
Christian Williams mulai mencurigai gelagat aneh putra sulungnya. Kini Thomas tidak pernah terlihat pergi ke gereja. Dan lagi, Thomas selalu menghilang saat memasuki waktu shalat. Hingga suatu siang ia memutuskan untuk menemui Thomas diruangannya. Dan betapa terkejutnya Chistian saat membuka pintu dan mendapati Thomas sedang melaksanakan sholat.
"What the hell you doing son?" Wajahnya memerah. Ia begitu murka.
"Dad, aku bisa jelaskan." Thomas terkejut karena ayahnya tiba-tiba masuk ke ruangannya. Ia lupa tidak mengunci pintu saat melaksanakan sholat.
"Kau menghianatiku juga? Kau masuk islam? Apa demi perempuan itu?"
"No dad, bukan karena Annisa. Ini kemauanku sendiri. Maafkan aku."
"Kau ingin durhaka seperti adikmu? Kau akan meninggalkan agama nenek moyangmu?"
"Maafkan aku. " Thomas menunduk.
"Tinggalkan agama barumu itu. Apa yang akan kau dapatkan dari agama ini?"
"No dad, aku tidak akan meninggalkan agamaku yang sekarang."
"Tinggalkan agamamu atau pergi dari sini."
"I'm sorry dad, I can't. "
Plakk. Tamparan keras mendarat di pipi Thomas.
"Kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini sekarang juga!"
"Kau mengusirku?"
"Ya. Aku tidak butuh anak durhaka sepertimu. Pergi dari sini sekarang juga!"
Egonya terluka. Thomas melangkah dan meninggalkan ruangannya. Ia bertekad dalam hati tak akan kembali. Ia akan butikan bahwa dia bisa berdiri sendiri tanpa ayahnya.
Thomas memutuskan untuk pergi menemui Zulfikar dan kyai Sholeh. Ia ingin meminta nasehat pada mereka. Ia melangkahkan kaki memasuki pelataran pesantren, nampak sepi sekali, pelajaran pertama usai istirahat siang baru dimulai. Ia memutuskan untuk berdiam diri di masjid.
'Annisa, apa kabar? Apa kau bahagia dengan suami prajuritmu itu?' Bisiknya dalam hati. Mendadak ia begitu rindu pada Annisa. Ia membuka ponselnya dan menatap dalam-dalam foto yang ia jadikan sebagai wallpapernya. Foto dirinya bersama Annisa saat menikmati senja di tepi laut. Gadis itu begitu menyukai senja dan laut.
"Apa yang paling kau sukai di dunia ini?" Thomas bertanya pada Annisa saat gadis itu tengah menikmati senja.
"Ada tiga hal yang paling kusukai didunia ini."
"Apa saja itu?"
"Pertama, aku suka senja. Dia hangat. Kedua aku menyukai laut. Riuh ombaknya terdengar merdu. Menenangkan. dan yang terakhir--"
"Yang terakhir?"
"Aku menyukaimu." Thomas tersenyum lebar.
"Wajahmu seperti senja, menghangatkan. Debar jantungmu, seperti riuh ombak. Menenangkan. Meskipun aku tau kau tidak pernah bisa tenang saat didekatku." Lanjutnya kemudian. Thomas tergelak.
"Kau sedang merayuku?"
"Aku bukan wanita perayu Thom. Aku sungguh menyukaimu." Annisa tersenyum.
"Aku tau. Kau wanitaku. Kau milikku." Thomas merengkuh bahu Annisa. Sungguh, ia tak ingin saat seperti ini berlalu begitu cepat.
"Kau melamun?" Zulfikar menepuk pundak Thomas. Thomas tersadar dari lamunannya.
"Hai Zul, kukira kau sedang mengajar?"
"Jam ku sudah selesai. Jadi, apa yang sedang kau pikirkan? Gadismu? " Zul melirik sekilas ponsel yang di genggam Thomas.
Thomas tersenyum tipis.
"Namanya Annisa. Dia cantik bukan?"
"Ya, dia cantik. Kau akan melamarnya? " tebak Zul.
"Tentu saja tidak. Dia pasti sudah menikah."
"Benarkah?" Zul tampak terkejut.
"Ya. Dia mungkin sedang hamil sekarang."
"Kalau begitu berhenti memikirkannya. Tidak baik memikirkan wanita yang sudah bersuami."
"Aku mencintainya. Dan dia mencintaiku. Hanya saja saat itu aku masih seorang pengecut."
"Sebenarnya bukan itu masalahku sekarang."
"Lalu?"
"Aku diusir dari kerajaan ku. Aku bukan putra mahkota lagi sekarang." Zul terdiam sesaat untuk mencerna kalimat Thomas. Kemudian tersenyum.
"Apa rajamu tau kau sudah menghianatinya?"
"Ya, dia mengusirku setelah dia mengetahuinya."
"Tinggallah disini. Kau akan punya banyak waktu untuk belajar."
"Bolehkah?"
"Tentu saja. Kita ini saudara. Kau bisa tinggal disini selama yang kau mau."
"Terimakasih Zul."
Di pondok pesantren itu Thomas belajar lebih giat lagi. Mulai membaca Al quran, juga mempelajari hadist. Di pesantren ia tak hanya tinggal diam. Thomas turut mengajari para santri bahasa inggris. Ia pun tak segan membantu para santri menyapu halaman, membersihkan masjid, ia senang dengan suasana pesantren.
****
"Dua minggu lagi aku menikah. Datanglah. Ayah dan ibu tidak akan datang. Aku tidak ingin terlihat mengenaskan dihari bahagiaku."
Thomas tergelak mendengar permintaan kevin. Ternyata adik kecilnya kini sudah dewasa dan akan segera menikah.
"Tentu saja aku akan datang."
Tiga hari setelah bertelpon dengan Kevin, Thomas menepati janjinya. Ia langsung terbang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan adiknya. Ia tak lagi tinggal dihotel seperti biasa. Ia harus menghemat tabungannya yang telah menipis.
"So dad dump you?" Kevin tergelak mendengar kisah dramatis dari kakaknya.
"Kau menertawaiku? Dasar adik durhaka."
"Calm down Thom. Kau bisa mencari pekerjaan disini. Kau akan dengan mudah mendapatkannya."
"Kalau begitu ini saatnya kau membalas budi baikku selama menjadi kakakmu."
"Hei, budi baik apa? Kau selalu menjahiliku ingat."
"Aku yang selalu membelamu saat warga lokal menjahilimu. Kau melupakan semua jasaku? Keterlaluan."
"Baiklah. Melamarlah ditempatku bekerja besok. Sedang ada lowongan untuk posisi cleaning service disana." Kevin terkikik.
"Kau ini. " Thomas melempar remote tv yang dipegangnya ke arah Kevin.
"Baiklah, maafkan aku. Ada lowongan untuk junior menejer di tempatku bekerja. Memang tak sebesar gajimu sebagai manager disana, tapi itu akan cukup untukmu."
Keesokan harinya, Thomas menuju kantor tempat Kevin berkerja. Dan benar saja. Dengan kualifikasinya, ia langsung diterima bekerja di perusahaan tersebut. Senang bukan kepalang. Setidaknya ia tidak menganggur lagi sekarang. Ia memutuskan untuk pergi ke mall, ia akan membeli beberapa potong pakaian baru untuk bekerja.
Usai berbelanja, ia bermaksud untuk langsung pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki memakai seragam loreng, sosok yang ia kenal. Ia melihat Bayu berjalan didepannya, calon suami Annisa, mungkin sekarang sudah menjadi suami Annisa. Bayu berjalan bersama seorang wanita, tapi itu bukan Annisa. Ia langsung menghentikan langkah Bayu.
"Hai, kita bertemu lagi. Ini yang ketiga kali bukan?" Sapanya. Thomas menatap bergantian ke arah Bayu dan Arini yang berada disampingnya.
"Ada perlu apa?"
"Bukankah seharusnya kau bersama Annisa? Kenapa kau bersama wanita lain?"
"Bukan urusanmu."
"Hei, hal yang menyangkut tentang Annisa akan selalu jadi urusanku. Terlebih lagi jika kau menghianatinya, aku tak akan segan untuk menghajarmu."
"aku telah dicampakkan oleh Annisa. Dan wanita yang berada disampingku ini, dia adalah istriku. Kau puas?"
"Dicampakkan?"
"Ya, aku dibuang sama seperti dia membuangmu. Kita tidak ada urusan lagi bukan?" Bayu melangkah kasar meninggalkan Thomas yang tengah mematung. Sedang Arini sedikit kesusahan mengikuti langkah besar Bayu.
'Dicampakkan? Bukankah ini kabar baik untukku. Itu artinya Annisa belum menikah. Itu artinya ini kesempatan ku mendapatkannya kembali.' Ucap Thomas dalam hati. Ia merogoh ponselnya dan segera mendial nomor Annisa.
Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan.
Thomas mendengus kesal saat mendengar suara operator telpon yang menjawab. Ia memutuskan untuk pulang. Urusan Annisa, biarlah ia selesaikan nanti. Toh ia punya banyak waktu di Jakarta. Dia akan berusaha meraih kembali gadisnya.
****