
"Mas, bangun. Ashar dulu. Udah hampir jam lima." Bisikan Annisa membangunkan Bayu yang tertidur di samping ranjang Arini. Arini terlihat pulas.
"Iya, maaf aku ketiduran. Kamu belum makan kan dari tadi siang, aku beliin makanan ya? Mau apa?" Bayu beranjak dari duduknya.
"Udah ada tu dimeja. Dibawain ummi."
"Ummi kemari? Dimana sekarang?"
"Lagi ketoilet sama bi Lilis. Udah sana sholat dulu. Keburu abis waktu asharnya. "
"Iya. Aku tinggal bentar ya. " Bayu beranjak pergi meninggalkan ruang rawat Arini. Tak lama ummi dan bi Lilis tiba.
"Gimana keadaan Arini Nis?"
"Nggak apa-apa mi. Ini dikasih obat tidur biar dia bisa istirahat. Besok sudah boleh pulang."
Bi Lilis mendorong kursi roda ummi mendekat pada ranjang Arini. Ummi meraih tangan Arini.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu. Kasian gadis ini. Temani dia nduk. Jangan ditinggal sendiri."
"Insyaallah mi, Nisa juga nggak tega ninggalin dia sendiri. Mi, sebenarnya ada yang mau Nisa bicarakan dengan ummi."
"Bicara apa nduk? Duduk disana ya." ummi menunjuk sofa yang ada di pojok ruangan itu.
"Ini soal mas Bayu mi." Annisa mendorong kursi roda ummi kearah sofa.
"Bayu kenapa?"
"Arini mencintai mas Bayu mi."
Ummi tersenyum dan meraih tangan Annisa.
"Lalu apa yang mengganggumu nduk? Apa Arini mengusik hubunganmu dengan Bayu?"
"Sama sekali nggak mi."
"Apa Bayu berusaha berpaling dari kamu?"
"Nggak mi. mas Bayu sama sekali nggak berniat untuk itu."
"Lalu?"
"Nisa ingin mas Bayu menikah dengan Arini mi."
"kenapa begitu nduk?"
"Arini seorang diri mi. Tapi Arini sangat mencintai mas Bayu. Ummi lihat kan gimana kacaunya keadaan Arini sekarang? Cuma mas Bayu yang bisa sembuhin Arini mi."
"Tapi Bayu mencintai kamu nduk. Bayu nggak akan mau menikah dengan Arini. Ummi yakin dengan kalian selalu ada di samping Arini, dia bisa sembuh. Nggak perlu kamu suruh Bayu untuk menikahi Arini."
"Mi, kemarin nyawanya hampir melayang waktu Nisa tinggal masak di dapur. Arini nggak bisa sendiri mi. Sedangkan Nisa nggak bisa selalu ada untuk dia. Dan lagi, tadi Arini menangis histeris, tapi saat mas Bayu peluk dia, dia langsung tenang mi. Nisa yakin, dengan mas Bayu menikahi Arini, Arini bisa sembuh."
"Bayu jelas akan menolak nduk. Kamu tau sendiri, Bayu hanya menganggap Arini seperti adiknya. Nggak lebih."
"Justru itu mi. Nisa butuh bantuan ummi. Mas Bayu sangat patuh sama ummi. Bujuk mas Bayu agar mau menikahi Arini mi. Insyaallah mas Bayu akan setuju jika ummi yang minta."
"Kamu yakin sama ucapanmu nduk?"
"Insyaallah yakin mi."
"Kamu rela memberikan calon suamimu untuk sahabatmu?"
"Nisa ikhlas mi. Asalkan Arini bisa sembuh Nisa rela."
"Ummi akan coba ngomong sama Bayu. Tapi kalau Bayu menolak, ummi tidak akan paksa dia."
"Iya mi. Yang penting kita coba dulu. Terimakasih mi."
Ummi mengangguk dan tersenyum. Sedetik kemudian Annisa memeluk ummi. Ia melihat secerca harapan. Annisa sangat yakin, jika ummi yang meminta, Bayu pasti akan mengabulkan.
"Mi Nisa pamit pulang ya. Sudah tiga hari Nisa nggak pulang."
"Tunggu Bayu dulu nduk. Biar di antar."
"Nisa pulang sendiri aja Mi, kasian mas Bayu pasti capek. Nisa naik taksi aja. Nisa pamit ya Mi, assalammualaikum. "
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan nduk."
****
"Nisa mana mi?" Bayu baru saja kembali dari sholatnya. Ia meraih tangan sang ummi, kemudian mencium punggung tangannya.
"Kok nggak nunggu aku. Padahal tadi mau aku anterin sekalian."
"Kamu mau pulang Yu?"
"Iya mi. Nitip Arini bentar ya. Jam tujuh mau apel. Nanti selesai apel Bayu langsung kemari."
"Duduk sini dulu le, kita bicara sebentar." Ummi menepuk ruang kosong disebelahnya. Bayu kemudian duduk disamping ummi nya.
"Kenapa mi?"
"Ini soal pernikahanmu. "
"Surat ijin udah turun mi. Tinggal pengajuan aja. Insyaallah minggu depan."
"Kamu udah yakin sama Annisa?"
Bayu mengeryit bingung.
"Kenapa ummi nanya gitu? Kalau nggak yakin Bayu nggak akan lamar dia mi."
"Le, coba kamu lihat Arini. Gadis yang malang. Kehilangan orang tua sekaligus calon suaminya. Dia pasti hancur."
"Kalau ummi mau nyuruh Bayu untuk menikahi Arini dan membatalkan pernikahan dengan Annisa, jawabannya nggak. Bayu nggak akan batalkan pernikahan Bayu dengan Annisa."
"Yu, katanya kamu sayang sama Arini. Kasian dia. Dunianya hancur. Cuma kamu yang bisa bantu dia."
"omongan ummi persis Annisa. Pasti Annisa yang suruh kan?"
"Ummi sendiri juga mikirin nasibnya Arini Yu. Abangnya juga nggak selalu ada buat dia. Kalau kamu menikah sama Arini, kamu bisa jagain dia dengan baik."
"Mi. "
"Sekali ini dengerin omongan Ummi."
"Apa Bayu pernah bantah omongan ummi? Ini menyangkut perasaan mi, Bayu cintanya sama Annisa."
"Ummi tau. Tapi pikirin Arini. Lihat gadis malang itu Yu. Jika kamu bisa menyelamatkan beberapa perasaan dari rasa sakit sekaligus, kenapa kamu hanya menyelamatkan satu? Kenapa hanya mau menyelamatkan milikmu sendiri? Lihatlah seandainya kamu tidak membantunya, Arini akan semakin terpuruk, Damar sahabatmu akan semakin frustasi dan Annisa, ia akan merasa sangat sedih."
"Terus Bayu yang harus berkorban mi?"
"Bukan hanya kamu, Annisa juga berkorban. Dia merelakan calon suaminya untuk membantu sahabatnya sendiri. Itu tidak mudah Yu. Jangan buat pengorbanannya sia-sia. Turuti permintaannya."
"Maaf mi, Bayu nggak bisa. Bayu berangkat dulu. Assalamualaikum." Bayu beranjak dan mencium punggung tangan umminya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
****
Usai apel, Bayu kembali kerumah sakit. Sudah pukul delapan malam saat ia sampai di area parkir. Ummi mengabarkan jika dirinya sudah pulang saat Annisa datang. Saat ia masuk keruang rawat, ia melihat Annisa tertidur disofa. Ia berjongkok dihadapan Annisa dan menatap lekat wajah gadis yang sangat ia cintai itu.
"Kenapa kamu berusaha mendorongku menjauh Annisa? Aku mencintaimu. Apakah kamu tidak bisa melihatnya? Bagaimana mungkin aku melepaskanmu saat kamu sudah berhasil ku genggam. Selangkah lagi aku akan memilikimu, seutuhnya. Kenapa kamu malah memintaku mundur." Ucapnya pelan. Tangan Bayu terulur hendak menyentuh pipi Annisa. Namun urung ketika Annisa menggeliat dan mulai membuka mata.
"Mas, kapan kamu dateng?" Ia bangkit dari tidurnya. Ia sedikit terkejut melihat wajah Bayu yang begitu dekat dengannya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas lelaki itu.
Bayu beranjak dari posisinya dan duduk di samping Annisa.
"Barusan."
"Udah makan? Kalau belum, aku siapin ya." Annisa hendak bangkit dari duduknya, namun Bayu menahan lengannya.
"Nanti aku ambil sendiri. Kamu istirahat aja."
"Kalau begitu, aku ambilin minum ya?"
"Nis, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Sekian lama kita bersama, apa tidak ada sedikitpun perasaanmu untukku? Sekian lama kamu menunggu sambil merawat ummi, apa tidak mampu menumbuhkan perasaanmu untukku?"
"Kenapa kamu nanya gitu?"
"Apa aku sama sekali nggak ada artinya buat kamu? Sehingga kamu membuangku begitu saja? Dan memaksaku menikahi perempuan lain?"
Annisa terdiam sesaat. Sejujurnya, ia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan kehadiran Bayu. Entah sejak kapan, Bayu telah berhasil mengisi ruang kosong dihatinya semenjak berpisah dengan Thomas. Tapi Arini lebih membutuhkan Bayu. Ia tak sampai hati melihat sahabatnya begitu hancur.
"nggak mas, kamu sama sekali nggak ada artinya buat aku. Aku bersikap baik ke kamu selama ini karena aku hanya melaksanakan perintah ayah. Sekarang aku ingin kamu buka mata, ada Arini yang begitu mencintai kamu. Buka hatimu untuk dia mas. "
Telak. Jawaban Annisa membuat hatinya hancur. Bayu hanya terdiam disamping gadis itu. Untuk kedua kalinya ia merasa dicampakkan.
****