Back To Bali

Back To Bali
Episode 19



Pergi dari rumah Suta sore itu, Luh membawa Clara ke Tirta Empul, sebuah destinasi wisata berudara sejuk yang sangat ramai dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun nusantara. Terletak di wilayah Kabupaten Gianyar tempat suci ini berdekatan dengan istana presiden di Tampaksiring. Kata Luh, nama Tirta Empul berkaitan dengan mitologi Maya Danawa, seorang raja yang melarang rakyatnya menyembah Dewata. Karena ia merasa sangat sakti maka dirinyalah yang patut disembah. Tetapi kecongkakannya mendatangkan petaka bagi dirinya. Kendati sempat melumpuhkan laskar yang memerangi dirinya dengan meracuni air sungai yang menjadi sumber air minum, laskar tersebut akhirnya selamat dari kematian. Diselamatkan oleh air minum yang tiba-tiba menyembur secara ajaib dari dalam tanah setelah Dewa Indra, pemimpin laskar mereka, menancapkan kerisnya ke tanah. Karena air itu menyembur dari dalam tanah maka disebut Tirta Empul. Maya Danawa pun akhirnya berhasil dibunuh.


Ketika hendak memasuki candi bentar besar, Clara mengira Luh minta ia menemaninya sembahyang.


“Kenapa kita ke sini, Luh?”


“Menemani kamu mandi.”


“Kamu bercanda? Bukankah ini tempat suci?”


“Betul. Ini tempat untuk menyucikan diri.”


“Maksudnya?”


“Nanti kamu harus melukat di dalam sana, untuk membersihkan sisa energi negatif yang masih ada di tubuhmu.”


“Saya tidak mengerti.”


“Serangan Ayu Ratri menyisakan energi negatif di tubuhmu.”


“Kamu juga?”


“Ya, ikuti saja apa yang saya lakukan. Kita akan mandi di tempat terbuka.”


“Benarkah?”


Luh tersenyum lalu minta Clara mengikutinya memasuki candi bentar lebih kecil yang mengarah ke bagian pura yang disebut beji, tempat memohon air suci. Sebelum sampai di dalam, telinga Clara menangkap suara gemuruh seperti sungai yang mengalir deras. Ternyata di depannya, agak ke bawah, terdapat telaga yang memanjang ke arah mahari terbit dengan airnya yang begitu jernih, tampak seperti sebuah peninggalan purbakala. Ada tiga bagian telaga yang masing-masing dipisahkan oleh tembok yang terbuat dari batu padas. Dan masing-masing telaga mendapat pasokan air dari pancuran yang jumlahnya berbeda. Tampak serpihan-serpihan kembang aneka warna di sana-sini di atas permukaan air. Di dalamnya berenang ikan-ikan yang cantik dan jinak.


Air telaga setinggi perut orang dewasa dipasok dari sumber air alami di areal pura lewat pancuran terbuat dari batu bulat berlubang. Pancuran-pancuran tempat mandi suci yang terletak di bagian paling kiri, ada tiga belas banyaknya, terus-menerus memuntahkan air dari sumber yang tak pernah kering. Mengenakan kain kamen, laki-laki dan perempuan berderet di depan masing-masing pancuran menunggu giliran menyucikan diri.


Clara heran mengapa baru sekarang ia mengetahui tempat itu. Kalau tidak kebetulan kenal Luh, mungkin ia tidak akan pernah tahu. Ah, seperti kata Luh, yang namanya kebetulan itu tidak ada. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi dan tepat pada waktunya.


“Ayo, kita siap-siap.” Luh menarik tangan Clara dan membawanya ke suatu tempat.


“Tapi saya tidak membawa kamen,” keluh Clara.


“Jangan khawatir. Semuanya tersedia di sini.”


Luh membawanya ke tempat penyewaaan kamen. Ia mengambil dua lembar kamen dan dua lembar selendang yang disodorkan petugas berikut kunci loker sebelum mengajak Clara ganti pakaian di ruangan khusus. Beberapa jenak kemudian mereka keluar dari ruangan loker dengan bahu telanjang. Selembar kain Bali bercorak kembang warna-warni masing-masing melilit tubuh mereka dengan selendang kuning melingkar di bagian atas, sekitar dada, sebagai pengikat supaya kain tidak melorot. Clara berharap dirinya terlihat seksi sebagaimana halnya Luh.


Sampai di depan sebuah altar, Luh berhenti untuk menyalakan dupa dan menghaturkan sesaji kecil berupa canangsari yang sudah ia siapkan dari rumah. Sesaji serupa tampak bertumpuk di atas altar diselingi batang-batang dupa yang mengepulkan asap wangi. Clara berdiri di samping Luh, menunggu ia selesai dengan ritualnya.


Masih ada beberapa wanita yang antre di depan pancuran ketika mereka masuk lagi ke lokasi telaga. Luh mengajak Clara memulai dari pancuran yang posisinya di sebelah kiri. Ia turun ke dalam kolam dengan gerakan sangat hati-hati, tentu saja takut tergelincir karena tepi kolam yang mereka lewati sedikit berlumut. Begitu Clara mencelupkan kaki ke dalam air, rasa segar menyusup ke betisnya.


Clara memperhatikan Luh yang membasuh mukanya sebanyak sembilan kali. Selanjutnya ia juga minum air dengan telapak tangan yang ditekuk dan membasuh kepala dalam hitungan yang sama. Begitu Luh bergeser ke pancuran berikutnya, ia mulai melakukan hal yang sama. Kembali rasa segar menyusup, kali ini ke seluruh tubuh sampai ke dalam tulang.


Pengalaman baru lagi baginya dan ia sangat antusias menjalaninya sampai berakhir pada pancuran kedua belas. Kesegaran itu bertahan sampai ia selesai mengeringkan badan dan berganti pakaian. Dalam hati ia bertanya, apakah aku sudah bebas dari energi negatif?


“Lain kali kita akan melakukannya di pantai,” ujar Luh sambil merapikan rambutnya di depan cermin berbingkai kayu berukir yang tingginya sekitar dua meter di ruang loker. Cermin itu ditempel di dinding dekat pintu ruangan.


“Tidak cukup sekali saja?”


“Lebih sering lebih bagus.”


“Kenapa mesti di pantai?”


“Kita akan melakukannya di Pantai Kuta?”


Luh menggeleng seraya tersenyum. “Tidak. Kita akan melakukannya di Pantai Goa Lawah dan Pantai Kelotok, malam hari saat bulan purnama.”


“Wow!”


Kembali ke hotel tempat Clara menginap, mereka masuk ke pelataran parkir hotel tepat saat siang beralih ke malam hari. Orang Bali menyebutnya sandikala. Mereka percaya itu saat yang rawan, dianggap angker di mana makhluk-makhluk gaib sedang berseliweran. Karenanya kebanyakan orang memilih berada di dalam rumah di saat seperti itu.


Persis ketika Luh menghentikan mobil, terdengar suara berdebum yang menyedot perhatian mereka berdua. Rupanya ada buah kelapa jatuh dari pohonnya yang tegak di luar halaman parkir. Selintas tampak buah kelapa itu menggelinding mendekati mobil. Bergegas Clara membuka pintu mobil hendak menyingkirkan buah kelapa itu, namun peringatan Luh membuatnya mengurungkan niat.


“Jangan, Clara!”


“Kenapa, Luh?”


Luh memandang tajam ke arah buah kelapa sambil tetap memegang setir.


“Lihat,” kata Luh dengan tatapan masih tertancap pada buah kelapa.


Clara menajamkan pandangannya. “Ya, Tuhan! Itu bukan kelapa, tapi kepala manusia. Tengkorak!”


“Benda itu siap meluncurkan jarum beracun begitu kamu menyentuhnya dan kamu bisa mengalami nasib seperti Suta.”


Clara terhenyak, terlalu ngeri membayangkannya. ”Sekarang bagaimana?”


“Tunggu sebentar.”


Tak lama kemudian tengkorak itu raib begitu saja.


“Apa itu kiriman Ayu Ratri?”


“Ya, siapa lagi?”


Clara menghela napas berat.


“Jadi, Suta juga pernah menemukan kelapa jatuh?”


“Tidak. Ia memungut buah jambu yang jatuh dari pohonnya.”


“Kenapa ia bisa kena?”


“Ia lengah, tidak melakukan proteksi diri.”


Clara manggut-manggut.


“Kalau tidak keberatan, menginaplah di rumah saya malam ini,” ujar Luh setelah lama diam.


“Apa saya sedang terancam?”


Luh tersenyum santai.


“Besok kita mau ke Abianpoh, bukan? Biar saya tidak mejemput ke sini, saya pikir sebaiknya kamu menginap di rumah saya.”


“Ide yang bagus,” ujar Clara ikut tersenyum.