
"Syarat apa?" Thomas selalu was-was saat sang istri mengajukan syarat
padanya. Paasalnya, ketika Annisa mengajukan syarat, syaratnya pasti
akan menyulitkan dirinya.
"Jangan tentang Anita lagi," lanjutnya kemudian.
"Raja Ampat." Annisa memasang puppy eyes juga senyuman termanisnya.
"Anything for you, asal tidak Anita, sayang. Ada lagi?"
"Emm, dua bulan sekali kita pulang kemari, apa aku keberatan?"
"Deal, tidak masalah."
"Terimakasih." Annisa mencondongkan wajahnya pada sang suami,
kemudian mengecup bibir suaminya sekilas. Thomas terlonjak kaget, tidak
menyangka pergerakan dari istri kecilnya itu.
"Berani menggodaku? Akan ku habisi kau di rumah." Keduanya tergelak,
kemudian Thomas kembali melajukan mobilnya dan bergegas pulang ke rumah.
****
Annisa menyempatkan diri bertandang ke rumah dinas Bayu untuk menemui
Arini. Arini bilang Bayu sedang ada tugas pengamanan di luar kota. Jadi
Bayu tidak ada di rumah. Memasuki gerbang utama ia di sapa oleh Vina,
mantan pacar Bayu yang dulu. Gadis itu kebetulan sedang menunggu go food
pesanannya di depan pos penjagaan.
"Nggak jadi juga ternyata," Gadis itu menyeringai. Annisa hanya tersenyum.
"Kok bisa sih? Bang Bayu kan cinta setengah mati sama mbak?" Annisa menghela napas panjang kemudian tersenyum.
"Belum jodoh mbak, mas Bayu jodohnya sama Arini bukan sama saya." Sahutnya singkat.
"Itu, bule anak siapa mbak?" sahut Vina sambil melirik Jo di kursi penumpang. Bocah kecil itu tersenyum manis.
"Anak saya mbak. Boleh saya pergi sekarang?" Annisa melajukan mobilnya meninggalkan Vina yang masih melongo di tempatnya.
Annisa memarkirkan mobilnya di depan rumah Bayu. Tampak Arini sudah menunggu nya di depan rumah. Arini tersenyum.
"Assalamualaikum." Sapa Annisa. Wanita itu menggendong Jo.
"Waalaikum salam Nis."
"Say hai Jo, ini namanya tante Arini."
"Assalamualaikum tante." sapa bocah kecil itu.
"Waalaikumsalam, aduh, kamu lucu banget." Arini mencubit gemas pipi Jo.
"Eh, ayo masuk." Arini mempersilahkan Annisa masuk. Annisa duduk di
sofa sedang Arini pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan camilan.
"Tadi aku ketemu Vina tau." Ucap Annisa begitu Arini tiba dan meletakkan nampan.
"Oh ya? Ketemu dimana?" Arini menghempaskan tubuhnya di samping Annisa.
"Ketemu di pos depan."
"Nggak ngomong apa-apa kan?"
"Dia bilang gini 'nggak jadi juga ternyata.' " ucapnya sembari menirukan gaya bicara Vina. Arini menghela napas panjang.
"Dia sebarin gosip murahan ke seluruh ibu-ibu di asrama."
"Gosip apaan?"
"Dia bilang aku pelakor. Aku udah rebut mas Bayu dari tunangannya.
Kayaknya dia masih sakit hati karena mas Bayu nggak mau lagi sama dia."
"Yang penting kan itu nggak bener Rin." ucapnya sembari mengelus punggung tangan sahabatnya itu.
"Tinggal di sini berat Nis. Aku bakal gila seandainya aku nggak masa bodo. Mulutnya lebih pedes dari cabe."
"Yang sabar ya."
"Ditambah lagi, mas Bayu dingin banget sama aku. Aku stress banget
tau tinggal di sini. Kalau dulu aku nggak nikah sama mas Bayu, kalau
dulu aku nggak rebut mas Bayu dari kamu, mungkin keadaanku sekarang
nggak semengenaskan ini."
"Jangan ngomong gitu Rin, ini semua udah takdir. Kita nggak boleh
menyesali takdir yang sudah di gariskan pada kita. Pilihannya cuma satu.
Kita tetap tegar menjalani takdir yang sudah Allah gariskan untuk
kita." Arini menatap lekat sahabatnya itu.
"makasih ya Nis. Doakan hati mas Bayu bisa segera luluh dan bisa
menerima aku sebagai istrinya. Walaupun aku tau itu bakal sulit."
"Insyaallah Rin aku selalu mendoakan kebaikan untuk kamu dan mas Bayu."
"Amiinn, makasih ya Nis. Kamu mau makan nggak? Aku tadi masak banyak. Mas Bayu pulang nanti sore soalnya."
"Nggak usah repot-repot Rin."
"Nggak repot Nis, kayak sama siapa aja. oh iya itu ponakannya Thomas
kok ngikut kamu terus sih?" Arini melirik Jo yang sedang asyik memainkan
game di ponsel ibunya.
"Mas Bayu nggak ngomong apa-apa soal Jo ke kamu?" Arini menggeleng.
"Emangnya Jo kenapa?" Annisa menghela napas panjang.
"Jo itu sebenarnya anak Thomas."
"Hah! anaknya Thomas? maksudnya gimana? Dia udah punya anak sebelum nikah sama kamu?"
"Iya, aku juga taunya pas lagi di Merauke." Annisa menceritakan semua
percaya.
"Aku nggak nyangka dia kayak gitu Nis, aku kira dia lelaki baik-baik."
"Dia lelaki yang baik kok Rin, dulu mungkin dia khilaf. Yang penting sekarang dia sudah bertaubat."
"Yakin gitu Nis? Kebanyakan bule kan emang suka banget main perempuan. Nggak takut di hianatin lagi?"
"Insyaallah nggak akan Rin, aku percaya sama suamiku."
"Enak ya kalau bisa nikah sama orang kita cintai dan mencintai kita. Hidupnya adem banget. Nggak kayak aku. Tiap hari nelangsa."
"Jangan ngomong gitu Rin, aku yakin suatu saat mas Bayu akan berubah. Berdoa dan sabar."
"Makasi ya Nis, aku eran sama kamu, kok bisa kamu setegar ini, setelah tau suamimu punya anak dari perempuan lain."
"Semua
udah terlanjur Rin, dan aku udah janji untuk selalu ada disamping dia
apapun yang terjadi. Oh iya, aku kesini sekalian mau pamitan sama kamu.
Aku udah kirimin surat resign ku ke sekolah. Aku mau tinggal di
Merauke."
"Merauke? Kok tiba-tiba? Ada apa?"
"Kenapa harus tinggal di sana?" suara berat Bayu tiba-tiba menyahut sebelum Annisa sempat menjawab.
"Mas,
kamu udah pulang?" sahut Arini sedikit terkejut, pasalnya, tadi pagi
Bayu mengabari bahwa ia akan pulang malam hari, sedangkan saat ini masih
pukul sebelas siang. Bayu langsung duduk di hadapan Annisa dan
menatapnya tajam.
"Kenapa harus pergi kesana? Ayah sama ibu kamu gimana?" Tanya lelaki itu tanpa menyahut pertanyaan istrinya.
"Ayah mertuaku sakit, beliau harus menjalani perawatan di Singapura. Thomas akan menggantikannya sementara waktu."
"Kalau gitu, biar dia aja yang pergi kesana, kenapa kamu harus ikut?" Bayu masih menatapnya tajam.
"Mas, Annisa itu istrinya Thomas. Jadi dia wajib ikutin kemanapun suaminya pergi. Kamu nggak berhak dong larang-larang dia."
"Diem deh, nggak usah ikut campur."
"Kamu
yang harusnya nggak ikut campur sama keidupan dia. Ingat, dia bukan
milikmu lagi mas, kamu harus buka mata kamu." Sahut Arini kesal. Ia
beranjak menuju kamarnya meninggalkan Annisa dan Bayu, juga Jo yang
tengah asyik bermain.
"Mas, nggak seharusnya kamu
bersikap seperti. Sampai kapan kamu akan memperlakukan Arini kayak
gini?" Bayu menghela napas panjang.
"Nggak tau, seenggaknya sampai luka yang kamu buat di hatiku sembuh."
"Itu
semua salahku, nggak seharusnya kamu limpahkan semua kekesalanmu ke
Arini. Dia istri mu mas, perlakukan dia sebagaimana mestinya."
"Kalau
ngomong aja emang gampang Nis, kamu nggak tau gimana sakitnya hatiku
waktu kamu tinggalin, di tambah lagi kamu nikah sama bule itu."
"Aku
minta maaf untuk itu, tapi kamu harus belajar menerima kenyataan mas,
terima setiap takdir yang sudah allah tentukan untuk kamu. Belajar
ikhlas. Arini perempuan baik-baik mas. Dia juga sangat mencintai kamu.
Apa lagi yang kurang?"
"Yang kurang cuma satu, aku nggak
bisa cinta sama dia, karena aku terlanjur mencintai kamu." Kini Annisa
menghela napas panjang. Ia mengangkat Jo dan beranjak menuju kamar
Arini.
"Rin, aku balik dulu ya, maaf udah ganggu waktu kamu." Arini membuka pintu kamarnya kemudian memeluk Annisa sekilas.
"Hati-hati ya, kirim salam buat ayah sama ibu."
"Yang sabar ya Rin." Lirih Annisa.
"Iya,
tenang aja. aku akan baik-baik aja. Jaga diri baik-baik di Merauke.
Sering-sering telpon ya. Jo, sampai ketemu lagi ya." Arini menciumi
wajah gemas, bocah kecil itu terkikik. Annisa kembali ke tempat Bayu
duduk dan berdiri di hadapannya. Lelaki itu sedang menunduk.
"Mas,
aku pergi ya. Jaga diri baik-baik. Kirim salam buat abah dan umi." Bayu
hanya mendongak sekilas, kemudian kembali menunduk. Matanya
berkaca-kaca.
****