Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Anita, I'm Sorry



"Anita mengidap kanker otak. Stadium lanjut. And she doesn't have much time left." Annisa membuka percakapan setelah Anita pamit pulang. Ia dan Thomas duduk di teras masjid sembari menunggu waktu asar tiba.


"What? You kidding me?"


"Dia hanya ingin kita bersedia merawat Jo."


"Aku tidak bersedia. Jangan percaya pada semua kata-katanya."


"Thom, dia sungguh butuh bantuan kita."


"Dia berhasil menghasutmu sayang. Percayalah padaku. Jangan dengarkan kata-katanya."


"Dia tidak berbohong Thom. Kalau kau tidak percaya, kau boleh mengeceknya sendiri dirumah sakit


"Aku sangat tau bagaimana sifat perempuan macam dia. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya."


"Jadi kau tidak ingin bertanggung jawab?"


"No, bukan seperti itu maksudku. Wanita itu hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri."


"Jangan terus berburuk sangka padanya Thom. Lagipula apa salahnya merawat Jo?"


"Wanita itu akan terus mengganggu kita Annisa."


"Jo anakmu Thom, kau wajib merawat dan menafkahinya."


"Oke that's enough. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Dan aku tidak ingin merawat anak itu."


"Ya sudah, biar aku sendiri yang merawat Jo."


"Tidak bisa, biar dia ikut ibunya. Aku akan mengirimi dia uang sebulan sekali."


"Jadwalkan saja kepulangan kita segera. Aku tidak ingin terlalu lama berada disini." Annisa beranjak meninggalkan Thomas menuju tempat wudhlu, sebentar lagi adzan akan dikumandangkan.


Sebenarnya Annisa marah, ia kecewa pada Thomas. Lelaki itu sudah berbuat diluar batas. Mungkin bagi lelaki seperti Thomas, hal itu amat lumrah. Apalagi Thomas pernah bercerita padanya tentang gadis-gadis yang ia tiduri. Dulu tak masalah, tapi kini mereka telah menikah dan Thomas memiliki anak dari perempuan lain. Entah apa yang akan ayah ibunya katakan nanti jika mereka sampai tau masalah ini.


Disisi lain ia kasian pada Anita juga Jo, bagaimanapun mereka adalah bagian dari Thomas. Dan lelaki itu terlalu kejam dengan menolak permintaan Anita. Lagipula Jo anak yang lucu, dengan senang hati ia akan bersedia merawat bocah tampan itu.


****


Keputusan final Annisa adalah, dia akan mengajak Anita dan Jo tinggal di Jakarta untuk sementara waktu sampai mereka mendapat solusi terbaik untuk masalah mereka. Tentu Thomas menolak dengan tegas rencana itu, tapi ia kalah. Pada akhirnya ia tidak bisa menolak permintaan sang istri.


"Nanti biar ku carikan mbak Anita rumah kontrakan. Dekat rumahku saja, agar lebih mudah memantaunya." Ujar Annisa yang tengah  berbaring diranjang, sedangkan Thomas disampingnya sedang duduk dan fokus pada laptopnya. Merauke sedang hujan lebat sore itu, jadi mereka hanya berdiam diri di dalam hotel.


Setelah menikah Annisa dan Thomas memang masih tinggal dirumah orang tua Annisa. Tentu orang tua Annisa yang meminta mereka tetap dirumah itu, karena Annisa anak tunggal dan orang tuanya tidak ingin di tinggal.


"Terserah kau saja." Thomas menanggapi malas. Dia enggan berdebat tentang Anita dan Jo dengan istrinya itu.


"Tapi tidakkah kau merasa kau terlalu baik Nisa?" Lanjutnya kemudian.


"Terlalu baik? Bukankah itu bagus?"


"Wanita itu akan selalu berkeliaran dihadapan kita. Kalau aku jatuh cinta padanya bagaimana? Tidakkah kau khawatir tentang hal itu?"


"Kalau kau mencintainya, biar aku yang pergi. Mudahkan?" Ucapnya sambil mengerling kearah sang suami


"Siapa bilang kau boleh pergi dariku, sayang?" Thomas mendekatkan wajahnya pada Annisa, detik berikutnya ia mendaratkan kecupan di bibir istrinya.


"Kau itu milikku, aku sudah berjuang keras untuk mendapatkanmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalku. Atau .... " Thomas menjeda ucapannya.


"Atau?"


"Atau aku akan menghabisimu sekarang juga." Lelaki itu menggelitiki perut istrinya. Annisa terkikik karena kegelian.


"Hentikan Thom! geli," ucap Annisa disela gelak tawanya.


****


Jadwal keberangkatan tiba. Pukul delapan pagi, usai pamit pada abah, ummi dan Zulfikar, Thomas dan Annisa pergi menggunakan taksi. Anita dan Joshua telah menunggu dibandara sejak setengah jam yang lalu.


Saat melihat Thomas dan Annisa, Anita berdiri dan melambaikan tangannya. Wanita itu tampak berbeda, ia mengenakan gamis dan jibab berwarna hitam. Namun wajahnya tampak amat pucat. Annisa menghampirinya kemudian memeluknya. Sedangkan Thomas, hanya menatapnya sinis.


"Jadi apa yang akan kita katakan pada ayah dan ibu?" ucap Thomas saat pesawat sudah lepas landas. Anita dan Jo duduk tepat dibelakang mereka berdua.


"Apalagi? We'll tell the truth."


"Bagaimana jika mereka menyuruhmu meninggalkanku?" Mimik wajah Thomas nampak serius.


"Please, don't do that to me." Thomas menggenggam erat tangan Annisa, matanya tak lepas menatap Annisa.


"Kenapa kau seserius itu sayang? Aku hanya bercanda." Annisa menangkupkan kedua tangannya di wajah Thomas, kemudian memberi kecupan lembut di bibir suaminya itu.


"Jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk meninggalkanku. Kita sudah melangkah sampai sejauh ini." Thomas mengecup lembut punggung tangan Annisa.


"Ada syaratnya."


"Kenapa harus ada syarat?"


"Kau keberatan?"


"Apapun akan aku lakukan demi kau. Apa syaratnya?"


"Bersikap baiklah pada mbak Anita juga Joshua."


Thomas terdiam untuk sesaat. Jangankan bersikap baik, menatap Anita dan Joshua saja sudah membuatnya muak.


"Apa tidak ada yang lebih mudah dari itu? Misalnya aku harus membawakanmu mawar setiap aku pulang kerja, atau aku harus .... "


"Aku sedang tidak ingin melakukan tawar menawar Thom, mbak Anita berada di posisi sulit ini karena kau. Setidaknya tunjukkan tanggung jawab mu sebagai lelaki sejati." potong Annisa panjang lebar.


"Aku hanya tidak ingin kesalahanku di masalalu menghancurkan masa depan kita sayang."


"Masa depan kita akan baik-baik saja. Aku akan tetap disini, aku tidak akan kemana-mana." Thomas hanya bergeming sambil menatap dalam-dalam mata sang istri.


"Hey, let's fix it together. Huum?" Annisa semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Ya ya baiklah. Asal kau tetap berada disampingku, apapun akan kulakukan." keduanya saling pandang dan tersenyum.


****


Sesampainya di Jakarta, Annisa, Thomas, Anita dan juga Jo pergi ke restoran untuk makan siang. Jo tampak sudah dekat dengan Annisa, sesekali mereka bersenda gurau bersama. Anita tersenyum lega. Setidaknya sepeninggalnya nanti, Jo tidak akan kehilangan sosok ibu.


"Kenapa tidak dari dulu kau mencariku? Kenapa baru sekarang kau datang dan mengusik rumah tangga ku?" tanya Thomas pada Anita. Lelaki itu menatap Anita tajam.


"Karena dulu jelas kau tidak menginginkanku. Kau akan mengusirku dari hidupmu kan?"


"Dan sekarang pun akan tetap seperti itu, kau kira aku akan dengan senang hati menerimamu? Jangan mimpi!" muncul seringai tipis di bibir Thomas.


"Thom sudahlah," Annisa mencoba menghentikan ucapan kasar suaminya.


"Aku sama sekali tidak mengharapkanmu, aku hanya ingin anakku tau dimana ayahnya berada. Setelah aku pergi dia akan sendiri."


"Tapi aku tidak bersedia merawatnya."


"Thom hentikan. Kau sudah keterlaluan. Kita sudah bicarakan ini kemarin." ucap Annisa geram.


"Kau terlalu sombong Thom. Aku bersumpah, demi tuhan, suatu saat kau akan kena batunya." Mata Anita sudah berkaca-kaca. Thomas sudah sangat keterlaluan.


"Thom, minta maaf lah, kau sudah keterlaluan." Ucap Annisa menatap tajam kearah suaminya.


"Untuk apa?"


"Thom, aku mohon, minta maaf lah."


"Tidak akan."


"Oke, kita pergi mbak." Annisa beranjak dari duduknya sembari menggendong Jo.


"Wait, kau mau kemana?" Thomas berdiri dan mencekal lengan Annisa.


"Aku muak dengan sikapmu Thom. Lepaskan."


"Oke, oke, aku minta maaf. Jangan pergi."


"Minta maaf lah pada mbak Anita."


Thomas menyugar kasar rambut coklatnya.


"Anita, I'm sorry."


"Aku tidak sedang mengemis cinta padamu Thom, aku hanya ingin kau bertanggung atas apa yang telah kau lakukan di masalalu. Aku tidak ingin setelah aku pergi, Jo tidak mengenal ayahnya. Tolong rawat Jo dengan baik Thom. Dia anakmu."