
Mulutku terkatup rapat. Aku tak tahu harus mengatakan apa, sebab jawaban yang kumiliki bermuara pada kata ya dan tidak.
"Baiklah," ujar Ngurah kemudian lalu menyalakan mobil. "Saya tak memaksa Luh untuk menjawab sekarang."
Aku menghela napas lega, merasa terbebas dari tuntutan yang menyesakkan.
Mobil mulai menempuh tanjakan. Ketika melintasi kawasan Pucak aku melongok ke luar jendela di mana monyet-monyet berkeliaran. Kelihatannya mereka tidak nakal sebagaimana monyet-monyet yang ada di objek wisata Sangeh, yang kalau tidak dikasih makanan terkadang suka merampas kacamata atau kamera atau apa saja yang dibawa pengunjung.
Sampai tiba di tempat tujuan aku masih diam. Rupanya Ngurah penasaran sehingga sebelum turun dari mobil ia berkata, "Maaf, kalau yang saya katakan tadi mengganggu pikiran Luh."
"Saya yang minta maaf, belum bisa memberikan jawaban."
Sudah banyak undangan yang hadir ketika kami masuk ke tempat resepsi perkawinan diselenggarakan, yakni rumah mempelai laki-laki. Tempatnya cukup luas dan ditata sedemikian rupa sehingga tak kalah semarak dengan resepsi yang diselenggarakan di dalam gedung. Hiasan dari janur terlihat di mana-mana dan tampak begitu indah, yang pasti merupakan buah karya tangan-tangan penghayat seni.
Reni tampak begitu anggun dalam pakaian adat Bali yang gemerlap. Pundak dan lengannya yang begitu mulus kekuning-kuningan membuatku iri. Sementara Wawas tampak bagai figur seorang kesatria dengan keris terselip di punggungnya.
Kebetulan tak ada yang antre ketika kami menyalami kedua mempelai. Kupikir ini kesempatan baik untuk melampiaskan kedongkolanku dan kucubit lengannya keras-keras sampai ia berteriak lirih.
"Gila kamu!"
"Biarin."
Ia lalu menarikku dan menempelkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, "Kamu sangat pantas bersanding dengannya. Kapan menyusul?"
Aku menggeleng.
"Kamu tak iri sama aku?"
Kembali aku menggeleng.
"Aku tahu kamu pasti ingin bikin kejutan. Oke, silakan nikmati yang ada. Tapi maaf, kalau tak seenak yang ada di restomu."
"Kamu pernah coba?"
"Beberapa kali."
"Sialan! Kenapa tak pernah menemuiku?"
"Emang gue pikirin," candanya.
Keluar dari tempat hidangan dengan piring di tangan berisi nasi dan lauk yang kupilih, sengaja kupisahkan diri dari Ngurah yang memilih berkumpul dengan teman-teman lamanya. Kutuju sebuah kursi kosong di antara para undangan yang tengah menikmati hidangan. Rupanya aku salah pilih tempat, sehingga hal yang tidak menyenangkan itu terjadi. Baru saja aku mulai menyantap makanan, wanita yang duduk di sebelahku tiba-tiba nyeletuk, membuat nafsu makanku hilang.
"Kamu ya, yang bernama Luh?"
Dalam kaget aku berpaling. Ia seorang wanita seusiaku. Tidak begitu menarik. Kulit wajahnya memang sangat mulus, membuatku berpikir ia pasti rajin mengunjungi salon kecantikan. Perhiasan yang ia kenakan demikian banyak. Kalung, gelang dan cincin yang tak dapat kubayangkan berapa harganya. Begitu juga dengan busananya.
"Benar," jawabku. "Kamu siapa?"
"Ayu."
Mendengar nama itu aku jadi teringat ketika Reni mengatakan bahwa Ngurah hendak dijodohkan ibunya dengan seorang wanita dari keluarga jauhnya. Inikah wanita itu?
"Asal tahu saja," lanjutnya. "Saya calon istri Ngurah Andika."
Aku merasa tertampar. Firasatku tidak meleset, tetapi aneh rasanya. Kalau ia calon istri Ngurah, mengapa ia tidak datang ke sini bersama Ngurah? Mungkinkah mereka sedang cekcok dan Ngurah berpaling padaku? Oh, betapa tak berharganya perempuan seperti aku ini. Perempuan yang hanya jadi tempat pelarian, menjadi tempat persinggahan bagi cinta yang tidak memiliki kualitas sejati. Dan betapa bodohnya aku, telah membiarkan diri masuk ke dalam lingkaran permasalahan orang lain.
***
Aku melangkah dalam diam di samping Ngurah setelah pamitan sama kedua mempelai. Mungkin betul hubungan Ngurah dan Ayu sedang tegang. Buktinya, selama berada di tempat pengantin mereka tidak bertegur-sapa satu sama lain, bahkan tampak seperti orang yang tidak saling kenal.
“Saya ditegur calon istri Ngurah tadi,” keluhku memecah keheningan ketika mobil sudah meluncur di jalan raya.
“Apa?” Ngurah bereaksi seperti tidak percaya pada apa yang barusan kuucapkan.
“Seharusnya Ngurah tidak pergi sama saya. Ayu marah sama saya.”
“Apa haknya marah sama Luh?” tanggap Ngurah enteng.
“Bukankah ia calon istri Ngurah?”
Ngurah tertawa geli. “Bisa-bisanya, dia pikir dia bisa berbuat apa saja karena dia kaya.”
“Kelihatannya dia sangat mencintai Ngurah. Dia pantas menjadi pendamping hidup Ngurah. Kan sama-sama keluarga Puri,” ujarku sinis.
“Luh, tolong jangan bicara begitu. Keluarga Puri atau bukan bagi saya sama saja.”
Setelah lama hening, Ngurah kemudian meneruskan, “Asal tahu saja, saya lebih menikmati hidup tanpa embel-embel warisan masa lalu.”
Suara dering ponsel menyela. Panggilan dari Kadek, adikku. Ia minta aku segera pulang karena Ibu masuk rumah sakit.
“Ibu kenapa, Dek?” tanyaku cemas.
“Ya Tuhan!”
“Ibu kenapa, Luh?” tanya Ngurah ikut cemas.
“Pingsan. Ada di Sanglah.”
Tanpa kuminta Ngurah mempercepat laju mobilnya. Sambil mengemudi ia menghubungi rumah sakit dengan ponselnya. Setelah beberapa kali menelepon baru tersambung dan informasi yang ia dapatkan adalah: kemungkinan Ibu mengalami serangan jantung.
Ada rasa dingin yang aneh menyusup ke dada. Air mata spontan meluncur membasahi pipi. Ibu tak pernah punya masalah dengan jantungnya. Kenapa bisa jadi begini? Tadi malam sebelum tidur kulihat ia begitu bugar dan ngobrol panjang lebar denganku. Aku bahkan sempat menanyakan kenapa ia tak keberatan aku pergi kondangan dengan Ngurah.
“Luh ini bagaimana sih?” tanggapnya heran.
“Diijinkan kok malah bingung? Apa Luh tidak senang?”
“Luh tidak bingung, cuma ingin tahu saja.”
“Menurut Meme Ngurah itu laki-laki yang baik, makanya Meme ijinkan Luh pergi dengannya. Ia tampaknya ada hati sama Luh.”
“Tapi ia dari keluarga Puri, Me.”
“Memangnya kenapa?”
“Luh tak mau meninggalkan Meme. Kawin dengannya akan membuat Luh terkekang.”
Ibu membelai rambutku sambil tetap berbaring.
“Setiap gadis, suatu saat akan meninggalkan rumah untuk ikut suaminya.”
“Tapi Luh masih ingin bersama Meme.”
“Sampai kapan? Bunga yang mekar suatu saat akan layu.”
Ibu menarik napas panjang. “Jangan sia-siakan waktumu untuk Meme yang sudah tua ini, yang mungkin tak lama lagi akan mati.”
Kupeluk Ibu erat-erat. Ada perasaan takut menyeruak ke dalam hati.
“Meme kok ngomong begitu sih?”
Tubuhku mendadak terdorong ke depan karena Ngurah menginjak rem terlalu tergesa. Kudapati mobil sudah berhenti di tempat parkir rumah sakit. Tiba-tiba aku mendapat firasat bahwa Ibu sudah pergi. Spontan kubenturkan kepala ke dasbor dan menangis sejadi-jadinya. Perlahan Ngurah membuka pintu sambil tetap duduk di belakang setir.
“Luh, kita sudah sampai. Mari turun,” katanya prihatin.
Aku menggeleng. “Ibu sudah pergi!”
“Mari kita lihat.”
“Ibu kena serangan jantung.”
“Ya, mari kita lihat.”
Kukuatkan diri untuk melangkah di samping Ngurah menyusuri koridor rumah sakit. Beberapa paramedis yang berpapasan dengan kami pada melemparkan pandangan heran. Beberapa kali kukeringkan pipi yang basah dengan tisu.
Di depan pintu sebuah ruangan, Kadek menyambutku dengan gelengan kepala dan mata sembab. Aku segera memeluknya sebelum akhirnya menerobos masuk sambil menggigit bibir. Kudekati tubuh yang terbaring bertutupkan selembar kain. Berusaha tabah, kemudian kusingkap kain di bagian kepala.
O, Hyang Widhi, ampunilah segala dosa ibuku, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kemahakuasaan serta pengampunanMU.”
***
Suara gong yang mengiringi prosesi melepas kepergian Ibu sudah berhenti. Namun gemanya seakan masih terdengar, menyisakan suasana kehilangan yang dalam. Aku, Kadek dan sanak keluarga telah berkumpul di sekitar jasad Ibu yang hendak diperabukan. Mereka pada menunggu dupa yang sedang kunyalakan untuk dipakai menyulut jasad sebagai simbol turut memperabukan Ibu.
Selesai membagikan dupa, Ngurah tiba-tiba muncul dari belakang dan mengulurkan tangan minta diberi dupa.
“Mestinya Ngurah tidak di sini,” tanggapku dingin walaupun tidak menolak permintaannya.
“Apa salah saya? Mengapa Luh sepertinya begitu benci pada saya?” suaranya lirih.
“Saya tidak benci. Saya cuma tidak mau jadi bahan gunjingan, dituduh merebut calon suami orang.”
“Kalau Luh tidak percaya pada saya, biar besok saya minta orangtua saya melamar Luh.”
Kututup rapat bibirku.
Suara api mulai mendesis membakar jasad Ibu. Tanah, air, api, udara dan eter yang membentuk tubuh Ibu perlahan terurai. Kuharap kembalinya kelima unsur panca mahabutha itu ke asalnya berjalan sebagaimana mestinya.
Hari sudah hampir senja ketika acara nganyut ke laut mulai dilakukan. Kadek dan beberapa sanak saudara naik sampan untuk melarung abu jenazah Ibu ke laut. Kutatap gerakan sampan yang diayun ombak menuju ke tengah laut tanpa berkedip sambil berdiri di tepi pantai. Tiba-tiba bayangan tubuh Ibu berkelebat di depanku. Kulihat ia melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku. Wajahnya segar-bugar dan tampak lebih muda. Spontan kuangkat tangan kanan untuk membalas lambaiannya. Hatiku mengharu-biru dan air mataku mulai tumpah lagi membasahi pipi.
Tak lama kemudian telapak tangan kiriku terasa hangat, ada yang menggenggam. Ketika berpaling kudapati Ngurah berdiri di sampingku. Dalam keremangan senja dapat kutangkap kecemasan yang meronai wajahnya. Sepertinya ia khawatir melihat keadaanku yang dikiranya terlalu larut dalam kedukaan sampai mengalami halusinasi.
Oh, bagaimana harus kujelaskan padanya bahwa aku tidak sedang mengalami gangguan psikis seperti yang ia sangka? Sepertinya ia tidak tahu jika aku bisa melihat dengan mataku yang lain.