Back To Bali

Back To Bali
Episode 25



Tanpa menunggu tanggapan Clara, Wisnu melangkahkan kaki ke halaman belakang rumah. Dalam sekejap ia telah menghilang ditelan gerumbul perdu yang rimbun. Tak lama setelah itu ia muncul lagi dengan seorang wanita setengah baya berkulit sawo matang, agak kurus tetapi langkahnya cepat. Dalam beberapa jarak menyusul di belakang mereka seorang laki-laki yang tidak tergolong tinggi namun berotot, memberi kesan bahwa ia seorang pekerja keras. Ia melangkah tenang sambil memanggul cangkul.


“Clara, ini ibu dan ayah saya,” kata Wisnu memperkenalkan kedua orangtuanya.


“Maaf, tempatnya begini, kotor,” ujar ibunya merendah sebelum menyambut uluran tangan Clara hendak menjabat tangannya. Wajahnya yang terbakar matahari kelihatan segar tanpa noda keriput. Ia mengenakan celana panjang semacam celana olah raga dan baju kaus tanpa kerah.


“Sudah dari tadi menunggu?” tanya ayahnya ramah sebelum meletakkan cangkul di bawah lumbung.


“Baru saja sampai.”


Sementara mereka terlibat dalam perbincangan yang semakin akrab, ibu Wisnu menyela, “Clara bisa ngopi?”


“Oh, tidak usah repot,” sahut Clara berbasa-basi.


“Tidak repot kok, kebetulan kami juga mau ngopi.”


“Dingin-dingin begini enak sekali kalau minum kopi jahe,” timpal ayah Wisnu. “Tapi, Clara pasti sudah terbiasa dengan dingin semacam ini, kan?”


“Bagi saya tidak masalah. Di tempat saya, cuacanya ekstrem. Kalau musim dingin, dingin sekali. Dan kalau musim panas, panas sekali,” Clara menjawab.


Saat itu suhu sedang berada pada tataran paling rendah. Maklum sedang Sasih Karo, bulan kedua menurut perhitungan kalender lokal Bali. Sepanjang bulan itu, yang jatuh sekitar bulan Juli-Agustus, dapat dipastikan pemakaian listrik untuk mereka yang tinggal di kota turun karena minuman dingin cenderung dihindari dan penggunaan AC juga berkurang.


Clara sudah biasa minum kopi sejak ia mulai sibuk dengan naskah bukunya. Untuk melawan kantuk saat ia sedang mengetik di malam hari, biasanya ia perlu menyeduh secangkir kopi. Bukan kopi sachet dengan aneka rasa yang banyak diecer di warung-warung melainkan kopi bubuk asli yang ia simpan dalam toples kecil.


Agar kedua orangtua Wisnu tahu tentang dirinya, dengan santai ia ceritakan pada mereka mengenai tempat asalnya dan pekerjaannya. Tak lupa ia sampaikan pula mengenai kecintaannya pada Bali sampai ia berulang kali bolak-balik Australia-Bali.


Tidak mau membuang waktu, Wisnu lantas menjelaskan maksud kedatangan mereka berdua. Dengan keyakinan penuh ia bilang akan melamar Clara menjadi istrinya dalam waktu dekat. Sejenak, ayah dan ibunya terdiam. Mereka tampak terkejut. Mimik mereka mengisyaratkan pertanyaan: mengapa wanita asing? Tetapi mereka tidak keberatan asal keduanya saling mencintai satu sama lain.


“Nak, kami bukan orang terpelajar seperti kamu. Jika Clara berkenan menerimamu sebagai pendamping hidup, kami tidak punya alasan untuk tidak setuju,” tanggap ayahnya kemudian dan itu membuat Wisnu dan Clara lega. “Kami percaya, apa yang telah kamu putuskan, itu pasti baik.”


“Terima kasih, Bapa. Kalau nanti lamaran saya pada orangtua Clara diterima, mohon carikan hari baik untuk upacara pernikahan kami.”


“Kami akan segera ke geria menghadap pandita begitu menerima kabar darimu.”


Hanya beberapa jam saja mereka berada di rumah orangtua Wisnu. Dalam perjalanan balik Wisnu menyampaikan sesuatu yang tidak urung membuat Clara terpana.


“Baru-baru ini, saya beli rumah di Denpasar,” ia mengucapkan kalimatnya sambil menyetir dengan santai seakan baru habis membeli sepotong kemeja.


“Wow,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Clara untuk menanggapi. Sementara Clara masih berpikir bagaimana melanggengkan hubungan, Wisnu telah melangkah lebih jauh. Telah menyiapkan diri bagaimana kehidupan bersama mereka jalani nanti. Tadinya ia pikir mereka akan melakukannya bersama-sama sambil jalan sebagaimana banyak dilakukan pasangan mandiri, yang tidak jarang mengawalinya dengan tinggal di rumah kontrakan. Bagaimanapun itu bagian dari kehidupan yang patut disyukuri.


Hari itu Wisnu balik ke Darwin karena pekerjaan menunggunya, sementara Clara sendiri kembali ke hotel melati langganannya. Kenapa hotel melati? Selain karena ia datang bukan untuk meghamburkan uang, di sana ia bisa mendapatkan sesuatu yang tidak ia dapatkan di hotel berbintang. Seperti keakraban pribadi dengan karyawan, misalnya, juga peluang yang terbuka untuk mendapatkan informasi tentang kebiasaan orang Bali di pedesaan sekitarnya.


Tetapi begitu Luh ia beri tahu lewat telepon bahwa ia sudah menginjakkan kaki lagi di Bali, Luh menawarinya tinggal di rumahnya.


Tanpa pikir panjang Clara setuju, bukan saja karena ia tidak perlu membayar tetapi dengan tinggal di rumah Luh ia juga bisa belajar tentang hal yang sama, sehingga ia tidak akan mengalami gegar budaya begitu menjadi bagian dari keluarga Wisnu.


Hari itu Luh kebetulan tidak buka praktek. Clara melihat kesibukan lain ketika sampai di rumahnya. “Dua hari lagi rainan di pura keluarga,” ujar Luh tanpa ditanya. Rainan adalah semacam acara ulang tahun. Di Bali tidak hanya manusia yang punya peringatan hari kelahiran. Selain tempat suci, binatang, tumbuhan, bahkan peralatan kerja dari logam pun punya perayaan semacam ulang tahun, tentu saja dengan mengadakan selamatan tradisonal mengunakan sesaji khusus, suatu cara untuk berterima kasih kepada Tuhan yang telah membuat semua itu ada dan berguna dalam hidup mereka.


Menyaksikan para wanita pada sibuk majejaitan, membuat sesaji dari janur, tanpa sungkan Clara langsung bergabung dengan maksud belajar, diawali dengan mengamati secara serius. Suatu saat bagaimanapun ia harus bisa melakukannya karena membuat sesaji merupakan bagian dari kegiatan rutin bagi para wanita yang sudah berkeluarga.


Dari hari ke hari Clara berusaha menyelaraskan diri. Ia tidak segan-segan membantu memasak di dapur di pagi hari sambil mempelajari segala sesuatunya. Juga pergi ke pasar tradisional bersama Luh.


“Kapan Luh akan menikah?” tanya Clara suatu malam ketika kesibukan rainan sudah berlalu.


Luh menatapya heran. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?”


“Sebenarnya, sebelum memutuskan tinggal di sini, saya sempat ke rumah Wisnu.”


“Siapa Wisnu?” Luh penasaran.


“Laki-laki yang saya kenal di pesawat.”


“Wow, sepertinya ini berita yang menyenangkan. Dia pacar kamu?”


“Saya berharap ia akan jadi suami saya.”


“Saya senang mendengarnya. Jadi, kalian akan segera menikah?”


“Saya belum mengenalkan dia pada orangtua saya.”


“Lakukanlah. Luangkan waktu.”


“Ya. Akan saya lakukan dalam waktu dekat. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan.”


“Apa itu?”


“Begitu sulitkah jadi seorang istri di sini?”


Luh tersenyum. “Seharusnya pertanyaan itu ditujukan pada wanita yang sudah berkeluarga.”


“Saya tahu. Tapi setidaknya kamu bisa memberi gambaran sesuai dengan yang kamu ketahui.”


“Semua berpulang kepada diri sendiri. Bukankah tidak semua orang bisa bahagia dengan cara yang sama? Menurut saya, seberapa sulit pun kenyataan akan dapat dilalui bila orang yang dicintai setia mendampingi.”