
Matahari hampir mencium cakrawala. Langit di ufuk barat tampak bagai selembar kanvas yang dipoles nuansa lembayung. Pantai Kuta di senja hari memang sangat menawan. Orang-orang menyemut di sepanjang pantai yang berpasir putih, ada juga yang masih berenang-renang di pantai atau belajar berselancar sementara suara ombak terus mengalun terbawa angin sore.
Pasti tak ada yang rela melewatkan momen indah seperti ini kecuali aku dan Mardawa yang memang tak datang untuk keperluan bersantai.
"Sebenarnya diri Luh yang saya kuatirkan," Mardawa mulai menyatakan keberatannya sementara aku terus melangkah di sisinya, menyusuri tepian pantai ke arah utara. "Tak ringan tantangan dan godaan yang akan Luh hadapi. Luh tahu kan, bagaimana pandangan orang terhadap profesi pramugari?"
Aku merasa tertampar. "Kalau yang Bli persoalkan hanya menyangkut citra, seharusnya Bli bantu saya membuktikannya," sahutku dengan nada suara agak tinggi. Dan karena ia diam saja, maka kuteruskan. "Biarkan saya berangkat. Akan saya tunjukkan, saya bukanlah perempuan murahan seperti anggapan orang. Lebih dari itu, akan saya buktikan bahwa wanita Bali juga bisa maju seperti rekan-rekan dari daerah lain. Dengan begitu, saya berharap dapat memupus kesan bahwa wanita Bali diperlakukan semena-mena oleh kaum lelakinya. Bukankah Bli juga tak suka mendengar penilaian yang memojokkan kaummu?"
"Saya meragukan tekadmu," kilahnya.
"Kenapa?"
"Wanita itu makhluk yang lemah, Luh. Tak mungkin Luh ingkari itu. Jauh dari rumah sangat riskan buatmu."
"Saya bukan anak kecil lagi. Saya tahu apa yang Bli maksud. Bli meragukan kesetiaan saya, kan?"
Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya menyambung, "Kalau seorang wanita mau selingkuh, ia tak perlu pergi ke mana-mana. Bukankah tak sedikit yang melakukan penyelewengan di rumah sendiri?"
Mardawa bungkam. Wajahnya yang sawo matang tampak mengeras, tak menyisakan kesan bersahabat. Ia terus melangkah dalam kebisuan. Aku tak tahu apakah kata-kataku terlalu tajam sehingga membuatnya terluka.
"Kalau Bli mau berpikir positif, saya yakin Bli pasti bisa mempercayai saya," aku meneruskan. "Jika Bli mau berpikir jauh ke depan, kita tentu dapat berharap hidup lebih baik kelak. Keberadaan saya di Jakarta, siapa tahu bisa menjadi kemudahan bagi Bli buat mengembangkan profesi yang Bli tekuni."
"Saya tak akan ke mana-mana," kudengar ia menyahut dengan nada angkuh. "Luh tahu sendiri, di sini saja saya sudah begitu sibuk. Lagi pula Jakarta bukanlah kota impian saya."
"Jadi?"
"Saya baru sadar, ternyata kita tidak berdiri di atas kutub yang sama."
Aku merasa gamang. Kendati telah kusiapkan diri untuk menerima kenyataan yang paling buruk, toh aku terguncang juga mendengar ucapannya.
"Mari kita pulang," ujarnya datar setelah kevakuman lama menyela.
Bola merah di ufuk barat baru saja tergelincir ditelan laut. Orang-orang serentak beranjak dari pantai sepertinya sebuah pergelaran agung baru saja usai dan para penonton pulang dengan perasaan puas. Tidak demikian halnya denganku. Tadinya kupikir ia bisa mafhum akan apa yang kupaparkan di hadapannya, sehingga tak ada lagi kesangsian di hatinya buat menyetujui keputusanku. Ternyata aku tidak berhasil.
***
Kucoba untuk tidak peduli. Keputusan yang telah kuambil tetap kugenggam karena kuyakin itu akan membuatku bisa mengenggam masa depan. Cobaan pasti ada, karenanya aku harus tegar. Tak ada sukses yang bisa diraih dengan cuma-cuma. Pasti ada harga yang harus dibayar. Ya, untuk mendapatkan sesuatu aku harus berani kehilangan sesuatu.
Dunia baru akan segera kumasuki, dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebuah kenyataan yang tak pernah kuimpikan. Aneh, biasanya orang bicara perihal mimpi yang jadi kenyataan, tapi yang kualami sebaliknya.
Aku gelisah menunggu hari keberangkatan. Rasa senang, cemas dan kecewa timbul tenggelam di hati, mengaduk-aduk perasaanku. Tidur pun tak bisa nyenyak. Sebagai wanita, aku harus menyiapkan diri dengan segala *****-bengek kewanitaanku yang pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Aku perlu pakaian dan perlengkapan lainnya yang layak untuk sebuah lingkungan baru yang akan kumasuki.
"Tidak apa-apa, Luh," Ibu menanggapi kala kuberitahu mengenai rencanaku menjual perhiasan. "Diuangkan saja. Bukankah Luh sendiri pernah bilang, menabung sambil berhias. Nah, sekarang saatnya Luh memanfaatkannya sebagai tabungan. Kenapa mesti risau? Jual saja daripada harus ngutang. Lagi pula siapa sih yang mau meminjami kita uang? Kalau ke bank pasti tak mungkin, karena kita tak punya agunan."
Aku segera ke toko emas. Kebetulan harga emas sedang bagus. Kubawa perhiasan yang kumiliki. Tidak semua. Ada yang kusisakan seperti anting dan cincin pemberian Ibu. Walaupun harganya tak seberapa, aku tak mungkin menjualnya karena bagiku itu memiliki nilai sejarah yang sangat berharga.
Lumayan banyak uang yang kudapat, yang lantas membuatku terbayang pada celana jins atau gaun elok yang bisa kupilih di pusat perbelanjaan nanti. Rupanya angan-angan telah membuatku jadi demikian lengah, sehingga begitu beranjak beberapa jarak dari toko emas seorang laki-laki tiba-tiba menghadangku. Ada sebilah belati di tangan kanannya yang ia acung-acungkan sedemikian rupa untuk menakut-nakuti.
"Serahkan tas itu atau...!" ancamnya hampir berbisik.
Mendadak aku teringat peristiwa malam itu, saat Ayah ditikam dan limbung berlumuran darah. Tubuhku terguncang hebat. Rasa takut yang amat sangat mencekam diriku. Ada rasa dingin mengalir deras ke seluruh jaringan tubuhku. Bersamaan dengan itu amarah mendadak mencuat di hatiku. Ada dendam membara di situ. Tetapi aku hanya seorang wanita, mustahil bisa melakukan sesuatu untuk membalas dendam. Lagi pula aku hanya sempat belajar sedikit saja dari sekian banyak cara untuk melindungi diri dari serangan orang jahat. Namun kupikir itu jauh lebih baik dalam keadaan seperti ini, setidaknya itu bisa membantuku mendapatkan peluang untuk lari atau minta tolong pada orang-orang sekitar.
Aku tak sempat berpikir panjang lagi. Begitu laki-laki itu mencoba merangsek, lutut kananku bergerak membentur selangkangannya sehingga ia mundur selangkah sambil membungkuk menahan sakit. Detik itu pula aku berusaha meloloskan diri, namun tiba-tiba terasa ada yang menarik tas tanganku dari belakang. Astaga! Rupanya ada dua orang laki-laki yang hendak merampokku. Aku tak bisa berbuat lain kecuali berteriak minta tolong.
Berhasil. Teriakanku membuat orang-orang sekitar pada berdatangan. Dalam sekejap aku telah dikerumuni banyak orang, tetapi sayang, mereka terlambat. Dua penjahat tadi telah kabur entah ke mana. Sementara itu ada seseorang menyentuh pundakku dari belakang dan bertanya, "Luh tidak apa-apa?"
Dalam kaget aku berpaling dan bertemu dengan wajah yang belum lama kukenal: Ngurah Andika. "Hai, sedang apa di sini?" aku menatapnya dengan perasaan geli melihat keadaannya yang agak ganjil.
"Ada apa? Kok memandang saya seperti itu?" ia balik bertanya sebelum akhirnya sadar akan keadaan dirinya. "Oh, ini….," katanya sambil tersipu menunjuk kain biru muda yang membungkus tubuhnya. "Saya tadi sedang potong rambut di sebelah saat mendengar teriakan."
Laki-laki yang baik, pikirku. Masih punya rasa peduli pada sesama.
"Luh tidak apa-apa?" ia mengulang pertanyaannya yang belum sempat kujawab.
"Saya baik-baik saja."
"Saya antar pulang ya?"
"Oh, tidak usah, terima kasih. Saya masih ada urusan. Selamat siang."
Aku segera pergi karena khawatir ia akan memaksaku ikut bersamanya. Maaf, jangan mengira aku sombong, aku hanya merasa cemas kalau itu sampai terjadi karena aku sama sekali tidak menginginkannya.
Aku merasa lega karena kekhawatiranku tidak menjadi kenyataan. Ia, ternyata, bukan laki-laki yang suka memaksakan kehendak sebagaimana banyak kukenal, yang suka berbuat nekad kalau sedang penasaran.
Namun, ada yang mengejutkanku kemudian. Sore-sore ia muncul di rumahku bersama Reni. Rasa penasaran mendorongku untuk menyeret Reni ke kamar dan langsung menuduhnya sebagai biang kerok.
"Sumpah,” katanya membela diri. "Dia yang minta aku mengantarnya ke sini. Katanya cuma ingin memastikan bahwa kamu tidak apa-apa setelah dirampok tadi siang."
"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Buat apa pakai nengok segala?"
"Luh," kata Reni kemudian dengan nada lembut. "Kamu masih tak percaya kalau dia naksir kamu?"