
Suasana minggu pagi itu begitu tenang. Hujan mengguyur kota semalaman membuat udara pagi terasa segar. Annisa tengah duduk diteras depan rumah sambil menikmati segelas coklat hangat. Pagi yang sempurna. Ayah dan ibunya sedang kepasar untuk berbelanja.
[Assalamualaikum.] Satu pesan masuk membuatnya mengalihkan perhatian sejenak dari coklat hangatnya. Nomor baru. Dan foto profilnya adalah foto seorang lelaki yang membelakangi kamera sedang berada di tepi pantai dan menghadap kelaut. Segera ia balas pesan itu.
[Waalaikumusalam.]
[Bisakah kita bertemu?]
[Kau siapa?]
[Bersiaplah, setengah jam lagi aku akan sampai.]
Annisa mengernyit bingung. Apa maksud petkataan orang ini. Namun Annisa tak ambil pusing. Ia meletakkan kembali ponselnya diatas meja dan kembali menikmati suasana pagi yang damai.
****
Usai membersihkan diri, Annisa merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Ia memencet tombol pada remote tv. Entah sudah berapa kali ia mengganti saluran televisi. Ia beranjak duduk saat mendengar suara ayah dan ibunya mengucap salam.
"Assalamualaikum." Sang ayah yang mengucap salam, tampak membawa beberapa tas plastik hasil belanjaan mereka.
"Waalaikumsalam. Ayah sama ibu lama amat belanjanya?"
"Pacaran dulu dong. Biar kaya anak muda." Sahut sang ibu. Ia mengambil alih seluruh belanjaan yang ada di tangan suaminya kemudian masuk ke dapur.
"Eh nduk kamu udah mandi belum?" Tanya sang ayah yang telah duduk disampingnya.
"Udah yah, kenapa?"
"Nggak mau jalan kemana gitu? Ini kan hari libur."
"Masih pagi yah, lagian nggak tau juga mau kemana. Dirumah aja kayaknya."
Tak lama terdengar ketukan dari luar pintu dan ucapan salam dari seorang lelaki. Annisa teringat pesan dari nomor asing itu.
"Ayah nggak mau buka pintu? Ada tamu tuh."
"Kamu aja yang buka sana. Ayah mau ambil minum." Ucap sang ayah kemudian beranjak pergi.
Annisa menghela napas. Ia meraih jilbab instan berwarna hitamnya kemudian ia berjalan menuju pintu.
"Assalamualaikum." Salam dan ketukan kembali terdengar saat Annisa telah berada di balik pintu. Mendadak hatinya bergemuruh.
"Waalaikumsa--" salamnya terhenti saat melihat siapa yang kini tengah berada didepannya. Thomas, ia tersenyum saat melihat wajah Annisa yang tampak terkejut dengan mulut yang sedikit menganga.
"Hei, don't forget to breathe." Bisiknya.
Annisa berdehem setelah tersadar dari keterkejutannya. Sesaat ia menatap Thomas yang mengenakan celana training dan jaket tipis berwarna abu.
"Untuk apa kau kemari? Kalau ayah melihat, dia akan marah. Pergilah." Annisa berucap pelan. Ia takut ayahnya tau bahwa tamunya adalah Thomas.
"Dimana ayahmu? Boleh bertemu dengannya?"
"Pergilah sebelum ayah mengusirmu. Jangan membuat keributan. Ini masih terlalu pagi."
"Terlalu pagi?" Thomas melirik arloji yang ada ditangannya.
"Kau benar. Ini masih pukul 7 pagi. Should I come back at nine?" Lanjutnya kemudian.
"Thom! Pergilah."
"Siapa nduk? Kok nggak diajak masuk?" Sang ayah sudah berada dibelakangnya. Senyumnya terkembang saat melihat siapa yang datang.
"Mari silahkan masuk, duduklah." Ucap sang ayah ramah.
"Baik pak, terimakasih." Thomas berjalan melewati Annisa yang masih terpaku ditempatnya. Thomas mengedipkan mata kirinya pada Annisa sambil tersenyum.
"Nisa, jangan bengong aja. Sana bikin kopi." Perintah sang ayah yang telah duduk bersandingan dengan Thomas.
"Eh, iya yah." Annisa beranjak masuk kedalam meninggalkan dua lelaki yang kini mendadak menjadi akrab itu.
Tak sampai 5 menit, Annisa telah kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Kopi pekat untuk ayahnya dan kopi susu untuk Thomas.
"Minumlah, "
"Terimakasih pak."
Annisa duduk di samping ayahnya sembari menatap tajam kearah dua lelaki yang tengah menyeruput kopi itu.
"Hmm, rasanya masih sama seperti saat terakhir kali kau membuatnya untukku." Ucap Thomas. Ia menghirup dalam-dalam aroma kopi favoritnya itu. Annisa mendelik kesal. Pasalnya, ia seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa. Sedangkan sang ayah hanya bergeming dan menikmati kopinya.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Annisa tidak tahan untuk tidak menanyakan keanehan sikap ayahnya juga Thomas.
"Ada apa bagaimana maksudmu?" Sahut Thomas.
"Ayah tinggal dulu, kalian silahkan bicara." Ucap sang ayah sembari beranjak dari duduknya dan membawa cangkir kopinya.
"Ayah mau kemana?"
"Mau ke tempat pak rt. Hari ini kerja bakti."
Sang ayah mendekatkan wajahnya ketelinga Annisa.
"Baik-baik sama dia, dia kandidat yang kemarin ayah bilang." Bisiknya pelan. Annisa menganga tak percaya. Ia terus menatap punggung sang ayah yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Hmm, jadi apa yang ayahmu bilang? Kenapa kau tampak terkejut?"
Annisa menatap tajam ke arah Thomas. Lelaki itu tersenyum kearahnya.
"Bagaimana bisa ayahku hanya diam saat melihatmu?"
"Rahasia lelaki sayang. Kau tak perlu tau."
"Kau ini--"
"Aku lapar. Temani aku aku makan. Ups, maksudku mari makan bersama." Potongnya cepat. Ia tau Annisa akan mengeluarkan kalimat pedasnya. Dan kalimat itu tidak akan bisa ia cerna saat perutnya sedang kosong.
"Kenapa yang ada dipikiranmu hanya makanan saja?"
"Karena sayang, mencintaimu dan memperjuangkanmu itu membutuhkan energi lebih." Thomas tergelak. Namun hanya beberapa detik saja. Tatapan tajam Annisa membuatnya menciut.
"Ehm, by the way bagaimana kalau kita jogging bersama?"
"Bukannya tadi kau bilang kau lapar dan ingin makan? Kenapa sekarang ingin jogging?"
"Mendadak perutku terasa kenyang."
"Dasar labil."
"Mau atau tidak?"
"Jogging?"
"Menikah denganku?"
"Mendadak aku lapar dan ingin makan orang." Annisa beranjak dari duduknya diiringi gelak tawa Thomas.
Usai berpamitan pada ibunya, Annisa dan Thomas berjalan menuju salah satu titik car free day yang tak jauh dari rumahnya. Keduanya berjalan kaki, sesekali berlari kecil. Thomas tampak begitu sumringah. Begitu pun Annisa. Namun gadis itu selalu menyembunyikan senyumnya.
"Kenapa kau tidak mencari gadis lain?" Tanya Annisa saat mereka duduk di pinggir jalan sambil menikmati salad.
"Emm, entahlah. Mungkin karena allah memang akan menjodohkan kita." Annisa memandang lurus kedepan menatap keramaian. Ia terdiam.
"Kau dan ayah, bagaimana bisa ayah tidak marah saat melihatmu?"
"Aku menggunakan sihirku untuk meluluhkan hati ayahmu."
"Aku sedang tidak bercanda Thom."
"Aku sudah menggadaikan segala yang kupunya pada tuhanmu." Ia menjeda sejenak kalimatnya. Ia menarik napas panjang kemudian menunduk.
"Yang saat ini juga telah menjadi tuhanku."
Annisa menoleh kearah Thomas dan menatap lamat-lamat lelaki disampingnya itu. Ia melihat duka pada diri Thomas.
"Aku atau ayahku, tak pernah memaksamu untuk berpindah keyakinan Thom."
"Ini bukan karenamu atau ayahmu. Ini adalah pilihanku. Jadi jangan merasa terbebani akan hal ini."
"Lalu kenapa kau tampak menyesal dengan keputusanmu?"
"Apa aku tampak seperti itu?"
"Ya,"
"Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatku tampak menyedihnkan. Untuk kau tau saja, sekarang ini aku sudah dibuang oleh orang tuaku."
"Kenapa begitu?"
"Setelah Kevin, kini giliranku mengecewakan mereka. Mereka tidak terima dan benar-benar membuangku."
"Hei, orang tua tetaplah orang tua. Sejauh apapun mereka mendorongmu menjauh mereka tetap orang tuamu. Mereka tidak pernah benar-benar membuangmu. Mereka hanya marah dan kecewa, hanya beberapa saat. Tetap kunjungi mereka, tanyakan kabarnya. Asal kau bersabar percayalah, perlahan mereka akan memaafkanmu."
Thomas menatap gadis disampingnya. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca. Annisa selalu mampu meredakan gundah dalam hatinya.
"Terimakasih sayang." Thomas hendak meraih tangan Annisa, namun langsung di tepis oleh Annisa.
"Jangan menyentuhku!"
Thomas terkikik.
"Dulu bahkan kau berani memelukku."
"Yang dulu itu kesalahan. Pokonya jangan pernah menyentuhku sebelum-" Annisa urung melanjutkan kata-katanya.
"Sebelum?"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku ingin makan." Annisa berdiri dari duduknya, namun Thomas menarik lengannya dan membuatnya kembali duduk.
"Boleh aku bertanya satu hal?"
"Apa?"
"Apa kau masih mencintaiku?" Annisa hanya diam. Pandangan mereka saling bertaut.
"Bisakah kusimpulkan diammu adalah iya?"
"Ya. Aku masih mencintaimu." Ucap gadis itu sembari tersenyum. Binar bahagia tampak di mata Thomas.
"Then, can we get married soon?"
"Of course. Tapi, tidak bisakah kau melamarku dengan cara yang lebih romantis?"
****