
Thomas tak henti tersenyum mengenang seluruh kisah yang telah ia rajut bersama Annisa. Kini ia berdiri di bibir pantai di naungi oleh senja yang mulai menjingga. Di belakangnya terdapat sebuah meja bundar dan dua kursi kecil yang saling berhadapan. Ia meletakkan lilin disepanjang sisi jalan menuju meja bundar tersebut. Sore ini, ia akan melamar Annisa dengan cara yang romantis menurutnya. Annisa selalu menyukai senja di tepi laut, maka hal itulah yang akan ia berikan pada gadisnya.
Teringat kembali seminggu setelah pertemuannya dengan pak Diono, ayah Annisa di masjid kompleks perumahannya, pak Diono menelponnya.
"Asal kau mau belajar dengan giat anak muda. Annisa putriku, ia pun belum sempurna. Dia masih butuh bimbingan dan banyak belajar. Asal kalian tak pernah lepas kepercayaan pada allah, asal kalian tak pernah lupa iman, insyaallah Allah akan membimbing kalian menuju surga. Sama-sama belajar, saling mengingatkan jika salah satu diantara kalian ada yang salah. Insyaallah aku merestuimu untuk menjadi suami dari putriku. Datanglah secepatnya. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama."
Thomas telah menyiapkan sebuah cincin berlian, hasil dari keringatnya sendiri. Memang tak begitu mahal, namun terlihat mewah. Ia memilih cincin dengan bentuk standart. Berlian kecil nampak pas bertahta ditengahnya. Mengingat, gadisnya amat sederhana dan tidak menyukai hal yang rumit juga berlebihan, maka ia memilih cincin sederhana itu.
Di belakangnya, kini nampak Annisa mengenakan gamis juga jilbab berwarna pink pastel, dengan mata tertutup sedang digandeng oleh Qiara menuju ke arahnya. Senyumnya terkembang. Ia menggenggam erat kotak cincinnya.
"Qi, kenapa harus tutup mata?"
"It's a surprise mbak. Relax."
Ia berdiri di tepi meja bundar. Annisa masih diam ditempatnya sedangkan Qiara, telah pergi meninggalkan mereka berdua. Perlahan ia mendekati Annisa yang matanya masih tertutup sapu tangan.
"Thom, is that you? Are you there?"
"Ya sayang. Ini aku." Ucapnya. Thomas melepaskan sapu tangan yang menutup mata Annisa. Annisa membalikkan badan menghadap Thomas. Pandangan mereka beradu.
"What's next?"
"Umm, getting married?"
"Get engaged first?"
Thomas tersenyum. Kemudian ia berlutut dihadapan Annisa dan membuka kotak cincin merah berbentuk hati.
"Will you marry me?"
"Yes, I will." Annisa mengangguk sembari tersenyum. Thomas berdiri dan hendak meraih tangan Annisa untuk memasangkan cicinnya. Namun tak disangka, Qiara mendatangi mereka berdua.
"Ehm, mohon maaf kakak ipar. kau sama sekali belum boleh menyentuhnya."
"Emm, ya aku tau. Adik ipar, jadi apakah aku bisa meminta tolong padamu? Tolong pasangkan cincin ini padanya."
"Yeah, with my pleasure." Qiara segera meraih kotak cincin dari tangan Thomas dan langsung memasangkannya pada jari manis Annisa.
"Pas sekali, terlihat cantik di jarimu mbak. Congratulations by the way."
"Thank you Qi." Annisa tersenyum kemudian meraih Qiara kedalam pelukannya.
****
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Fahrani binti bapak Wahyu Diono dengan maskawin tersebut tunai." Dengan lantang Thomas mengucapkan akad nikah dihadapan ratusan orang yang hadir saat itu. Hanya dengan satu tarikan napas, dia melewatinya.
"Bagaimana saksi?"
"Sah." Sahut dua orang saksi secara bersamaan.
"Alhamdulillah." Thomas mengusapkan kedua tangannya ke wajah. Gugupnya sedikit hilang setelah melewati akad nikah.
Annisa memasuki tempat akad. Kini semua mata memandangnya. Sedangkan pandangannya berfokus pada lelaki yang kini juga tengah menatapnya. Mata biru itu, telah menghipnotisnya. Ia tenggelam didalamnya.
"Assalamualaikum Thomas." Sapanya begitu ia sampai di hadapan lelaki itu.
Thomas tersenyum. Ia memandangi wajah istrinya.
"Waalaikumsalam Annisa." Keduanya tersenyum. Akhir kisah yang indah telah mereka raih. Bukan akhir yang sebenarnya melainkan akhir dari perjuangan yang telah mereka lewati bersama. Awal yang baru telah menanti.
Disudut yang lain, tampak Bayu tengah menahan amarah. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Arini yang duduk disampingnya menyadari amarah Bayu.
"Mas, jaga sikapmu. Annisa sudah menjadi istri orang sekarang."
Bayu menatap tajam ke arah Arini. Tatapannya membuat Arini menciut. Ia menunduk.
"Ini semua gara-gara kamu." Ucapnya ketus.
"Bayu, jaga sikap kamu! Mau sampai kapan kamu bersikap jahat pada istrimu?" Ucap ummi nya. Bayu bergeming. Detik berikutnya ia beranjak meninggalkan ruangan itu. Rasanya begitu sesak didalam sana. Ia butuh udara segar.
****
"Jadi kalian mau honeymoon kemana?" Tanya pak Diono saat sarapan pagi itu. Annisa dan Thomas sama-sama mendapat cuti menikah selama seminggu.
"Merauke." Jawab Annisa
"No, we don't have to do that honey, kita bisa ke Raja Ampat."
"No, you should visit your parents Thom."
"I won't go."
"Yes you will."
"No, I won't go. "
"Yes you will. Jika kau tidak mau menemui mereka, aku tidak akan kemana-mana."
"Hei, sudah-sudah. Jangan bertengkar dimeja makan. Istrimu benar Thom. Kau harus mengunjungi orang tuamu."
"Ya baiklah. Kita kerumah orang tuaku. Tapi hanya satu hari. Tidak lebih."
Sore harinya mereka telah sampai di Merauke. Keduanya terlebih dulu check in di hotel yang paling dekat dengan rumah orang tua Thomas. Rencananya, mereka akan berkunjung saat jam makan malam.
"Sebelum berkunjung, kita makan malam dulu." Ajak Thomas yang matanya berfokus pada ponsel pintarnya tanpa melihat Annisa. Istrinya itu baru saja selesai mandi.
"Apa kau tidak ingin menelpon mereka terlebih dahulu?"
"Should I--" ucapannya terhenti saat melihat Annisa hanya memakai handuk untuk menutup tubuhnya. Ia terpanah dengan pemandangan didepannya.
"What? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Apa kau sedang menggodaku sayang?" Ucap Thomas. Ia beranjak mendekati sang istri.
"Of course not. Di bagian mana dari kata-kataku yang kau anggap menggoda?"
"Bukan kata-katamu sayang. Tapi-" Thomas tak melanjutkan perkataanya. Lelaki itu berdiri dibelakang Annisa dan melingkarkan tangannya ke perut Annisa, kemudian ia menciumi rambutnya sehingga membuat gadis itu geli.
"Stop it Thom. Ini sudah pukul setengah enam. Sebentar lagi waktu sholat maghrib. Bersiaplah ke masjid." Ucap Annisa sambil berusaha menepis tangan kekar yang melingkar di perutnya.
"Kau benar. Aku mandi dulu. Setelah sholat kita berangkat kerumah orang tuaku." Dengan berat hati Thomas melepas pelukannya dan beranjak menuju kamar mandi.
"Emm, satu lagi sayang. Besok aku kenalkan kau pada seseorang." Ucapnya sebelum ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
****
"Are you ready?" Ucapnya saat taksi telah berhenti di depan rumah mewah milik orang tuanya.
"Siap atau tidak kita harus siap bukan?"
"Kalau kau belum siap bertemu orang tuaku, kita bisa pergi sekarang juga. Belum terlambat untuk berubah pikiran."
"Hei, tujuanku kemari adalah untuk menyapa kedua mertuaku. Harusnya kau senang dengan hal itu, bukan malah mengajakku kabur."
Annisa tersenyum, walaupun sejujurnya ia benar-benar gugup. Ia takut. Terakhir kali bertemu Irina, ia berakhir dengan caci makian perempuan paruh baya itu.
"But, You look so nervous."
"Am I?"
"Hmm. Should we go now?"
"Of course. Mari kita sapa orang tua mu." Jawab Annisa mantap. Gadis itu membuka pintu mobilnya. Thomas menganga tak percaya. Kemudian ia segera turun menyusul istrinya.
Beberapa saat setelah mengetuk pintu, pintu terbuka. Seorang wanita mengenakan dress selutut berwarna navy dengan jaket rajut tipis berwarna hitam yang membuka pintunya. Sesaat hening tercipta. Tampak rindu yang membuncah dimata wanita itu. Setelah dua tahun lamanya ia tak bertemu dengan putranya, ia teramat rindu. Setetes air jatuh dari pelupuk mata. Ia menunduk dan mengusapnya. Namun hal itu malah membuat tetes yang lain meluncur dengan deras.
"Mom, how are you?" Thomas menangkupkan kedua tangannya di pipi Irina dan menghapus air mata di pipi ibunya itu. Ia merengkuh ibunya kedalam pelukan. Tangis Irina menjadi.
"Mom, don't cry. I'm sorry."
"Kenapa kau baru datang? Kenapa kau dan Kevin suka sekali menyiksa ibu kalian dengan rindu? Bukankah kalian terlalu kurang ajar?" Cecar Irina.
"I'm sorry mom. Aku tau kalian masih marah. Aku hanya memberi waktu untuk kita berpikir." Irina melepas pelukannya. Pandangannya beralih pada Annisa yang berdiri disamping Thomas.
"Kau bahkan menikah tanpa memberi tahu ibumu?"
"Kau tak mau datang saat Kevin menikah, jadi kupikir kau pun tak akan datang saat aku menikah."
"Maaf untuk yang terjadi tempo hari Annisa." Irina memeluk Annisa.
"It's okay tan."
"Jangan panggil tan, bukankah aku ibu mertuamu? So call me mom, like he did." Dia melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"Emm, tapi aku tak begitu yakin dengan sikap ayahmu nanti." Lanjut Irina kemudian.
"Tak apa mom, sudah aku perkirakan."
Ketiganya memasuki rumah mewah itu. Irina didepan, Thomas dan Annisa di belakangnya. Tampak Christian sedang duduk didepan laptopnya ditemani secangkir kopi susu.
"Who's coming?" Tanyanya tanpa melihat istrinya.
"Emm, Thomas yang datang. With his wife." Ucap Irina ragu. Ia takut membayangkan bagaimana reaksi suaminya itu. Sesaat Christian menghentikan aktifitasnya kemudian mendongak untuk melihat apa yang ada didepannya.
"What are you doing here?" Ucapnya datar dan begitu dingin.
"Emm, how are you dad?"
"Get out of my house right now!" Hardiknya pada Thomas.
Thomas menatap tajam ke arah Christian.
"See, We won't be welcome in this house. Let's go." Thomas menggenggam tangan Annisa dan mengajaknya pergi dari rumah mewah itu.
"Tidak bisakah kalian bicara baik. He is your son." Ucap sang istri.
"Kalau dia masih menganggapku sebagai ayahnya, seharusnya dia meninggalkan agama barunya itu."
Thomas masih mendengar perdebatan ayah dan ibunya. Namun dia tak peduli lagi. Ayahnya keras kepala sama sepertinya. Ia tak akan mengalah, begitupun ayahnya.
****