
Pukul dua siang, sekolah tempatnya mengajar tampak lengang. Pelajaran telah usai satu jam yang lalu. Annisa berjalan sendiri menuju gerbang sekolah. Ia pulang sendiri lagi hari ini. Arini masih menghindarinya karena insiden dipernikahan Qiara. Arini mendiamkannya. Sedangkan Bayu masih saja menghubunginya. Lelaki itu selalu menelpon Annisa saat senggang. Terang saja membuat Annisa risih. Annisa memutuskan untuk memblokir nomor Bayu.
"What are you thinking about?" Tiba-tiba saja Thomas sudah berada di belakangnya bersama Qiara.
"Kenapa kau suka sekali mengejutkanku?"
"Karena aku mencintaimu."
"Apa yang kau lakukan disini? Kau membuntutiku?"
"Calm down. Aku tidak membuntutimu. Aku sedang menjemput adik iparku Qiara. Kebetulan Kevin sedang ada rapat di kantor dan tidak bisa menjemputnya."
"Biasanya kamu pulang sendiri kan Qi?" Tanya Annisa pada Qiara.
"Hanya alasan supaya kak Thomas bisa dekat dengan mbak Annisa." Thomas menggaruk tengkuknya. Sedangkan Annisa mendelik kesal. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan Thomas dan Qiara.
"Tunggu Annisa. Kenapa kau suka sekali bermain kejar-kejaran. Aku lelah jika harus terus berlari."
"Kalau begitu tidak usah mengejarku Thom. Berhentilah."
"Kuantar pulang. Qiara tak apa bukan jika kita mengantarkan calon kakak iparmu terlebih dahulu?" Qiara hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kakak ipar? Dalam mimpimu saja Thom."
"Ya, tentu saja. Aku memang memimpikan hal itu."
"Demi tuhan berhentilah menggangguku."
"Aku hanya menawarkan tumpangan padamu."
"Tidak perlu, aku biasa jalan kaki."
"Take the key Qi. Aku akan menemani kakak iparmu berjalan kaki." Thomas melempar kunci kearah Qiara dan dengan cepat gadis itu menangkap kunci yang di lempar oleh Thomas. Annisa menganga tak percaya. Ia melanjutkan langkahnya.
"Stay away from me Thom."
"I'm sorry, I can't. Keep walking. I'm behind you." Namun tak lama Thomas mensejajarkan posisinya dengan Annisa. Kini keduanya berjalan beriringan.
"Jangan dekat-dekat."
"I'm not gonna touch you. I promise. Let's walk together."
"Ayahku akan marah saat melihatmu."
"Kali ini dia tidak akan marah."
Annisa berbalik dan menatap tajam pada Thomas.
"What?" Ucap Thomas sembari tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Kumohon, berhenti menggangguku."
"Ayolah, let's talk about us. Sebentar saja."
Annisa mengalah. Mereka menuju sebuah warung bakso yang ada di pinggir jalan. Thomas memesan dua porsi bakso dan segelas es teh tawar untuk dirinya sedangkan Annisa hanya memesan segelas es teh manis.
"Kau sedang diet? Kenapa tidak mau makan?"
"Kenyang. Makan saja. Jangan banyak bicara. Aku ingin urusan kita cepat selesai."
Dalam waktu sepuluh menit dua mangkok bakso milik Thomas sudah kosong. Annisa menggelengkan kepala melihat nafsu makan Thomas dan juga kemampuannya melahap makanan secara kilat.
"Tenang saja. Aku sudah baca basmalah. Insyaallah tidak ada sedikitpun makananku yang dimakan oleh jin."
Annisa mengernyit bingung. Sejak kapan lelaki itu mengucap basmalah saat akan makan.
"Jadi, kenapa kau mencampakkan pacar prajuritmu itu? Bukankah kau mencampakkanku agar bisa bersamanya?"
"Ceritanya panjang."
"Aku punya banyak waktu untuk mendengar. Ceritakan."
"Aku yang tidak punya banyak waktu untuk menceritakannya."
Thomas menghela napas. Gadisnya belum berubah. Masih angkuh dan keras kepala.
"Aku merindukanmu."
"Aku tidak." Jawabnya cepat. Thomas tersenyum melihat tingkah lucu Annisa.
"Kau tau, begitu banyak hal yang berubah dalam hidupku sejak kau meninggalkanku."
"And I'm surprised that you still alive."
"Of course, I'm living for you."
Thomas meraih tangan Annisa dan menggenggamnya.
"Marry me, Annisa."
Buru-buru Annisa menyentakkan tangan Thomas.
"Jawabanku tetap sama seperti dulu."
"Bagaimana jika keadaanku sekarang tidak sama seperti dulu? Bisakah kau menerimaku?"
"Apa maksudmu?"
"Lupakan. Kuantar kau pulang. Sepertinya aku akan langsung melamarmu pada ayah saja. Begitu kan adabnya?"
"Tidak sekarang sayang. Banyak yang harus aku urus saat ini. Baiklah ayo pergi. Aku antar kau pulang."
****
Menunggu waktu maghrib, Thomas dan Kevin duduk di teras rumah. Rumah yang ibu mereka beli dulu. Sang ibu memilih tinggal bersama Christian. Wanita itu terlalu kecewa pada kedua putranya.
"Kenapa tidak langsung melamarnya Thom?" Kevin bosan terus menerus mendengar kakaknya bercerita tentang penolakan Annisa.
"Aku belum punya apa-apa Kev. Aku belum layak menghadap orang tuanya."
"Kau sudah punya pekerjaan. I think that's enough. Kau juga sudah muallaf. Apalagi yang kau tunggu?"
"Dia wanita yang sempurna, maka aku harus menjadi sempurna untuk bersanding dengannya."
"Jangan konyol. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasangan diciptakan untuk saling melengkapi."
"Aku belum pantas menjadi imamnya Kev."
"Menunggu kau merasa pantas? Maka jangan menyesal jika kelak dia menerima pinangan lelaki lain. Jangan-jangan kau belum bilang padanya kalau kau muallaf?"
"Belum." Thom tersenyum tipis.
"Kau lambat sekali Thom. Payah."
"Kau tau, aku belum pandai mengaji, sholat pun kadang masih lupa. Sedangkan dia? Kau tau sendiri dia wanita yang bagaimana. Bahkan pacar prajuritnya dulu anak seorang ustadz." Qiara sudah menceritakan semua tentang bagaimana kandasnya hubungan Annisa dan Bayu pada Thomas. Dan ia semakin tersadar, bahwa Annisa bukan wanita biasa.
"Kalau begitu belajar dengan cepat Thom. Kau bisa kehilangan dia jika terus seperti ini."
"Kenapa kau jadi begitu cerewet Kev?"
"kau mau belajar bukan? Ikut aku. Hari ini hari sabtu. Selalu ada kajian usai sholat maghrib. Kita sholat berjamaah di masjid."
"Kau tau sendiri kan, sholatku belum lancar. Aku akan menjadi bahan tertawaan disana."
"Jangan konyol Thom, tidak ada yang akan menertawaimu. Sholatmu sudah lumayan. Lagi pula lelaki itu sholatnya harus di masjid. Bukan dirumah."
"Baiklah, terserah kau saja."
****
"Saudaraku yang budiman! Pernikahan adalah sarana terbesar untuk memelihara manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan Allah, seperti zina, liwath (homoseksual) dan selainnya. Penjelasan mengenai hal ini akan disampaikan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita -dengan sabdanya- untuk menikah dan mencari keturunan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Radhiyallahu anhu:
تَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَـامَةِ، وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرَهْبَانِيَّةِ النَّصَارَى.
“Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari Kiamat, dan janganlah kalian seperti para pendeta Nasrani.”[3]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita dalam banyak hadits agar menikah dan melahirkan anak. Beliau menganjurkan kita mengenai hal itu dan melarang kita hidup membujang, karena perbuatan ini menyelisihi Sunnahnya.
Saya kemukakan kepadamu, saudaraku yang budiman, sejumlah hadits yang menunjukkan hal itu:
Nikah adalah Sunnah para Rasul.
Nikah adalah salah satu Sunnah para Rasul, lantas apakah engkau akan menjauhinya, wahai saudaraku yang budiman?
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مِنْ سُـنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ: اَلْحَيَـاءُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالسِّوَاكُ، وَالنِّكَاحُ.
“Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.”[4]
Siapa yang mampu di antara kalian untuk menikah, maka menikahlah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita demikian, sebagaimana diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara ********. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).'”[5]
Orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka Allah pasti menolongnya.
Saudaraku yang budiman, jika engkau ingin menikah, maka ketahuilah bahwa Allah akan menolongmu atas perkara itu.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُكَـاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ، وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.
“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.”[6]
Usai mendengar ceramah dari ustadz, Thomas semakin memantapkan niatnya untuk segera melamar Annisa. Ia ingin menyempurnakan agamanya.
****