
Annisa dan Thomas berjalan menyusuri jalanan kota yang nampak ramai. Masih pukul 7 saat itu. Keduanya berjalan dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan hingga
Thomas melihat kedai rawon makanan favoritnya berada tepat di samping kirinya, ia berhenti. Keduanya belum sempat makan tadi.
"Makan dulu, aku lapar."
"Oke."
Setelah didalam, Thomas memesan 2 porsi rawon dan nasinya serta 2 gelas es teh tawar.
"Ambil makananku setengahnya." Ucap Annisa. Ia menyodorkan piringnya pada Thomas.
"Kenapa? Habiskan makananmu." Thomas mendelik kesal melihat tingkah Annisa.
"Aku kenyang."
"Jangan pikirkan ucapan ayahku."
"Kau juga memikirkannya bukan?"
"Biar itu jadi urusanku. Makan saja. Jangan pikirkan apapun."
"Aku kenyang Thom. Kau saja yang makan."
"Ayolah, jangan menguji kesabaranku."
"Aku makan setengahnya saja. Sisanya kau yang habiskan."
Thomas mengusap wajahnya kasar. Ia baru teringat istrinya ini begitu keras kepala.
"Baiklah. Habiskan setengahnya. Sisanya biar aku."
Usai makan, keduanya langsung keluar dari kedai. Mereka berjalan kaki karena taksi sudah jarang yang lewat. Taksi online pun sama sekali belum ada di kota ini.
"Kau ingin kemana?" Tanya Thomas. Ia menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Langsung ke hotel saja. Kau pasti lelah."
"Hemm, baiklah. Tak apa kan kalau jalan kaki?"
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa."
Sampai di hotel, keduanya langsung merebahkan diri diatas kasur. Lagi, hanya hening yang tercipta. Keduanya enggan membicarakan kejadian dirumah orang tua Thomas. Hingga keduanya sama-sama terlelap dalam tidurnya.
****
Usai sholat subuh, Thomas dan Annisa memutuskan untuk jogging di tepi pantai yang terletak tak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Mereka sudah tidak memikirkan kejadian semalam, kini wajah keduanya nampak lebih sumringah.
"Nanti setelah sarapan, ikut aku kesuatu tempat. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."
"Siapa?"
"Seorang saudara."
"Baiklah."
****
"Pondok pesantren?"
"Ya, pondok pesantren."
Keduanya turun dari taksi begitu taksi sampai didepan gerbang pondok pesantren Annajah Yamra.
"Biar ku tebak, kau belajar dan masuk islam disini?"
Thomas tersenyum dan mencondongkan wajahnya pada wajah Annisa.
"Apa kau seorang cenayang sayang?" Ia menjawil hidung istrinya.
Keduanya masuk kedalam area pondok yang nampak sepi saat itu. Kasih pukul sembilan pagi, sudah pasti jam pelajaran sedang berlangsung.
"What a nice surprise, Ali." Dari arah masjid, Zulfikar datang menghampiri Thomas dan Annisa.
"Dia bicara padamu?" Tanya Annisa pada Thomas.
"Of course, hanya kita yang ada disini."
"Who's Ali?"
"Me, of course." Thomas tersenyum. Kemudian ia menyambut pelukan Zulfikar saat lelaki itu telah berada di depannya.
Didalam ruang tamu, Annisa dan Thomas duduk berdampingan sedangkan Zulfikar duduk tepat di hadapan Thomas ditemani oleh ayah dan ibunya. Sudah terhidang lima cangkir teh di meja.
"Jadi kau menikah dan tidak mengabariku?"
"Maaf, aku terlalu tenggelam dalam bahagia sampai lupa mengabarimu." Semua orang yang ada didalam ruangan itu tergelak.
"Jadi, kau yang namanya Annisa?" Zulfikar memandang Annisa.
"Ya, aku Annisa."
"Kau tau Annisa, Thomas selalu membawamu kemanapun dia pergi."
"Maksudnya?"
"Maksudku, fotomu selalu dia bawa kemanapun. Fotomu bahkan menjadi wallpaper di ponselnya."
"Oh, ya dia memang seperti itu." Annisa tersipu.
"Jadi ceritakan, bagaimana kalian bisa menikah?" Tanya Abah kemudian.
"Abah pernah bilang bukan, manusia boleh berencana, tapi Allah lah yang menentukan hasil akhirnya. Allah menakdirkan dia berjodoh denganku, maka sematang apapun rencana pernikahannya, pada akhirnya batal juga." Ucap Thomas. Ia tersenyum jumawa.
"Ah, ku kira kau merebutnya dari suaminya." Sahut Zulfikar mengangguk-angguk.
"Kalau dia sudah menikah mungkin aku akan mengusahakannya. Tapi allah memudahkan jalanku." Kedua lelaki itu tertawa. Sedangkan Annisa mendelik kesal.
"Ehm, mana boleh kalian berkata seperti itu. Ingat, allah melaknat para perusak rumah tangga orang lain."
"Iya, maaf abah. Aku hanya bercanda." Thomas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tersadar bahwa ucapannya sudah kelewatan.
"Thomas dulu itu nduk begitu mantap masuk islam. Kami kira dia masuk islam karena ingin memilikimu, tapi waktu itu dia bilang kau sudah menikah. Kami lega mendengarnya. Dia masuk islam, murni karena allah. Karena mendapat hidayah allah." Jelas ummi Izza
"Iya ummi, saya juga sempat heran waktu berkunjung ke rumah saya dia mengucap salam, padahal biasanya dia tidak pernah seperti itu."
"Semoga allah selalu memberkahi pernikahan kalian berdua ya. Tinggal si Zul saja ini yang masih betah menyendiri. Padahal umminya sudah ingin menimang cucu." Ucap ummi Izza sambil melirik Zulfikar yang berada disampingnya.
"Insyaallah mi, doakan saja. Kalau memang allah belum mengirimkan jodoh, mau gimana lagi?"
"Yang penting usaha Zul. Jodoh tidak datang dengan sendirinya. Kau perlu berjuang." Sahut Thomas.
Mereka berbincang hingga waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang. Ketiga orang itu beranjak menuju masjid. Thomas dan Annisa duduk diteras masjid sambil berbincang sedangkan Zulfikar, lelaki itu mengambil al quran untuk melanjutkan tilawahnya.
"Jadi, sejak kapan kau merubah namamu menjadi Ali, dan kenapa tidak memberi tahuku?"
"Umm, sejak aku masuk islam beberapa bulan yang lalu. Aku lupa memberitahumu."
"Kenapa Ali?"
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Sangat suka. Tapi kenapa bukan nama lain?"
"Entahlah, Zulfikar bilang Ali adalah nama dari menantu Rasullullah. Zulfikar dan ayahnya yang pilihkan."
Wanita itu mengenakan rok selutut berwarna hitam dan atasan kaus berwarna abu-abu, tak lupa syal panjang yang ia gunakan untuk menutupi rambutnya. Wanita itu tampak kebingungan. Ia duduk dengan gelisah. Annisa segera menanyai wanita itu.
"Mbak nggak bawa mukenah?" Sapa Annisa.
"Emm, sebenarnya saya mau sholat, tapi saya nggak bisa." Ucap wanita itu ragu. Annisa tersenyum. Sesaat anak laki-laki wanita itu menatap kearahnya. Warna matanya biru, sama seperti milik Thomas. Kulitnya putih dan rambutnya berwarna coklat. Jelas ayahnya seorang kaukasian.
Annisa berdiri ke arah lemari mukenah yang ada di pojok ruangan. Ia mengambil sepasang mukenah, kemudian menyerahkan mukenah itu pada wanita disampingnya tadi.
"Mbak pakai ini saja." Annisa menyodorkan mukenah yang baru saja ia ambil. Wanita tersebut mengambilnya.
"Mbak namanya siapa? Saya Annisa." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Anita."
"Siapa namamu jagoan?" Annisa beralih menatap anak laki-laki tersebut.
"Jo." Anak lelaki itu menjawab ragu.
"Baiklah Jo, selama ibumu sholat, bisakah kau duduk di samping ibumu sampai ia selesai sholat?"
Jo hanya mengangguk, kemudian bersembunyi dibalik mukenah sang ibu.
"Dia memang pemalu."
"Tidak apa-apa mbak. Nanti selama sholat berlangsung, mbak ikuti saja gerakannya. Doa-doanya mbak bisa belajar nanti setelah sholat. Nanti saya kenalkan mbak Anita dengan Ummi disini." Ucap Annisa ramah.
"iya, terimakasih."
Annisa mengangguk dan tersenyum. Tak lama iqomah dikumandangkan, seluruh jamaah berdiri tak terkecuali Annisa dan Anita. Seluruh jamaah nampak khusyuk dalam sholatnya.
****
Usai sholat Annisa mengajak Anita dan anaknya menemui Ummi Izza. Sesekali ia mencuri pandang melihat Jo yang tampak masih takut dengan suasana sekitar pesantren. Bocah itu amat menggemaskan. Ia berangan-angan bagaimana wajah anaknya kelak, mungkin kurang lebih akan sama seperti Jo.
Setelah mengenalkan Anita dengan ummi Izza, Annisa pamit undur diri. Namun ummi Izza menahannya.
"Makan siang disini dulu Nis, kita makan sama-sama. Suamimu sudah bilang iya. Jadi jangan menolak." Ucap Ummi Izza.
"Iya ummi."
"Nak Annita juga sekalian saja makan disini, Jo pasti lapar kan?" lanjut Ummi Izza kemudian.
"Iya, Jo lapar sekali." Bocah itu menyahut polos. Anita tersenyum sungkan. Anaknya terlalu jujur. Memang sedari pagi keduanya belum makan.
"Nisa bantu siapkan makanannya Ummi."
"Tidak usah Nis, makanan sudah siap. Tadi sudah disiapkan sama mbak ningsih. Kamu panggil suamimu saja."
Saat berbalik, ternyata Thomas sudah berada dibelakangnya bersama Zulfikar dan Abah.
"Nah, Ali kita makan siang dulu ya, ummi sudah siapkan."
"Eh, iya Ummi, maaf jadi merepotkan." Thomas menggaruk tengkuknya.
Anita yang duduk dikursi membelakangi pintu, segera menoleh kearah lelaki yang ummi panggil Ali. Sontak Anita yang tengah memangku Jo, berdiri. Benar-benar kejutan. Setelah dua tahun lamanya menghilang, kini keduanya dipertemukan di pesantren ini.
"Pak Thomas." Ucap Anita. Semua orang diruangan itu menoleh kearah Anita. Tak terkecuali Thomas. Thomas tak kalah terkejut.
"Anita. Sedang apa kau disini?" Mendadak tubuhnya membeku. Ingatannya kembali melayang pada malam itu. Malam saat ia dan Anita terjerembab dalam dosa.
"Apa kalian saling kenal?" Tanya Annisa penasaran.
"Emm, Anita ini mantan sekretarisku dulu. Sayang, sebaiknya kita pulang saja." Ucap Thomas. Ia menatap tajam ke arah Anita.
"Pulang? Tapi ummi sudah siapkan makan siang untuk kita."
"Kita makan nanti saja. Aku masih kenyang. Ummi, abah, Zul kami pamit dulu. Mungkin besok atau lusa kami akan berkunjung lagi."
"Kenapa tiba-tiba kau ingin pulang? Bukankah kau setuju untuk makan siang disini?" Sahut Zul tak terima.
"Mendadak aku ada urusan. Maafkan aku."
Thomas segera menarik Annisa yang selesai bersalaman dengan ummi dan Anita. Anita menatapnya nanar.
"Apa kau sedang mencoba menghindariku pak Thomas?" Anita mengeraskan suaranya. Sontak Annisa berhenti melangkah. Ia mulai mencerna keadaan.
"Apa lagi yang kau tunggu? Kenapa berhenti?" Thomas tak menanggapi ucapan Anita.
"Bukankah dia sedang bicara padamu?" Annisa melepaskan genggaman tangan Thomas dan berbalik ke arah Anita.
"Kenapa dia harus menghindarimu mbak? Apa kalian punya masalah?"
"Tanyakan saja pada suamimu."
Abah mulai mengerti apa yang kini tengah terjadi. Berkali-kali ia menatap ke arah Jo juga pada Thomas. Ia sangat mengerti apa yang dimaksud Anita. Ia mencoba menengahi.
"Baiklah, kita bicarakan masalah ini sambil duduk."
"Ali, Annisa kalian duduklah dulu. Sepertinya terjadi kesalah pahaman disini." Abah memberi isyarat pada Ummi untuk masuk.
"Kurasa tidak perlu abah. Tidak ada kesalah pahaman disini. Dia hanya mantan sekretarisku, tidak lebih."
"Benarkah begitu pak Thomas? Hanya sekretaris? Tidak lebih? Tidakkah kau mengingat malam itu?"
"Cukup Anita jangan dilanjutkan. Aku sudah menikah."
"Bisa kau jelaskan apa yang telah terjadi Thom?" Mata Annisa sudah berkaca-kaca. Ia sangat mengerti apa yang saat ini sedang terjadi. Mata biru Jo telah menjelaskan segalanya. Matanya, hidungnya rambutnya, semua sama seperti milik Thomas.
"Sayang, ini hanya salah paham. Wanita ini mantan sekretarisku. Itu saja."
"Katakan yang sejujurnya. Aku akan mendengarkan."
"Nisa, tidak ada yang harus dijelaskan disini."
"Apa perlu aku sendiri yang menjelaskannya?" Annisa tak dapat menahan air matanya.
"Mbak Anita, apa benar dugaanku, bahwa Jo adalah anak kandung Thomas?" Annisa memberanikan diri untuk bertanya.
Semua orang didalam ruangan itu terdiam. Begitupun Thomas, lelaki itu bungkam. Matanya memanas. Kali ini ia akan tamat. Annisa benar-benar akan meninggalkannya, itulah yang kini memenuhi kepalanya.
"Nak Anita, bicaralah. Katakan yang sejujurnya. Kita akan cari jalan tengahnya." Ucap abah memecah keheningan.
"iya, pak Thomas adalah ayah kandung Joshua anak saya. Dia ayah biologisnya."
Anita menatap tajam kearah Thomas. Sedangkan lelaki itu hanya mampu menunduk. Ia memikirkan kemungkinan terburuk dari nasib pernikahannya yang baru berumur beberapa hari. Ia merutuk. Harusnya ia tak menuruti Annisa untuk pergi ke Merauke.
"Nak Anita, kau tau, Ali atau yang kau kenal sebagai Thomas, dia sudah menikah beberapa hari yang lalu. Dan Annisa ini istrinya."
"Saya tau abah. Tadinya saya kemari hanya ingin belajar agama. Tapi setelah dipertemukan kembali dengan ayah dari anak saya, lelaki yang sampai saat ini saya cintai, saya mulai memikirkan hal lain."
Annisa menunduk. Kini air matanya jatuh tanpa aba-aba. Thomas meraih tangannya, namun segera ia ditepis.
"Sayang, jangan dengarkan perempuan itu." Ucap Thomas. Namun Annisa hanya diam.
"Kalau boleh tau, hal apa itu nak?"
Anita menghela napas panjang. Kemudian bergantian menatap Thomas dan Jo anaknya. Ia memikirkan hal gila saat ini. Yang terpenting Jo anaknya tidak terlantar. Biarlah orang lain menyebutnya tidak waras. Demi Jo, semua akan ia lakukan.
"Saya ingin pak Thomas bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada saya."
****
To be continue ....