
"jadi mau apa lelaki itu datang lagi?" Saat makan malam, sang ayah mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.
"Aku tidak tau Yah."
"Kalian janjian lagi? Kamu masih komunikasi sama lelaki asing itu?"
"Tidak tau Yah, tiba-tiba dia muncul begitu saja dihadapanku."
"Kalau sampai kamu ketahuan berhubungan lagi sama lelaki itu awas aja ya Nisa."
"Kalau ayah mau menikahkanku dengan mas Bayu nikahkan saja. Aku sudah lelah setiap hari ayah intimidasi seperti itu." Nisa beranjak dari duduknya. Ia urung makan karena nafsu makannya hilang begitu saja saat ayahnya membahas Thomas.
"Lihat anakmu itu bu, sama orang tua nggak ada tata kramanya."
"Ayah yang keterlaluan. Ayah terlalu menekannya."
"Ibu terus-terusan bela dia, semakin kurangajar anak itu."
"Kurangajar yang bagaimana yah? Apa dia pernah membangkang kepadamu? Dia selalu menuruti maumu dan tidak pernah mengecewakanmu."
"Maka sekarangpun dia tidak akan mengecewakanku. Akan segera kuurus pernikahan Nisa dan Bayu."
"Terserah kamu lah Yah. Kamu mana pernah dengerin pendapatku sama Nisa."
****
Christian Williams, sang ayah, ia tinggal di papua, dia menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan kilang minyak disana. Dia mengabarkan bahwa akan pulang pagi ini dan akan landing pukul sembilan pagi. Jadilah acara berkunjung ke pesantren sepupu ibunya ia tunda dahulu.
"Mom, kenapa lama sekali, ayo kita berangkat, kau sudah setengah jam berdandan." Thomas berseru memanggil ibunya yang sudah setengah jam berdandan dikamarnya.
"I'm coming son, kau tau, aku dan ayahmu sudah satu tahun tidak bertemu. So I should give him my best."
"Come on mom, you always look beautiful on him. You don't need make up anymore."
"Kau ini terlalu cerewet Thom, I'am done, ayo kita berangkat."
"Mana Kevin?"
"Ah ya, Kevin tidak ikut, dia ada urusan mendadak. Let's go mom."
Setengah jam perjalanan menuju bandara. Ponselnya terus saja berdering, tentu saja dari sang ayah. Ia sedang berada di parkiran sebuah minimarket, Irina bilang ia haus dan ingin membeli minum. Jadilah ia menuruti perintah sang ibu.
"Yeah dad. Kau sudah sampai? "
"Tentu saja, aku sudah berdiri selama duapuluh menit disini, dan kalian belum muncul juga?" Sang ayah memang sangat disiplin soal waktu, ia tak ingin waktunya terbuang untuk menunggu. Seringkali ia menggerutu saat menunggui istrinya yang berdandan terlalu lama ketika mereka akan pergi.
"yeah dad, maafkan aku, kau tau sendiri bagaimana ibu kan? Sepuluh menit lagi aku akan sampai disana. "
"Kau tau Thom, setengah jam berada di kilang minyak, kau akan menghasilnya ribuan liter minyak mentah. Dan disini aku harus menunggu kalian yang senang sekali mengulur waktu? "
"Calm down dad, we're on the way. " Thomas mematikan ponselnya dan bertepatan dengan sang ibu yang telah memasuki mobil. Thomas segera melajukan mobilnya menuju bandara. Sesampainya di bandara, Thomas juga Irina segera mencari keberadaan Christian. Ia tak ingin lelaki itu menunggu lebih lama lagi.
"Hei dad, how are you? " Thomas segera memeluk Chistian yang tengah memasang muka masam.
"I'm so sorry honey, kau tau kan bagaiamana macetnya kota Jakarta."
"Dari dulu kota ini memang sudah macet, dan ditambah lagi waktumu berdandan sangat memakan waktu. You waste your time too much. "
"Oh come on honey. Kau baru saja tiba. Bagaimana jika kasimpan dulu kekesalanmu untuk nanti. Kita punya banyak waktu bersama. Bagaimana jika sekarang kita pulang? "
"Ya, baiklah, aku akan mengomelimu lagi nanti. " ucapnya sambil merengkuh bahu sang istri. Thomas terkekeh melihat tingkah orang tuanya. Sang ayah yang selalu perfectionist sedangkan sang ibu yang begitu ceroboh benar-benar saling melengkapi. Dan lagi-lagi ia teringat pada Annisa, gadis yang ia cintai. Gadis itu sama cerobohnya dengan sang ibu. Terngiang kembali kenangannya bersama gadis itu.
"Aduh, maaf pak saya nggak sengaja. " gadis itu mendongak sambil memegangi keningnya. Sedangkan tangan kanannya mengusap kaos lelaki yang baru saja ditabraknya. Bagian dada kanannya basah terkena tumpahan es teh yang tadi dibawa gadis itu.
"Hai Annisa. Kita bertemu lagi. "
"Oh hai tuan Thomas, maafkan aku, aku tak sengaja menumpahkan minumanku. "
"tak apa, jangan panggil tuan, just Thomas."
"Ah, baiklah Thomas, maafkan aku. "
"Aku akan mengganti minumanmu. Tunggu aku lima menit lagi di dek atas. Aku akan mengganti baju sebentar. "
"Tak usah repot-repot tu-- maksudku Thomas. "
"Sudahlah, jangan menolak. Kalau kau tak ada disana saat aku sampai, aku akan memanggilmu melalui meja informasi. "
Annisa melongo saat mendengar ucapan lelaki asing itu. Sedangkan Thomas berlalu pergi meninggalkan Annisa.
"Come on son, kenapa kau malah melamun? " Christian menginterupsi. Thomas tenggelam dalam kenangan tentang Annisa.
"Yeah dad, lets go. "
****
Flashback on
"Hai, maaf aku sedikit terlambat. "
"Tak apa tu-- eh, Thomas. " Thomas terkekeh melihat tingkah Annisa yang berkali-kali memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Mari duduk disana. Temani aku makan. " Thomas menunjuk sebuah bangku kosong di pojok sebuah kedai. Tepatnya di dek paling atas KM LABOBAR. Untuk beberapa hari ini ia memang selalu makan di kedai tersebut. Pasalnya ia sama sekali tak berselera dengan menu makanan yang disediakan kapal.
"Bu saya pesan nasi rawon sama es teh satu. " ucap Thomas pada pelayan kedai tersebut. Sedangkan Annisa terperangah mendengar pesanan dari lelaki asing didepannya.
"Hei nona, kau tak mau memesan makan? "
Annisa tergagap mendengar suara Thomas. Ia tak habis pikir dengan lelaki asing didepannya ini. Ia kira lelaki asing akan makan makanan layaknya orang asing lainnya seperti roti, burger, pizza. Tapi lelaki didepannya ini berbeda.
"Jika kau berpikir kenapa aku tidak makan makanan bule, maka akan ku jawab. Kau tau sendiri kan disini tidak menjual makanan tersebut. Dan lagi, aku ini separuh indonesia, jadi wajar jika aku mencintai masakan indonesi. " Thomas menjawab panjang lebar seakan mengerti apa yang ada di otak Annisa.
"Jadi, kau tak akan memesan makanan? "
"Ah tidak perlu, kau saja. Aku tak lapar. Lagipula jika kau lupa, kau tadi hanya memintaku menemanimu makan. Bukan ikut makan. "
"What?? Kau sungguh membuatku terpesona nona. Baiklah kalau begitu akan kupesankan menu yang sama denganku." Thomas tergelak. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita macam Annisa. Apa dia tak tau bahwa temani aku makan artinya kita makan bersama?.
"kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Kau yang lucu Annisa. Kau lihat, aku bahkan tak berhenti tersenyum saat bersamamu."
"Kau kira aku badut atau pelawak?"
"Entahlah, aku merasa bahagia saat ada didekatmu. Baiklah kita ganti topik kita, jadi kau mau pergi kemana dengan besi mengapung ini? "
"Batas paling timur indonesia. Bagaimana denganmu? Kau akan pergi kemana? "
"Wah ternyata kita satu tujuan. Aku juga akan pergi ke Merauke. Lalu untuk apa kau kesana?"
"Aku akan mengajar disana."
"Kau seorang guru? Pantas kau terlihat cerdas."
"Seorang yang cerdas itu tak bisa dilihat hanya dari penampilannya saja Thomas. By the way, bolehkah jika aku memanggilmu Thom? Namamu terlalu panjang untuk kusebut. "
"tentu saja boleh. Apakah itu semacam panggilan sayang untukku? " Thomas terkekeh,
"Hei, itu kan namamu, apanya yang panggilan sayang. " Wajah Annisa merona merah.
Baru dua kali pertemuannya dengan Thomas tapi mereka terlihat akrab. Mereka tak lagi sungkan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Sampai akhirnya waktu mereka tiba. Kota paling timur indonesia sudah menampakkan diri. Dari kejauhan gugusan pulau-pulau paling timur indonesia ini tampak begitu memesona. Begitu indah.
"Annisa saat kita turun nanti, bolehkah aku mengantarmu sampai ke tempat tinggalmu?"
"Tak perlu Thom, ada teman yang menjemputku di pelabuhan sana."
"Kalau begitu berikan aku alamat lengkap tempat tinggal atau sekolah tempatmu mengajar. Besok aku akan menemuimu lagi. "
"Kurasa itu tak perlu, untuk urusan apa kau ingin menemuiku? Jika memang penting kau bisa katakan sekarang. "
"Entahlah, mungkin saja besok urusan rindu akan muncul. Jika aku tak tau dimana kau tinggal, bagaimana aku akan melepaskan rinduku? "
"Ah sudahlah, semakin kesini kurasa kau semakin tak masuk akal. Bagaimana mungkin kau akan merindukanku. "
"Come on Annisa, bukannya kau mengizinkan ku untuk mengenalmu lebih dekat. "
"Kau sudah mengenalku bukan? I think that's enough. "
"Ayolah, setidaknya beri aku nomor telponmu. Aku rasa aku benar-benar ingin menjalin sebuah hubungan denganmu."
"Kita sedang menjalinnya bukan? Hubungan pertemanan."
"I want more than just a friend. jadilah kekasihku Annisa. Kurasa aku jatuh cinta padamu. "
"Hei tuan, kita bahkan hanya empat hari tiga malam saling mengenal dan kau bilang kau jatuh cinta padaku? "
"Cinta bukan tentang seberapa lama kita saling mengenal Nisa. Cinta itu tentang bagaimana nyamannya kita bersama seseorang. Terlepas kau sudah lama mengenalnya atau baru sebentar. "
"Kau tak akan jatuh cinta pada gadis sepertiku Thom. "
"I've done it. Aku jatuh cinta padamu. "
"Dua atau tiga hari kedepan kau akan langsung melupakanku. "
"Kenapa kau seyakin itu? "
"Karena semua lelaki seperti itu bukan?"
"No Annisa, tidak semua seperti itu. "
"Percayalah Thom, kau tak akan memikirkanku setelah tiga hari. "
"Kau menantangku Nisa, jadi kau tak akan memberiku nomor ponselmu? "
"Never. "
"Baiklah aku akan mengikutimu nanti. "
"Tak apa, aku akan teriak agar semua orang tau kau seorang penguntit. " Annisa terkekeh.
"Ayolah Nisa, berikan saja alamatmu, apa susahnya? "
"Aku bahkan belum tau dimana aku akan tinggal Thom, begini saja, saat di kota nanti, jika kita bertemu lagi, aku akan memberikan nomor ponsel juga alamatku. Itupun jika kau masih mengingatku. "
"Itu terlalu biasa Annisa, jika nanti kita bertemu lagi, kau harus menjadi kekasihku. Bagaimana?"
"Dasar bule konyol. Perjanjian macam apa itu?"
"terserah kau saja Thom, aku harus pergi, sudah waktunya sholat dzuhur. " ucapnya sambil berlalu pergi.
"Annisa,"
"Ya? "
"bolehkah aku ikut? "
"Kemana? "
"Ketempat ibadahmu. "
"Untuk apa kau kesana? "
"Apakah non muslim dilarang masuk kedalam sana? "
"Tentu tidak, hanya saja apa yang akan kau lakukan didalam sana? "
"Aku hanya ingin melihat-lihat. "
"Baiklah. "
****
Merauke tiga tahun silam.
Setelah setengah jam kapal berlabuh, para penumpang antri turun. Namun berbeda dengan Annisa, ia masih berdiri di buritan kapal dengan satu kopernya sambil memandangi tepi dermaga yang terlihat amat sibuk. Sepasang mata tengah memandanginya. Tampak kedua sudut bibirnya tertarik ke atas hingga menampilkan deretan gigi yang putih dan begitu rapi. Lelaki itu berjalan mendekat.
"Kau tak ingin turun? " lelaki asing itu mengambil tempat disebelah Annisa. Annisa menoleh, kemudian tersenyum.
"Masih terlalu ramai, mungkin setengah jam lagi aku akan turun. Lalu kau, kenapa masih disini? "
"Tadinya aku akan turun. Tapi mataku terlalu pintar menangkap pemandangan indah didepannya. Kali ini kau tak akan bunuh diri kan?"
"Apa aku terlihat seperti orang yang akan bunuh diri tuan?" Annisa menoleh hingga pandangan mereka saling bertaut.
"Entahlah, aku melihat luka dan duka dimatamu." Thomas menatap lekat manik mata indah milik Annisa. Untuk sejenak Annisa tenggelam dalam tatapan elang Thomas. Tajam dan penuh iba.
"Ah, kau sok tau Thomas, maaf aku harus pergi. Permisi. " Annisa berbalik, dan belum sempat ia meraih kopernya, Thomas sudah berjalan didepannya sambil menyeret koper miliknya.
"Biar aku temani kau sampai bawah." Ucap Thomas tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Annisa mengekor dibelakangnya.
Setelah turun dari kapal pesiar itu, keduanya langsung menuju area parkir mobil. Biasanya area parkir tersebut akan penuh saat ada kapal yang berlabuh. Ada yang mengantar juga ada yang menjemput.
"Jika tidak ada yang menjemput, biar aku saja yang mengantarmu. Temanku ada disekitar sini, aku bisa memberimu tumpangan. " ucap Thomas setelah ia kembali dengan membawa dua botol air mineral dan menyodorkannya pada Annisa yang tengah duduk di atas koper dan sedang sibuk dengan ponselnya.
"Terimakasih, itu tak perlu, temanku sudah datang." Annisa beranjak sambil menyeret kopernya menuju sebuah mobil suv hitam yang baru saja tiba.
Thomas menunduk. Memandangi botol air mineralnya. Tersenyum getir.
"hey," suara Annisa membuatnya mendongak.
"Ya? "
"Glad to see you here. " ia beranjak pergi. Thomas tersenyum.
"Hey." Gadis itu berhenti lagi kemudian menoleh.
"I'll find you soon. " sesaat keduanya tersenyum sebelum Annisa benar-benar menghilang dibalik mobil yang ia tumpangi.
I'll find you soon Nisa. Ucap Thomas dalam hati.
"Hey bro, apa yang kau lihat? " Seorang lelaki menepuk bahunya.
"Hey Dri, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau senyum-senyum sendiri? "
"Sepertinya aku jatuh cinta, kau pandai melacak orang bukan? Bantu aku menemukan gadis itu. "
"Ya baiklah, akan ku bantu, yang mana gadisnya?"
"Namanya Annisa, dan dia baru saja pergi. "
"Lalu apa lagi yang kau tau tentang dia?"
"Dia seorang guru. "
"Mengajar dimana?"
"Hanya itu yang ku tau. "
"What? Are you kidding me? Hanya itu yang kau tau tentangnya? Dan kau ingin aku mencarinya? "
"Itu keahlianmu bukan? "
"Ini Merauke bro, tempat ini sungguh luas. Dan
Dan kau hanya tau dua hal tentang gadis itu? Lupakan saja, jangan beri aku pekerjaan konyol. Ayahmu sudah cukup menyusahkanku. Jangan tambah kesusahanku lagi. "
Adrian, lelaki berusia dua puluh empat tahun itu adalah temannya semasa kuliah juga bawahan sang ayah. Mereka sudah seperti saudara. Christian dan Irina sudah menganggap Adrian seperti anaknya sendiri.
****
"Maaf ya Nis kamu harus nunggu lama, ini mobil bener-bener nyusahin. " Rina, kakak tingkatnya sewaktu kuliah. Dulu mereka lumayan dekat karena mereka sama-sama mengikuti kegiatan extrakulikuler EDS(English Debating Society).
"Tak apa mbak, nggak lama kok. Maaf ngerepotin mbak. "
"Eh ngerepotin apanya? Aku malah seneng kamu kesini. Jadi ada temennya. "
"Emang mbak nggak punya temen disini? Ngenes amat. " Annisa terkekeh.
"Ya ada, tapi kan yang satu almamater nggak ada. ngomong-ngomong, kenapa kamu mau aja jadi relawab di sini? "
"Lagi suntuk mbak, ingin menikmati suasana baru. "
"Kenapa nih? Patah hati? " cibir Rina.
Ia tau bahwa Nisa memang tengah patah hati, Roby pacarnya diam-diam sudah bertunangan dengan salah satu teman kuliahnya. Padahal lelaki itu sudah pernah datang dan terang-terangan meminta izin pada orangtuanya untuk menjalin hubungan dengannya.
"Mbak, kalau sudah tau luka, kenapa harus ditetesin air garem? Makin dalem lukanya. Harusnya mbak tetesin betadine gitu biar cepet kering. "
"Yaallah Nis, udah deh galaunya. Nanti insyaallah kamu akan dapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Roby. Lupain dia. "
"Ia mbak, ini juga lagi dilupain, tapi mbak ingetin lagi. "
"Ya deh maaf, mau makan dulu apa langsung pulang ke kontrakan? "
"Pulang aja lah mbak. Aku masih kenyang. "
"Oke deh. "
Keesokan harinya, Annisa sudah bersiap-siap melakukan kegiatan barunya. Ia akan mengajar di salah satu sekolah dasar di kota itu. Tak begitu terpencil, jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari rumah tempatnya tinggal. Namun untuk sampai di sekolah, ia harus menyebrangi sungai dengan perahu terlebih dahulu. Butuh waktu sekitar lima belas menit.
"Tiap hari kayak gini mbak? " Annisa berada di bagian depan perahu bersama Rina. Ia begitu menikmati perjalanannya menuju sekolah. Perahu yang ia dan Rina tumpangi, penuh dengan anak-anak berseragam merah putih. Sekitar dua puluh orang. Perahu itu hanya mampu menampung sekitar dua puluh lima orang saja.
"Kayak gini gimana Nis? " Gadis itu tengah melahap roti isi coklatnya.
"Menyenangkan ada disini mbak. Anak-anaknya ramah. Alamnya indah. Bakal betah disini. " ucap Annisa.
"Belum seberapa Nis, nanti aku ajak kamu keliling kota. Pasti semakin betah kamu disini."
****
"Hei dad, kau apakan sahabatku ini sehingga dia menolak untuk membantuku? " Thomas dan Adrian memasuki ruangan Christian.
"Memangnya kau butuh apa nak?"
"Dia jatuh cinta om, dia sedang mengejar seorang gadis. " Adrian menyahut.
"Benarkah? Baru lagi? Lalu bagaimana dengan Emily " Alis Christian bertaut. Yang ia tau, belakangan, Thomas tengah menjalin kasih dengan anak salah satu rekan bisnisnya.
"Ah dad, kau tak tau kabarnya? Dia mencampakkanku tepat setelah aku melamarnya. "
"Benarkah? " Adrian dan Christian tergelak.
"Bagaiamana bisa seorang Thomas dicampakkan kekasihnya? "
"Mungkin dia kurang jantan paman. " Adrian berseloroh. Disusul gelak tawa keduanya.
"Hei, tutup mulutmu Dri. Dia punya mainan baru yang samasekali tak selevel denganku."
"Lupakan Emily, ceritakan tentang gadis itu. "
"Dia bahkan tak memberiku nomor ponselnya. Hanya nama dan profesinya saja yang ku tau. Apa kau bisa membantu dad? "
"Jika memang aku bisa, mengapa tidak. Apa profesinya? "
"Dia seorang guru. "
"Guru? Baiklah mungkin tak akan sulit di cari. Adrian, kau ingat temanku yang ada di distrik Klasabi? Yang seorang kepala sekolah."
"Ah, pak Arsen bukan? Ya paman, aku ingat."
"Dia sudah menjelajahi seluruh sekolah yang ada di Merauke ini, coba tanyakan padanya. Mungkin saja dia tau. Kau masih ingat rumahnya bukan? "
"Ya, aku masih ingat. Baiklah Thom, kau mau mencarinya hari ini? "
"Tentu saja, I'm ready for the new love, ayo pergi. " ucapnya bersemangat.
"Tidak sekarang Thom, ada hal yang harus kau kerjakan dulu. Lagipula ini masih jam belajar. Kau tak akan menemukannya dirumah. Kau bisa pergi nanti sore. "
"Tugas apalagi dad? "
Christian mengambil sebuah map di laci mejanya, kemudian menyerahkan map berwarna biru itu pada Thomas.
"Dapatkan investor ini. Dia lumbung emas untuk kita. "
"Baiklah, sepertinya ini mudah. Dimana aku harus bertemu dengannya.? "
"Adrian akan ikut bersamamu. Kalian pergilah sekarang. "
Keduanya melangkah pergi dari ruangan Christian. Thomas begitu bersemangat menjalani hari pertamanya bekerja setelah cuti beberapa hari. Ia baru saja kembali dari Jakarta untuk menemui ibunya yang sakit. Ia lebih memilih menumpang kapal laut daripada naik pesawat terbang. Lebih menyenangkan bisa memandang lautan lepas selama berhari-hari. Dan setelah bertemu dengan Annisa di kapal itu, ia semakin jatuh cinta pada laut.
'Tunggu aku Annisa, aku akan segera menemukanmu. ' ucapnya dalam hati.