Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Selamat Jalan, Adrian



"Aku ingin menagih janji Annisa. Kali ini aku tak akan memintamu untuk menjadi kekasihku. Aku ingin memintamu untuk menjadi istriku. Menikahlah denganku Nisa. "


"Kau masih sama seperti dulu Thom, begitu konyol. " Annisa tergelak.


"Aku sedang tidak bercanda Nisa. Aku serius. Menikahlah denganku. "


"Apa kau tidak dapat menemukan gadis lain selama empat bulan ini? "


"Aku sudah bilang bukan bahwa aku mencintaimu. Aku tak main-main soal itu. "


Annisa bergeming. Untuk beberapa saat mereka saling pandang tanpa kata.


"Kenalkan aku pada orangtuamu. Agar aku bisa melamarmu secara langsung pada mereka. "


"Orangtuaku tak akan menyukaimu Thom, aku tidak bisa menikah denganmu. "


"Apa ini karena Adrian? "


"Kau mengenal Adrian.? " Annisa tampak terkejut mendengar nama Adrian dari Thomas.


"Tentu saja, dia sudah seperti saudaraku. Aku bahkan meminta tolong padanya untuk menemukanmu. Tapi dia malah menghianatiku. " Thomas menghela napas panjang.


"Dia sepertimu, sama-sama konyol. Baru dua kali bertemu dia sudah berani melamarku. "


"Apa kau akan menerima lamarannya? "


"entahlah, aku sedang dilema saat ini. Bagaimana menurutmu? " Annisa menahan tawa dan menatap Thomas.


"Kau menanyakan pendapatku? "


Annisa mengangguk.


"Baiklah, pertama, saranku jangan terima lamarannya. Kedua, jika kau tetap menerima lamarannya dan menolakku, maka aku akan menghajarnya sampai dia mati. "


"Kau tau, aku agak takut berada didekatmu saat ini." Annisa tak dapat menahan tawa.


"Ayolah, aku sedang tak ingin bercanda. Jadi kau akan memilih dia atau aku? "


"Aku tak akan memilih salah satu diantara kalian Thomas. Kalian adalah orang asing buatku. "


Kecewa, namun ia juga merasa lega. Setidaknya Annisa tidak akan menerima Adrian meskipun Annisa juga tidak memilihnya.


"Kalau begitu beri aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat lagi. "


"Seandainya kita seiman, aku akan mempertimbangkanmu Thom. "


"Bagaimana kau tau aku bukan seorang muslim? "


"Kalungmu yang memberitahuku. " Annisa menunjuk kalung salib yang menggantung di leher Thomas.


"Apakah agamamu melarangmu menikahi seseorang dari golongan kami? "


"Iya. Ajaran kami melarangnya. "


"Jadi kita tidak akan bisa menikah? "


"Ya, begitulah. "


"Ah, sial. " Thomas mengumpat kesal.


"Tapi kita masih bisa berteman Thomas. "


"Tapi aku tak ingin berteman denganmu Nisa. Aku ingin kau menjadi istriku. "


"Tidak akan bisa Thom. "


"Apa tidak ada pengecualian untukku? "


"Tidak. "


Hening sesaat. Keduanya memandang kearah lautan lepas.


"Baiklah, kurasa pembicaraan ini sudah selesai. Bisa kita pulang sekarang? "


"Tunggu Annisa, kalau begitu, perkenalkan aku pada Tuhanmu. "


****


Saat mengantar Annisa pulang, Thomas membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit. Ayahnya mengabarkan bahwa Adrian mengalami kecelakaan.


"Tidak apa kan kalau kita melihat Adrian dulu?"


"Tidak masalah Thom. Apa dia baik-baik saja?"


"Entahlah, Ayahku tidak mengatakan apapun soal itu."


Kemudian keduanya membisu. Hingga mobil telah memasuki pelataran parkir rumah sakit Mutiara. Thomas tampak sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya. Sedangkan Annisa hanya memperhatikan pria disampingnya itu.


"Ayo." Ucap Thomas begitu menyelesaikan panggilan telponnya. Setelah keluar dari mobil, keduanya melangkah menuju ruang UGD.


Setelah sampai di UGD Thomas disambut oleh seorang lelaki berusia enam puluhan. Wajah khas Eropanya menandakan bahwa pria itu adalah ayah Thomas. Sejenak ayah Thomas menatap Annisa.


"Siapa dia son? "


"Dia Annisa dad, gadis yang dulu kuceritakan padamu. "


"Nisa ini ayahku. " Annisa menangkupkan kedua telapan tangannya didada kemudian mengangguk dan tersenyum.


"Bagaimana keadaan Adrian? "


"Dokternya belum keluar. Sudah satu jam yang lalu mereka masuk keruangan itu. "


"Bagaimana dia bisa kecelakaan dad?"


"Entahlah. Saksi mata bilang dia hendak menyalip mobil di depannya namun dari arah berlawanan ada truk besar dengan kecepatan tinggi. Dia tidak bisa menghindar. "


"Duduklah dulu Annisa, setelah mendengar keterangan dokter, aku akan mengantarmu pulang. "


Setengah jam kemudian dokter yang ditunggu keluar. Thomas, dan ayahnya langsung menghampiri.


"Bagaimana keadaan Adrian dok? " wajah sang dokter tampak sendu. Seakan ragu menyampaikan bagaimana keadaan Adrian.


"Mohon maaf pak, saat kecelakaan, pasien mengalami benturan di bagian kepala yang mengakibatkan adanya pendarahan di otaknya. Kami tidak dapat menyelamatkan pasien. "


"Adrian meninggal? " Thomas terkejut, matanya berkaca-kaca.


Annisa pun tak kalah terkejut.


"Kami turut berduka cita pak. " Dokter menepuk bahu Thomas kemudian berlalu.


Thomas meringkuk, memeluk lututnya erat dan bersandar pada tembok. Ia tampak begitu terpukul. Sedangkan sang ayah tengah sibuk menelpon entah siapa. Annisa mendekati Thomas, ia turut berjongkok dusampin Thomas. Gadis itu mengelus lembut bahu Thomas yang berguncang. Ia tergugu, membenamkan wajahnya di balik telapak tangan.


"Baru kemarin aku menghajarnya. " Thomas terisak, pipinya basah karena air mata.


"Tak apa Thom, tak apa. Ini bukan salahmu. Ini takdir. "


Thomas kembali menenggelamkan wajahnya ke telapak tangannya. Bahunya berguncang lagi. Sesaat kemudian Thomas berdiri dan menghapus air matanya.


"Ku antar pulang sekarang? "


"Sekarang? Kau tak apa? Aku akan menemanimu jika kau tak keberatan. "


"Aku tak apa. Setelah ini aku akan sedikit sibuk mengurus pemakaman. Aku takut kau bosan menunggu ku."


"Baiklah. " Annisa menjawab singkat.


"Annisa, jika nanti aku membutuhkanmu, apa kau bersedia menemaniku? "


"Tentu saja. Telpon aku kapanpun kau membutuhkan. "


Keduanya melangkah kedalam ruang UGD. Annisa ingin melihat Adrian untuk yang terakhir kalinya. Lebamnya masih terlihat, ditambah luka akibat kecelakaan juga sedikit darah yang masih merembes dari lukanya. Namun Adrian tetap terlihat tampan. Wajahnya sedikit tersenyum. 'Semoga allah menempatkanmu ditempat terindah Adrian.' ucap Annisa dalam hati.


Usai mengantar Annisa Thomas bergegas pergi. Ia akan begitu sibuk mengurus pemakaman.


****


"Baru pulang Nis? " Rina tengah duduk di ruang tamu dan sedang memainkan ponselnya.


"Iya mbak. " Annisa langsung menghempaskan diri di sebelah Rina.


"Sama bule tadi, ada hubungan apa? Pacaran?"


Sejenak ia menatap Rina yang kini melihatnya antusias.


"Nggak mbak, kita ketemu pas dikapal."


"Maksudnya? Eh iya mbak, ada kabar buruk. "


"Soal? "


"Adrian meninggal. Tadi dia kecelakaan. Aku sama Thomas baru dari rumah sakit tadi. "


"Hah? Adrian yang kemarin itu kan? Yang kita ketemu pas sama Roby? "


"Iya mbak, Adrian yang itu. "


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Kok bisa Nis? Kecelakaan dimana?"


"Nggak tau mbak. Thomas tadi di kabarin bapaknya kalo Adrian dirumah sakit abis kecelakaan. Makanya langsung kerumah sakit tadi. "


"Loh, bapaknya Thomas? Mereka saling kenal?"


"Iya mbak saling kenal, katanya udah kayak saudara mereka berdua. Udah mbak, ntar aja lagi ceritanya. Mau mandi dulu."


"Kebiasaan ya, orang lagi penasaran malah ditinggal. "


"Nanti cerita lagi mbak. " Annisa beranjak meninggalkan Rina dengan sejuta tanya dan penasaran.


****


Satu bulan pasca kematian Adrian, Thomas mulai terbiasa. Ia amat tepukul atas kematian sahabtnya itu. Pun ia masih menyesal atas perbuatannya tempo hari karena sudah menghajar Adrian. Tapi kini ia mulai memaafkan dirinya sendiri.


"Kita boleh sedih Thom, tapi jangan diratapi. Ini semua sudah takdir. Seberapapun kerasnya kita menyesal, itu tak akan merubah yang sudah terjadi. Maafkan dirimu sendiri. " ucap Annisa satu saat.


Gadis itu menepati janji. Ia menemani Thomas saat Thomas butuh teman untuk bicara. Seiring waktu mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Perhatian Annisa membuat Thomas semakin jatuh cinta, lagi dan lagi. Pun Annisa, ia begitu menikmati setiap saat kebersamaannya bersama lelaki asing itu. Thomas terlihat rapuh didepannya sehingga membuatnya ingin selalu menemani dan menyemangati Thomas. Hingga tanpa sadar, ia sendiri telah jatuh cinta pada lelaki asing itu.


****


"Bolehkah aku bertanya sesuatu Annisa? "


"Apa? "


"Apakah sekarang kau mulai menyukaiku? "


"Uhuk. "


Annisa tersedak es jeruk yang sedang ia minum. Ia dan Thomas tengah menikmati senja yang mulai merona di tepi laut.


"Kenapa kau malah tersedak? " Thomas terkikik melihat ekspresi wajah Annisa yang memerah, entah karena tersedak atau karena pertanyaannya.


"Ehemm, " Annisa berdehem sekedar membersihkan kerongkongannya.


"Kenapa kau bertanya begitu? " lanjutnya kemudian.


"Karena jika di lihat kau begitu menikmati kebersamaan kita. "


"Aku nyaman bersamamu Thom." Annisa menatap lekat wajah Thomas. Pandangan mereka saling bertemu.


"Bisakah aku simpulkan bahwa yang baru saja kau ucapkan adalah pengakuan cinta?"


"Entahlah, apa terdengar seperti itu? "


Thomas mengangkat bahu.


"Sudahlah Annisa, akui saja. Kau memang menyukaiku."


"Kau terlalu percaya diri Thom. "


"Kau terlalu banyak mengelak Annisa. "


Annisa hanya tersenyum sambil memandang wajah lelaki disampingnya. Mata biru lelaki itu sungguh membuatnya tenggelam dalam angan. 'Ah, seandainya boleh, akupun ingin menikah denganmu Thom.' Ucapnya dalam hati.


Berminggu-minggu kemudian, hubungan mereka semakin dekat. Thomas selalu mengantar jemput Annisa ke sekolah. Annisa pun tak sungkan meminta tolong pada Thomas ketika ia butuh bantuan. Hal itu membuat perasaan mereka semakin dalam tertanam, dan tumbuh subur. Annisa tak lagi kesepian dikota asing itu. Begitu juga Thomas, ia tampak begitu menikmati hidupnya saat ini. Bersama Annisa, mebuat kehidupannya semakin berwarna. Hingga satu tahun kemudian, Annisa dipaksa pulang oleh sang ayah.


'Nduk, pulanglah. Ayahmu sakit. Jantungnya kambuh. Dia ingin kamu ada didekatnya.' Sang ibu menelponnya dan mengabarkan keadaan sang ayah tengah kritis. Saat itu ia sedang berada didalam mobil Thomas. Ia dalam perjalanan pulang usai mengajar. Perlahan air matanya jatuh. Ia terisak. Thomas yang menyadari hal itu, kemudian meminggirkan mobilnya dan berhenti di depan mini market. Ia masuk kedalam minimarket dan membiarkan Annisa tenggelam dalam tangisnya. Hingga beberapa menit kemudian Thomas kembali dengan membawa satu kantong kecil ditangan kanannya. Sedangkan Annisa masih saja terisak.


"Menangislah. Keluarkan semuanya Nisa. " Thomas meraih Annisa kedalam pelukannya. Tak ada penolakan. Annisa semakin tergugu. Setelah sedikit tenang, Thomas melepas pelukannya. Dan menatap lekat gadis didepannya. kemudian meraih kantong kecil yang ia bawa tadi. Ia mengambil botol air kemudian membukanya dan menyerahkannya pada Annisa. Setelah menenggak airnya, Annisa menyerahkan botol itu kembali pada Thomas.


"Chocolate will make you better " Thomas mengangsurkan sebatang coklat yang telah ia buka pada Annisa. Annisa tersenyum dan sedikit menggigit coklat pemberian Thomas.


"Ada apa? " Tanya Thomas. Matanya menyiratkan kepanikan, namun ia berusaha untuk tenang.


Annisa tersenyum, dan mengusap sisa airmata dipipinya.


"Aku ingin pulang Thom. "


"Pulang? "


"Ayahku sakit, beliau memintaku pulang. "


"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu.  Aku ingin menemui orang tuamu. "


"Tidak perlu Thom, aku pulang sendiri saja. Kau sibuk disini. "


"aku ingin mengantarmu Annisa. Jangan menolak. Aku akan menemui orangtuamu. "


"Mereka tak akan menyukaimu Thom. Biar aku pulang sendiri, kau tak perlu ikut. "


"Aku ingin menemui orang tua mu, aku ini laki-laki. Aku tidak ingin terus membawamu dalam suatu hubungan yang tidak pasti. "


"Hubungan kita tidak akan berhasil Thom. Ada baiknya kita menyerah sekarang. "


"Apa? Menyerah? Bahkan sebelum semuanya dimulai? " Thomas membelalak tak percaya. Ia tak menyangka Annisa akan mengatakan hal ini.


"Orang tua ku tidak akan pernah setuju denganmu Thom. Tidak seharusnya kita melangkah sampai sejauh ini. "


"Apa kau sedang berusaha mencampakkan ku sekarang ? " suara Thomas bergetar. Matanya berkaca-kaca. Pandangan keduanya saling bertaut.


"Maafkan aku. Aku terlalu memberimu harapan. " Annisa mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Baiklah, kapan kau akan berangkat?" Thomas mencoba menguasai diri.


"Mungkin lusa. "


"Apa kau tak akan kembali kesini? "


"Mungkin tidak. "


"kalau begitu biar kupesankan tiket. " Thomas meraih ponselnya, kemudian jemarinya menari lincah diatas layarnya.


"Penerbanganmu Jumat, pukul 9. "


"Kau tak akan mengantarku? " Annisa bertanya ragu.


"Tidak. Aku tak akan sanggup melihatmu pergi. " Thomas melajukan mobilnya. Keduanya kembali tenggelam dalam diam.


****


Jumat pagi pukul 7 Annisa sudah siap. Di ruang tamu Rani sudah menunggu. Rani yang akan mengantarkannya ke bandara. Setelah taksi datang, keduanya masuk ke dalam taksi. Hanya satu koper dan satu tas punggung yang Annisa bawa. Setelah sampai di bandara, Annisa mengajak Rina sarapan terlebih dahulu.


"Terus kalau kamu pergi, bule ganteng itu gimana Nis? Hubungan kalian bakal selesai? "


"Emang udah selesai mbak, ini aja dia nggak mau nganter kesini. "


"Sayang banget sih Nis, kamu menyia-nyiakan emas tau. "


"Emas-emas ganteng? " keduanya terkikik. 


Usai melahap sarapannya, kedua wanita itu beranjak menuju terminal keberangkatan. Mereka berhenti tepat di depan gerbang terminal. Annisa memeluk Rina, sangat lama. Mata keduanya berkaca-kaca.


"Mbak jaga diri ya disini. Terimakasih udah mau aku repotin selama ini. "


"Ngerepotin apa? Kamu nggak ngerepotin Nis, aku malah seneng ada kamu. Kalau bisa kamu balik lagi ya, nggak enak nggak ada kamu. "


"Insyaallah mbak, kalo ayah kasih ijin, aku pasti kembali lagi. Aku sudah jatuh cinta sama kota ini. Aku masuk dulu ya mbak."


Mereka melepas pelukan. Kemudian Annisa beranjak menuju tempatnya check in. Ia tidak sadar bahwa sedari tadi seseorang tengah mengawasinya. Setelah mendapat boarding pass nya ia segera menuju pesawat yang akan ia tumpangi. Ia duduk didekat jendela. Beberapa menit kemudian tercium aroma parfum yang sangat ia kenal. Harumnya persis seperti parfum milik Thomas. Ia berdiri mengedarkan pandangan di sekelilingnya, berharap menemukan yang ia cari. Sesaat kemudian tersadar. Thomas tidak mungkin mengikutinya.


Empat jam perjalanan, Merauke menuju Jakarta. Annisa habiskan untuk membaca buku yang ia bawa. Pemberian Thomas. Every Breath karya Nicholas Sparks. Buku itu Thomas berikan pada Annisa saat pertemuan terakhir mereka.


"I can't force you to stay with me, as much as I want it to, I can't. Nor will I try, even if it means that I will never see you again. "


Salah satu dialog dari tokoh utamanya. Annisa berulang kali membacanya. Mungkin ini yang membuat Thomas menyerah dan memilih mundur, Pikirnya. Hingga pesawat telah mendarat, pikiran Annisa masih berkecamuk. Tentang Thomas yang ia campakkan. Tentang hatinya yang mau tak mau ia tikam sendiri. Ia tak akan memaksakan sebuah hubungan yang sudah terlihat jelas akhirnya.


Usai mengambil barang bawaannya, ia bergegas menuju pintu keluar. Ia memasuki salah satu taksi yang telah terparkir di depan pintu keluar. Butuh waktu sekitar tiga puluh lima menit untuk sampai dirumahnya. Taksi memasuki sebuah kompleks perumahan, kemudian berhenti di sebuah rumah bergaya minimalis yang didominasi dengan warna putih gading. Annisa turun dan menyeret koper yang sudah dikeluarkan oleh supir taksi. Pintu terbuka dan sosok perempuan berusia lima puluhan menghambur memeluk Annisa. 


Diseberang jalan, sebuah taksi juga berhenti, tepat di seberang rumah Annisa. Thomas masih menatapnya hingga bayangan Annisa menghilang di balik pintu. Ia tersenyum. Setidaknya ia sudah tau dimana Annisa tinggal sekarang. Ia tak akan melepakan Annisa begitu saja. Ia tak ingin kehilangan jejak gadisnya untuk yang kedua kali. Kemudian Thomas melanjutkan perjalanan menuju hotel yang sudah ia booking sebelum berangkat ke Jakarta. Ia akan menginap di Jakarta selama tujuh hari. Ia akan menyakinkan Annisa juga orang tua Annisa, agar mau menerima kehadirannya.


****