
"Terimakasih atas kerjasamanya pak, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita. "
"Ya tentu saja, sepertinya berbisnis dengan ayahmu akan menguntungkan untukku. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. " Lelaki paruh baya yang mengenakan setelan jas dan celana hitam itu beranjak dari duduknya di susul oleh Adrian dan Thomas yang turut berdiri. Setelah menjabat tangan Thomas juga Adrian secara bergantian, lelaki itu berlalu pergi. Dan meninggalkan senyuman yang begitu lebar di bibir Thomas juga Adrian.
"Kau tau, dia itu pemilik penangkaran mutiara terbesar di kota ini. Sungguh beruntung kita mendapatkannya. "
"Mengapa dia mencoba membuat perahu lagi jika dia sudah punya kapal pesiar yang mewah? "
"Kau tau sendiri lah, manusia itu tak akan pernah puas dengan apa yang ia miliki. Jika seseorang telah memiliki satu buah lembah emas, maka dia ingin dan pasti akan mencari satu lembah emas lagi. "
"Ya, aku tau soal itu. Baiklah bagaimana kalau kita pergi ke tempat kepala sekolah itu? "
"Kau sungguh bersemangat Thom. Kau semakin membuat ku penasaran, bagaimana rupa gadis itu. Apa dia secantik dan sesexy Emily? "
"Sungguh dia sangat jauh berbeda dari Emily, dia seperti daisy. Sungguh mempesona. Aku langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. "
"Daisy? gadis yang mana lagi itu? Kau tak pernah menyebutkan namanya? "
"Daisy flower man, bukan nama orang. Bunga daisy. "
"Ah, nama bunga. Ku kira ada gadis lain. Bunga yang bagaimana itu?"
"Kau tak tau daisy? " Adrian hanya menggeleng. Thomas menyodorkan ponselnya dan menunjukkan gambar bunga daisy yang menjadi lockscreen nya. Tentu saja bawaan ponsel pintarnya. Egonya terlalu kuat untuk mendownload hal feminim semacam itu.
"Dia cantik, sederhana namun sungguh menawan. Siapapun pasti akat terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaanya. " Thomas menerawang jauh. Membicarakannya saja sudah membuat jantung Thomas berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Dia seperti Reva. " lanjutnya kemudian. Mimik wajah Adrian seketika berubah. Matanya membulat, perlahan matanya berkaca-kaca. Kemudian menunduk. Perlahan bayangan seorang wanita tomboy, berambut panjang yang selalu diikat asal, dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia sungguh rindu.
Reva adalah jantung hatinya. Wanita yang sangat ia cintai. Mati-matian ia berjuang untuk mendapatkan hati gadis itu. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain. Gadis itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Tentu saja Adrian yang membonceng gadis itu. Adrian begitu terpukul atas kematian kekasihnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan lukanya. Saat itu mereka masih sama-sama kuliah tingkat akhir. Hingga Adrian sama sekali tidak fokus pada study nya. Thomas selalu ada dan selalu memberi semangat pada Adrian. Akhirnya walaupun harus dengan merangkak, Adrian menyelesaikan pendidikannya, dan bergabung dengan perusahaan tempatnya bekerja sekarang.
"Sudahlah. Jangan terus diratapi, kau juga harus bangkit Adrian. Kau akan temukan wanita yang akan menggantikan posisi Reva di hatimu. "
"Tak akan ada yang bisa menggantikannya Thom, kau tau itu. Sudahlah mari kita pergi. "
****
Perjalanan menuju distrik klasabi membuat dua lelaki dewasa itu kelelahan. butuh waktu sekitar satu jam. Sebenarnya tak seberapa jauh jaraknya. Hanya saja saat mengemudi, mereka harus sangat berhati-hati. Banyak turunan curam juga belokan tajam yang harus dilewati. Mereka harus melintasi gunung kapur terjal untuk sampai di distrik itu. Sampai Adrian membelokkan mobil ke dalam pelataran sebuah rumah besar yang setengah bangunannya menggunakan kayu. Kayu kelapa memang melimpah ruah di darah timur. Maka kebanyakan orang timur membangun rumahnya menggunakan kayu kelapa. Tak sebagus kayu jati, tapi sama kuatnya dengan kayu khas jawa itu.
"Jadi disini rumahnya? " mereka melangkah menapaki halaman gersang juga panas itu. Halaman yang cukup luas, bisa untuk parkir sekitar 10 mobil. Namun sama sekali tak ada pohon peneduh disana.
"Ya disini rumahnya. "
"Jadi ini putra Chiristian? " seorang lelaki berkulit hitam khas orang papua datang dari belakang mereka.
"Oh hai pak Arsen, apa kabar? "
"Hai Adrian, lama tak berjumpa. Kau apa kabar? Christian sudah mengabariku bahwa putranya akan datang. Mari masuk. "
Pak Arsen masuk kedalam rumah, diikuti Thomas juga Adrian.
"Jadi, apa yang membuat kalian berdua datang kemari? " Pak Arsen kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi tiga gelas es teh. Nampak menyegarkan. Thomas mnyunggingkan senyum melihat es teh yang di sajikan pak Arsen. Tentu saja ia mengingat insiden es teh milik Annisa yang tumpah di bajunya. Lagi, dia memikirkan Annisa.
"Kami sedang mencari orang pak. Mungkin bapak bisa membantu. " Adrian menyahut. Ia geleng-geleng melihat Thomas yang menunduk sambil tersenyum.
"Siapa yang kalian cari? "
"Siapa nama gadis itu Thom? "
"Sebenarnya saya baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, dia baru di kota ini. Dan dia seorang guru. Namanya Annisa. "
"Kau tau dia mengajar dimana? "
"Sayangnya dia tak tau informasi apapun tentang gadis itu. " Adrian menyahut lagi.
"Baiklah, kalau begitu akan saya carikan data dari seluruh tenaga pengajar di kota ini, kalian bisa memeriksanya satu persatu. Tunggu disini sebentar. " pak Arsen masuk lagi kedalam rumahnya, kemudian terdengar suara dari mesin printer. Nampaknya dia sedang mencetak sesuatu. Tak lama, ia pun kembali keruang tamu dengan membawa beberapa lembar kertas ditangannya.
"Ini data-data tenaga pengajar yang ada di kota ini. Jika benar dia salah satu guru di kota ini, kau pasti bisa menemukannya. Hanya ini yang bisa ku bantu. " pak Arsen menyodorkan kertas itu pada Thomas. Ia terlihat begitu sumringah.
"Ini sudah cukup pak, terimakasih sudah membantu. Kami permisi dulu. "
"Ya, sama-sama. Kirim salam untuk Christian. Hati-hati di jalan. "
Thomas tak henti-hentinya memandangi kertas-kertas yang di berikan oleh pak Arsen. Matanya menelitih satu per satu nama yang tertera pada kertas-kertas tersebut. Ada beberapa yang namanya Annisa namun sayang usia yang tertera pada biodata tersebut sama sekali bukan Annisa yang ia cari. Hingga matanya menangkap satu lagi nama Annisa dengan usia yang ia perkirakan sama seperti Annisa yang ia cari, dua puluh tiga tahun. 'Sepertinya ini yang kucari' ucapnya dalam hati.
"Kita kesini Dri. " ucapnya pada Adrian sambil menunjuk alamat yang ada dikertas tersebut.
"Sekarang? Apa yang akan kau cari disana Thom? Kau tak akan mendapatkan apapun. Sekarang sudah pukul tiga, semua murid juga guru pasti sudah pulang. "
"Lalu kapan kita akan kesana? "
"Besok saja. Pagi-pagi kita berangkat. "
"Baiklah. "
****
"kamu makan dirumah apa diluar Nis? Sekalian jalan-jalan. " Rina dan Annisa baru saja menyelesaikan kegiatan belajar mengajarnya.
"Makan dirumah ajalah mbak. Lagi males jalan. "
"Hee, tadi pagi semangat banget mau ngajak jalan-jalan, kenapa sekarang jadi males? "
Annisa hanya menjawab pertanyaan Rina dengan tersenyum kecut. Saat istirahat tadi moodnya terjun bebas karena melihat postingan sang mantan kekasih. Roby mantan kekasihnya memposting sebuah foto undangan pernikahan. Minggu depan dia menikah dengan selingkuhannya itu.
"No sir, I means where is the nearest market here? I want buy snacks and water. "
Terdengar percakapan seorang lelaki asing dengan penduduk lokal. Nada lelaki asing itu terdengar frustasi. Penduduk lokal itu benar-benar tidak mengerti ucapannya. Annisa menghampirinya meninggalkan Rina yang tengah sibuk mencari angkutan.
"Hei sir, can I help you? " sontak lelaki asing itu menoleh kearahnya.
"Oh thanks god. You can speak in English? "
"Of course. What do you need sir? "
"I want to buy snacks and water, do you know where the nearest market here? "
"Yeah, you just need to walk out from here, go straight forward this street until you meet traffic lights, and then turn left. minimarket will be on your right side. "
"Thank you so much miss, thank you for your help. "
"You're welcome sir. "
Setelah mendengar pengarahannya, lelaki asing itu pergi mengikuti petunjuk Annisa. Annisa tersenyum. Ia teringat pada Thomas, lelaki bermata biru dengan sorot mata tajam, rahang tegas yang sedikit ditumbuhi cambang. Sungguh gambaran sempurna pria idaman para wanita. 'How are you bule konyol' ucapnya dalam hati.
****
Pencariannya dialamat pertama nihil. Annisa yang tertulis di kertas itu bukanlah Annisa yang ia cari. 'Ah seandainya aku mengikutinya pulang waktu itu, pasti tak akan sesulit ini. ' Ia merutuk dalam hati.
"Santai saja Thom, kita coba cari dia di alamat lain. " Adrian menyemangati.
Hingga tiga bulan berlalu Thomas masih belum juga menemukan Annisa. Benar-benar membuatnya frustasi.
"Sudahlah, menyerah saja, ini sudah tiga bulan. Dia mungkin juga sudah lupa pernah mengenalmu. "Ucap Adrian suatu ketika. Dan ucapan Adrian sukses membuat emosinya memuncak.
"Jika kau tak ingin membantu, pergi saja, biar aku sendiri yang mencarinya. "
"Hey, santai saja Thom, bukan begitu maksudku. " Thomas hanya menyeringai.
"Baiklah baiklah, kita cari lagi besok, hari ini aku sedang ada urusan lain. "
"Urusan apa? "
"Menemui temanku. Dia baru datang dari surabaya. Kau mau ikut? "
"Tak usah, aku disini saja. Kau boleh pergi. "
Adrian beranjak. Temannya satu SMA dulu mengabarkan akan datang dan berbulan madu dikota ini. Mereka sudah menentukan akan bertemu sore hari di Restoran Jawa. Tak jauh dari apartment nya. Masih pukul empat sore paktu indonesia timur. Ia sudah sampai direstoran tersebut dan langsung masuk kedalam. Matanya terpaku pada dua orang wanita yang tampak sedang berdebat di meja sebelah. Salah satu dari dua wanita itu, memikat hatinya.
"Mbak kita pulang aja ya. Aku nggak mau ketemu dia lagi. " ucap gadis yang sedang memikat hatinya itu.
"Hadapi Nisa, mereka sedang ingin meluruskan sesuatu. Biar nggak ada salah paham diantara kalian. "
'Namanya Nisa. dan dia begitu cantik. ' Adrian membatin.
'Tunggu, bukankah gadis yang dicari Thomas juga bernama Nisa? Apakah dia Nisa yang sama dengan yang sedang thomas cari. '
"Ngelamunin apa bro? " Adrian tersentak, ternyata sejak tadi dia terlalu memperhatikan gadis bernama Nisa itu, sehingga tak memperhatikan kehadiran Roby, teman SMA nya tersebut.
"Hai Rob, dimana istrimu? "
"Hei Yan, harusnya kau menanyakan kabarku bukan malah menanyakan istriku. "
"Ah maaf bukan begitu maksudku. Bagaimana kabarmu.?"
"Sedang buruk. Dan jika kau bertanya dimana istriku, dia sedang berada di meja sebelah. " Roby menunjuk kearah meja dimana gadis bernama Nisa itu duduk.
"Tunggu, mereka saling mengenal? " Adrian sedikit terkejut saat melihat kedekatan istri Roby, juga gadis bernama Nisa itu. Samar terdengar percakapan mereka.
"Maaf Nis, ini semua diluar kendaliku. Kau lihat, aku sampai jauh-jauh datang kemari untuk meminta maaf padamu. "
"Sudahlah, aku tak butuh permintaan maaf dari kalian. Lagipula aku tak menyuruh kalian datang menemuiku bukan. " Nisa menoleh kearah Roby. Dan sempat melirik Adrian. Pandangan mereka saling bertemu.
"Baiklah sudah cukup, aku akan pergi sekarang. " Nisa beranjak. Tak disangka Roby turut berdiri dan mencekal tangan Nisa.
"Tunggu dulu. Kita bisa bicara baik-baik bukan? "
"Lepaskan By, aku tak ingin bertemu lagi denga kalian. "
Adrian tak tahan untuk tak menengahi.
"Baiklah, sepertinya kita sedang menjadi tontonan orang-orang. Bagaimana jika kita duduk dan berdiskusi baik-baik. "
"Tak perlu pak, saya sudah selesai dengan mereka. Saya pergi dulu. "
"Sayang. Kita bicara dulu ya. Aku akan jelaskan semuanya. " Adrian terperanjat mendengar Roby memanggil Nisa dengan sebutan sayang.
"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi By. " Annisa melepaskan cekalan tangan Roby dan beranjak pergi.
"Dia siapa Rob? Kalian saling kenal? "
"Ya, dia kekasihku. "
"Kekasih? Lalu istrimu? "
"Kami kecelakaan. Kau tau maksudku bukan. "
"Yeah tak perlu kau jelaskan. Lalu kau tau dimana gadis itu tinggal? "
"Disini? Aku tak tau, sebenarnya dia dari Jakarta. Aku bahkan sudah kenal orangtuanya."
"Bolehkah aku meminta alamat gadis itu? " Roby terperanjat.
"Untuk apa kau meminta alamatnya? "
Adrian mengangkat kedua bahunya.
"Kalau begitu bolehkah aku meminta kontaknya? Nomor ponsel, atau nama akun media sosialnya. "
"Kau terlalu berlebihan Adrian. Jangan pernah mencoba untuk mendekatinya. "
"Hei, apa hakmu melarangku mendekatinya. "
"Kurasa kau tak mendengar saat aku bilang dia kekasihku. "
"Kau benar-benar sudah tidak waras. Baiklah kurasa percakapan kita cukup sampai disini. Selamat berbulan madu. "
Adrian bangkit dari duduknya tanpa mendengar jawaban Roby. Ia mempercepat langkahnya dan berharap bisa bertemu dengan Nisa di pelataran restoran. Namun nihil, gadis itu sudah pergi. Ia menyusuri jalan yang mungkin akan dilewati gadis itu. Namun lagi, ia tak menemukan Nisa. Hingga ia berhenti disebuah warung makan sederhana karena perutnya sudah keroncongan. Ia belum sempat makan saat direstoran tadi. Saat ia masuk kedalam warung itu, matanya tertuju pada dua sosok perempuan yang ia lihat di restoran tadi. Nisa dan temannya juga tengah makan di warung ini. Adrian langsung menghampiri gadis itu. Kali ini ia tak ingin kehilangan jejaknya lagi.
"Assalammualaikum. " Adrian berdiri tepat di depan Nisa.
"Waalaikumsalam. Ya pak, ada apa? " Nisa dan Rina tampak kebingungan karena tiba-tiba dihampiri seorang lelaki.
"Benar namamu Nisa? "
"Iya pak benar. Ada perlu apa ya? "
"Apa kau tak mengingatku? Kita bertemu di restoran tadi. Boleh aku duduk disini? "
"Ah, kau yang bersama Roby bukan. "
"Yah benar, namaku Adrian. "
"Iya pak Adrian, ada yang bisa saya bantu? "
"Adrian saja, tidak usah pak. Hai, aku Adrian." Ucapnya pada Rina. Adrian menyodorkan tangan pada kedua gadis itu. Rina menyambut dan menjabat tangan Adrian, sedangkan Nisa, dia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Adrian mengangguk dan melakukan hal yang sama.
"Jadi ada perlu apa kau kemari Adrian? "
"Ah, sebenarnya tak ada perlu apapun, hanya saja aku melihat kalian dan ingin menyapa."
"Oh, jadi maksudmu kau tertarik pada salah satu diantara kami? Jika kau tertarik padaku, lupakan saja, karena aku sudah memiliku tunangan. " ucap Rina menebak. Ia menunjukkan jemarinya, jari manisnya terhias cincin bermata biru.
"Mbak, apaan sih? " Nisa menyikut lengan Rani.
"Ah, bukan seperti itu. Aku hanya ingin menyapa. Jadi kalian tinggal dimana? "
"Kami di kelurahan Manoi, seberang sungai. "
"Baiklah, bagaimana jika nanti kalian kuantar pulang? "
"Wah kebetulan sekali Adrian, kami memang sedang butuh tumpangan. Kau membawa mobil? " Sahut Rina antusias. Disambut pelototan dari Nisa.
"Tentu saja, jika tidak, aku tidak akan menawarkan kalian tumpangan. "
"Tapi masalahnya pak Adrian, jalan kearah rumah kamu tidak bisa dilewati mobil. "Nisa menyahut.
"Bisa Nis, maaf Adrian dia masih baru dikota ini, dia belum tau jalanan kota ini. "
"Baiklah tak apa kan jika nanti kita sedikit memutar. "
"Tak masalah. "
Usai makan dan membayar tagihan, mereka beranjak pergi menuju mobil suv sport berwarna putih milik Adrian.
"Mari, "Adrian membukakan pintu depan untuk Nisa.
"terimakasih. "
Mobil melaju membelah jalanan kota yang tampak mulai ramai. Jam-jam pulang kantor dimanapun memang selalu sama, akan membuat jalanan macet. Adrian mengambil jalan memutar lebih jauh dari rute yang biasanya dilalui oleh Rina dan Nisa. Tak menaiki perahu dayung, ada sebuah jalan besar penghubung desa dengan pusat kota. Sesampainya di rumah kontrakan, lagi, Adrian membukakan pintu mobil untuk Annisa. Kentara sekali bahwa ia memberi perhatian khusus pada Nisa.
"Emm, Nis, apa boleh jika aku meminta nomor ponselmu? " ucap Adrian gugup.
"Hah? Nomor ponsel? Emm sebenanya ak--" ucapannya terhenti karena Rina menyahut.
"Tentu saja Adrian, mana ponselmu? " Adrian sedikit kikuk karena yang menjawab iya adalah Rina, bukan Nisa.
"Tenang saja, ini nomor Annisa, tak mungkin kan aku memberikan nomorku pada lelaki asing, sedangkan aku sudah bertunangan. "
Adrian menyodorkan ponselnya, kemudian jemari Rina menari diatas benda pipih itu.
"Save, done. Kau bisa menelponnya kapan saja. Dia sedang membutuhkan obat. " ucapannya disambut dengan pelototan Nisa. Sedangkan Adrian hanya tersenyum simpul.
"Baiklah, terimakasih, kalau begitu aku pamit. Assalammualaikum. " ia melangkah. Namun Rina kembali memanggil, ia menghentikan langkah.
"Waalaikumsalam, hei Adrian, terimakasih untuk makanannya. Lain kali kami yang akan mentraktirmu. "
"Baiklah, aku akan menunggu kalian mentraktirku. Sesampainya dirumah aku akan menelponmu. "
Lelaki itu melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam mobil. Kedua gadis itu memandangi mobil putih milik Adrian hingga tak nampak lagi.
"Kayaknya dia suka sama kamu Nis. "
"Kenapa mbak kasih dia nomor ponselku? "
"Dia sepertinya lelaki baik dan terpelajar Nis. Orangnya santun dan sopan. Kalian cocok jadi pasangan. "
Annisa melengos dan masuk rumah. Dalam hati ia membenarkan perkataan Rina. Adrian kentara sekali dalam mengekspresikan perasaannya. Mungkin ia memang tipe lelaki yang tak ingin terlalu banyak basa basi.
****