
Suatu hari ia datang ke rumah sudah agak larut malam. Tentu ia sengaja datang setelah aku menyelesaikan urusanku melayani orang-orang yang datang dengan berbagai kepentingan.
"Akhirnya Ngurah datang juga ke sini, ke rumah kami yang jelek ini," sambutku dengan sindiran.
"Ah, Luh bisa saja," jawabnya. "Rumah bagus begini dibilang jelek."
Ngurah kupersilakan duduk di atas karpet yang tergelar di lantai rumah adat yang bernama bale gede, sebuah bangunan yang biasa dipakai untuk menyelenggarakan upacara perkawinan atau pun potong gigi. Sejenak kulihat ia mengedarkan pandang ke langit-langit rumah yang penuh dengan ukiran yang dipulas dengan prada emas.
"Ciri khas rumah seorang balian sukses," komentarnya.
"Hush! Siapa yang balian?" protesku.
"Maaf, paranormal."
"Saya ini normal,” kilahku. “Ini, bisa seperti ini berkat sumbangan mereka yang pernah saya tolong."
"Itulah enaknya jadi paranormal."
"Lebih enak jadi dokter."
"Kenapa tak jadi dokter saja, kalau begitu?"
"Ngurah ngeledek saya ya?"
"Lho?"
Ni Sarni, pembantu kami muncul menyuguhkan dua gelas teh hangat.
"Apa Ngurah mau ngopi?" tanyaku.
"Oh, tidak. Tak usah repot. Ini sudah cukup."
"Nah, sekarang Ngurah bawa berita apa?" tanyaku setelah Ni Sarni meninggalkan kami.
"Tentang yang kemarin. Mau menyampaikan undangan Reni. Tadi siang, begitu pulang saya dapati setumpuk undangan untuk disebar ke teman-teman, termasuk Luh."
"Aneh, kenapa Reni tak minta saya saja? Saya jadi curiga pada sikapnya akhir-akhir ini."
"Mungkin ia pikir Luh terlalu sibuk."
"Saya kira bukan itu alasannya."
"Terus apa dong?"
"Ah, sudahlah, tak ada gunanya dipersoalkan. Bila perlu nanti saya labrak dia saat menghadiri resepsi perkawinannya."
"Waduh, sadis amat."
"Jadi, acaranya hari Minggu depan?"
"Ya. Luh pasti datang kan?"
"Kalau tak ada halangan."
"Mau berangkat bareng saya?"
Aku tak segera menjawab. Yang kupikirkan, apakah dampak yang akan timbul kalau aku berangkat ke Singaraja bersama Ngurah? Perjalanan ke sana membutuhkan waktu paling tidak sekitar dua jam.
"Dengan siapa saja?" selidikku.
"Banyak yang mau datang. Mereka pada bawa mobil sendiri-sendiri dan pasangan sendiri-sendiri. Luh tidak keberatan pergi sama saya?"
Aku terdiam lagi sebelum akhirnya menjawab, "Tidak. Saya malah berterima-kasih Ngurah mau mengajak saya."
"Kalau begitu, jam berapa nanti saya jemput?"
"Bagaimana kalau jam sembilan?"
"Oke. Kita berangkat jam sembilan."
Ngurah melemparkan pandang ke arah jam yang tertempel di dinding. "Oh, sudah jam sebelas rupanya. Maaf, saya telah menyita waktu istirahat Luh. Saya pulang ya, tolong pamitkan sama Ibu."
"Baik. Tehnya silakan diminum dulu," aku mengingatkan.
"Ya, ya. Terima kasih."
***
Lama juga kupatut-patut diri di depan cermin sebelum Ngurah Andika datang menjemput. Aku tak heran kalau ia lantas menatapku tanpa berkedip seolah-olah hendak mengulitiku dengan matanya yang tajam. Seperti biasa buru-buru kugeser pandangan ke dagu dan bibirnya yang menunjukkan karakter yang tegas itu.
Kulihat ia seperti pemain utama drama gong dengan destar dan kainnya yang mewah, terbuat dari kain tenun yang berkualitas tinggi. Dengan ciri seperti itu siapa pun tahu kalau ia berasal dari keluarga puri.
Kami segera berangkat dengan Honda City merah marun yang dulu pernah kulihat parkir di depan rumah kontrakan Wawas. Ibu tak kelihatan risau dengan kepergianku bersama Ngurah. Ia hanya mengingatkan agar aku hati-hati ketika aku pamitan. Sejak aku berguru pada Ibu Suci ia begitu percaya padaku dan tak pernah mengkhawatirkan sesuatu.
Andainya laki-laki yang duduk memegang setir di sebelahku bukan bernama Ngurah Andika, tentu angan-anganku sudah melayang tinggi, menikmati indahnya dunia yang bisa kuklaim sebagai milik berdua. Setiap kata yang terucap dari mulutnya pasti akan terdengar bagai untaian puisi indah. Tetapi, nama itu membuatku jadi rikuh karena ia memiliki makna yang sangat berarti dalam tatanan masyarakat kami, yang menghadirkan tirai yang tak kuasa kukuakkan.
Aku sangat risau akan perbedaaan status sosial di antara kami, apalagi kalau harus dikaitkan dengan embel-embel kasta. Aku yakin Ibu pasti tak akan pernah merestuiku untuk menjadi pendamping hidup Ngurah yang berasal dari keluarga puri. Di masa lalu mungkin menjadi suatu kebanggaan bagi seorang ibu bila putrinya berhasil menjadi istri seorang laki-laki macam Ngurah, karena dengan demikian derajatnya akan terangkat. Namun sekarang, banyak cara yang dapat membuat orang bisa naik kelas tanpa harus mengorbankan hal-hal yang masih perlu dipertahankan. Membiarkanku kawin dengan Ngurah berarti akan memutus hubunganku dengan Ibu, sebab begitu menjadi istrinya statusku akan berubah, hal mana membuatku tidak leluasa lagi berhubungan dengan Ibu. Itu berarti aku tak akan dapat lagi merawatnya sebagaimana yang kuinginkan.
Kubayangkan bagaimana nanti kalau ia meninggal. Sebagai istri orang seperti Ngurah aku pasti tak boleh ikut memandikan mayatnya apalagi menyembahyanginya. Aku tahu ini suatu kekeliruan besar.
Penyimpangan dari ajaran agama, tetapi adat terkadang terlampau kuat untuk dapat dikoreksi, karena banyak orang yang tidak dapat membedakan tradisi dengan agama. Apa yang sudah mapan dianggap sebagai ajaran yang patut diikuti, padahal itu hanyalah nilai yang diwarisi turun-temurun, yang mungkin dicetuskan oleh orang yang berkuasa saat itu.
"Luh baik-baik saja?" suara Ngurah mengurai lamunanku.
Kubuat diriku tersenyum. "Sudah lama saya tidak melihat pemandangan seperti ini," kilahku. "Mengagumkan sekali. Sawah di Bali memang lain dari yang lain."
"Baru kali ini saya dengar orang Bali berkata seperti itu," tanggapnya, entah jujur atau bermaksud menyindir.
Mobil terus melaju menyusuri jalur hijau selepas kota Denpasar.
"Ngurah tak tertarik melukis pemandangan seperti ini?"
"Tergantung suasana hati. O ya, Luh belum sarapan, kan?"
"Mau mampir di mana?" tanggapku langsung.
"Ada beberapa tempat yang bagus. Tapi, kalau mau sarapan sambil lihat-lihat pemandangan tempatnya di Pacung."
"Apa tak kejauhan?"
"Memang kejauhan. Sudah setengah perjalanan. Ada sih yang dekat, tapi tak bisa lihat pemandangan."
Aku seperti mendengar Ngurah sedang ngambek. Ah, pasti ia tersinggung gara-gara tadi aku sempat melamun. Sementara aku duduk di dekatnya tetapi pikiranku entah ke mana. Ia pasti merasa keberadaannya tidak dianggap.
"Saya tak biasa makan sambil lihat pemandangan," tukasku.
"Kalau begitu kita sarapan di Lukluk saja."
"Atau di mobil saja, makan roti. Biar tidak terlalu berat."
"Boleh juga."
Ngurah kemudian masuk ke sebuah mini market setelah memaksaku agar menunggu di dalam mobil yang diparkir. Tak sampai sepuluh menit ia telah keluar membawa roti dan air mineral dalam botol. Kami menikmati sarapan ringan dalam perjalanan. Karena kupikir Ngurah mengalami kesulitan makan sambil mengemudi, maka kutawarkan diri untuk menyuapkan roti ke mulutnya. Ia tidak menolak dan tampak sangat senang dengan tawaranku.
Tak pernah kubayangkan kalau aku akan pernah melakukan hal ini. Pada titik ini aku tak dapat memahami diriku sendiri. Sementara aku ingin agar Ngurah tak mengharapkan diriku, aku melakukan sesuatu yang seolah-olah menjanjikan harapan. Bukankah ini sebuah kebodohan yang bisa jadi bumerang buat diriku?
Ya, dan bumerang itu menyambar demikian cepat. Begitu kami melintas di jalan sepanjang tepian Danau Beratan, Ngurah memperlambat laju mobil untuk kemudian berhenti di bawah pohon cemara yang tegak di tepi jalan.
"Luh," kata Ngurah perlahan dan tampak begitu serius.
"Ada apa?" tanggapku dengan hati berdesir.
"Sebenarnya, sudah sejak lama saya menunggu kesempatan ini. Saya yakin, Luh pasti sudah tahu apa yang ingin saya katakan. Tapi saya harus mengatakannya, sebab saya ingin mendengar jawabannya."
Aku membisu, menyapukan pandang pada tepian danau di mana air senantiasa berkecipak.
"Luh mau mendengarkan saya?"
Aku menoleh, tapi tetap membisu.
"Saya ingin melamar Luh."
"Nggak salah?"
“Kenapa salah?”
“Ngurah orang Puri, mestinya Ngurah pilih orang Puri juga sebagai pendamping hidup, biar serasi.”
"Itu tradisi usang, sudah ketinggalan jaman!"
“Tapi masih berlaku, kan?”
“Bagi saya tidak. Saya akan kawin dengan wanita yang saya cintai. Luh mau jadi pendamping hidup saya, kan?”