
Seorang wanita nampak setengah berlari keluar dari sebuah rumah dikawasan pondok pesantren. Ia di kejar oleh seorang lelaki. Wanita itu tampak mengusap pipinya yang basah karena air mata. Hingga ia berhenti di bawah pohon rindang yang terdapat meja dan kursi dari kayu melingkar di pohon itu. Tempat itu biasa dijadikan para santri untuk menghapal ayat-ayat alquran atau mengingat materi yang telah mereka pelajari.
"Sweetheart, dengarkan aku. Aku dan dia sudah lama tidak saling bertemu. Jangan percaya pada semua ucapannya."
"Dia mengandung dan melahirkan anakmu Thom." Annisa terisak.
"Tidak ada bukti bahwa anak itu anak kandungku."
"Tapi kau tidur dengannya!" Annisa meninggikan suaranya.
"Yeah, I did, I'm so sorry. Tapi anak itu belum tentu anakku."
"Look at him Thom. He's exactly like you. Matanya, hidungnya, rambutnya."
"Hal itu tidak bisa dijadikan bukti sayang. Kita butuh bukti yang lebih spesifik."
Annisa terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Thomas. Tapi bocah kecil itu terlalu mirip dengan suaminya.
"Sudahlah, selesaikan masalah ini. Aku akan kembali ke Jakarta."
"What? No you won't. Kita berangkat bersama, pulang pun harus bersama. Apa yang akan ayahmu katakan jika kau pulang sendiri?"
"Hanya dalam dua hari kau sudah berhasil menggoyahkan pernikahan kita."
"Apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Aku tidak menyangka kau melakukan ini Thom."
"Ini kesalahanku di masalalu sayang. Saat itu aku frustasi karena kau campakkan. Tapi itu hanya satu kali. Aku bersumpah. Setelah itu aku dan Anita tidak pernah bertemu lagi."
"Jangan membenarkan kesalahnmu Thom."
"No, aku tidak membenarkannya. Aku hanya ingin kau mendengar penjelasanku."
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Sekarang yang kita butuhkan adalah solusi dari situasi rumit ini. Wanita itu meminta pertanggung jawabanmu. What will you do?"
"Anak itu belum tentu anakku Annisa."
"Bagimana kalau memang benar dia anakmu?"
Thomas menghela napas. Sejenak ia terdiam. Ia sendiri tidak tau apa yang akan ia lakukan jika ternyata Jo adalah anak kandungnya.
"Tidak bisa menjawabnya bukan?"
"pertama aku ingin aku dan anak itu test DNA terlebih dulu. Setelah hasilnya keluar baru kita bicarakan lagi semuanya."
"Baiklah terserah kau saja."
"Dan selama menunggu hasil test DNA itu, aku mau kau tetap berada disampingku. Jangan pergi kemanapun tanpa seijin ku." Thomas menatap wanita didepannya. Namun wanita itu hanya bergeming.
"Aku salah, maafkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku." Lelaki kaukasian itu berlutut di hadapan wanitanya. Ia menghiba. Ia sungguh takut, ia takut kehilangan wanitanya.
"Berjanjilah untuk memperbaiki semuanya."
"I promise." Lelaki itu berdiri dan segera merengkuh istri tercintanya.
****
"Bagaimana hasil testnya?" Zulfikar bertanya penasaran setelah melihat kedatangan Thomas dan Annisa dari rumah sakit. Seharian ia menunggu dengan gelisah. Tiga hari yang lalu Thomas dan Joshua telah melakukan test DNA di rumah sakit Mutiara yang terletak sekitar 10km dari pondok pesantren. Anita segera mengambil duduk di sofa bahkan sebelum dipersilahkan oleh tuan rumah. Sedangkan Jo, abah dan ummi mengejaknya bermain bersama para santri di halaman belakang.
"Biar aku yang buka." Annisa meraih amplop yang di bawa Thomas.
"Sayang, berjanjilah satu hal padaku. Apapun hasilnya nanti, jangan pernah meninggalkanku." Ucap Thomas. Ia meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. Annisa mengangguk dan tersenyum. Perlahan ia membuka amplopnya.
"Bismillah." Ia memejamkan mata sejenak dan menggenggam erat kertas ditangannya.
"Hasilnya 99 persen cocok." Lanjutnya kemudian. Kertas ditangannya langsung diraih oleh Anita yang duduk tepat disampingnya.
"Aku sudah bilang bukan. Jo ini anakmu pak Thomas."
"Dasar kau--" Thomas hendak mengumpat namun tangannya digenggam lembut oleh Annisa.
"Sudahlah. Jangan memperkeruh suasana."
"Kau itu terlalu baik untuk laki-laki macam dia Annisa. You deserve the best." Muncul seringai tipis di wajah Anita. Thomas semakin meradang.
"Shut your mouth up, *****! Kau sudah keterlaluan." Thomas berdiri dari duduknya. Jari telunjuk tangan kanannya mengacung ke arah Anita.
"Hei, tenanglah. Tahan emosimu."
"Dia benar-benar sudah keterlaluan."
"Lebih baik kita cari solusi untuk masalah ini." Annisa menuntunnya untuk kembali duduk. Thomas menurut.
"Tanggung jawab. Kau harus tanggung jawab."
"Ya, aku akan menafkahinya setiap bulan. Dengarkan baik-baik Anita, aku akan mengirim uang padamu setiap bulan. Jadi ku harap kau dan anakmu, tidak menggangguku lagi."
"Kau pikir uangmu bisa menyelesaikan masalah? Selama dua tahun ini aku yang membiayainya sendiri."
"Lalu apa mau mu?"
"Nikahi aku."
"Apa kau buta? Aku sudah menikah."
"Jadikan aku istri kedua."
Thomas menyeringai.
"Aku akan tanggung jawab tanpa harus menikahimu. Dan menduakan istriku? Jangan pernah bermimpi untuk itu."
"Apa kau kira aku ini hanya barang sekali pakai, yang jika sudah tidak berguna kau bisa buang sesuka hatimu?"
"That's what you are, right?"
"Dasar lelaki brengsek, tidak tau diri."
"Sudahlah, kalian tidak akan menemukan solusi jika kalian terus saja mengumpat dan berdebat."
"Annisa benar, kita cari solusi terbaik dari masalah ini. Jangan saling mengumpat dan menyalahkan." Sahut abah dari arah pintu.
"Annisa, bisa kita bicara? Hanya kita berdua." Pinta Anita, yang kemudian langsung mendapat tatapan tajam dari Thomas.
"Tidak bisa. Bicaralah disini atau tidak sama sekali." Sahut Thomas.
"Biar aku bicara sebentar dengannya. Kita keluar Mbak Anita. Bicara diluar saja."
Annisa beranjak keluar diikuti oleh Anita dibelakangnya. Kemudian keduanya duduk di teras.
"Kau tau, Thomas sangat mencintaimu."
"Aku tau, tapi bagaimana mbak Anita bisa tau?"
"Aku bersamanya saat ia patah hati dan rapuh. Tak lama, hanya sebentar. Setelah peristiwa itu, kami saling menghindar. Sampai aku tau bahwa aku hamil, dan aku menghilang."
"Mengapa mbak Anita tidak mengatakannya pada Thomas dari dulu?"
"Karena dia mencintaimu. Dan tidak akan ada tempat bagiku dan anakku di hatinya."
"Lalu kenapa mbak Anita baru mengatakannya setelah tau dia telah menikah?"
"Kau tau, sesungguhnya aku tidak benar-benar ingin menikah dengan Thomas."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin Thomas bersedia merawat Jo. Aku akan segera pergi."
"Pergi? Kemana?"
"I have cancer. On my head. Dan ini sudah stadium lanjut. Dokter bilang waktuku tidak akan lama."
"Astaghfirullahaladzim." Annisa terkejut.
"Itulah alasanku ingin belajar agama disini. Dan tuhan yang maha baik malah mempertemukan kita dengan mudah."
"Aku minta maaf atas nama suamiku mbak."
"Hei, jangan minta maaf, kami berdua yang salah. Tapi Nisa bisakah aku meminta satu hal padamu?" Anita meraih tangan Annisa.
Ya mbak. Apapun yang kubisa."
"Rawat Jo dengan baik. Setelah itu aku berjanji aku akan benar-benar menghilang dari kehidupan kalian." Anita menghiba. Matanya berkaca-kaca. Sesaat hening tercipta, hingga suara Thomas memecah keheningan itu.
"Allright, that's enough Anita. Kita disini untuk berdiskusi. Mari selesaikan sekarang juga dan jangan coba menghasut istriku untuk melancarkan keinginanmu." Sahut Thomas yang nampak emosi.
"Apa kau takut dia akan meninggalkanmu karena kesalahan yang kau lakukan?"
"Kau sungguh membuatku muak Anita."
Anita menyeringai.
"Apa saja yang dia katakan padamu?"
"Nanti kau akan tau."