada berlama-lama di tempat di mana ia begitu leluasa mengulitiku dengan tatapan matanya yang tajam. Untung ia segera pergi sehingga aku tak sampai menggigil dibuatnya.
Rupanya Reni diam-diam memperhatikan apa yang kualami. Ketika pulang ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?”
“Dia siapa?” aku berlagak pilon.
“Yang kukenalkan tadi.”
“Ya, biasa-biasa saja. Cuma agak kurang ajar.”
“Kurang ajar bagaimana?” protes Reni.
“Kamu lihat sendiri kan, bagaimana cara dia memandangku?”
Reni tergelak. “Maaf, waktu kamu belum datang tadi, aku sempat promosi tentang kamu.”
“Buat apa? Kamu kan tahu kalau aku sudah …”
“Idih, sombong amat,” potong Reni.
“Memangnya kamu aja yang punya pacar. Dia juga punya. Tapi…..”
“Tapi apa?”
“Nah, ingin tahu juga, kan?”
“Iyalah, buat apa tahu informasi cuma sepotong?”
“Begini. Dia itu kan baru lulus dari kedokteran. Belum kerja. Tapi ibunya ingin agar ia cepat kawin, biar nanti kalau tugas di Sumatera atau Sulawesi istrinya bisa ikut. Tahu nggak siapa calon yang diinginkan ibunya?”
“Diinginkan?”
“Ya. Dia mau dijodohkan dengan wanita dari keluarga jauhnya. Tapi ia tidak mau.”
“Maunya?”
“Kelihatannya sih dia naksir kamu.”
“Hush! Jangan ngaco kamu.”
“Seandainya benar dia naksir kamu?”
“Oh, tidak….”
“Tidak bagaimana? Tidak mau atau tidak menolak?”