Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
I Love Him



"Serahkan anak itu, kita pergi sekarang." Sahut Thomas. Annisa hanya diam dan menunduk.


"Babe, kenapa diam saja? ayo pergi, serahkan Jo pada ibuku." ulangnya.


"I'm sorry dad, but I love him. Aku mencintai anakmu, dan aku tidak bisa meninggalkannya. Anak ini, aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Kami sendiri yang akan merawat Joshua." Christian terdiam dan tetap menatap tajam ke arah Annisa.


"Ayah dengar itu? Dia mencintaiku dan tidak akan meninggalkanku. Jangan coba mengusik kehidupan kami, dad." Annisa turut berdiri.


"Salah satu dari kalian, tinggal lah bersamaku. Jalankan perusahaan." Sahut Christian tegas.


Thomas menyeringai, sedang Kevin terbelalak tak percaya.


"Kau saja yang jalankan perusahaan ayah, Kev. Aku sama sekali tidak berminat dengan perusahaan itu."


"Kau saja Thom, kau sudah punya Jo. Ayah sudah pasti menginginkan mu menggantikannya." Kevin tau, sebenarnya sang ayah sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Mengingat kedua putranya telah menikah. Namun ia sama sekali tidak dapat menjanjikan hal itu untuk saat ini.


"Kevin benar, kau saja yang menggantikan ku Thom."


"Apa ayah tidak kuat lagi menjalankan perusahaan? Bukankah ayah sudah membuang kami?"


"Thomas! Jaga bicaramu." Sekali lagi Irina menghardik putra sulungnya.


"Aku tidak mau. Biar Kevin yang menjalankan perusahaan."


"Turuti ayahmu." Tegas Irina.


"Aku ingin tetap tinggal di sini, mom."


"Ada tumor di kepala ayah kalian. Mulai minggu depan, kami akan tinggal Singapura untuk pengobatan." Thomas, Kevin dan Annisa tercengang. Suasana hening untuk sesaat.


"Alright, jika Thomas tidak bersedia kau saja yang menggantikanku Kev."


"Dad, I'm sorry, aku tidak bisa pergi. Qiara .... Sebenarnya Qiara juga sedang dalam pengobatan."


"Pengobatan apa?" sahut Thomas.


"Ada masalah dengan rahimnya. Dokter sedang mengawasinya. Kami tidak bisa pergi kemana-mana." Kevin tertunduk. Thomas mengusap wajahnya kasar. Kemudian beralih menatap Annisa yang juga tengah menatapnya. Annisa mengangguk.


"Oke, aku akan pergi. Hanya sementara kan?"


"Iya, hanya sampai ayahmu sembuh. Setelah itu baru kita akan bicarakan tentang penerus ayah kalian." Sahut Irina.


****


Sebelum pulang, Annisa menyempatkan diri untuk menemui Qiara. Kevin bilang, sejak vonis dokter satu minggu yang lalu, Qiara selalu mengurung diri di kamar.


Endometriosis adalah penyakit pada sistem reproduksi wanita. Kondisi ini dapat menyebabkan jaringan dari lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim. Endometriosis terjadi saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Jika seorang wanita mengidap endometriosis, jaringan tersebut juga mengalami proses penebalan dan luruh, yang sama dengan siklus menstruasi. Namun, darah tersebut akhirnya mengendap dan tidak bisa keluar karena terletak di luar rahim sehingga dapat mengiritasi jaringan di sekitarnya.


Bagi seorang wanita, jika dokter sudah mengeluarkan vonis ini, maka akan sulit baginya untuk mengandung dan melahirkan. Itulah yang Qiara percaya, bahwa ia tidak akan bisa punya anak karena penyakitnya. Sehingga sepanjang hari ia hanya mengurung diri dan menangis.


"Qi ... Kau di dalam?" Ucap Annisa sembari mengetuk pintu. Terdengar isakan dari dalam kamar. Annisa langsung masuk dan duduk di tepi ranjang, melihat Qiara yang sedang meringkuk dan menangis. Annisa mengusap pundaknya.


"Yang sabar Qi, semua akan baik-baik saja." Qiara bangkit kemudian memeluk kakak iparnya itu.


"Aku tidak akan bisa hamil mbak, aku tidak akan bisa punya anak." Lirihnya.


"Hei, jangan bilang begitu. Ilmu kedokteran sekarang sudah canggih. Kau bisa sembuh dengan berobat. Turuti semua yang dokter katakan. Kau akan sembuh. Kau akan punya banyak anak." Ucapnya.


"Kau tau sendiri mbak, banyak dari mereka yang mempunyai masalah seperti ku, mereka tidak bisa punya anak."


"Kalau Allah menakdirkan ku tidak punya anak? Bukankah itu terlalu kejam? Itu tidak adil."


"Kau harus belajar menerima setiap takdir yang Allah berikan. Punya anak atau tidak, yang penting kita berusaha dan berdoa. Jangan terlalu menangis, jangan salahkan diri sendiri. Kau tau, stress akan mempengaruhi jalannya pengobatan mu." Qiara terdiam. Sesaat kemudian ia memandangi Annisa iba.


"Mbak, bagaimana bisa kau setegar ini saat tau suamimu mengkhianati mu? Kalau aku ada di posisi mu, mungkin aku akan bunuh diri." Annisa tersenyum.


"Dia tidak mengkhianati ku, Qi. Wanita itu adalah bagian dari masa lalu nya. Aku tidak di sisinya saat itu. Dia sama sekali tidak mengkhianati ku." Annisa menghela napas.


"Kalau menuruti amarah, mungkin saat itu juga, aku akan langsung mencampakkannya. Tapi aku melihat kesungguhan di sorot matanya. Kesungguhan untuk kembali pada jalan yang benar. Dia sudah bertaubat Qi, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya." Ucapnya panjang lebar.


Di ambang pintu, Irina tampak menangis mendengar kedua menantunya membicarakan Thomas. Ia masuk dan duduk di samping Annisa.


"Mungkin ini yang membuat Thomas tergila-gila padamu, Annisa. Hatimu sangat baik. Kau bahkan dengan senang hati bersedia membesarkan anak suamimu dengan perempuan lain. Kalau aku, mungkin aku sudah pergi meninggalkannya."


"Tuhan saja maha pemaaf bukan? Kalau aku meninggalkannya, bukankah menurut ibu, aku terlalu sombong?" Sahut Annisa. Irina meraihnya kedalam pelukan.


"Terimakasih, telah mencintainya dengan tulus." Lirih Irina.


****


"Aku mencintaimu." Ucap Thomas tiba-tiba. Annisa yang tengah minum air, seketika tersedak dan terbatuk-batuk.


"Are you okay?" Sahutnya panik. Ia menepuk-nepuk punggung Annisa. Jo sedang terlelap di kursi belakang. Bocah itu tidur dengan nyaman di car seat nya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Kenapa tiba-tiba kau mengucapkan itu?"


"Kenapa kau begitu terkejut sayang? Bukankah kau sudah terbiasa mendengarnya?"


"Lain kali, kalau mau mengucapkan itu lagi, lihat situasi dan kondisi dulu. Aku hampir mati tersedak karena mu."


"Iya, maafkan aku. You're okay right? perlukah kita ke rumah sakit?"


"Aku hanya tersedak air, untuk apa ke rumah sakit?"


"Bukankah kau bilang, kau hampir mati tadi?" Annisa mencebik kesal.


"Kau ini ... "Thomas tergelak melihat istrinya yang nampak kesal.


"Sebenarnya aku tidak ingin pergi." Sahut Annisa kemudian. Thomas menoleh sekilas, kemudian menepikan mobilnya di bahu jalan.


"kalau begitu, biar aku bicara lagi pada ayahku. Biar Kevin yang pergi."


"Mereka juga tidak bisa pergi, maksudku, kau saja yang pergi. Aku dan Jo akan tetap disini. Aku tidak mungkin meninggalkan ayah dan ibuku sendiri."


"Aku juga tidak akan pergi kalau kau tidak mau ikut. Ayah dan ibu mu, kita bawa juga mereka ke sana."


"Mereka tidak akan mau Thom, kau saja yang pergi, biar aku tinggal di sini. Hanya sementara bukan?"


"Aku mau kau ikut dengan ku, Nisa." Ucapnya memelas.


"Oke, aku ikut. Dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


****