Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Salah Paham



Oh ya tadi kan kamu bilang kalau Nisa salah paham sama kamu Yu? Salah paham soal apa?"


Abah Usman yang nampak telah selesai makan, tiba-tiba bertanya. Tak urung membuat Bayu tersedak makanannya.


"Minum dulu mas. " Nisa mengangsurkan gelas berisi air pada Bayu dan langsung ditenggaknya habis.


"Em, itu sebenarnya--" sesaat Bayu menatap Annisa.


"Salah paham apa mas? "


"Soal yang tadi aku bisa jelasin Nis. "


"Oh soal perempuan tadi? Aku nggak salah paham kok. Jadi tadi pas Nisa masuk kerumah mas Bayu, Nisa lihat ada perempuan didalam trus Nisa pergi gitu aja. Dikira mas Bayu Akunya salah paham, padahal buru-buru mau kesekolah." Bayu menatap bingung.


"Nanti kita bicara mas. " lirihnya.


****


"Jadi Vina bener pacar kamu mas? " usai makan siang Annisa dan Bayu duduk di gazebo depan rumah. Bayu masih bingung dengan sikap Annisa yang berusaha menutupi kesalahannya.


"Mantan pacar Nis, aku sama dia udah lama putus. Abah sama ummi nggak suka sama dia."


"Terus yang aku liat tadi? Jelas kamu tahu bagaimana hukumnya mas. "


"Iya, maaf. " Bayu menunduk.


Annisa menghela napas panjang. Bayu sama sekali tidak ingin menjelaskan kejadian yang tadi ia lihat.


"Aku mendadak ragu sama kamu mas."


"Nis, jangan ngomong gitu. Aku janji bakal tebus kesalahanku tadi. Kamu bilang aja aku harus apa biar dapat maaf dari kamu. "


"Kamu masih ada perasaan sama dia? "


"Demiallah aku sama sekali nggak punya perasaan ke dia Nis, aku sama dia udah putus dari empat tahun yang lalu. "


"Kenapa dia masih leluasa keluar masuk rumah kamu? Ah, udahlah mas, aku juga nggak berhak marah sama kamu. Kita udahin aja."


"Maksudnya? Kamu mau batalin perjodohan kita?"


"Kayaknya lebih baik seperti itu. "


"Ummi gimana? Apa kamu nggak mikirin perasaan ummi?" Annisa hanya bergeming.


"Jangan dibatalin Nis aku mohon. "


"Apanya yang dibatalin Yu?" Ayah Annisa melangkah keluar bersama sang istri. Bayu tergagap.


"Bukan apa-apa yah, mau pulang kan? Barengan aja. "


"Loh kamu mau pulang juga, nggak mau disini dulu sama calon suamimu? "


"Mas Bayu capek, mau istirahat. Iya kan mas?" Bayu mengangguk pasrah.


"Yasudah, kalo gitu kita pulang dulu Yu. Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam. " Ucap Bayu lirih.


"Bentar yah, Nisa mau pamit sama abah dan Ummi. Ayah sama ibu tunggu dimobil aja. "


"Nis, jangan kayak gini, kita bicarain dulu baik-baik. Kondisi ummi lagi nggak sehat. " Bayu mencekal tangan Annisa yang hendak masuk kedalam kamar ummi.


"Aku nggak akan ngomong mas, nanti kamu cari waktu yang tepat untuk ngomong sama abah dan ummi. Orangtuaku, biar aku yang kasih tau."


Tanpa aba-aba Bayu tiba-tiba saja berlutut dihadapan Annisa. Ia menunduk, tangannya masih menggenggam jemari Annisa.


"Maaf. " ucapnya lirih, suaranya bergetar. Annisa terkejut seketika menarik tangannya.


"Mas, bangun jangan kayak gini. Nanti abah dan ummi lihat. "


"Maafin aku, demi ummi. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Jangan dibatalin pernikahan kita. "


"Kenapa harus batalin pernikahan? Kalian kenapa?" Abah yang datang dari arah dapur terkejut mendengar ucapan Bayu. Seketika Bayu bangkit dari berlututnya. Keduanya tergagap dan hanya diam.


"Kalian kenapa? ada masalah apa? "


"Bah sebenarnya Nisa mau batalin pernikahan karena kesalahan Bayu. " Bayu memberanikan diri untuk membuka suara.


"Benar begitu nduk? " Annisa hanya menunduk.


"Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat Yu?" Ayah Annisa tiba-tiba saja sudah berada di dalam. Sang ayah hendak menyusul Annisa.


"Maaf pak, abah, tadi Nisa memergoki saya sedang berduaan dengan wanita lain. Sebenarnya bukan hanya berduaan, Nisa mergoki saya sedang ciuman dengan wanita itu." Bayu menunduk begitu ucapannya selesai. Tatapan tajam Abah, juga ayah Annisa mengarah padanya.


"Kita pulang nduk. " Ayah Annisa langsung menyeretnya keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu.


****


Abah Usman dan Bayu tengah duduk diruang tamu berdua. Usai insiden itu abah Usman merasa perlu untuk mendengarkan penjelasan Bayu, putranya.


"Abah nggak habis pikir kamu bisa melakukan hal itu le, " Abah usman menghela napas panjang. Matanya menyiratkan kekecewaan.


"Kamu tau, Nisa merelakan waktu istirahatnya usai mengajar, mengabaikan hari libur nya hanya untuk merawat dan menemani ummi mu, tapi ini yang harus dia dapat untuk segala pengorbanannya? "


"Berciuman dengan yang bukan muhrim, jelas kamu tau bagaimana hukumnya. Jangankan mencium, pegangan tangan aja sangat tidak diperbolehkan. Apa wanita itu Vina le? "


Bayu hanya terdiam dan menunduk. Ia sendiri teramat kecewa karena kesalahannya itu.


"Harusnya kamu bilang baik-baik kalau memang kamu nggak suka sama Annisa, bukan malah main dibelakangnya kayak gini, setelah semua pengorbanannya merawat ummi mu. Lalu apa yang akan kamu bilang pada ummi mu? "


Lagi-lagi ia hanya bisa diam dan menunduk. Ia tau bahwa ia sudah keterlaluan. Harusnya dia tidak membiarkan wanita itu masuk tadi.


"Apa Annisa kurang baik buat kamu? Perempuan macam Annisa apa dia sama sekali tidak masuk kriteria mu sebagai calon istri? "


"Bukan begitu bah, semuanya terjadi diluar kendaliku. Vina tiba-tiba masuk begitu saja kerumah."


"seorang tamu bisa masuk kedalam rumah hanya jika ia diijinkan masuk oleh tuan rumahnya. Sekarang abah serahkan semuanya padamu Yu, terserah kamu mau menikah dengan siapa. Tapi yang jelas abah nggak mau melihat ummi mu kecewa karena keputusanmu."


"Aku akan yakinkan Annisa bah, aku juga tidak ingin kehilangan dia. "


"Ya sudah, kamu pasti lelah, istirahatlah. "


****


Bayu merasa tidak tenang memikirkan nasib hubungannya dengan Annisa. Malam hari matanya sama sekali tidak mau terpejam. Ia berkali-kali menelpon Annisa, namun sama sekali tidak ada jawaban. Beberapa kali mengirimkan pesan pun, nasibnya sama. Ia sepenuhnya diabaikan. Maka keesokan harinya ia memutuskan untuk pergi kerumah Annisa.


Pukul delapan pagi ia sudah sampai dirumah Annisa. Dia nekat datang kerumah itu karena tidak tau jadwal mengajar Annisa dengan pasti.


"Assalamualaikum. " ia mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Waalaikumsalam. " pintu terbuka, ayah Annisa yang membukakan pintu.


"Maaf pak mengganggu pagi-pagi. Apa Annisa ada?"


"Annisa sudah berangkat ngajar. Masuk saja."


"Iya pak. " Bayu mengekor dibelakang ayah Annisa kemudian mendudukkan diri di sofa.


"Bu, bikinin minum. Ada Bayu datang." Ayah Annisa masih berusaha bersikap ramah mengingat Bayu adalah anak dari sahabatnya.


"Pak saya kemari sebenarnya ingin meluruskan kesalahpahaman antara saya dan Annisa kemarin."


"Salah paham apa Yu? " ibu Annisa datang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


"Ibu masuk sana, ayah mau bicara berdua sama Bayu. " istrinya hanya mengangguk dan masuk kedalam.


"intinya gini Yu, kalau kamu memang nggak suka sama anak saya, tolong jangan dipermainkan. Kalau memang kamu nggak suka, saya akan batalkan perjodohan kalian."


"jangan pak, jangan dibatalkan. Saya mencintai Annisa. Yang kemarin itu salah paham dan saya akan terima hukuman apapun dari bapak ataupun Nisa, asal jangan membatalkan perjodohan ini. "


"Kamu mencintai Annisa? " ayah Annisa menyeringai. Bagaimana bisa Bayu mencintai anaknya sedangkan ia berani bercumbu mesra dengan perempuan lain.


"Lalu yang ciuman sama kamu kemarin gimana?"


Bayu menceritakan insiden kemarin secara detail. Tentang siapa Vina, apa hubungannya dengan Vina, dan bagaimana ia sampai tertangkap basah oleh Annisa. Ayah Annisa hanya mengangguk-angguk mendengarnya.


"Baiklah, saya maafkan kamu. Saya kasih kamu kesempatan. Tapi oerlu kamu ketauhi, Annisa gadis yang keras kepala dan berpendirian teguh. Akan sangat sulit memenangkan hatinya kembali setelah kamu sakiti dia. Sekarang tugas kamu untuk meyakinkan dia agar mau memaafkanmu dan mau menerimamu kembali. Bapak tidak akan memaksa apa yang menjadi keinginannya. Bapak hanya akan membantu mu dengan doa. Berjuang anak muda. Semoga Nisa mau kembali lagi padamu. "


****


Nyatanya, meluluhkan hati Annisa memang benar bukan hal yang mudah. Setelah mengantar Annisa pulang tempo hari, telpon ataupun pesan Bayu sama sekali tidak digubris.


[Nis aku kerumah kamu ya? Kita harus bicara.] Sekali lagi Bayu mencoba mengirimi Annisa pesan.


[Aku sibuk. ]  hanya itu jawaban Annisa. Terang saja hal itu membuat Bayu frustasi. Ia mengetikkan lagi beberapa kata.


[Tentang ummi. Aku mohon.]


[Aku aja yang kesana, nanti sepulang ngajar.]


Bayu menuju sekolah Annisa untuk menjemputnya. Sebenarnya ummi hanya alasan agar ia bisa bertemu dengan Annisa dan membicarakan permasalahan mereka. Annisa mendengus kesal saat melihat Bayu telah berdiri didepan gerbang.


"Kok nggak bilang kalau mau jemput? " ucap Annisa saat mobil melaju meninggalkan pelataran sekolah.


"Takut kamu kabur. " Annisa hanya diam tidak menanggapi ucapan Bayu.


"Bule kemarin siapa? Mantan pacar kamu? "


"Iya. "


"Ketemu dimana? Kok bisa pacaran sama bule?"


"Di merauke. "


"Kamu masih ada perasaan sama dia? " pertanyaan Bayu sontak membuat Annisa menoleh. Sedetik kemudian ia menunduk.


"Nggak. "


"Kamu kenapa irit bicara banget? "


"Lagi puasa bicara. "


"Ada gitu puasa bicara? "


"Perasaan pertama kali kita ketemu, kamu lempeng-lempeng aja nggak cerewet kayak sekarang ini."


"iya maaf, aku diem sekarang. "


"Loh ini kemana? Katanya mau kerumah kamu?" Annisa terkejut saat mobil Bayu masuk kedalam parkiran sebuah mall.


"Ummi lagi pengen makan roti yang beli di mall. Udah ngikut aja. "


Begitu memasuki mall, Annisa dan Bayu langsung mencuri perhatian orang-orang disekitarnya. Mungkin karena Bayu yang masih mengenakan PDL nya hingga orang-orang disana langsung menatap penuh minat. Pangeran loreng sekarang ini memang sedang hits dan menjadi buruan para gadis untuk dijadikan suami.


"Kamu ngapain pake PDL segala? Katanya cuti? Aku malu diliatin orang-orang." Annisa jengah menjadi pusat perhatian.


"Tadi abis apel yang. Lagian yang diliatin tuh aku, bukan kamu. Kenapa kamu yang malu? " Panggilan yang langsung mendapat pelototan dari Annisa.


"Udah jangan cemberut terus, ntar cantiknya ilang. Kamu mau belanja apa? Beli baju, sepatu atau make up gitu ntar aku yang bayar. "


"Nyuap ceritanya? "


"Lah, mau nyuap gimana, makanannya aja nggak ada."


Annisa hendak menanggapi ucapan Bayu namun lengannya segera ditarik oleh lelaki itu.


"Udah yang, jangan marah-marah melulu. Kamu makin terlihat cantik kalau marah. " ucap Bayu sembari menarik lengan Annisa.


"Apaan sih mas. " mau tak mau gadis itu hanya pasrah mengikuti langkah Bayu.


Setelah puas berkeliling mall, Bayu dan Annisa memutuskan untuk pulang. Bayu membawakan Umminya beberapa potong roti coklat dan keju yang menjadi favoritnya. Saat melangkah hendak keluar dari mall itu langkah Annisa terhenti.


"Annisa. " Annisa berhenti sejenak dan menoleh pada asal suara itu. Bayu yang baru sadar jika Annisa tidak ada disampingnya, segera berbalik dan menghampiri gadis yang tengah terpaku ditempatnya itu.


Seorang wanita paruh baya berjalan mendekatinya. Wajah yang sangat ia kenal walau baru sekali mereka bertemu. Irina ibu dari lelaki yang amat ia cintai kini berada didepan mata.


"Apa kabar? " Irina begitu sinis menyapa.


"Tante, aku baik. Tante sendiri apa kabar? " matanya berbinar saat melihat Irina.


"Jadi gara-gara dia kamu campakkan anak saya." Irina menunjuk Bayu yang berdiri disamping Annisa.


"Bukan seperti itu tan. "


"Setidaknya lepaskan dia kalau memang kamu sudah bosan. Kenapa kamu membiarkannya tenggelam dalam cinta buta yang kamu ciptakan? Dia bahkan tidak ingin melanjutkan hidup. Sebenarnya memakai apa kamu ini? "


"Maksud tante apa? "


"Jangan berlaga bodoh Annisa. Tadinya aku begitu menyukaimu. Ku kira kamu orang yang tepat untuk Thomas, nyatanya tidak. Kamu justru menghancurkan hidupnya. Kau tau, dia seperti orang gila yang tidak punya tujuan. Kesana kemari hanya memikirkanmu. Setidaknya lepaskan ikatanmu padanya. Biarkan dia melanjutkan hidupnya."


"Ikatan apa maksud tante? "


"Kamu pikir saya nggak tau, kamu memakai bantuan sihir untuk memikat hati anak saya, benarkan?"


"Stop it mom. Kau terlalu berlebihan. " Thomas muncul dari arah belakang. Ia baru saja kembali dari toilet.


"Maafkan ibuku. Kau Pergilah. " laki-laki itu berdiri didepannya. Lelaki yang begitu ia cintai. Matanya berkaca-kaca menatap Thomas.


"Kau lihat, dia bahkan berani membantahku hanya demi membelamu. "


"That's enough mom. Pergilah Annisa, apa kau tidak dengar? Hei kau--" sejenak ia melihat name tag diseragam Bayu. "Bayu right? Bisakah kau tidak hanya diam ketika melihat dia dihina? "


Dengan sigap Bayu menggandeng tangan Annisa, menggenggam erat jemarinya dan mengajaknya beranjak dari tempat itu. Air mata Annisa tumpah sesaat setelah ia berbalik dari hadapan Thomas dan ibunya.


Didalam mobil, Annisa hanya diam sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Bayu bingung harus bicara apa dan bersikap bagaimana.


Setelah sampai di kediaman Bayu, mereka duduk sejenak didalam mobil. Hanya sekitar lima menit sebelum Bayu mengajak Annisa masuk.


"Kita masuk? "


"Tunggu mas, ada yang mau aku bicarain. "


Bayu memutar tubuhnya menghadap Annisa. Mereka saling berhadapan.


"Aku bersedia menikah sama kamu. Aku nggak jadi batalin perjodohan kita. "


"Apa karena mantan pacar kamu tadi kamu berubah pikiran? " Annisa bergeming.


"Aku memang ingin segera menikahimu, tapi kalau pernikahan ini nantinya bikin kamu tersiksa, sebaiknya kamu pikirin lagi. Aku siap menunggu kamu berapa lama pun waktu yang kamu butuhkan untuk berpikir. "


"Udah aku pikirin semuanya mas. Aku udah yakin. Apa boleh aku tanya sesuatu? "


"Apa? "


"Kamu masih ada perasaan sama Vina? "


Bayu menghela napas.


"Sama sekali nggak ada. Sejak pertama kali bertemu kamu, aku langsung jatuh hati sama kamu. Semakin kesini, aku semakin takut kehilangan kamu. Kamu udah jaga dan rawat ummiku dengan tulus ikhlas disaat aku tidak bisa melakukan tugasku sebagai anaknya. Aku yakin kamu seorang yang tepat untuk aku dan keluargaku."


"Untuk pernikahan, masih ada waktu enam bulan lagi untuk kamu berpikir. Setelah tugasku selesai, aku mau kamu sudah benar-benar yakin atas keputusan kamu. "


Lanjutnya kemudian. Ia memang tak ingin memaksa Annisa untuk menikah dalam waktu dekat. Ia masih tidak yakin gadis itu mau menerimanya atau tidak. Karena jika dilihat, Annisa masih sangat mencintai mantan pacarnya itu. Ia tak ingin berharap terlalu jauh.


"Aku sudah yakin mas. Aku cuma minta satu hal sama kamu. Saat ini aku belum bisa mencintai kamu, tapi aku janji akan belajar untuk hal itu. Jadi aku harap kamu bisa bersabar."


"Nggak apa-apa Nis, untuk masalah itu, biar aku yang bantu. Aku akan bantu kamu untuk bisa jatuh cinta sama aku. Dan jika kamu berkenan, aku dan keluargaku akan datang kerumah kamu untuk melamar secara resmi. "


"Silahkan mas, ayah pasti akan sangat senang dengar kabar ini."


****