Back To Bali

Back To Bali
Episode 32



Sekitar pukul sembilan malam ada seorang laki-laki bertamu ke rumahnya. Clara menerimanya di ruang tamu dan membiarkan Wisnu bergumul dengan emosinya di kamar.


“Maaf kalau saya datang malam-malam begini,” kata laki-laki itu sopan ketika berdiri diambang pintu.


“Suta! Saya hampir tidak mengenalimu,” pekik Clara lirih.


“Itu karena Gus Lanang telah menepatinya janjinya.”


“Gus Lanang? Oh, tapi saya tidak mengira kalau kamu bisa gemuk seperti ini. Boleh saya tahu kenapa kamu datang malam-malam begini?”


“Ada pesan penting dari Luh.”


“Ada apa sebenarnya dengannya?” Clara mengeluh. “Telpon dan pesan saya tak satu pun mendapatkan respons.”


“Maaf, bukan pesan seperti itu yang saya terima.”


“Apa ada kaitannya dengan masalah saya?”


“Ya. Saya diminta datang untuk mengendalikan keadaan untuk sementara waktu sampai dia pulang.”


“Memangnya dia ke mana?”


“Tirtayatra ke luar negeri.”


“Pantas saja. Dia bilang apa?”


“Kalian sedang mengalami masalah serius.”


“Memang. Dan sangat menguras energi.”


“Saya ke sini bawa air minum biar energimu tidak habis.”


“Untuk saya?”


“Untuk suamimu.”


Suta lantas mengeluarkan isi tas kresek hitam yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja berkaki pendek di ruang tamu. Ada tiga botol plastik tanggung berisi air.


“Untuk tiga hari saja, sampai Luh tiba.”


“Saya baru bisa memberinya besok.”


“Kenapa besok? Sekarang saja.”


“Saya tak mungkin mendekatinya malam-malam begini. Ia akan mengganggu tetangga dengan teriakan-teriakannya.”


Setelah diam sejenak Suta berucap, “Cobalah.”


Clara membawa sebotol air ke dalam kamar. Langkahnya diatur sepelan mungkin agar tidak mengagetkan Wisnu yang sedang berdiri memandang ke luar jendela, seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya padahal di luar sana suasananya gelap. Saat Clara hendak bicara ia menoleh ke belakang dan bereaksi.


“Sudah saya bilang keluar dari sini! Apa kamu tuli?” Wisnu membentak. Suaranya seperti petir menyambar telinga Clara. Ia berharap para tetangga tidak mendengar bentakan Wisnu, laki-laki yang selama ini mereka kenal begitu santun.


“Saya hanya membawakan kamu air minum,” suara Clara tercekik.


“Tidak usah. Kamu hanya bikin kepala saya ditusuk-tusuk.”


“Mengapa kamu jadi emosi begitu?”


“Saya tidak tahu. Setiap kamu mendekat kepala saya seperti dibor. Keluarlah sebelum saya menyakiti kamu.”


Clara seperti orang lingung ketika kembali ke ruang tamu.


“Saya tak menyangka kalau ia sampai separah itu,” ujar Suta prihatin.


“Anehnya, siang hari ia biasa-biasa saja.”


“Ijinkan saya menemuinya,” pinta Suta.


“Silakan.”


Clara hanya mengantarkan Suta sampai depan pintu kamar. Selanjutnya ia hanya diam-diam memasang telinga. Aneh, kedua laki-laki yang baru pertama kali bertemu itu bisa bercakap demikian akrab walau tidak semua pembicaraan mereka dapat Clara tangkap. Yang jelas tidak ada bentakan. Tidak ada kemarahan. Apa salahku? Clara bertanya dalam hati. Mengapa ia begitu emosional ketika melihatku?


Kembali ke ruang tamu, Suta bilang, ”Semoga air itu bisa meredakan emosinya, walau untuk sementara.”


Suta menunggu beberapa jenak untuk memastikan Wisnu baik-baik saja. Detik-detik berlalu dalam keheningan tanpa teriakan Wisnu. Clara berharap kedatangan Suta akan mengembalikan keadaan rumah tangganya seperti semula, penuh canda dan tawa.


“Cobalah masuk sekarang,” saran Suta kemudian.


Clara manut walaupun masih ada keraguan melekat di hatinya. Ia merasakan desir halus di dadanya. Begitu ia masuk ke dalam kamar didapatinya Wisnu tengah memandangnya sendu. Kedua tangannya terkembang siap memeluk. Clara terharu dalam keterkejutan.


“Maafkan saya, Clara,” ujarnya menyesal. “Tadi saya tidak bisa mengendalikan diri.”


“Tidak apa-apa, Wisnu. Saya tahu kamu sedang tidak sehat. Sudah merasa lebih baik sekarang?”


“Tak ingin menemuinya lagi?”


Wisnu menggandeng tangan Clara ke ruang tamu.


“Clara, tamu kok dianggurin begini? Buatkan minum dong.”


Clara bergegas ke dapur untuk menyiapkan kopi. Diseduhnya tiga cangkir menggunakan air termos dan dilengkapi dengan kue kering. Sudah begitu lama ia tidak bertemu dengan Suta. Pasti ada banyak cerita menarik yang bisa ia dengar darinya terutama yang berkaitan dengan kesembuhannya yang pernah diramalkan sebelumnya.


***


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bali, Clara sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Keanehan demi keanehan yang ia alami dan dengar lama-lama tidak lagi dibiarkannya menyibukkan pikiran untuk menganalisisnya, karena ia tahu semua itu tidak terjangkau oleh pusat kesadaran fisiknya yang terbatas: otaknya.


Pagi itu, untuk pertama kali setelah sekian lama pisah ranjang, ia dapati dirinya terbangun dalam pelukan Wisnu di kamar mereka.


“Air itu ampuh, Clara,” kata Wisnu dengan nada lega.


“Syukurlah. Kamu dapat merasakan?”


“Beberapa saat setelah minum, tak ada lagi yang menusuk-nusuk kepala saya.”


“Hari ini kamu harus menghabiskan sebotol lagi.”


“Ada berapa botol semua?”


“Tiga.”


“Berarti besok botol yang terakhir.”


“Kata Suta itu untuk sementara.”


“Semacam pertolongan pertama?”


“Mungkin. Katanya Luh yang lebih tahu mengenai penyakitmu.”


“Agaknya ini penyakit non-medis. Pantas saja dokter tidak bisa mendiagnose penyakit saya.”


Begitu Wisnu menenggak habis isi botol ketiga, ada perasaan cemas menyelinap ke hati Clara. Pikiran negatif tiba-tiba menganggunya. Jangan-jangan Luh tidak bisa tiba tepat waktu, ia membatin. Kalau itu terjadi tentu emosi Wisnu akan meledak-ledak lagi akibat tusukan-tusukan di kepalanya yang tak tertahankan. Oh, mengapa aku membiarkan diri dibanjiri kerisauan yang berlebihan? Bukankah Luh bisa menelepon atau kirim pesan jika itu tejadi? Setidaknya ia bisa mengontak Suta dengan caranya dan Suta pasti akan muncul lagi dengan tas kresek berisi air yang dibutuhkan Wisnu.


Ia bersyukur karena Luh datang tepat pada waktunya. Siang itu ia muncul dengan oleh-oleh spesial untuk Clara: selembar kain sari berwarna merah muda dengan hiasan tepi kembang-kembang keemasan dan juga sejumlah gelang khas India yang menakjubkan. Karena kondisi Wisnu tetap stabil, ia tidak buru-buru menyinggung masalah kesehatan yang dialaminya. Terlebih dahulu ia mencecar Luh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kepergiannya yang relatif lama meninggalkan rumah dan kegiatan prakteknya.


“Hanya ke India sampai sepuluh hari?”


“Tidak hanya ke India. Rombongan kami berangkat lewat Malaysia lalu singgah di Nepal, Butan dan terakhir baru mengunjungi beberapa tempat di India, termasuk mandi di Sungai Gangga.”


“Lain kali, kalau ada acara seperti itu ajak-ajak kami dong,” tanggap Wisnu.


“Maaf, itu acara komunitas.”


“Komunitas apa?”


“Kami menyebutnya pekerja cahaya. Anggotanya dari mana-mana.”


“Apa itu?”


“Orang-orang yang mengabdikan diri untuk menolong sesama dengan, maaf, kemampuan spiritual yang dimiliki.”


“Oh ya, lightworker,” Clara manggut-manggut teringat artikel seorang waskita yang pernah ia baca di internet.


Ketika Clara bercerita tentang ibu mertuanya yang tiba-tiba menjaga jarak gara-gara termakan gosip murahan, Luh tersenyum. “Sibuk ke sana kemari mengunjungi orang yang memiliki pengetahuan tentang leak, sangat mungkin membuat orang curiga,” tanggapnya. “Tapi, itu masalah kecil. Kamu bisa atasi itu dengan upaya sederhana.”


“Upaya sederhana?”


“Kamu tahu, yang jadi pemicu sesungguhnya rasa kehilangan. Kehilangan anak dan cucu yang sangat ia sayangi.”


“Kalau benar begitu, kami telah membuat keputusan yang tepat.”


“Keputusan apa?”


“Kembali tinggal di desa.”


“Pasti ada ide penting di balik itu.”


Clara menoleh ke arah Wisnu, dan suaminya mulai bicara.


“Belakangan ini saya merasa sedikit aneh dan kadang-kadang khawatir.”


“Khawatir tentang apa?”


“Tentang Bali.”


“Ada apa dengan Bali?” Luh mengernyitkan alis.