Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Satgas Kongo



Pasca penolakan ayah Annisa atas lamarannya,  Thomas memutuskan kembali ke Merauke. Annisa mengantarnya sampai bandara, tentu saja tanpa sepengetahuan sang ayah.


"Apa rencanamu? " Thomas menggenggam jemari Annisa. Mereka tengah duduk diruang tunggu.


"Entahlah. "


"Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu? "


"Kalau begitu mati saja. " Annisa tergelak. Namun Thomas tersenyum getir.


"Rencana yang bagus. " Annisa langsung menoleh kearah Thomas. Matanya membelalak.


"Jangan macam-macam Thom. Jangan bertindak bodoh. "


"Kalau begitu menikahlah denganku. "


"Berdoalah, jika memang berjodoh tuhan sendiri yang akan menyatukan kita. "


"Jangan dekat-dekat dengan Roby, lelaki itu tidak baik buatmu. "


"Iya aku tau. "


"Jangan mengganti nomor ponselmu, jangan memblokir nomor telponku dan jangan menghindariku. Kalau sampai kau lakukan itu, aku akan mencarimu walau keujung dunia sekalipun. "


"Carilah perempuan lain Thom. "


"Aku sudah memilikimu, untuk apa aku mencari yang lain. "


"Tunggu aku menyelesaikan proyek besarku. Aku akan kembali padamu dengan pantas." Lanjutnya kemudian.


"Maksudmu? "


"Tunggu saja. Aku akan memantaskan diri untukmu. Kuharap kau bersedia menungguku."


Annisa terdiam dan lamat-lamat menatap Thomas. Ia sedang mencerna kalimat lelaki itu.


"Jangan dipikirkan. Jaga saja hatimu untukku. Aku akan kembali secepatnya dan membuat ayahmu menyetujui hubungan kita. " Thomas meraih Annisa dalam pelukan.


"Jaga diri baik-baik. Aku pergi. " Thomas beranjak meninggalkan Annisa yang masih mematung ditempatnya.


****


Tiga hari yang ditunggu telah tiba. Bayu menagih janji pada Annisa. Sebenarnya ia sendiri juga enggan dengan perjodohan yang direncanakan orang tuanya, namun sang ibu terus saja merengek minta dibawakan menantu hingga akhirnya ia menyerah dan mengiyakan kemauan orang tuanya. Bayu bukanlah tipe lelaki yang mudah bergaul dengan lawan jenis. Karena memang dia dibesarkan dilingkungan pesantren yang sangat menjaga pergaulan antar lawan jenis. Juga kesibukannya sebagai anggota Tni tak memungkinkan untuk mencari calon istri sendiri.


Sore itu Bayu bertandang kerumah Annisa. Masih mengenakan Pdh nya, karena memang dia akan kembali lagi ke kantor usai mendengar jawaban Annisa. Disambut oleh kedua orangtua Annisa yang tampak amat sumringah melihat kedatangannya, juga Annisa yang terlihat begitu cantik. Gadis itu mengenakan gamis berwarna merah muda juga jilbab yang berwarna senada. Annisa tersenyum kearahnya dan membuatnya salah tingkah.


"Duduk dulu nak Bayu, ibu ambilkan minum." Ibu Annisa menyerat suaminya agar ikut masuk kedalam. Sedangkan Annisa duduk berhadapan dengan Bayu.


"Baru pulang mas? " tanya Annisa basa basi.


"Belum waktunya sih, ini nanti mau balik lagi ke batalyon. Nyempetin kesini pengen denger jawaban kamu. Soalnya besok mau ngepam. Nggak bakal sempet kesini. " Jelasnya panjang lebar. Annisa tersenyum tipis. Tak lama Ibu Annisa datang membawa dua gelas berisi air sirup.


"Diminum dulu nak Bayu. "


"Iya bu, oh ya ibu dapat salam dari Ummi. "


"Waalaikumsalam, sampain maaf ibu ya, kemarin nggak bisa hadir waktu pengajian rutin. "


"Iya bu nanti saya sampaikan. "


"Kalau begitu ibu kedalam dulu ya. "


Sang ibu melirik Annisa sambil memainkan Alisnya. Annisa mendengus kesal. Detik berikutnya sang ibu melangkah masuk.


"Jadi gimana Nis? Apa jawaban kamu? " Bayu menatap kearah Annisa. Seakan mencari sebuah jawaban.


"Kita belum saling mengenal mas. Maksudku, jika kita hendak melangkah pada hubungan pernikahan ada baiknya kita saling mengenal terlebih dahulu. "


Bayu menatap bingung, ia masih belum menemukan jawaban dari kalimat Annisa.


"Gini mas, aku kan sama sekali belum kenal kamu, gimana sifat kamu, gimana pekerjaan kamu gimana keseharian kamu. Pun begitu kamu juga belum mengenalku, bagaimana sifat dan perangaiku. Maksudku, kasih waktu aku dan kamu untuk saling mengenal dulu."


"Butuh waktu berapa lama? sebenarnya aku juga tidak terlalu buru-buru dengan pernikahan, tapi abah dan ummiku memintaku segera menikah. "


"Entahlah, aku masih harus nyari tempat ngajar dulu, terus bulan depan rencananya aku akan ikut seleksi cpns, bagaimana kalau kita menunggu hingga seluruh urusanku selesai, baru kita bicarakan soal pernikahan? "


"Jadi kau setuju dengan perjodohan kita? "


"Iya aku setuju, tapi tunggu hingga aku menyelesaikan ujian seleksi. "


"Baiklah. Akan aku sampaikan pada abah dan ummi. "


****


[I miss you]


[Boleh aku menelponmu? ]


Annisa membuka ponselnya. Ia tersenyum mendapati pesan dari Thomas.


[Jangan, aku masih sibuk. Kuhubungi lagi nanti.]


Annisa memang sedang sibuk saat ini. Ia sedang mempersiapkan tes cpns nya juga syarat-syarat untuk interview di salah satu smp dikotanya. Ia sudah melamar di beberapa sekolah. Sebulan setelah perpisahannya dengan Thomas, mereka memang jarang berkomunikasi. Thomas begitu sibuk dengan proyeknya. Sedangkan Bayu, lelaki itu kini lebih intens memberi perhatian pada Annisa. Dan Annisa mulai terbiasa dengan perhatian kecil yang Bayu berikan.


[Jangan lupa makan.]


[Jangan lupa shalat. ]


[Tidurlah, jangan terlalu keras pada diri sendiri. ]


Deretan pesan itu membuat Annisa tersenyum sendiri. Caranya memberi perhatian amat berbeda dengan Thomas. Bayu begitu kaku dan dingin. Kadang ia sampai membayangkan Bayu mengutarakan secara langsung perhatian-perhatiannya itu, bukan hanya melalui pesan singkat. Mungkin bukannya terharu, ia akan terkikik geli melihat ekspresi kaku khas tentara yang menyuruhnya makan, shalat dan lainnya. Saat bertemu pun Bayu tidak banyak bicara. Dia hanya akan membuka mulut jika ada yang ingin ditanyakan. Selebihnya dia akan diam seribu bahasa.


"Bayu kui kayak kentongan nduk, kalo ndak ditabuh ndak bakal bunyi. Ummi udah nyrocos dari a sampai z sampai tiga paragraf sekalipun, jawaban dia ya cuman satu. Njih mi, njih bah, gitu aja dari dulu. " Ucap Ummi saat mereka sedang bertemu di pengajian rutin di pesantren milik abah Usman. Annisa terkikik mendengarnya.


"Iya ya mi, kalo ngomong tuh irit banget. Apa dari kecil emang gitu mi? "


"Lah iya nduk emang gitu dari kecil irit banget. Nggak ngerti niru siapa dia itu. Tapi semoga kamu betah ya sama dia. Bayu itu belum pernah dekat sama perempuan sebelum ini. "


"Insyaallah mi, doakan biar hubungan kami lancar. "


"Amiin nduk, ummi doakan yang terbaik. Duh jadi ndak sabar pengen cepet-cepet mantu. Biar ummi ada temen ngobrol. "


"Insyaallah ya mi. Kan nunggu mas Bayu pulang satgas juga. "


Bayu memang akan pergi ke Kongo. Batalyon nya dikirim sebagai pasukan perdamaian di sana. Hal itu membuat Annisa sedikit lega, pasalnya ia dan Bayu bisa membuat alasan agar tidak menikah dalam waktu dekat. Bayu sendiri sudah menyetujui syarat dari Annisa untuk memberi waktu agar mereka bisa saling mengenal dulu sebelum pernikahan.


"sebenarnya Ummi pengen kalian nikahnya itu sebelum Bayu satgas di lebanon nduk, kalo kalian nikah sirrih dulu gimana nduk? Resepsinya nunggu Bayu pulang? "


"Mas Bayu ndak setuju mi, biar nunggu mas Bayu pulang satgas saja njih. "


"Iya nduk, terserah kalian saja. "


****


Hari keberangkatan tiba. Annisa diminta ummi untuk ikut mengantar Bayu ke lanud. Annisa mengiyakan. Ia bergabung dengan kerumunan ibu-ibu berpakaian hijau pupus, seragam kebanggaan para istri prajurit TNI AD. Tak lama barisan lelaki berseragam loreng sambil menggendong senjata datang menghampiri kerumunan ibu-ibu itu. Satu dua istri mulai terisak. Setelah sang suami mendekap tangis haru mulai terdengar. Tak jarang juga sang suami turut menangis sesenggukan. Ya,  ditinggal tugas selama satu tahun ke negeri orang bukan lah hal mudah.


Bayu menghampiri Annisa dan umminya. Sang abah berhalangan hadir karena ia tengah mengisi ceramah di salah satu majelis taklim. Bayu memeluk ibunya lama sekali. Ummi mulai terisak. Ini pertama kalinya ia ditinggal tugas keluar negeri hingga satu tahun lamanya.


"Udah dong mi, masa gitu aja nangis. " ucap Bayu sambil mengelus bahu ibunya.


"Kongo itu jauh Yu, kamu sih pake acara jadi tentara segala. Coba jadi uztadz macem abahmu, paling jauh ninggalin ummi ke luar kota. Itupun nggak lama. Lah ini kamu, udah ke Kongo, satu tahun pula. " Bayu tersenyum menanggapi ucapan ibunya.


"Nggak lama mi, enam bulan lagi kan bayu dapat cuti, satu bulan. "


"Yaudah, pas kamu cuti kalian nikah ya, biar ummi ada temennya. "


"Insyaallah mi, kalo pengantin perempuannya bersedia kenapa nggak? " Bayu tersenyum ke arah Annisa. Membuat sang ibu kembali sumringah.


"Titip ummi ya Nis. " ucapnya pada Annisa.


"Iya mas, kamu jaga diri disana. "


"Pasti, nanti kalo ada waktu senggang aku vc kamu boleh kan? "


"Tentu saja boleh mas, "


Tak lama seorang wanita memakai gamis berwarna hijau tua dan jilbab yang sama datang menghampiri Bayu. Gadis itu nampak begitu sumringah saat melihat Bayu.


"Mas Bayu. "


****


"Mas Bayu. " gadis berparas cantik itu menghampiri Bayu.


"Rin, kamu disini."


"Iya nganter bang Damar. Assalammualaikum ummi. " sapa gadis itu pada ummi.


"Waalaikum salam Arini, apa kabar? Abangmu mana? "


"Alhamdulillah baik mi, abang disana sama mama papa. Itu siapa mas? Calon istri? " Gadis bernama Arini itu menunjuk Annisa yang tengah sibuk bertelpon entah dengan siapa.


"Iya Rin ini calon istrinya Bayu, Annisa namanya. Nduk kenalin ini loh adik sahabatnya Bayu. " Annisa segera mematikan telpon dan berbalik kearah ummi.


"Masyaallah Arini. " pekik Annisa begitu melihat sosok perempuan di depannya.


"Ya allah Nis, apa kabar, masyaallah nggak nyangka bisa ketemu disini. " detik berikutnya kedua gadis itu saling berpelukan.


"Kalian saling kenal toh? " tanya ummi yang keheranan.


"Iya mi, Annisa ini temen saya dari jaman SMA sampai kuliah. Udah lama banget nggak ketemu. "


"Walah, masyaallah ternyata dunia ndak selebar daun pisang ya. "


"Iya mi, ndak nyangka juga kalau ternyata Annisa ini calon istrinya mas Bayu. "


Mereka mengobrol hingga lupa waktu. Sampai akhirnya Bayu dan ratusan prajurit lainnya sudah saatnya berangkat. Isak tangis para istri prajurit itu kembali pecah, mereka saling memeluk erat. Tangis anak-anak turut menggema, tak rela melihat ayahanda pergi. Membuat ibu mereka semakin menangis pilu. Sungguh berat cobaan menjadi istri prajurit. Harus rela membagi suami mereka untuk negara. Pun harus rela jika sang suami hanya pulang nama. Annisa merekam semua momen ini dalam otak juga hatinya. Mau tidak mau jika ia menikah dengan Bayu, hal seperti ini juga pasti akan ia alami.


****


"Nduk kok katanya calon mertuamu kalian nikah enam bulan lagi, ibu disuruh siap-siapin buat nikahan kalian. Kok kamu nggak bilang ibu dulu? " saat itu mereka tengah memasak untuk makan malam.


"Iya bu, ummi mintanya gitu. Enam bulan dari sekarang mas Bayu dapat cuti satu bulan, langsung disuruh nikah sama umminya. "


"Terus kamu mau? "


"Loh ibu maunya aku nolak nikah sama mas Bayu gitu? "


"Ya nggak juga sih nduk. Terus cerita kamu sama bule itu gimana? " Annisa sejenak menghela napas.


"Ya mau gimana bu, aku juga nggak bisa nolak perintah ayah kan. "


"Kamu ituloh kok bisa sih pacaran sama yang non muslim. Pacarannya aja dilarang, sama non muslim pula. Dosa nduk. "


"Nggak pacaran bu, cuma deket aja. Aku juga tau batasan kok. "


"Terus kamu kok bisa jatuh cinta sama dia, kalo dia muslim sih ibu mau dia jadi mantu ibu. Buat memperbaiki keturunan. " sang ibu tergelak.


"dasar ibu ini. Aku juga mikirnya gitu sih bu, dia kaya raya bu. Bapaknya punya kilang minyak di merauke. " mata sang ibu membulat.


"Yang bener nduk? Duh suruh dia masuk islam masa nggak mau nduk? Rejeki nomplok kalo kamu jadi nikah sama bule itu. "


"Siapa yang mau nikah sama bule? " sang ayah yang baru saja memasuki dapur langsung memasang wajah garang. Membuat nyali kedua wanita itu menciut.


"Nggak pak, siapa yang mau nikah sama bule. Nisa kan mau nikah sama Bayu. Iya kan nduk?" Annisa hanya tersenyum tipis.


"Kamu masih berhubungan sama laki-laki itu?"


"Nggak pak," jawab Nisa singkat. Ia tertunduk.


"Inget ya Nisa, ada Bayu yang harus kamu jaga hati dan perasaannya. Bayu sedang bertugas ditempat yang jauh. Jangan kamu bikin bapak malu dengan kamu berhubungan dengan bule itu lagi. Bayu itu lelaki baik. "


"Iya pak Nisa tau. "


"Udah yah, ayah ke meja makan sana, biar ibu siapin makanannya. "


****


Seminggu sepeninggal Bayu, Annisa resmi diterima mengajar di SMP dekat rumahnya. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Bayu belum menghubunginya sejak keberangkatannya ke Kongo. Pun dengan Thomas, mungkin lelaki itu teramat sibuk dengan pekerjaannya.


Hari pertamanya mengajar pagi itu, Annisa terlebih dulu masuk ke ruang guru, sudah ada beberapa guru disana. Annisa menyapa dan memperkenalkan dirinya pada guru-guru itu.


"Ngajar mapel apa bu Annisa? " tanya salah seorang guru wanita.


"Ngajar bahasa inggris bu, "


"Oh, gantinya pak Haris toh, selamat bergabung ya bu. "


"Makasih bu. " Annisa tersenyum.


"Bu linda, ini pesanan ibu, maaf telat tadi ada insiden di jalan. " seorang guru wanita datang dan langsung mengangsurkan kantong berisi dua kotak persegi panjang. Entah apa isi kotak itu. Disambut dengan senyuman sumringah bu Linda. Detik berikutnya Annisa memekik tak percaya.


"Arini. Kamu ngajar disini? " Arini tak kalah terkejut melihat kehadiran Annisa.


"Annisa, iya aku ngajar disini. Udah dua tahun. Oh kamu yang gantiin pak Haris? "


"Wah nggak nyangka ya Rin, bakal ngajar disekolah yang sama. Eh iya mana nomor telponmu. Kita udah lama banget ya lost contact. "


"Iya, kamu selesai wisuda langsung ngilang gitu aja. Mana ponselmu. " Arini meraih ponsel Annisa dan mengetik beberapa nomor kemudian menyimpannya.


"Nanti pulangnya kita mampir kemana dulu gitu ya, kangen pengen ngobrol ngalor ngidul sama kamu. " lanjut Arini kemudian.


"Siap. Kalo gitu aku masuk ke kelas dulu ya. "


****


Jam pelajaran telah usai, Annisa membereskan barang-barangnya kedalam tas. Ia sejenak berhenti saat melihat layar ponselnya menyala. Nama Thomas muncul dilayarnya. Sebuah panggilan telpon. Lama sekali Annisa mamandangi ponselnya.


"Kenapa lama sekali, kau sedang apa? " ucap suara diseberang sana.


"Aku baru selesai mengajar Thom. Bagaimana kabarmu? masih bisa hidup bukan? " Annisa tergelak.


"Aku sesak napas dan hampir mati. Kau tau pekerjaanku tidak ada habisnya. Maaf aku baru sempat menelponmu. "


"Tak apa, fokus saja pada pekerjaanmu. "


"Aku merindukanmu Nisa. "


Hening sesaat, Annisa tak menanggapi perkataan Thomas. Hanya deru napas mereka yang terdengar.


"Aku hampir gila karena begitu merindukanmu. Kau tak akan mencampakanku bukan?"


"Nisa ayo pulang. Mampir ke mall bentar ya, mau nyari kado. " Arini muncul dari balik pintu. Hanya di balas dengan anggukan oleh Annisa.


"Nanti ku telpon lagi Thom, aku pulang dulu. "


"Baiklah, hati-hati dijalan. Aku mencintaimu."


Annisa mematikan ponsel dan memasukkannya kedalam tas, kemudian berjalan beriringan dengan Arini menuju pintu gerbang.


Usai berputar-putar mengelilingi beberapa gerai baju dan sepatu, Annisa dan Arini masuk kesalah satu foodcourt di sana. Sudah pukul lima sore. Mereka terlalu asyik berbelanja hingga lupa waktu.


"Jadi gimana ceritanya kamu bisa kenal mas Bayu?"


"Kita dijodohin Rin. "


"Dijodohin? "


"Iya, ayah sama abah Usman itu sahabatan."


"Oh, pantesan. "


"Pantesan kenapa? "


"Mas Bayu itu nggak pernah ada kabar punya pacar, eh ujug-ujug udah punya calon istri aja. Terus kamu kok mau dijodohin? "


"Nggak bisa nolak perintah ayah. "


"Berarti kamu nggak ada rasa sama mas Bayu dong?" Annisa hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.


"Kalau nggak sesuai kata hati jangan di lakuin Nis, bikin nggak bahagia. "


"Udah kepalang basah Rin, mau mundur udah nggak bisa. " Annisa menghela napas panjang.


****


Malam harinya, Thomas kembali menelpon Annisa. Namun sama sekali tidak diangkat. Entah sudah berapa puluh kali ia menelpon. Thomas memutuskan untuk mengirim pesan pada Annisa.


[Hei, kau dimana?]


[Kau sibuk?]


[Aku merindukanmu.]


Satu jam, dua jam tak ada tanda Annisa membuka pesannya. Ia frustasi. Kini ia merasa bahwa Annisa benar-benar akan mencampakkannya.


[Jangan coba-coba menghindariku Annisa. Aku akan berangkat kerumahmu sekarang juga]


Ia mengirim pesan lagi. Beberapa menit kemudian ada panggilan masuk dari Annisa.


"Thanks god, kau dari mana? Aku hampir saja terbang menuju rumahmu? "


"Dasar konyol. Aku baru pulang. Baru sampai rumah. Kenapa kau suka sekali mengancam?"


"Mengancam apa? Aku tidak mengancam. Aku hanya merindukanmu. "


Hening sesaat. Sebenarnya Annisa ingin menjawab bahwa ia pun merindukan Thomas. Namun ia urungkan. Annisa ingin perlahan lepas dari Thomas, lelaki yang ia cintai.


"Kenapa diam? Kau tidak merindukanku? "


"Tidak. " Annisa menjawab singkat. Thomas menghela napas panjang.


"Bagaimana pekerjaanmu? "


"Ya seperti yang kau tau, mengajar dari pagi sampai siang. Lalu pulang. "


"Lalu kau dimana dari siang hingga malam ini? Kenapa kau baru sampai rumah? "


"Kau cerewet seperti ibuku. Aku pergi dengan temanku. "


"Laki-laki atau perempuan? "


"Siapa? Ibuku? "


"Temanmu honey. Temanmu laki-laki atau perempuan? " Thomas tersenyum gemas.


"Perempuan. Dia temanku sejak SMA. Kau mau berkenalan dengannya?"


"Iya aku ingin mengenalnya dan menikahinya. Kau puas sekarang? "


"Sepertinya kau begitu ingin menikah Thom, datanglah akan ku kenalkan kau padanya. "


"Kau tau Annisa, sekarang ini aku benar-benar ingin menggigitmu. " Annisa terbahak mendengar kekesalan Thomas.


"Bulan depan aku akan datang ke jakarta, bersama ibuku. " tawa Annisa berhenti dalam sekejap. Dan terdiam cukup lama.


"Tenanglah, aku tidak akan menemui orang tuamu, ibuku ingin membeli sebuah rumah disana. Aku mengantarnya untuk melihat-lihat."


"Didaerah mana? "


"Entahlah, aku belum tahu soal itu. Annisa boleh aku meminta satu hal padamu? "


"Apa? "


"Ibuku ingin bertemu denganmu. Apa kau bersedia menemuinya? "


"Tentu saja aku mau. Atur saja waktu dan tempatnya. "


"Terimakasih Annisa. Ini sudah malam, tidurlah. Kau besok harus bekerja bukan."


"Ya. Kau juga tidurlah, disana sudah larut sekarang. "


"Hmm baiklah. Aku mencintaimu. "


Annisa memutus panggilan Thomas. Hatinya selalu melambung tinggi saat Thomas mengatakan cinta padanya.


[Belum tidur?] Satu pesan masuk dari Bayu.


[Belum mas, apa kabar? ] 


[Alhamdulillah baik, kamu apa kabar? Gimana pengumumannya? Lolos? ]


[Aku juga baik mas, belum rejeki. Aku nggak lolos. ]


[Tak apa. Coba lagi tahun depan.]


[Soal permintaan ummi kemarin gimana? Apa kamu setuju? Kalo kamu belum siap, kita bisa tunggu sampai tugasku selesai. ]


[Besok rencananya aku mau kerumah kamu mas, mau ngomongin masalah ini sama ummi. ]


[Gitu, yaudah kalo gitu besok kabari ya kalau kamu sudah dirumah. Sekarang kamu tidur, udah malem.]


[Iya mas.]


Annisa menghela napas. Hatinya bimbang. Bisakah ia menerima Bayu sepenuhnya dan melupakan Thomas. Dalam hati ia merasa bersalah karena masih berhubungan dengan Thomas disaat ia telah menerima perjodohannya dengan Bayu. Disisi lain ia masih belum bisa benar-benar lepas dari Thomas dan seluruh cintanya yang menggebu.


****


"Sudah ditelpon sama mas mu nduk?" Ummi dan Annisa tengah duduk di gazebo depan rumah abah Usman. Didepan gazebo itu ada kolam kecil yang dipenuhi ikan-ikan cantik berbagai warna. Perlahan Annisa mulai mendekatkan diri pada orangtua Bayu, terutama Umminya.


"Nggak nelpon mi, kemarin mas Bayu wa saja. Mas Bayu sudah nelpon Ummi? "


"Sudah kemarin malem. Nelpon lama banget. Tapi kok kalian ndak telponan? " Ummi sudah memasang wajah kesal.


"Mungkin karena kemarin udah malem banget makanya cuma wa saja, nggak papa mi, yang penting udah denger kabarnya mas Bayu. "


"Jadi gimana nduk, kalo Bayu cuti mau kan langsung nikah? Ummi sudah bicara sama orang tuamu. Mereka setuju. "


"Saya manut apa kata kalian aja mi. "


"Alhamdulillah, kalau begitu telpon Bayu. Kabari dia kalau kamu sudah setuju. "


"Iya mi. "


Annisa berulang kali mencoba menelpon Bayu, telponnya tersambung, namun sama sekali tidak ada jawaban dari sana. Ummi pun mulai terlihat cemas.


"Nggak papa mi, mungkin mas Bayu sedang sibuk disana. Nanti kalau nggak sibuk pasti nelpon balik. "


"Iya ya nduk, pasti lagi sibuk disana. Yasudah nggak apa-apa. Kita bahas nikahan mu aja. Pokoknya nanti begitu Bayu pulang kalian langsung akad nikah sama resepsi. Nanti masalah WO biar Ummi yang cari. "


"Iya mi, Nisa ngikut aja. "


****


Bulan berikutnya, Thomas benar-benar datang bersama sang ibu. Annisa tidak menjemput karena dia tengah sibuk mengajar. Dari bandara Thomas dan ibunya, menaiki taksi menuju hotel yang sudah ia pesan sebelumnya.


"Katakan Thom, seperti apa gadismu itu? "


"dia cantik mom. "


"Cantik? Hanya itu? Lalu apa istimewanya dia hingga membuatmu tergila-gila padanya? "


"Lebih dari itu mom, she is perfect. "


"Can't wait till I meet her. Kapan kau akan mengajaknya menemuiku? "


"Soon. Dia sedang mengajar sekarang, mungkin besok. "


"Baiklah. "


****


[Honey aku sudah sampai jakarta, boleh aku menemuimu?] Thomas mengirimkan pesan pada Annisa begitu ia sampai dihotel.


[Jangan hari ini, aku sibuk. ]


[Baiklah. Kau pulang pukul berapa?]


[Entahlah, mungkin pukul 5 sore. ]


[Aku sangat merindukanmu. ]


Annisa tak membalas lagi pesan Thomas. Hari ini ia memang akan sangat sibuk. Ummi meminta Annisa agar menemaninya melihat-lihat gedung untuk resepsi. Ummi amat antusias mempersiapkan pernikahan putranya.


"Nduk nanti temanya putih-putih aja ya, biar sakral gitu. "


"Iya mi, nanti akadnya pakai putih, tapi resepsinya tetap pakai warna hijau, nyamain PDU nya mas Bayu. "


"Iya juga ya. Yaudah sekalian kebutik ngukur badan kamu ya. "


"jangan sekarang ya mi, ini udah sore. Keburu maghrib. "


"Yaudah kalo gitu kita pulang. Kalau bisa kamu sempetin libur sehari aja nduk, buat ukur badan dan lain-lainnya. "


"Insyaallah mi. "


Tepat adzan maghrib berkumandang, Annisa sampai dirumah. Ketika turun dari taksi, ia terkejut bukan kepalang saat melihat lelaki berhoodie hitam yang tengah bersender di bagian belakang sebuah mobil hitam yang terparkir tepat diseberang rumahnya. Thomas telah menunggunya dari dua jam yang lalu. Annisa menghampirinya.


"Untuk apa kau kemari. Aku sudah bilang bukan jangan kemari, kita bisa bertemu ditempat lain. " wajah Annisa tampak begitu kesal.


"Maaf, aku begitu merindukanmu. Aku hanya ingin melihatmu, tidak lebih. "


"Kalau sampai ayahku melihatmu, akan menjadi masalah buatku. "


"Oke aku pergi, I just wanna see you. That's all. Masuklah, aku akan menelponmu nanti. " Thomas masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi.


Annisa berbalik ketika mendengar pintu rumahnya terbuka.


"Satu lagi Annisa, ibuku sangat ingin menemuimu. Bisa kau luangkan waktu untuknya besok? "


"Iya, pergilah. Kita bicarakan itu nanti. "


Thomas melajukan mobilnya saat melihat ayah Annisa keluar dari balik pintu. Sedangkan Annisa mematung di depan gerbang rumahnya.


"Ngapain kamu disitu? Bukannya langsung masuk? Ibu mertuamu langsung pulang?"


"Iya pak tadi ummi langsung pulang beliau dijemput supirnya abah. "


"Yasudah masuk sana. Ini sudah maghrib. Cepet sholat sana. "


"Iya yah. "


Annisa bernapas lega. Ayahnya tak sempat melihat Thomas. Tadinya ia sudah menyiapkan sanggahan untuk ayahnya seandainya ia tertangkap basah sedang mengobrol dengan Thomas.


****