
Begitu selesai bercerita, Luh yang hendak beranjak dari meja makan dengan piring di tangan duduk kembali. Wajahnya mendadak tegang dan pucat. Ia seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke perut yang mengingatkan Clara pada apa yang ia alami tempo hari di hotel tempatnya menginap. Dengan gerakan yang dipaksakan, ia berusaha berdiri dan hendak masuk ke kamarnya. Namun entah mengapa ia duduk kembali di kursinya. Ia lantas memejamkan mata sambil terus memegangi perutnya, membuat Clara cemas. Karena tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya ia memanggil Nyoman yang sedang asyik ngobrol dengan seseorang di luar. Ia minta pendapat sopir taksi itu apa sebaiknya dilakukan untuk menolong Luh yang tubuhnya mulai menggigil. Nyoman hanya memberi israyat agar ia menunggu.
Clara menggigit bibirnya sambil memperhatikan leher Luh yang mulai bergerak-gerak seperti ayam yang baru habis dipotong. Lenguhan-lenguhan samar yang tidak beraturan berlompatan dari mulutnya. Luh tampak begitu kesakitan. Namun Nyoman sama sekali tidak menunjukkan rasa khawatir. Ia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Luh sambil berusaha menenangkan Clara karena ia tahu betul apa yang sedang terjadi pada Luh. Detik-detik berlalu dalam suasana mencekam sebelum akhirnya Luh lunglai dengan dahi menyentuh permukaan meja makan. “Ya, saya akan temui Gus Lanang,” ucapnya sebelum ia menegakkan kepala dan membuka mata.
“Luh baik-baik saja?” tanya Clara, belum mampu mengusir perasaan cemas.
Luh mengangguk lemah. “Dia menyerang saya,” keluhnya marah.
“Ayu Ratri?”
“Ya. Dia marah karena saya menolong kamu.”
“Dia datang ke sini?”
Luh menggeleng. “Ia menyerang dari jauh.”
“Benarkah? Oh, kamu pasti begitu kesakitan sampai mengigau segala.”
“Saya tidak mengigau,” bantah Luh.
“Kamu yakin? Tadi kita sempat membicarakannya, bukan? Maksud saya Gus Lanang, tadi kamu menyebut namanya.”
“Guru saya minta saya menemuinya.”
“Dia kenal Gus Lanang?”
“Tentu saja.”
“Kenapa dia minta kamu menemuinya?”
“Saya tidak tahu.”
Bagi Clara itu sangat aneh. Luh diminta menemui seseorang tanpa tujuan yang jelas. Ia agak ragu apakah itu benar pesan gurunya.
“Kamu akan menemuinya?”
Luh mengangguk.
“Boleh saya ikut?” Clara memohon.
“Tapi saya tidak tahu alamatnya.”
Clara terhenyak bisu. Luh akan menemui orang yang tidak diketahui alamatnya dan untuk sesuatu yang tidak dia ketahui. Namun, sebagai orang yang gemar bertualang, ia siap mengesampingkan nalarnya. Toh tidak semua kejadian bisa dianalisis dengan akal, pikirnya.
***
Clara berlari kecil masuk ke kamarnya. Ponsel yang tergeletak di atas meja kamarnya berdering panjang. Ia lupa membawanya ketika turun makan siang. Dugaannya benar, Luh yang menelepon.
“Mau ikut?” tanya Luh setelah sempat berbasa-basi.
“Menemui Gus Lanang?” Clara balik bertanya.
“Bukan. Ke rumah teman saya yang lain.”
Luh sudah menunggu di pelataran parkir hotel. Clara bergegas menuruni anak tangga tetapi ia tidak melihat taksi yang dicarinya setelah sampai di bawah. Saat ia memandang ke sekitar, tiba-tiba terdengar suara klakson dari mobil yang mesinnya masih menyala tak jauh di depannya. Jendela depan sebelah kanan mobil itu bergerak turun perlahan dan di belakang setir tampak Luh yang mengenakan kacamata hitam. Ia pun berlari kecil memutar dan membuka pintu mobil.
“Saya hampir tidak mengenali kamu,” komentar Clara begitu duduk di sebelah kiri Luh. “Keren banget!”
“Apanya yang keren?”
“Dua-duanya, pengemudi dan mobilnya.”
Luh tertawa renyah.
“Sudah pernah ke Ubud?” tanya Luh sambil mengarahkan mobil ke luar dari tempat parkir hotel. Setelah berbelok ke kanan mobilnya begerak pelan di tengah keramaian lalu lintas yang membuat mobil melaju tersendat-sendat. Makin lama jumlah mobil makin banyak saja di jalanan sementara ruas jalan tidak mengalami perkembangan yang berarti.
“Pernah,” jawab Clara sambil menduga-duga mau apa gerangan Luh ke kawasan wisata yang sangat terkenal itu. “Sekarang kita ke sana?”
“Ke arah sana, tapi tidak sampai Ubud.”
“Tidak buka praktek hari ini?”
“Sengaja tutup. Tiba-tiba saja saya ingin menemuinya.”
“Siapa?”
“Namanya Suta.”
“Kangen?”
“Apa ada kangen yang muncul mendadak?”
“Ha-ha, kamu harus menjawabnya sendiri.”
Keluar dari Denpasar Clara merasa lepas dari hiruk-pikuk duniawi. Melewati desa demi desa selalu membuat pikiran dan perasaannya segar, apalagi kalau ada sawah terbentang di sisi kiri dan kanan jalan. Kedua matanya benar-benar seperti dimanjakan. Sampai di sebuah desa yang bernama Sayan, Luh membelokkan mobil ke kiri memasuki sebuah gang yang mengarah ke sebuah villa. Ada beberapa bangunan berdesain Bali berdiri di situ, di atas sebuah tebing. Panoramanya membuat Clara berdecak kagum. Di depan matanya terbentang luas sawah berundak-undak yang sedang menghijau. Di bawahnya meliuk seperti ular sungai yang berair jernih seakan mengundangnya untuk mandi di situ seperti bocah-bocah desa yang pernah ia saksikan di suatu tempat.
Luh menggeleng. “Tidak. Itu villa sewaan miliknya. Dia sendiri tinggal di dekat sini, dalam keadaan sekarat.”
“Sekarat?”
“Ya. Mari kita temui,” ucap Luh setelah menghentikan mobil di depan sebuah rumah.
Orang yang mereka kunjungi memang dalam kondisi yang mengundang perasaan iba. Dari beberapa jarak Clara dapat melihatnya berbaring lemah di atas balai-balai lumbung yang dialasi kasur busa. Seorang wanita, istrinya, tampak duduk di sebelahnya sambil mengayun-ayunkan selembar karton bekas sebagai kipas. Dia bergegas turun dari balai-balai begitu mengetahui kedatangan Luh dan Clara dan menyilakan mereka masuk ke ruang tamu yang ada di sebelah tetapi Luh dan Clara memilih duduk di dekat laki-laki yang berbaring di balai-balai lumbung padi.
“Bagaimana keadaanmu, Suta?” Luh bertanya dengan nada suara agak serak. Luh tampak begitu prihatin melihat keadaan temannya.
Laki-laki yang dipanggil Suta mengangkat kepalanya dan berusaha mengubah posisinya dari berbaring jadi duduk. Ia membiarkan tubuhnya di bagian atas telanjang. Pasti sangat tidak nyaman mengenakan baju. Kulit di sekujur tubuhnya melepuh kemerahan seperti terserang psoriasis.
“Ya, beginilah, Luh,” sahut Suta senang melihat temannya datang. “Ini siapa?” dagunya menunjuk Clara.
“Oh ya, ini Clara, teman saya.”
“Mulanya saya berobat ke tempat Luh, akhirnya jadi teman,” imbuh Clara.
“Sakit apa?” Suta mengernyitkan keningnya.
“Dijahili Ayu Ratri,” Luh yang menjawab.
“Kok bisa? Apa salahnya? Memang saling kenal?”
“Kesalahannya…,” Luh tidak meneruskan kalimatnya lalu menoleh Clara, berharap gadis asal Darwin itu melanjutkan.
“Saya menguber-uber pesawat itu. Rupanya dia tidak suka dengan ulah saya,” sambung Clara setengah bercanda.
Suta dan istrinya tampak bingung. Luh lalu menjelaskan duduk persoalannya sampai Clara datang minta bantuan pengobatan kepadanya. Laki-laki yang tulang rusuknya tampak menonjol karena terlalu kurus itu kemudian manggut-manggut mengerti.
“Kita sama-sama jadi korbannya,” ujar Suta kemudian. “Tapi beda perkara. Apa Luh sudah cerita kenapa saya sampai begini?”
Clara menggeleng.
“Dia marah karena saya menolong orang yang dia sakiti. Dia memasukkan racun ke tubuh saya.”
“Memasukkan racun? Bagaimana caranya?” Clara penasaran.
Suta tersenyum seakan lupa pada penderitaannya. “Tanya saja sama Luh.”
Istri Suta beringsut dari tempat duduknya. Luh yang cepat tanggap mencegahnya menyuguhkan sesuatu.
“Gus Lanang sudah dua kali ke sini, mengobati saya,” kata Suta tanpa ditanya.
“Ya Tuhan, firasat saya tidak salah,” sambar Luh seperti mendapat durian runtuh. “Tinggal di mana dia?”
“Lumayan jauh, di lereng Gunung Agung. Pertama kali ke sini, ia muncul begitu saja dan saya tidak mengenalnya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai teman Ibu Suci. Katanya, ada yang memberi petunjuk untuk menemui saya.”
Clara dan Luh menyimak ceritanya dengan sangat serius. Dikatakannya lebih lanjut, Gus Lanang itu bukan lagi penyembuh biasa. Awalnya memang belajar seperti dirinya, tetapi suatu ketika Gus Lanang mengalami sesuatu yang luar biasa: mati suri selama tiga hari. Sejak terbangun dari mati surinya, ia mendapati dirinya berubah, seperti dilahirkan sebagai manusia baru. Dan teknik penyembuhan yang dilakukannya jauh beda dari yang biasa dilakukan balian pada umumnya. Ia melakukannya seperti seorang dokter: menyuntik, melakukan operasi dan meramu obat. Tentu saja kelihatan aneh sebab benda-benda yang dipegangnya semuanya gaib.
“Pasti ada yang mengarahkannya,” tanggap Luh.
“Ya, saya kira begitu. Setiap akan melakukan sesuatu ia selalu menunggu petunjuk. Begitu juga ketika mengobati saya.”
“Kapan terakhir kali ia ke sini?”
“Belum lama. Ia bilang, bila sudah datang tiga kali, saya akan sembuh. Ia janji akan segera datang begitu menerima SMS dari atas.”
“Menerima SMS dari atas?” tanya Clara merasa geli.
“Ia memang suka bergurau,” jawab Suta.
“Mudah-mudahan ia cepat ke sini,” hibur Luh.
“Semoga.”
“Boleh saya tahu di desa mana ia tinggal?” tanya Clara tidak sabar.
“Saya belum pernah ke sana. Ia bilang tempatnya terpencil. Namanya Abianpoh, kalau tidak salah. Apa kalian mau menemuinya?”
“Ya, mungkin besok kami ke sana,” Luh yang menjawab.
“Tolong nanti sampaikan salam saya.”
“Ya, semoga ia menepati janjinya untuk datang lagi.”
“Terima kasih, semoga perjalanannya lancar.”
“Semoga kami tidak tersesat,” kata Clara.
“Bersama Luh, saya yakin tak akan tersesat,” tanggap Suta.