Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Leukemia



Suasana pagi menjadi amat dingin dan


"Dugaan sementara, Leukimia bu. Tapi ibu masih harus menjalani serangkaian tes untuk memastikan kondisi ibu. "


"Leukimia dok? " Mata Annisa sudah berkaca-kaca mendengar penuturan dokter Rita. Sedangkan ummi menatap tak mengerti. Istilah medis itu asing ditelinganya.


"Masih dugaan sementara mbak. Ibunya harus menjalani serangkaian tes dulu untuk memastikan. Kita bisa mulai secepatnya kalau mbak dan Ibu bersedia. "


"Penyakit apa itu dok? " ummi mulai gelisah melihat Annisa saat mengusap sudut matanya kasar.


"Kanker darah bu."


"Allah. Separah itu dok? " suara ummi bergetar.


"Masih dugaan. Ibu tidak perlu khawatir. Pertama ibu test darah dulu untuk mengetahui jumlah setiap jenis sel darah, apakah masih dalam batas normal atau tidak. Setelah itu baru kami bisa putuskan tindakan selanjutnya."


"Sekarang dok? " Annisa menggenggam tangan calon ibu mertuanya itu.


"Ya, lebih cepat lebih baik bukan? "


"Baik dok. "


Keduanya kemudian mendengarkan arahan dokter Rita untuk melakukan tes darah. Annisa menggengam tangan ummi yang perlahan mulai dingin. Ia tampak gelisah. Doa-doa tak henti ia rapalkan.


Usai dua jam menunggu mereka kembali masuk keruangan dokter Rita. Dokter Rita sudah duduk ditempatnya sembari menatap secarik kertas yang ia pegang, kemudian beralih menatap ke arah ummi, tatapannya sendu.


"Bagaimana dok? " ummi sudah tidak sabar ingin mengetahui tentang kondisinya.


"Saya beri rujukan ke onkolog ya bu. Namanya dokter Akbar. beliau akan memberi tahu ibu langkah selanjutnya. "


"onkolog? Apalagi itu dok? " Ummi semakin dibuat bingung dengan istilah medis yang baru saja ia dengar.


"Dokter spesialis kanker bu. Beliau akan menjelaskan secara detail bagaimana kondisi ibu dan bagaimana penanganannya. "


"Allahuakbar. Maksud dokter saya positif terkena kanker darah dok? " mata ummi berkaca-kaca, ia gelisah namun berusaha tetap tenang. Ia menyeka air yang baru saja meluncur dari sudut matanya. Annisa menggenggam tangannya erat.


"Tenang bu, ibu masih harus menjalankan serangkaian tes untuk memastikan apakah ini benar kanker atau bukan. Hanya saja dokter onkolog akan lebih berwenang untuk melakukan tes tersebut. "


"Baik dok, kapan kami bisa menemui dokter Akbar? " Annisa bertanya. Ada sedikit kelegaan pada sorot matanya.


"Beliau praktek hari rabu, hari ini selasa. Berarti besok ibu kembali lagi kemari ya. Prakteknya mulai pukul 8 pagi. " dokter Rita menuliskan sesuatu di amplop, entah apa kemudian menyerahkannya pada Annisa.


"Besok serahkan ini pada dokter Akbar, kalau bisa datang sebelum jam 8 ya bu. "


"Baik dok terimakasih. "


Ummi dan Annisa melangkah keluar dari ruangan dokter Rita. Ummi terlihat tegar. Sedangkan Annisa, ia memandang penuh iba.


"Nggak apa-apa Nis, badan ini milik Allah, terserah Allah mau apakan miliknya. Jalani saja alurnya. Insyaallah semua akan menjadi mudah." Ummi menangkap kegelisahan calon menantunya. Ia sendiri begitu takut mati. Amalnya belum cukup untuk bekal menemui Allah. Dengan kondisinya sekarang, ia akan berusaha meraih sebanyak-banyaknya ridho Allah.


"Apa sakit mi? " Annisa menyeka sudut matanya yang basah.


"Sakit nduk, tapi insyaallah, sakit ini akan jadi pelebur dosa-dosa ummi. " ummi tersenyum. Ia begitu legowo menerima setiap episode yang allah takdirkan untuk hidupnya.


****


Malam harinya Nisa mencoba menelpon Bayu. Sudah lama mereka tidak saling bertukar kabar. Sebenarnya ia sangat ingin mengabarkan bahwa ummi tengah sakit, jika tidak mengingat pesan ummi untuk merahasiakan penyakitnya sementara waktu. Setidaknya sampai dokter memvonis dengan jelas sakit apa yang kini tengah ia derita. Suara tut pada ponselnya seketika berubah menjadi hening namun terdengar bising di jarak yang cukup jauh. Beberapa detik kemudian suara tegas Bayu terdengar.


"Assalammualaikum Nis, apa kabar? "


"Waalaikumsalam mas, alhamdulillah baik, mas sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah aku baik. Maaf aku belum sempat telpon kamu. Tadinya selesai makan aku berencana menelponmu. Malah kamu duluan yang nelpon." Jelasnya panjang lebar. Ia memang sedang makan saat Annisa menelponnya.


"Nggak apa mas, kenapa kamu minta maaf. Aku tau kamu sibuk. Mas, kamu sudah telpon ummi? "


"Belum Nis. Abis ini aku telpon. Ummi baik-baik aja kan?"


Hening sesaat. Annisa ragu. Haruskah dia menutupi bagaimana kondisi ummi.


"Iya mas ummi baik. Mas telponlah, mungkin beliau sedang rindu. Aku tutup ya? "


"Tunggu jangan ditutup dulu. Persiapan pernikahan gimana? Semuanya lancar? "


"Insyaallah lancar mas, tinggal bikin undangan, sama dp gedung aja. "


"Berkas-berkas kamu udah? Yang kemarin aku bilang."


Annisa hampir lupa bahwa ada berkas-berkas pernikahan yang harus ia urus sendiri baik ke kelurahan, maupun ke KUA. Entah ada berapa macam surat yang harus ia urus sebagai persyaratan untuk menikah dengan anggota TNI seperti Bayu.


"Belum mas, belum sempat urus, ini tadi aku sibuk banget. Mas telpon ummi sekarang ya. Kasian ummi udah lama nunggu telpon dari mas."


"Yasudah kalau begitu. Terimakasih ya. Besok aku telpon lagi. Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam. "


****


Keesokan paginya, Annisa kembali menemani ummi untuk bertemu dokter Akbar. Kali ini ia tak sendiri, Abah Usman turut menemani. Abah hanya diam dan menunduk. Hatinya gundah, belahan jiwanya harus menanggung sakit yang sedemikian parah, sedangkan ia tak tau apa-apa. Ia merutuki dirinya sendiri yang belum mampu menjadi suami terbaik untuk belahan jiwanya. Ummi mengerti kegundahan suaminya. Ia menggenggam erat tangan lelaki yang sudah berpuluh tahun menemaninya menapaki kehidupan.


"Ummi nggak apa-apa Bah, Abah jangan sedih."


Abah Usman hanya menatap sendu wajah istrinya. Tampak begitu banyak kerutan diwajah istrinya itu. Tak ada kesedihan pada wajahnya. Meskipun telah memasuki usia senja, ummi selalu terlihat cantik dimatanya.


"Nduk sudah bilang Bayu kalo umminya sakit?"


Abah bertanya pada Annisa yang duduk disamping istrinya.


"Belum bah, kemarin saya cuma suruh mas Bayu telpon ummi. "


"Jangan bilang dulu bah, kan belum tentu ummi sakit. Masih ada tes yang harus dijalani. Nanti kita dengar dulu penjelasan dokter baru kita kabari Bayu ya. "


"Dia harus tau keadaan umminya."


"Iya bah, nanti ummi sendiri yang akan bilang. Tapi kita dengar penjelasan dokter dulu ya. "


Tak lama, nama ummi dipanggil. Ketiganya masuk kedalam ruangan dokter Akbar. Dokter Akbar, usianya sekitar lima puluhan. Wajahnya  putih bersih. Hanya ada beberapa bintik hitam di sekitar pipinya. Pun rambutnya, hanya tinggal beberapa helai saja yang berwarna hitam. Selebihnya di dominasi warna putih. Ia menyambut hangat dan tersenyum. Setelah mempersilahkan ketiganya duduk, Annisa membuka percakapan.


"Kemarin dokter Rita menyarankan kami untuk menemui dokter disini. Dokter Rita menitipkan ini untuk dokter Akbar. " Annisa mengangsurkan amplop yang kemarin diberikan oleh dokter Rita pada dokter Akbar.


Dokter Akbar menerimanya, kemudian membuka amplop tersebut. Setelah membaca beberapa saat, ia menghela napas panjang.


"Leukositnya cukup tinggi bu. Hampir menyentuh angka 700ribu. Sementara Hbnya cukup rendah, hanya 6 g/dl. Dengan gejala-gejala yang ada, Ini sudah cukup untuk menyimpulkan penyakit ibu. Tapi untuk lebih memastikannya, ibu harus menjalani bone marrow puncture atau tes sumsum tulang belakang. "


"Tes yang bagaimana itu dok?" Kini Annisa yang  bertanya.


"Pengambilan sample sel sumsum dan tulang bu. Sample akan diambil dari tulang panggul atau tulang dada."


"Kapan itu dilakukan dok? " ganti abah yang bertanya.


"Terserah wali pasien pak, bisa saya jadwalkan untuk besok jika bapak dan ibu bersedia. "


"Iya dok lebih cepat lebih baik. "


"Baiklah besok pagi, pukul 10 kita mulai prosedurnya. Wali pasien bisa mengurus administrasinya sekarang. "


Dokter Akbar mempersilahkan ketiganya keluar. Abah menuju bagian administrasi sedangkan ummi dan Annisa memilih menunggu di kantin rumah sakit.


"Mi, Nisa telpon mas Bayu ya? " ucap Nisa setelah menyeruput es teh yang ia pesan.


"Nanti saja ya nduk kalau sudah dirumah. Biar ummi saja yang telpon. Kamu jangan bilang apa-apa dulu sama Bayu. "


"Iya mi. Tapi maaf Mi, besok Nisa nggak bisa temani ummi kerumah sakit lagi. Besok Nisa harus ngajar lagi. Cuti Nisa sudah habis. "


"Iya nduk nggak apa-apa. Besok biar ditemani abah dan bi Lilis. "


****