Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Murka



Thomas dan Annisa juga Jo pergi mengantar Christian dan Irina menuju beranda. Christian masih tidak suka akan kehadiran Annisa, tapi terpaksa ia terima kehadiran menantunya itu agar Thomas bersedia menggantikannya di perusahaan.


"Titip perusahaan, kau sudah punya pengalaman, sudah pasti kau mampu mengendalikannya." Sahut Christian sesaat sebelum ia check in. Thomas hanya mengangguk, tak ada ucapan selamat jalan, atau sekedar hati-hati di jalan. Hubungan ayah dan anak itu benar-benar berubah menjadi dingin. Sedangkan Irina, ia memeluk erat menantunya yang tengah menggendong Jo.


"Titip Thomas juga Jo Annisa, terimakasih telah bersedia menerima dan merawatnya."


"Kau tidak perlu berterima kasih mom, ini sudah tugas dan kewajibanku sebagai seorang istri." Irina mengangguk. Kemudian ia beralih memeluk putranya.


"Jaga diri baik baik, jangan berulah lagi, oke."


"you too mom, safe flight." Ia mengusap pundak ibunya.


****


"Semalam aku tidak sengaja membuka pesanmu, dari Bayu." Ucap Thomas sembari menatap lekat sang istri yang berada di depannya. Ketiganya kini tengah makan di sebuah restoran cepat saji yang dekat dengan bandara. Annisa menghentikan aktifitasnya menyuapi Jo dan beralih menatap sang suami.


"Maaf, aku belum bilang, kemarin aku bertemu dengannya di rumahnya." Lelaki itu mendesah kasar. "Tapi aku sudah bilang padanya untuk tidak menggangguku lagi." Lanjutnya cepat.


"It's oke, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah lancang melihat ponselmu. Kalau kau ijinkan, aku ingin menemuinya dan bicara baik-baik padanya."


"Tidak perlu Thom, aku yakin dia sudah mengerti."


"Oke, dua hari lagi kita akan berangkat ke Merauke. Aku sudah pesankan tiket."


****


Merauke, dua hari kemudian


Kata "Merauke" konon berasal dari pertanyaan bangsa Belanda saat mendatangi suku asli marauke suku Marind Anim di sekitar Sungai Maro Ka Ehe. Nama sungai iniliah yang menjadi sebutan kebupaten hingga saat ini.


Sebagai titik terakhir dari wilayah Indonesia, Merauke tidak hanya sarat akan wisata sejarah namun juga menyimpan wisata alam yang mempesona. Beberapa tempat wisata di Merauke sarat akan nilai histori yang erat kaitannya dengan sejarah perjuangan bangsa dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Kondisi alam Merauke yang mirip dengan Australia Utara membuat wilayah ini sedikit berbeda dengan wilayah lainnya di Papua secara umum. Beberapa jenis binatang khas yang ada di Australia bisa dengan mudah ditemui di wilayah ini, seperti kangguru maupun rusa. Banyaknya rusa yang hidup di wilayah Merauke juga menjadi ikon tersendiri bagi kota ini sehingga Merauke sering disebut sebagai Kota Rusa.


Populasi rusa yang sangat banyak di Merauke juga turut berpengaruh pada kuliner khas di daerah ini. Ada banyak menu olahan lezat yang dibuat dari daging rusa, sehingga kamu bisa leluasa menikmati wisata kuliner berbahan daging rusa yang perburuannya dianggap legal di daerah ini. Meski begitu, perburuan rusa secara besar-besaran di wilayah ini tetap diawasi karena dikhawatirkan akan mengurangi jumlah populasi rusa secara drastis.


Selain rusa dan kangguru, Merauke juga terkenal dengan hasil kerajinan khasnya yang terbuat dari kulit buaya. Untuk perburuan buaya pun dianggap legal secara hukum karena populasi buaya yang sangat besar di Merauke. Meski begitu perburuan buaya untuk bahan kerajinan tetap dalam pengawasan pemerintah daerah setempat.


"Siapa yang akan menjemput?" Tanya Annisa ketika mereka telah menginjakkan kaki di Bandara Mopah Merauke.


"Ada pak Anwar yang menjemput, supir pribadi ayah. Kau mau langsung pulang?"


"ya, Jo terlihat lelah, kita langsung pulang saja."


"By the way, soal Jo, bagaimana kalau kita menyewa baby sitter? Aku takut kau terlalu lelah merawat Jo,"


"Kalau kau bosan, kau boleh kembali mengajar, aku akan mengantarmu bertemu teman mu dulu."


"Tidak perlu Thom, aku tidak akan bosan, ada Jo yang akan menemaniku."


"Kau akan lelah merawat Jo sendirian."


"Tidak akan Thom, kau terlalu berlebihan."


"Aku hanya tidak ingin dia merepotkanmu, sayang."


"Dia anakku, aku tidak akan merasa di repotkan oleh anakku sendiri."


"Oke, terserah kau saja. Tapi jika kau butuh seorang baby sitter, segera bilanglah, aku akan mencarikannya untukmu."


"Aye sir. Aku akan segera bilang padamu jika aku butuh." Keduanya melangkah dengan riang. Sedang Jo, bocah kecil itu tengah terlelap dalam pelukan sang ayah.


****


"What the hell you doing Jo?" Umpat Thomas dengan suara yang begitu keras, Jo tengah meringkuk di pojok kamar mewah orang tuanya dengan wajah ketakutan. Tak lama, bocah itu menangis kencang. Ia berlari mencari ibu Annisanya. 


"Ibu ... " ucap Jo di tengah isak tangisnya. Ia menghampiri ibunya yang tengah sibuk memasak di dapur. Annisa terkejut begitu melihat Jo menangis dan tampak ketakutan. Annisa menghampirinya dan segera menggendongnya.


"Jo, ada apa?" ucap Annisa sembari terus mengusap lembut punggung Joshua. Bocah itu masih saja menangis. Annisa ikut panik. Seingatnya, Jo masih tidur saat ia beranjak dari tempat tidurnya untuk memasak pagi ini. Sedang Thomas, suaminya itu sudah pergi sejak subuh tadi untuk jogging.


"Coba kau lihat bagaimana kelakuan anak nakal ini," Sahut Thomas yang tampak marah. Ia menyodorkan jam tangan keluaran Baume Et Mercier Clifton Baumatic miliknya yang kacanya tampak pecah dan jarum-jarum nya berserahkan, juga tali jam yang terbuat dari kulit buaya itu terbelah menjadi beberapa bagian. Annisa mendelik. Bagaimana tidak,harga  satu jam tangan mewah itu, bisa untuk membeli dua motor matic sekaligus. Annisa menatap Jo yang tampak sangat ketaukan dan semakin erat memeluknya.


"It's oke Jo. Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi." ucapnya menenangkan Jo. Thomas mendengus sebal.


"Turunkan anak itu, dia harus ku beri pelajaran." Sahutnya.


"Thom, sudahlah. Jam tangan masih banyak bukan? Kenapa mempermasalahkan hal sepeleh seperti ini? Dia masih anak-anak."


"Hal sepele? Harga jam tangan ini enam puluh juta dan kau bilang ini sepele? Sekarang jam tangan yang dia rusak, bukan tidak mungkin dia akan merusak televisi, laptop, ponsel, mobil bahkan merobohkan rumah ini. Jangan terus memanjakannya. Turunkan dia sekarang juga." ucapnya sembari berusaha menahan emosinya.


"Dia belum tau berapa harga jam tangan itu,salahmu sendiri kenapa tidak menyimpannya di dalam laci? Dia masih anak-anak Thom. Dia belum mengerti mana benda yang tidak boleh ia sentuh. Kita sebagai orang tua, seharusnya mengarahkannya, bukan malah memarahinya." sahut Annisa panjang lebar.


"Kau menyalahkanku? Salah anak ini, kenapa harus masuk ke dalam kehidupan kita. Dari awal aku sudah tau, dia akan sangat menyusahkan kita."


"Sejak kapan satu jam tangan rusak bisa membuatmu semurka ini? Bukankah kau memiliki puluhan jam tangan mewah di lemarimu? Bahkan sebagian harganya mencapai ratusan juta, lalu kenapa saat jam tangan seharga enam puluh juta ini rusak, kau begitu murka?" Thomas menghembuskan napas kasar, kemudian ia membanting jam tangan itu ke lantai. Detik berikutnya ia berbalik meninggalkan Annisa juga Jo yang masih sangat ketakutan.


****