Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Sertu Bayu



Malam harinya, Thomas mencoba menelpon Annisa. Berhari-hari tidak berbicara pada gadis itu, membuatnya benar-benar rindu. Ia menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan, namun nihil. Annisa tidak mengangkat telponnya. Kemudian Thomas membuka aplikasi chatnya. Ia mengetikkan beberapa kata kemudian mengirimnya pada Annisa.


[Aku merindukanmu.] Tanda centangnya langsung berwarna biru. Pesannya sudah Annisa baca. Namun hingga satu jam menunggu, sama sekali tidak ada balasan dari Annisa. Gadis itu benar-benar mencampakkannya. Sekali lagi ia menelpon Annisa. Tapi tetap tidak diangkat.


[Aku bukan Tru Wall yang akan membiarkan gadisnya pergi begitu saja. Kau tau aku tak pernah main-main denganmu. Tunggu aku, aku akan datang.] Thomas mengirim pesannya. Dan lagi, tanda centangnya langsung berwarna biru.


Thomas meletakkan ponselnya diatas meja, kemudian merebahkan diri diatas kasur. Mencoba memejamkan mata, namun wajah gadisnya kembali terbayang. Hingga ia terlelap dalam tidurnya.


****


"Kenapa senyum-senyum nduk? " Annisa tengah duduk disamping brangkar sang ayah. Terpasang beberapa selang dan kabel-kabel medis pada tubuh sang ayah. Sedangkan sang ibu sedang mengaduk teh di meja.


"Nggak apa-apa yah. Ayah cepet sehat ya, biar bisa pulang kerumah. " Annisa segera menyembunyikan senyumnya. Ia baru saja membuka pesan dari Thomas.


"Ayah juga udah bosen disini nduk. Pengen cepet pulang. "


"Dokter bilang lusa udah boleh pulang Nis, keadaannya semakin membaik." Ibunya menyahut.


"Lebih baik lagi kalau Annisa bawa kabar gembira ya bu. " Annisa dan sang ibu mengernyit bingung.


"Kabar gembira? " tanya Nisa dan ibunya bersamaan.


"Mengenalkan calon suami misalnya. " sang ayah terkikik. Disusul senyum sang ibu. Annisa hanya terdiam dan sedikit menyunggingkan senyum.


Pagi hari Annisa kembali kerumahnya. Ia ingin mandi dan masak untuk sarapan orangtuanya. Juga mengambil baju ganti untuk ibunya. Ketika turun dari taksi, terkejut ketika melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal tengah duduk dikursi teras dan tersenyum kearahnya. Matanya berbinar ketika melihat Annisa keluar dari taksi.


"Assalamualaikum Nis, kamu kapan baliknya?" lelaki itu berdiri dari duduknya. Lelaki yang telah menorehkan luka pada hatinya. Roby yang datang.


"Waalaikumsalam. Ngapain kesini? " ia berdiri sejenak, berhadapan dengan lelaki masalalu nya itu.


"Aku mau ketemu bapak sama ibu. "


"Ada perlu apa? Mereka nggak ada dirumah. Bilang aja kamu perlu apa, nanti aku sampaikan. "


"Annisa, " lelaki itu mendekat kemudian mencoba meraih jemari Annisa.


"Anak itu udah lahir, aku sudah mendaftarkan gugatan cerai. Kamu bersediakan memulai semuanya dari awal lagi? Aku nggak bisa lupain kamu. Aku masih sayang sama kamu." Matanya berbinar penuh harap.


Annisa menyentakkan tangan Roby.


"Jangan mimpi By, aku sudah ingatkan kamu untuk tidak mengganggu hidupku lagi. Jangan harap aku akan kembali padamu. Lebih baik kamu pergi sekarang. "


Tak disangka Roby menarik kasar tangan Annisa dan menyeretnya menuju mobil. Annisa meronta namun tenagannya tak mampu melawan.


"Hey dude, don't touch my girl. " Thomas berdiri santai tepat di tengah gerbang, tangannya bersendekap. Annisa terbelalak kaget melihat pemandangan didepannya.


"Bisa minggir dari situ bung? " Roby berhenti sejenak, namun tangannya tetap mencengkeram lengan Annisa.


"Oh shit, don't make me angry dude. " Thomas memijat pelipisnya.


"Jangan ikut campur. Kau tak ada urusan denganku ataupun dengan gadisku. "


"Gadismu? She is mine." Sentak Thomas.


"Lepaskan dia, atau aku sendiri yang akan melepaskan lenganmu dari tubuhmu. " lanjutnya kemudian.


"Jangan ikut campur. " Roby tidak menggubris perkataan Thomas.


Thomas meraih lengan Roby kemudian memelintir dan menguncinya di belakang kepala. Dan membuat Roby tersungkur. Thomas mendekatkan kepalanya pada Roby.


"Jangan pernah ganggu Annisa lagi jika kau masih sayang pada nyawamu. "


Roby meronta, namun tenaganya tidak lebih kuat dari Thomas.


"Thom sudahlah, lepaskan dia. " Annisa melerai.


Thomas menatap gadisnya yang terlihat ketakutan.


"Kau tak apa? "


"Aku tak apa, lepaskan dia. "


"Sekali lagi kau menampakkan batang hidungmu didepanku atau didepan Annisa, aku pastikan hari itu juga aku patahkan tulang-tulangmu. " ucap Thomas penuh penekanan. Nada bicaranya mengintimidasi.  Tatapannya nanar membuat Roby bergidik ngeri.


"Thom sudahlah. " Annisa menarik lengan Thomas. Mau tidak mau Thomas melepaskan kunciannya.


"Nisa, pikirkan lagi ucapanku tadi. "


"By pergilah. "


"pergi atau kupatahkan tulang-tulangmu sekarang juga. " Thomas mencengkeram kerah baju Roby.


Roby melepas cengkeraman Thomas kemudian beranjak pergi.


****


"Jadi dia yang bernama Roby? "


"Bagaimana kau tau tentang Roby? "


"Adrian menceritakan semuanya padaku. " Annisa terdiam.


"kalau dia masih mengganggu mu, telpon aku. Biar aku menghajarnya. " ucap Thomas. Mulutnya penuh dengan nasi goreng yang baru saja ia lahap.


"habiskan dulu makanan mu baru bicara. "


Thomas meletakkan sendoknya kemudian meraih gelas di depannya dan menenggak airnya hingga tandas. Nasi dipiringnya sudah habis tak bersisa. Ia melihat Annisa yang terlihat sibuk memasukkan nasi, ayam goreng, juga sayur sop kedalam rantang.


"Kau mau kemana? "


"Kerumah sakit. "


"Biar aku antar. "


"Tidak perlu, kau pulanglah. Tidak seharusnya kau berada disini. "


"Ayolah, aku ingin bertemu orang tuamu. "


Annisa sudah berkecak pinggang dan hendak membuka mulut untuk membantah perkataan Thomas.


"Okey baiklah, aku pergi . Jika melihatmu marah aku akan semakin jatuh cinta padamu. "


Annisa membelalak. Lagi-lagi Thomas membuat pipinya merona merah. Thomas terkikik melihat ekspresi Annisa.


"Bagaimana keadaan ayahmu?"


"Sudah lebih baik. Besok sudah sudah di perbolehkan pulang. "


"mau berangkat sekarang? Biar ku antar. Aku tidak akan turun. Aku janji. "


"Baiklah. Kuharap kau tak berulah. "


"aku akan langsung menemui ayahmu untuk melamarmu. " Thomas memainkan alisnya. Detik berikutnya ia mengaduh.


"It's hurt beib, I'm just kidding." Ia memegang pelipisnya. Annisa baru saja melempar sendok nasi kearah Thomas dan tepat mengenai pelipis kirinya.


Annisa berjalan keluar kemudian Thomas mengekor dibelakangnya. Sudah ada taksi yang menunggu di depan rumahnya. Usai mengunci pintu keduanya masuk kedalam taksi.


"Kenapa kau ingin menyerah? " Thomas meraih jemari Annisa. Namun langsung ditepis oleh Annisa.


"Hubungan kita sudah jelas akhirnya. "


"Aku akan yakinkan orang tuamu. "


"Tidak ada toleransi untuk perbedaan keyakinan. Orang tuaku bukanlah orang yang akan menerima perbedaan apalagi jika itu menyangkut prinsip dan keyakinan. "


"Apa tidak bisa kalian kesampingkan dulu soal perbedaan kita?"


"Tidak bisa. " ucapnya tegas.


Sebenarnya, Annisa bisa saja merayu Thomas agar mau menjadi seorang muslim jika dia serius ingin menikahinya. Tapi tidak, Annisa tidak ingin Thomas melakukan sesuatu yang amat bertentangan dengan prinsipnya. Jika memang berjodoh, biar takdir allah yang menyatukan.


Sampai di rumah sakit Annisa turun dari taksi dan memastikan Thomas benar-benar pergi dan tidak mengikutinya lagi. Ia segera menuju kamar sang ayah. Meraka pasti sudah menunggunya. Ketika sampai didepan pintu rawat inap ayahnya, ia menghentikan langkah. Didalam ramai sekali terdengar gelak tawa beberapa lelaki juga wanita. Ia urungkan niatnya untuk masuk. Annisa memilih duduk di depan kamar ayahnya. Tak beberapa lama, ibunya keluar dan mendapati Annisa tengah duduk dan melamun didepan kamar.


"Kok duduk disini nduk? Kenapa nggak masuk?"


"Iya, sahabatnya ayah. Ayo masuk sapa dulu. "


Annisa mengekor dibelakang ibunya. Tampak seorang lelaki seusia ayahnya dan wanita seusia ibunya. Juga seorang lelaki yang memakai seragam hijau loreng. Masih muda. Mungkin ia anak teman ayahnya.


"Ini loh Man, anak perempuanku satu-satunya. Sapa dulu nduk, ini abah Usman teman ayah sewaktu kuliah. Nah ini istri dan anaknya. " Annisa menyalami Istri abah Usman, kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya dan tersenyum kearah abah Usman dan Anaknya. Ia melirik sekilas name tag yang ada diseragam anak abah Usman. Bayu M yang tertulis disana.


"Siapa namamu nduk? " istri abah Usman bertanya.


"Annisa ummi. " Annisa sedikit tau biasanya jika suaminya di panggil abah, maka istrinya sudah pasti di panggil Ummi. Maka Annisa langsung memanggil wanita itu dengan sebutan ummi.


"Wah, nama yang cantik, secantik wajahnya. Semoga allah juga menganugrahimu dengan hati yang cantik.  " Istri abah Usman membelai puncak kepala Annisa. Sedangkan anaknya, Bayu, menatap Annisa dengan tatapan yang tak biasa. Sulit diartikan.


"Gimana pendapatmu le, cantik ya? " giliran abah Usman bersuara.


"Iya bah, cantik. " ucap Bayu sambil tersenyum. Matanya tak lepas menatap Annisa. Semua orang yang berada diruangan itu tersenyum kecuali Annisa yang tampak kebingungan.


****


"Namanya Bayu nduk. Ganteng ya. Dia dinas di Yonif 201. Udah sertu. Baru aja ukp minggu lalu. " sang ibu memulai pembicaraan usai tamunya pulang. Tangannya sibuk menyiapkan makanan yang Annisa bawa tadi.


"Iya bu ganteng. " ucap Annisa tak begitu antusias. Ia mencomot ayam goreng yang masih berada dirantang.


"Suka nggak kamu? Anaknya sopan, sholeh."


"Gimana bu? Kenapa ibu nanya aku suka apa nggak sama dia? " Annisa masih tampak bingung.


"Bapak sama abah Usman berencana menjodohkan kamu sama Bayu nduk. Kamu setuju kan? " sang ayah menyahut. Annisa menghentikan aktifitas makannya dan meletakkan ayamnya diatas piring.


"Yah. Kenapa ayah nggak nanya dulu sama Nisa? "


"Dia lelaki yang baik nduk. Orangtuanya juga suka sama kamu. Lagian kamu ini udah waktunya menikah. Ayah dan ibu juga ingin menimang cucu. "


Annisa hanya bergeming. Ia menatap ayah dan ibunya bergantian. Keduanya pun menatap penuh harap.


"Nanti ya, Nisa pikirin lagi. Nisa mau istikharah dulu. "


****


Pagi hari sang ayah sudah diperbolehkan pulang. Annisa dan ibunya menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang. Sedangkan sang ayah tengah berjalan-jalan ditaman bersama Bayu. Lelaki itu memang sengaja menawarkan diri untuk mengantar ayah Annisa pulang.


"Duduk didepan nduk, sama Bayu. Ayah sama ibu dibelakang. " Annisa hanya bisa nenurut ketika ayahnya meminta.


Hanya hening sepanjang perjalanan. Tak ada yang berkata-kata. Hingga mobil telah memasuki halaman rumah Annisa. Bayu membantu mengangkat barang-barang yang ada dibagasi mobilnya.


"Bikinin kopi dulu nduk. " perintah sang ayah yang baru saja duduk diruang tamu dan diikuti oleh Bayu. Sedangkan Annisa dan ibunya masuk kedalam.


"Iya yah. " Annisa beranjak menuju dapur.


Beberapa menit kemudian Annisa kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Baru setengah jam duduk sang ayah sudah pamit untuk istirahat meninggalkan Annisa dan Bayu berdua saja. Keduanya tampak canggung dengan situasi itu.


"Kamu ngajar Merauke ya? Berapa lama?" tanya Bayu memecah keheningan.


"Iya mas, sekitar dua tahun. "


"Terus disini rencananya mau ngajar dimana?"


"Belum tau sih mas, paling cari yang deket-deket sini aja. "


"Emm, soal perjodohan kita, apa kamu setuju? Maaf aku bukan tipe lelaki yang pandai basa-basi. "


"Entahlah, mas Bayu setuju sama perjodohan ini? Aku sebenernya kaget juga sih waktu ayah bilang aku dijodohin. "


"Aku memang berniat mencari istri Nisa. Umurku sudah tidak muda lagi. Apa kamu keberatan dengan perjodohan ini? "


Annisa terdiam beberapa saat. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Ia masih mengharapkan Thomas tapi disisi lain ia sangat tau bahwa hubungannya dengan Thomas tidak akan berhasil.


"Beri aku waktu tiga hari mas, setelah tiga hari aku akan memberimu jawaban. "


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Bisa panggilkan bapak dan ibu kamu? "


"Iya, sebentar. " Annisa masuk kedalam untuk memanggil ayah ibunya.


Beberapa saat kemudian Annisa keluar bersama kedua orang tuanya. Usai berpamitan, Bayu beranjak pergi.


"Nduk, Bayu itu lelaki baik. Jangan ditolak lagi pula ayah dan abahnya Bayu sudah berteman sejak kuliah. "


"Yah, bu ada yang ingin Nisa katakan. " Wajahnya menegang.


"Ngomong apa nduk? Kenapa jadi serius banget? " ujar sang ibu penasaran.


"Nisa mencintai seorang lelaki. Nisa ketemu dia di Merauke. "


"Kalau begitu suruh kemari." Sahut sang ayah singkat. Sang ayah tidak senang saat mendengar Annisa tengah mencintai seorang lelaki. Ini akan membuat perjodohan Nisa dan Bayu sedikit terhambat.


"Nanti sore, apa ayah bersedia bertemu dia? "


"Ya, suruh lelaki itu kemari. Ayah ingin tau bagaimana lelaki yang kau cintai itu. "


Annisa meraih ponselnya dan mengetik beberapa kata kemudian mengirimnya.


[Datanglah kerumah nanti sore. Ayah ingin bertemu.]


Senang bukan kepalang. Thomas melompat kegirangan usai membaca pesan Annisa. Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya meluluhkan hati orang tua Annisa agar mau menerimanya.


****


Saat yang ditunggu tiba, Thomas memakai pakaian terbaiknya. Kemeja lengan panjang berwarna abu-abu yang ia gulung hingga siku, juga celana hitam dari bahan katun. Ia tidak mungkin mengenakan celana jeans favoritnya ketika akan menemui calon mertuanya.


Saat tiba di depan gerbang rumah Annisa, berulang kali Thomas menarik napas panjang. Ia begitu gugup. Sebelumnya ia sama sekali tidak pernah menemui orang tua gadis yang ia kencani. Ini yang pertama. Annisa yang sudah menunggu di ruang tamu langsung membukakan pintu begitu melihat Thomas datang.


"Masuklah. " Thomas mengekor dibelakangnya.


"Duduklah, aku panggilkan ayah ibuku. " Thomas mengangguk. Sekali lagi ia menarik napas panjang. Belum sampai Annisa masuk kedalam, orang tua Annisa sudah berdiri di hadapannya. Thomas menyalami kedua orangtua Annisa. Sang ayah mengisyaratkan agar Thomas dan Annisa duduk, sedangkan sang ibu masuk kedalam.


"Kamu nggak bilang nduk kalau pacarmu ternyata bule. "


"Ayah nggak nanya. " ucapnya singkat. Ia sudah sangat tau jawaban apa yang akan ayahnya berikan saat Thomas mengutarakan maksudnya.


"Bisa bahasa indonesia kan? " tanya sang ayah pada Thomas.


"Bisa yah, ibunya orang indonesia. "


"Oh ya? Siapa namamu? "


"Nama saya Thomas om. "


"Sudah lama kenal anak saya? "


"Sudah sekitar dua tahun om. Dan maksud saya datang kemari adalah ingin melamar Annisa. "


"Boleh tau apa agamamu? " tanya ayah Annisa begitu frontal.


"Saya beragama kristen om. "


"Kalau begitu kau sudah tau jawabannya. Maaf Thomas, sebaiknya kau pergi dari sini." Ucap sang ayah sembari beranjak dari duduknya dan masuk kedalam.


"Yah. " ayahnya tak menggubris.


Thomas menatap Annisa. Matanya berkaca-kaca. Ia amat terluka.


"Maaf, aku sudah bilang bukan, hubungan kita tidak akan berhasil. " Annisa menunduk. Annisa pun sama terlukanya.


Thomas mengusap wajahnya kasar. Ia meraih tangan Annisa dan menggenggamnya erat.


"Apa kau tidak ingin berjuang bersamaku? Kita perjuangkan cinta kita. " Annisa hanya bergeming.


"Nisa, tidak bisakah kita berjuang untuk hubungan kita? " ia mengulang lagi pertanyaannya.


"Thom, ini bukan tentang berjuang atau menyerah. Ini tentang pengorbanan. Ada yang harus dikorbankan dalam setiap kisah cinta. Pulanglah, tidak seharusnya kau berada disini."


Thomas menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Ia menangis. Hatinya patah, terluka parah.


****