
"Mas, nikahi Arini."
Ucapan Annisa membuat Bayu terperanjat. Mereka masih berada dirumah duka saat ini. Usai pemakaman orang tua Arini, juga Indra, Arini masih tak sadarkan diri. Damar menemaninya. Kejadian naas itu benar-benar meruntuhkan dunianya. Kehilangan orang tua sekaligus calon suaminya dalam waktu yang bersamaan, membuat ia hilang akal.
Siang itu, usai mengunjungi butik untuk mengambil bajunya, orang tua Arini bertemu dengan Indra yang juga akan mengambil baju milik ibunya. Indra menawarkan diri untuk mengantar mertuanya yang saat itu tidak membawa mobil. Hingga kecelakaan itu terjadi. Sebuah truk melaju dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi dan melaju di jalur yang salah. Truk itu hilang kendali hingga menabrak mobil yang di kendarai Indra dan merenggut seluruh orrang yang ada didalamnya. Orang tua Arini tewas ditempat, sedangkan Indra sempat dilarikan kerumah sakit namun pada akhirnya ia pun meninggal satu jam setelah sampai dirumah sakit.
"Kamu ngomong apa Nis? Maksud kamu apa?" Bayu memutar tubuhnya menghadap Annisa.
"Batalin pernikahan kita mas, nikahin Arini."
"Ngaco. Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu?"
Annisa menyodorkan sebuah foto kepada Bayu. Foto Bayu dan Arini yang ada di laci meja Arini. Annisa mengambilnya.
"Ada apa sama foto ini?"
"Coba balik mas." Dengan ragu Bayu membalik foto itu. Ia terkejut dengan tulisan tangan dibaliknya.
"Arini mencintai kamu mas."
"Aku tau Nis. Dari dulu sikapnya sudah menunjukkan isi hatinya. Tapi dari dulu aku memang nggak ada perasaan lebih sama dia. Lagian gimana bisa kamu suruh calon suami kamu untuk nikahin sahabat kamu sendiri?"
"Mas, Arini butuh kamu. Dunianya hancur, cuma kamu yang bisa sembuhin dia."
"Kayaknya kamu capek, omongan kamu melantur. Lebih baik aku antar kamu pulang." Bayu beranjak dari duduknya, namun Annisa menahan lengannya.
"Mas."
"Jawabannya enggak. Aku nggak akan nikahin Arini dan nggak akan batalin pernikahan kita. Jangan berdebat tentang hal ini lagi." Bayu beranjak. Annisa mengalah dan tidak lagi melanjutkan pembicaraannya.
****
Genap dua hari sudah Annisa menghindar dari Bayu, dia sengaja menginap di rumah Arini karena Damar sedang ada dinas diluar kota. Ia ijin cuti untuk empat hari kedepan hingga Damar pulang. Annisa sama sekali tidak menjawab pesan ataupun panggilan telpon dari Bayu. Keadaan Arini masih sama. Ia hanya duduk dengan tatapan kosong dan sesekali menangis sesenggukan.
Siang itu Annisa tengah memasak sup untuk Arini. Gadis malang itu benar-benar kehilangan selera makan setelah orang tua dan calon suaminya pergi meniggalkannya. Annisa begitu terkejut saat ia masuk kedalam kamar, ia mendapati Arini terkulai lemah diatas kasurnya dan bersimbah darah. Ia melempar begitu saja nampan berisi semangkuk sup dan sepiring nasi ke lantai. Arini hilang kendali. Ia memotong urat nadinya sendiri. Annisa meraih tangan kiri Arini yang sudah berlumuran darah. Ia menekan luka yang memancarkan darah segar dengan menggenggam erat lukanya. Ia meraih ponsel dan menelpon Bayu.
"Assalamualaikum." Ucap Bayu diseberang telpon.
"Mas tolong aku." Ucapnya panik saat mendengar suara Bayu
"Ada apa? Kamu dimana?"
"Jemput aku dirumah Arini mas." Annisa terisak. Bayu langsung menutup panggilan telponnya.
Sepuluh menit kemudian Bayu tiba. Rumah itu nampak sepi saat ia sampai. Bayu memanggil Annisa dan Arini namun sama sekali tidak ada sahutan. Bayu memutuskan naik kelantai dua, menuju kamar Arini.
"Nisa! " Bayu semakin panik saat melihat mangkuk pecah didepan kamar Arini. Ia takut terjadi hal buruk pada dua gadis itu.
"Didalem mas. " Annisa berseru dari dalam kamar. Bayu langsung masuk kedalam.
"Kita bawa Arini kerumah sakit mas." Bayu langsung membopong Arini menuju mobilnya.
"Gimana kejadiannya? Kenapa bisa sampai kayak gini?" Bayu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Arini.
"Tadi aku lagi masak buat Arini, pas masuk kamar aku liat Arini udah nggak sadarkan diri." Annisa menggenggam erat luka ditangan Arini. Ia sudah membalut lukanya menggunakan saputangan putih miliknya.
Sesampainya dirumah sakit, dokter jaga langsung menangani luka Arini. Urat nadinya hampir putus. Ada beberapa jahitan untuk menyambung urat yang hampir putus itu. Arini diberikan obat tidur agar ia bisa beristirahat. Bayu dan Annisa menemani Arini di ruang rawat.
"Minum dulu." Bayu menyodorkan air mineral pada Annisa.
"Makasih mas. Maaf ngerepotin kamu."
"Maka dari itu mas, pikirin--"
"Hanya sebagai adik. Nggak lebih. Aku udah bilang kan, jawaban untuk permintaan konyol kamu kemarin adalah, aku nggak akan nikahin siapapun kecuali kamu." Bayu sedikit meninggikan suaranya. Ia emosi karena Annisa terus saja memintanya menikahi Arini.
"Coba kamu pikirin Arini mas. Kasian dia. "
"Kamu kenapa sih Nis, ngomongin itu terus. atau jangan-jangan kamu emang berniat batalin perjodohan kita dan balik lagi sama bule itu?"
"Loh kok bawa-bawa dia sih mas. Dia nggak ada hubungannya dalam hal ini."
"Jujur aja. Kamu nggak mau nikah sama aku?"
"Bukan gitu mas. Tapi--"
"Minggu depan kita kerumah komandan. Surat ijin udah turun. Sebulan setelahnya kita langsung nikah."
"Mas, jangan keterlaluan. Kondisi Arini masih kacau."
"Keterlaluan gimana? dari awal emang ini rencana kita. Kamu yang tiba-tiba mau mundur."
"Aku nggak akan nikah kalau Arini masih belum baik-baik aja."
"jangan konyol Annisa. Ini masa depan kita. Kenapa kamu terus mikirin Arini?"
"Arini sahabatku mas. Udah kayak saudara. Gimana bisa aku nggak mikirin dia."
"Terus kamu nggak mikirin aku? aku ini calon suamimu. Cukup Nis, tolong jangan pernah bahas masalah ini lagi. Minggu depan kita menghadap ke kesatuan."
"Tapi mas--"
"Jangan di bantah!" Bentaknya pada Annisa. Annisa menunduk sesaat, kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku ke masjid dulu. Mau sholat ashar."
Bayu mencegahnya. Ia mencekal lengan Annisa.
"Maaf. Aku kebawa emosi." Annisa hanya mengangguk dan tersenyum kemudian berlalu pergi.
****
Sepeninggal Annisa, Bayu merebahkan diri disofa, ia sungguh lelah sepulang dari kantornya, ia belum sempat merebahkan badan. Baru beberapa detik memejamkan mata, Bayu terkejut mendengar Arini berteriak histeris sambil memukul-mukul kepalanya. Bayu melompat dari tidurnya dan mendekap erat Arini. Arini terdiam. Aroma tubuh Bayu begitu menenangkan. Annisa melihat mereka dari balik pintu. Ia kembali untuk mengambil ponsel yang lupa ia bawa, namun urung karena ia! melihat Bayu tengah memeluk Arini. Hatinya mendadak sesak. Cemburu menguasai hatinya. Namun segera ia tepis. Ia tidak boleh egois. Annisa kembali melangkahkan kakinya menuju masjid.
"Sabar Rin, istighfar."
"Mereka semua ninggalin aku mas, aku sendiri sekarang."
"Kamu nggak sendiri, aku disini."
"Apa salahku mas? Kenapa mereka semua ninggalin aku?"
"Rin, jodoh, rejeki dan maut itu allah yang atur. Sudah takdirnya mereka pergi. Ini bukan salah kamu. Sekarang kamu istirahat lagi ya."
Arini mengangguk dan menurut. Ia kembali membaringkan tubuhnya di brankar. Sedangkan Bayu duduk disamping ranjangnya. Ia menatap lamat-lamat Arini yang sudah memejamkan mata. Arini wanita yang cantik. Kulitnya putih, wajah yang tirus dan giginya yang gingsul semakin menambah pesonanya. Sudah sekitar 10 tahun Bayu mengenal gadis itu. Bayu memang menyayanginya namun hanya sebatas sayangnya seorang kakak pada adiknya. Tidak pernah lebih dari itu. Hatinya kini milik Annisa. Hatinya selalu bergetar saat didekat Annisa.
'Haruskah aku mengabulkan permintaanmu Nisa? Haruskah aku mengorbankan cinta untuk sebuah hubungan yang mengatasnamakan rasa kemanusiaan?'
****