Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Aku Seorang Muallaf



Mobil abah Usman memasuki pelataran rumah Annisa. Abah, Ummi juga Bayu turun dari mobil. Bayu mengenakan kemeja batik berwarna hitam dengan motif parang berwarna coklat, juga celana katun berwarna hitam. Tampak begitu gagah. Didepan pintu Bayu dan keluarga sudah disambut oleh kedua orang tua Annisa. Keduanya tampak sumringah.


"Silahkan masuk calon besan. "


"Jangan pake calon dong. Panggil besan aja."


"Mana putriku? " tanya ummi. Ia duduk disamping suaminya berhadapan dengan oraang tua Annisa. Sedangkan bayu duduk disamping abahnya.


Annisa mengenakan kebaya berwarna coklat muda dengan jilbab yang sama warnanya, juga jarik berwarna coklat tua. Annisa memakai riasan natural membuatnya tampak begitu cantik. Ia keluar digandeng Arini menuju ruang tamu, kemudian duduk ditangah orang tuanya. Sedangkan Arini langsung kembali kedalam. Setetes bulir bening jatuh dari sudut matanya. Disudut terdalam hatinya, ia cemburu. Tapi hanya diam yang bisa ia lakukan.


"Masyaallah, cantiknya putri ummi. Kalau liat kedip Yu, nanti matamu kering." Bayu menggaruk tengkuknya dan tersenyum. Bayu memang tengah memandangi gadis didepannya itu.


"Nah berhubung semua sudah disini, langsung kita bahas aja rencana pernikahan kalian. Sengaja nggak bawa rombongan memang sunnahnya begitu. Rasullullah bilang sembunyikan khitbah, kabarkan pernikahan. Jadi rombongannya dibawa nanti pas nikahan aja. Nggak keberatan kan nduk?"


"Nggak bah, sama sekali nggak keberatan. "


"Baiklah kalau begitu. Abah serahkan sama Bayu. Biar dia ngomong sendiri. " semua menoleh kearah Bayu yang tengah menunduk.


"Ehm,-" Bayu berdehem dan sejenak mengambil napas panjang kemudian membuangnya.


"Sebenarnya saya nggak pandai basa basi pak bu, jadi langsung saja. Kedatangan saya kemari bermaksud ingin meminang putri bapak dan ibu untuk menjadi istri saya. "


"Gimana Nis? Kamu mau? " tanya sang ayah pada Annisa.


"Iya yah, Nisa mau. "


"Alhamdulillah. " hamdalah terdengar secara serentak diruangan itu.


"Tapi ada syaratnya Yu. Saya nggak akan semudah itu ngasih anak saya ke kamu. "


Wajah Bayu sedikit menegang.


"Apa syaratnya pak? "


"jangan sakiti Annisa, itu saja yang saya minta."


"Siap pak, saya tidak akan menyakiti Annisa lagi. "


"Lagi? Memangnya kamu pernah nyakitin Annisa. " ummi dan ibu Annisa sontak bertanya bersamaan.


"eh, itu, bukan begitu maksudnya mi, bu. "


"Sudah sudah, intinya jangan pernah nyakitin Annisa itu saja yang saya minta. "


"Siap pak. "


Diseberang rumah itu, Thomas berdiri di samping mobilnya. Mengamati dari jauh, menatap nanar kearah rumah Annisa. Hatinya terluka. Teramat sakit. Tapi ia sudah kalah. Ia harus terima itu kenyataan. Ingin sekali ia masuk kedalam rumah itu dan membawa lari Annisa. 'Ah, seandainya bisa.' gumamnya dalam hati. Ia ingin melihat Annisa sekali lagi. Ia rindu. Annisa tidak pernah tau bahwa Thomas diam-diam selalu datang kerumahnya dijam-jam ia pulang mengajar. Hanya ingin memandang. Tidak lebih.


****


"Mom, apa kau tau sesuatu tentang islam? " Thomas saat itu sedang duduk di meja makan bersama seluruh keluarganya.


"Islam? Tentu saja. Keluarga besarku sebagian memeluk agama islam. "


"Agama seperti apa islam itu? "


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang islam son?" Sang ayah turut bertanya.


"Entahlah, rasanya aku tertarik pada agama itu."


"Uhuk, " Kevin yang tengah sibuk mengunyah makanannya tiba-tiba tersedak.


"Calm down brother, kenapa kau buru-buru. "


"Kau membahas sesuatu disaat yang tidak tepat Thom. Tapi kalau kau ingin mengetahui segala hal tentang agama itu, aku punya kenalan yang bisa menjelaskannya. "


"Benarkah? Bisa kau antar aku kesana? "


"Tentu jika mom and dad mengizinkan. "


"Jangan bilang kau ingin tau tentang agama itu karena Annisa Thom? " ibunya menatap tajam.


"Apa salahnya? Aku hanya ingin tau. "


"Annisa? Apa dia pacarmu? " tanya Kevin.


"Ex. Aku dicampakkan karena kami berbeda keyakinan."


Kevin menghela napas panjang.


"Ternyata kita senasib Thom. Tapi aku tidak sepertimu yang terima begitu saja saat dicampakkan. "


"Maksudmu? "


"Maaf mom, dad, dan kau Thom, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini pada kalian. Sekarang aku seorang muallaf. "


Kini Crhistian yang tersedak makanannya. Irina mengangsurkan gelas berisi air pada suaminya itu.


"Kau memeluk agama islam? Sejak kapan?"


"Sejak enam bulan yang lalu. Ayah dari kekasihku mengajukan syarat agar aku tetap bisa bersamanya. Jika tidak menerima syarat itu, aku harus meninggalkannya. "


"Dan kau mau menukar keyakinanmu hanya demi seorang perempuan? Luar biasa Kev. Kau sungguh membuatku kecewa. Dan kau Thom, jika kau mau mengikuti jejak adikmu tercinta ini, silahkan saja. kuharap kau tak akan menyesal. " Chrhistian beranjak meninggalkan meja makan dengan muka yang nampak merah menahan amarah.


"Aku tak menyangka kau akan melakukan ini Kev, dan kau Thomas, jangan coba-coba membangkang ayahmu. " Irina turut beranjak dari meja makan menyusul sang suami.


Thomas medesah kasar. Ternyata Kevin, lelaki berusia dua puluh lima tahun itu lebih berani mengambil keputusan besar daripada dirinya. Kevin lebih merelakan kepercayaan yang ia anut sejak ia kecil demi mendapatkan gadisnya.


"Hei, jika kau pikir aku meninggalkan kepercayaanku terdahulu hanya sebatas untuk mendapatkan gadis itu, kau salah. Aku jatuh cinta pada agama baruku saat ini. Kau juga akan merasakannya saat kau mulai mengenalnya. Aku pergi dulu. "


Kevin, lelaki yang berprofesi sebagai manager di sebuah perusaahaan textile di jakarta itu telah memilih. Ia telah menjatuhkan pilihannya pada agama islam. Terbesit rasa iri dalam diri Thomas, ia tidak seberani adiknya. Ia bahkan masih berpikir ribuan kali untuk meninggalkan kepercayaannya saat ini.


****


Thomas melajukan mobilnya menuju salah satu mall di dekat kompleks perumahannya. Ia hanya ingin menghilangkan penat dan keresahan dalam hatinya. Saat itu waktu ashar. Adzan berkumandang saling bersahutan. Ia menepikan mobilnya disalah satu masjid dan mendengarkan alunan adzan itu. Hatinya perlahan menjadi tenang. Otaknya yang tadinya menegang memikirkan semua hal yang menimpa hidupnya, kini perlahan menjadi rileks.


Sebenarnya ingin sekali ia turun dan masuk kedalam masjid itu, tapi ia ragu. Apa yang akan ia lakukan didalam sana. Dulu sekali saat pertama kali berjumpa dengan Annisa, ia pernah masuk ke dalam masjid yang ada dikapal. Ia memperhatikan orang-orang yang tengah bersujud, kemudian duduk, kemudian sujud lagi lalu berdiri. Menarik, itu seperti gerakan olahraga.


Setelah azdan selesai berkumandang, Thomas kembali melajukan mobilnya menuju mall. Resahnya sudah hilang sedikit demi sedikit. Ketika sampai di mall, Thomas melangkahkan kaki masuk kedalam gerai buku. Saat masih bersama Annisa dulu, mereka seringkali pergi ketoko buku dan akan memborong banyak buku. Karena Annisa, ia mulai suka membaca buku.


"Aku dulu." seorang wanita meraih buku yang sudah berada ditangan Thomas. Sontak ia menoleh. Detik berikutnya senyum terkembang. Annisa, gadis yang ia rindukan datang dan merebut buku yang seharusnya ia beli. Tak masalah, jangankan buku, hatinya pun rela ia berikan untuk gadis itu.


"Anything for you, sweetheart."


"A walk to remember, mulai menyukai romance?"


"Aku hanya melihat-lihat. Where's your fiance?"


"Sedang menghadap atasannya. Boleh kita bicara sebentar? "


"Of course. Sambil makan. Perutku lapar sekali."


****


Memasuki kedai nasi goreng, Annisa memesan seporsi nasi goreng seafood, sedangkan Thomas memesan nasi goreng jawa favoritnya. Mall itu tampak lengang karena memang hari itu bukan hari libur. Sepulang mengajar Annisa pergi ke mall untuk membeli beberapa buku untuk referensi sampai akhirnya ia bertemu dengan Thomas.


"Lihat makananmu, jangan terus melihatku. "


Thomas memang tengah makan sambil memandangi Annisa.


"Soal ibuku kemarin, aku minta maaf. "


"Tidak apa. Aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf."


"Tidak, kau sama sekali tidak salah. Ibuku yang berlebihan. "


"Sudahlah, terserah kau saja. Sedang apa kau disini? "


"Aku hanya merindukan ibuku dan merindukanmu. "


"Aku akan segera menikah. "


"Aku tau. "


"Berhentilah mencintaiku. "


"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan mengganggumu. "


Annisa tak menanggapi ucapan Thomas. Ia hanya diam dan menunduk. Sedangkan Thomas, menatapnya lekat.


"Apa kau mencintainya? "


Annisa mengangkat kepalanya kemudian menggeleng lemah.


"Entahlah, mungkin belum. "


"Jika kelak, kau tidak bahagia bersamanya, kembalilah padaku. Aku akan tetap setia menunggu mu. "


"Jangan menunggu Thom. Menikahlah. kau juga butuh seorang teman. Jangan terlalu tenggelam dalam kenangan. Ingatlah ibumu. Dia akan bersedih jika kau terus seperti ini. "


"Ini hanya masalah waktu, tenang saja. Aku juga sedang berusaha. Pulanglah. Akan jadi masalah buatmu jika tunanganmu melihat kita bersama. "


"Ya baiklah, aku pulang dulu. Jaga dirimu."


****


[Nis ummi drop.]


Pesan dari Bayu membuat Nisa bergegas menuju rumah sakit yang Bayu sebutkan. Ia melajukan mobilnya sedikit mengebut. Ia khawatir pada Ummi.


Sampai didepan UGD ia sudah disambut oleh Bayu yang tengah berdiri didepan pintu. Abah sedang tidak ada di rumah saat Bayu membawa ummi kerumah sakit. Abah sedang mengisi ceramah di pondoknya.


"Ummi gimana? "


"Masih diperiksa. Tadi beliau demam tinggi dan nggak sadar. "


"Maaf ya, akhir-akhir ini aku jarang perhatiin ummi gara-gara mau uas. "


"kenapa kamu minta maaf Nis, ini bukan salah kamu. Lagian merawat ummi harusnya tugasku, bukan tugas kamu. Yang penting sekarang kita doa, biar ummi baik-baik aja."


"Iya mas. "


Tak lama, dokter keluar dari UGD dan mengabarkan bahwa ummi harus rawat inap. Bayu mengikuti dokter untuk menyelesaikan administrasi sedangkan Annisa tetap menjaga ummi sampai ummi dipindahkan ke ruang rawat.


Setelah menyelesaikan administrasi, ummi segera dipindahkan ke ruang rawat. Bayu memilih kamar kelas satu agar ummi merasa nyaman. Abah datang ketika ummi baru saja membuka mata. Pukul sembilan malam saat itu. Abah nampak sangat khawatir pada istrinya.


"Kamu pulang dulu nduk, biar Abah dan Bayu yang jaga. Kamu besok ngajar kan? Biar Bayu yang antar. "


"Iya bah. Besok pagi Nisa kesini bawain kalian sarapan."


Nisa mendekat kearah ummi dan memeluknya sejenak.


"Nisa pamit mi. Besok Nisa kesini lagi. "


"Makasih ya nduk. Hati-hati dijalan. "


"Nisa pamit bah, assalamualaikum. "


"Iya nduk hati-hati waalaikumsalam. "


****


Pagi hari, Annisa ditemani Arini pukul enam pagi sudah berada di rumah sakit. Arini memaksa ikut karena ingin menjenguk ummi. Ketika membuka pintu, yang pertama terlihat adalah Bayu yang tertidur di sofa. Lelaki itu tampak pulas dan terlihat lelah. Sedangkan ummi, ia telah bangun dan hanya menatap lagit-lagit rumah sakit yang berwarna putih. Ummi menoleh ketika pintu terbuka.


"Assalamualaikum mi. " ucap Nisa pelan sekali. Ia takut membangunkan Bayu.


"Waalaikumsalam. " ucap ummi tak kalah lirih.


"Mi gimana keadaan ummi? " Arini mendekat dan memeluk ummi.


"Alhamdulillah, sudah baikan Rin. Kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah mi, aku baik."


"Kalian kesini dulu apa nggak telat? "


"Nggak mi, Nisa mau nganter sarapan buat mas Bayu dan abah. Abah mana mi? "


"Abahmu belum pulang dari mushollah. Bangunin mas mu dulu nduk. Biar dianter ke sekolah."


"Nggak usah mi, biarin mas Bayu tidur, Nisa berangkat sama Arini kok. Nisa pamit ya mi, nanti sepulang ngajar insyaallah Nisa kesini lagi. "


"Iya nduk, kalau begitu kalian hati-hati. "


"Iya mi. Assalamualaikum. " keduanya mencium punggung tangan ummi. Kemudian keduanya beranjak meninggalkan ruang rawat ummi. Annisa dan Arini menaiki taksi online yang sudah mereka pesan sebelumnya. Jarak dari rumah sakit ke sekolah memang lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 30 menit.


"Apa mas Bayu baik-baik aja Nis? " pertanyaan Arini membuat Annisa seketika menghentikan aktivitasnya berselancar di dunia maya. Taksi sudah setengah jalan mengantar mereka ke sekolah.


"Baik Rin. Mas Bayu baik-baik aja."


Kemudian hening tercipta. Arini tidak menyahut.


"Rin. "


"Apa? "


"Kamu bilang kamu udah kenal mas Bayu lama. "


"Hmm, bang Damar sama mas Bayu satu SMA dulu. Mas Bayu sering main kerumah. "


"Sejak SMA? "


"Iya. "


"Apa kamu kenal Vina? "


"Vina? "


"Iya, Vina. "


Arini menghela napas.


"Mantannya mas Bayu. Pernah kerumah satu kali. Mas Bayu pernah terpuruk karena perempuan itu."


"Terpuruk? "


"Mas Bayu habis-habisan di tolak sama keluarganya Vina. Dikata-katain yang jelek-jelek pokoknya. Katanya mas Bayu itu nggak selevel sama mereka. Vina anak orang kaya. Orang tuanya punya perusahaan konstruksi. "


"Terus? "


"Ya abis itu mereka putus. Yang paling bikin dia down waktu itu, Vina, bukannya belain mas Bayu malah ikut ngatain. Padahal Vina tuh cinta pertamanya mas Bayu. Eh tunggu, kenapa tiba-tiba kamu nanyain soal Vina? "


"Ehm itu, jadi kemarin pas ke rumah dinasnya mas Bayu, aku liat mereka lagi berduaan. "


"Hah? Ngapain dia disana? "


"Nggak ngapa-ngapain. Udah yuk turun udah sampai." Tak terasa mobil itu telah berhenti di depan gerbang. Keduanya kemudian turun dan memasuki sekolah yang tampak sudah ramai.


****


"Nih liat. " Arini menyodorkan ponselnya pada Annisa. Ponselnya menampilkan foto seorang lelaki mengenakan PDL tengah bersendekap dengan background mobil suv berwarna hitam.


"Siapa? " Annisa menanggapi malas foto itu. Ia tengah melahap nasi rawon yang ia pesan untuk makan siang.


"Temen seletting abang sama mas Bayu. Bang Indra namanya. "


"Terus? "


"Aku udah pacaran sama dia. "


Annisa hampir saja menyemburkan es teh yang baru saja ia sruput.


"Kalem aja bukk. "


"Orang mana? "


"Jogja. " ucap Arini sambil tersenyum lebar.


"Akhirnya. Purna sudah masa jomblomu itu. Di Yonif 201 juga? "


"Iya dong. "


"Kapan kenalnya? Kok udah jadian aja? "


"Kenalnya pas berangkat satgas. Nanti pulang satgas mau langsung tunangan. Eh apa langsung nikah aja ya? Biar barengan kita? " ia tergelak.


"Dasar. Udah bosen single buk? Bawaannya pengen nikah aja. "


"Iya dong aku ini wanita normal. "


"Emang udah jatuh cinta? Cepet banget. Kan baru kenal?"


"Belum. Haha. Dia nembak ya aku terima aja. Lumayan, ngerubah status jomblo. "


"Kalau nggak sesuai kata hati, jangan dilakuin. Bikin nggak bahagia. "


"Ishh, itukan kutipanku. "


"Sengaja ku ulang. Mana tau yang punya kutipan lupa. "


"Haha lucu. Udah ah ayo balik ke kelas. " Arini menanggapi ucapan Annisa dengan tawa yang dibuat-buat setelah itu beranjak membayar makanannya dan kembali ke kelas.


****


[Hey, aku akan kembali ke Merauke besok. Aku harap kau tak akan merindukanku. Jaga dirimu baik-baik.]


Annisa mengetikkan beberapa kata, kemudian mengirimnya pada Thomas.


[Hati-hati disana. Beranjaklah. Jangan hanya duduk dan tenggelam dalam masalalu. Kadang, ada beberapa cinta yang bersambut namun tak dapat bersatu. Jika itu terjadi padamu, berbesar hatilah. Tuhan tengah menguji cintamu padanya. Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya. ]


Thomas memejamkan matanya setelah membaca pesan Annisa. Ia tau diri untuk tidak lagi mengaharapkan Annisa. Masalah cinta, ia sendiri tak tau harus dibawa kemana cinta yang patah ini. 'Semoga kau selalu bahagia Nisa' gumamnya dalam hati


****