Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Lamaran Indra



Satu bulan telah berlalu. Cuti Bayu sudah usai. Sudah saatnya ia kembali ke medan tugas. Ummi sudah lebih baik. Dokter menjadwalkan kemoterapi untuk beberapa bulan kedepan.


"Makasih ya udah bersedia merawat dan menjaga ummi." Bayu dan Annisa tengah menikmati malam di depan rumah Annisa. Malam terakhirnya sebelum kembali ke Kongo.


"Ummi itu udah aku anggap seperti ibuku sendiri mas. Kamu nggak perlu berterimakasih. Aku ikhlas rawat ummi."


"Pantas ummi lebih sayang ke kamu menantunya daripada aku anaknya sendiri. Kamu baik banget."


"Nggak boleh iri dong kalau aku jadi kesayangan ummi. " Annisa tersenyum jumawa.


"Nggak iri, aku malah bersyukur banget bisa dapet calon istri kayak kamu. Jangan lelah untuk belajar mencintaiku."


"Jangan lelah mengajariku untuk jatuh cinta padamu mas."


"Nis, kamu tau, aku adalah satu yang paling beruntung dari banyak lelaki diluar sana. Kamu tetap tinggal setelah tau bagaimana keburukanku, tetap berbakti pada orangtuaku walaupun itu sama sekali bukan kewajibanmu. Dan tetap berlaku baik padaku, meski aku sama sekali tidak ada dalam hatimu."


"Mas, jangan terlalu memujiku. Aku tidak ingin jika ada cela dalam diriku kelak, kamu akan sangat membenciku karena kecewa akan cela tersebut. Aku tidak sebaik yang kamu kira."


"Abah dan ummi mengajariku untuk memperbaiki sesuatu yang rusak selagi masih bisa digunakan dan tidak membuangnya. Begitu juga dengan hubungan. Jika salah satu dari kita berbuat dzolim, aku harap kita tidak saling membuang, tapi saling memperbaiki. Karena--" ucapan Bayu menggantung beberapa detik.


"Karena? "


"Karena perpisahan dalam dunia militer itu ribet." Bayu terkikik. Dan Annisa hanya melongo mendengarnya.


"Jadi jangan pernah coba berpikir untuk meninggalkanku. "


"Kita bahkan belum menikah."


"Harusnya kita udah menikah, tapi karena kamu minta ditunda, aku bisa apa?"


"Jangan egois, kamu tau sendiri gimana kondisi ummi."


"Iya sayang, aku tau. Titip ummi sama abah ya. Maaf kalau aku selalu ngerepotin kamu."


****


Sepeninggal Bayu, ummi memang tampak lebih sumringah. Meskipun keadaannya tidaklah baik-baik saja. Leukemia itu bisa disembuhkan. Tapi tidak semua kasus leukemia itu bisa sembuh. Tergantung tingkatnya dan juga ketepatan penanganannya. Dan satu lagi, juga tergantung pada kondisi kesehatan si pasien itu sendiri.


Setelah dirasa kemoterapi tidak ada pengaruhnya sama sekali pada penyakit ummi, dokter menyarankan untuk tindakan radioterapi. Ummi hanya pasrah, segalanya diserahkan pada abah dan Annisa, tentu saja dengan persetujuan Bayu.


"Nis, nanti kalau ummi sudah nggak ada umur sebelum kalian menikah, ummi titip Bayu sama abah ya." ucap ummi suatu ketika. Ia baru saja selesai menjalani kemoterapi.


"Kenapa ummi ngomong gitu. Ummi pasti sembuh. Ummi nggak boleh nyerah."


"Ummi capek Nis, badan ummi sakit semua. "


"Mi, semua penyakit itu pasti ada obatnya. Asalkan kita mau berikhtiar. Ummi yang kuat ya, ada Nisa di samping ummi. "


"Makasih ya nduk, insyaallah abah dan ummi nggak salah pilih calon istri untuk Bayu."


"Insyaallah mi, ummi istirahat ya."


****


Anita mematut dirinya didepan cermin. Perutnya mulai membesar. Usia kehamilannya mencapai enam bulan. Dengan susah payah ia melewati trimester pertamanya. Hamil tanpa suami sungguh berat rasanya. Berkali-kali ia merutuki dirinya. Seharusnya malam itu ia bisa mengontrol diri. Di minggu-minggu pertama ia sempat menangis meraung-raung. Takdirnya sungguh berat. Ia ingin mengakhiri semuanya. Namun ia masih cukup waras untuk tidak melukai diri juga bayi yang dikandungnya.


Sebenarnya ia tak pernah kemana-mana. Ia tetap di Merauke. Ia mendapat pekerjaan sebagai teller di bank perkreditan. Beruntung pemilik bank itu tidak terlalu jauh mengulik masalalunya yang hamil tanpa suami. Dan tentang Thomas, ia hanya mengamati lelaki itu dari jauh. Ia tidak ingin mengusik hidup lelaki itu lagi. Biarlah nanti saat anaknya telah lahir, ia akan membawanya kepada Thomas. Orang tuanya pun tak pernah tau. Orang tua Anita berada di Makasar. Ia seorang diri di Merauke.


"Mbak, sebaiknya mbak beritahu ayahnya. Jangan berjuang sendiri mbak. Ayah bayi ini juga berhak tau. " Siska teman sekamarnya di kost selalu menyuruhnya memberitahu ayah dari bayi yang dikandungnya itu. Sudah lima bulan mereka saling mengenal. Siska juga tidak punya siapa-siapa di kota ini. Maka tak heran Siska dan Anita sudah seperti saudara. Terlebih lagi mereka sama-sama orang bugis.


"Nggak perlu Sis, nanti kalau dia sudah lahir, baru aku akan beritahu ayahnya. "


"Hamil tanpa suami itu melelahkan mbak. "


"Aku tau Sis, aku bisa menghadapi ini. Kamu nggak perlu khawatir. "


"Memang siapa sih mbak ayahnya? Biar aku yang labrak laki-laki nggak bertanggung jawab itu."


"Jangan Sis, itu nggak perlu. Aku nggak mau menghancurkan reputasinya dengan mengungkap aib ini. "


Siska menghela napas panjang. Ia menyerah. Anita tetap saja keras kepala. Lima bulan yang lalu ia menemukan Anita tengah duduk di trotoar jalan dekat toko tempatnya bekerja. Anita menangis sambil memegangi perut ratanya dibawah guyuran hujan saat itu. Siska mengajak nya tinggal bersama setelah tau permasalahan yang Anita hadapi. Hingga akhirnya Siska menguatkan Anita yang begitu rapuh untuk kembali menjalani kehidupannya.


****


Bayu  duduk diatas tempat tidurnya. Tugasnya akan segera berakhir bulan depan. Dia tengah memandangi foto Annisa. Gadis itu baru saja mengunggah fotonya bersama Arini. Nampak foto selfie Annisa yang mengangkat dua jarinya sambil tersenyum dan Arini yang mengerucutkan bibirnya ke arah kamera.


"Jadi yang lu liatin Annisa apa Arini suh? " Damar melongokkan kepala melihat ponsel milik Bayu kemudian duduk disampingnya.


"Ya Annisa lah. Mana boleh liatin Arini ntar bisa ada perang saudara sama si Indra. " Bayu melirik kearah Indra yang ada didepannya.


"Uhuk, " Indra yang baru saja disebut namanya, tersedak mie instan yang sudah memasuki tenggorokannya dan buru-buru meraih air di nakasnya kemudian meminumnya.


"Maksudnya? Apa hubungannya sama Indra? " Damar menatap tak mengerti.


"Jelasin Ndra ke calon abang ipar. "


"Lu tau darimana soal gue sama Arini? "


"Dari calon istri gue lah, mereka temenan. " Bayu menjawab santai. Annisa memang memberitahunya tentang Arini dan Indra beberapa hari yang lalu.


"Eh tunggu, maksudnya lu pacaran sama adek gue?"


Indra menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk.


"Iya, udah lama sih, sekitar enam bulan. Sorry ya nggak ijin sama lu dulu. Sepulang dari sini gue langsung kerumah lu buat lamar Arini. "


"Akhirnya laku juga adek gue. Awas aja kalo sampe lu macem-macem sama adek gue. "


"Macem-macem gimana, orang ketemu baru sekali pas berangkat satgas. "


"Eh Dam, sebaiknya lu cari gandengan juga, biar nggak lapuk. " Bayu menyahut kemudian disusul gelak tawa dari Indra.


"Elah, lu kalo nggak dijodohin juga nggak bakal laku. "


"Yang penting udah laku ada yang nungguin nanti pas pulang. Nggak kayak lu. "


"Dasar lu temen kurang ajar. " Damar melempar bantal ke arah Bayu.


Seluruh prajurit tengah bersuka cita. Satu bulan lagi mereka akan kembali ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga tercinta. Bayu tersenyum saat membayangkan dirinya dan Annisa berjalan dibawah naungan pedang pora. 'Sebentar lagi Annisa, tunggu aku pulang.' Gumamnya dalam hati.


****


Hari kepulangan tiba. Lagi-lagi Annisa kini berdiri ditengah kerumunan ibu-ibu berseragam hijau pupus yang tengah bersuka cita menyambut para suami pulang. Ia berada di Yonif 201. Annisa bersama abah dan ummi yang kini terduduk dikursi roda.


Satu persatu prajurit turun dari bus yang membawa mereka dari lanud menuju batalyon tempat mereka mengabdi. Dengan gagah membawa ransel besarnya tidak lupa menggendong senjata laras panjang didepan. Tangis haru pecah manakala tubuh mereka beradu dengan orang tercinta. Annisa mengedarkan pandangannya mencari sosok Bayu. Ketika netranya menemukan yang dicari, ia tersenyum simpul. Bayu berjalan kearahnya. Begitu sampai, Bayu bersimpuh di hadapan sang Ummi.


"Assalamualaikum ummi. " Bayu mengecup kening ummi dan kemudian memeluk erat umminya.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah. Sehat kamu le?" Ummi menitihkan air mata. Ia begitu rindu pada putranya.


"Alhamdulillah Bayu sehat. Ummi sehat kan. "


"Iya, ummi sehat. "Bayu tersenyum, kemudian ia beralih merangkul abahnya.


"Bah, abah sehat? "


"Sehat le, alhamdulillah. Kamu pulang dengan selamat. "


"Alhamdulillah bah. " Bayu beranjak kearah Annisa dan berdiri didepannya.


"Assalamualaikum calon istri. "


"Waalaikumsalam calon suami. Kamu sehat? "


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Tidak kurang satu apapun. "


"Alhamdulillah. " Annisa tersenyum.


"Merindukanku? " Bayu memainkan alisnya.


"Sedikit. Sekarang tidak lagi. " Bayu maju selangkah hendak memeluk Annisa namun tangan Annisa terjulur lembut menyentuh dada bidang Bayu yang berbalut PDL.


"Belum muhrim. "


"Jangan nyosor kayak bebek gitu Yu, halalkan dulu baru boleh peluk-peluk. " Umminya menyahut.


"Iya mi, maaf khilaf. " Bayu menggaruk tengkuknya.


****


"Ini semua masakan Nisa. Kesukaan kamu semua." ummi menyendokkan nasi pada piring Bayu. Bayu tersenyum. Dimeja telah terhidang ayam balado, sayur asam, bakwan jagung dan tidak lupa di lengkapi dengan sambal super pedas favoritnya.


Bayu makan dengan lahap. Rasanya sudah lama ia tak mencicipi masakan rumah. Terlebih yang ia makan saat ini adalah masakan Annisa calon istrinya. Masakan terenak nomor dua didunia setelah masakan ummi tentunya.


"Makasih ya Nis sudah bersedia merawat ummi selama aku pergi. Makasih juga sudah bersedia menungguku. " Bayu dan Annisa kini duduk di gazebo depan rumahnya.


"Kamu hobi banget bilang makasih mas. Aku ikhlas rawat orang tua kamu. Aku udah anggep mereka seperti orang tuaku sendiri. Jadi please berhenti bilang makasih untuk hal semacam ini."


"Aku beruntung punya kamu. Kamu itu sempurna." Bayu tersenyum. Ucapannya membuat Annisa tersipu.


"Deket kamu lama-lama aku bisa terbang mas."


"Kenapa gitu? "


"Kamu muji aku terus mas. Nih kepalaku bisa makin gede segede balon udara dan bawa aku terbang ke angkasa. "


Bayu tergelak.


"Kamu bisa aja. Selain cantik, berbakti sama orang tua, sopan sama orang lain, pintar masak, pinter ngelucu pula, ada lagi kehebatan yang belum kamu tunjukkan padaku Nis? "


"Aku ini wonder women tau, bisa angkat galon, bisa pasang gas LPG, bisa nyuci sambil masak, bisa jemur sambil goreng ikan, bisa nyetir mobil sama motor ah udahlah, kalo aku sebutin semua kamu nggak akan bisa berpaling dariku. " lagi, Bayu tergelak mendengar ucapan Annisa.


"Pas banget, istri idamanku banget kalo gitu. Jadi udah siapkan menghadap komandan?"


"Emm, aku sih siap mas, tapi.. " Annisa menggantungkan ucapannya.


"Tapi?"


"Pengobatan ummi yang terakhir tetap nggak membuahkan hasil. Aku sama abah sudah diskusi soal ini kemarin. Dokter menyarankan ummi transplantasi sumsum tulang belakang."


"iya aku lupa soal pengobatan ummi. Apa sama sekali nggak ada kemajuan Nis? "


"Nggak ada mas, sel kankernya terus berkembang. Badan ummi juga makin lemah, makin kurus. Menurut kamu gimana? "


"Gimana baiknya aja Nis, aku ikut kata dokter. Terus donornya dari mana? "


"Dari kakak atau adik kandungnya kata dokter lebih match mas. Nanti kamu bicarakan saja sama abah. Aku pulang dulu ya, udah sore. "


"Aku antar ya. "


"Nggak usah mas, aku kan bawa mobil. "


"Ya udah kalau gitu entah nanti atau besok aku mampir kerumah kamu, nyapa ibu sama bapak. "


"Iya, aku langsung aja ya, kayaknya abah sama ummi tidur. "


"Iya, hati-hati dijalan. "


"Assalamualaikum. "


"Waalaikumsalam. "


****


Rombongan keluarga Indra memasuki halaman rumah Arini. Seminggu pasca kepulangannya dari Kongo, Indra menepati janjinya pada Damar untuk melamar adiknya Arini. Ada dua puluhan orang yang datang. Arini masih mematut dirinya didepan cermin. Ia mengenakan setelan kebaya berwarna pink dan jarik berwarna coklat. Jilbab pink polosnya semakin memancarkan kecantikannya.


"Are you ready? " Annisa juga tengah berada dikamar Arini. Ia membantu persiapan Arini.


Arini menghela napas.


"Bismillah. "


"Sekarang udah ada rasa sama bang Indra? "


"Sedikit bergetar hatiku. Coba rasain. Deg-degan kan? " Arini meraih tangan Annisa dan meletakkan di dadanya.


"Santai. Ayo keluar. " keduanya berdiri dari duduknya.


"Bentar. " ia kembali duduk. Mencoba meredamkan degup jantungnya.


"Tarik napas.. Buang. " Arini mengikuti instruksi Annisa.


"Udah? "


"Hmm, bismillah. Ayo keluar. "


Lututnya mendadak lemas saat semua orang tengah menatap kearahnya. Terlebih lagi Indra juga tengah menatapnya tanpa berkedip. Ia duduk tepat didepan Indra, jaraknya sekitar satu meter. Disamping kanan kirinya juga ada mama dan papanya, juga Damar. Ia tersenyum tipis kearah Indra.


"Assalammualaikum warohmatullah wabarakatu." Salah satu lelaki dari pihak Indra membuka acara.


"Waalaikumsalam warohmatullah wabarakatu." Serempak menjawab.


"Bismillah, langsung saja ya. Jadi maksud kedatangan kami kemari adalah ingin meminang putri bapak dan ibu, Arini untuk adik kami Indra Atmaja, sekiranya bapak dan ibu menerima maksud baik kami ini."


"Bismillah, saya menerima maksud baik pak Irawan sekeluarga. Tapi semua keputusan ada ditangan anak saya. Dan satu lagi, apa nak Indra keberatan jika saya ingin mendengar langsung dari mulut kamu tentang maksud dan tujuanmu kemari? "


"Siap tidak pak. "


"Baiklah. Silahkan sampaikan. "


"Bismillah, bapak, ibu, maksud kedatangan saya kemari adalah ingin meminang Arini putri bapak dan ibu. Arini, bersediakah kamu menjadi istriku? Bersediakah kamu menghadap komandan bersamaku?"


"Coba kamu jawab Rin."


"Bismillah, saya bersedia bang. "


"Alhamdulillah. " semua orang didalam ruangan itu serentak mengucap hamdalah. Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan akan di gelar dua bulan setelah acara lamaran.


"Cie, yang udah mau menghadap komandan." Annisa tengah menggoda sahabatnya itu. Usai seluruh keluarga Indra pulang, Annisa, Arini, Bayu, Indra juga Damar tengah berkumpul diruang tengah.


"Apasih Nis, kan kamu duluan yang mau nikah?"


"Ditunda Rin, kondisi Ummi masih belum stabil." sahut Bayu. Kemudian disambut gelak tawa dari dua sahabatnya, Indra dan Damar.


"Nunggu lagi Yu? Kasian amat lu. " sahut Damar.


"Iyalah, nunggu ummi stabil dulu baru nikah. Yang penting udah jelas ada yang mau dan jelas juga rencana nikahnya. Daripada elu, bujang lapuk nggak laku. " kini giliran Annisa dan Arini yang tergelak. Sedangkan Damar diam seribu bahasa.


"Iya nih bang Damar kenapa nggak cari pacar sih? Abang udah tua loh. " Sahut Arini kemudian.


"Kamu ngatain abang tua? Kamu sadar nggak sih, calon suamimu ini seletting sama abang sama-sama tua."


"Biar tua yang penting udah laku abang ipar."


"Emangnya nggak ada cewek yang abang deketin gitu? Minimal cewek yang abang suka."


"Ada sih, tapi udah telat. Udah jadi calon orang."


"Siapa bang? "


"Itu sebelah kamu. Maaf ya Nis, harusnya dari dulu gue ngungkapin ini ke lo," Damar menggaruk tengkuknya, detik berikutnya ia mendapat lemparan bantal dari Bayu.


"eh, iya bang, nggak apa-apa." Annisa pun jadi salah tingkah karena ucapan Damar.


"Lu naksir sama calon istri gue? Cari mati lu?"


"Santai Yu, itu dulu. Jamannya dia lagi kuliah. Masih belum ketemu sama lu."


"Awas aja ya kalo sampai lu nikung gue. "


"Nikung elu? Gue masih waras Yu, santai. Nggak usah kaku gitu. "


"Eh, udah udah jangan berantem. Kita makan aja sekarang." Arini menengahi.


****