
Sinar matahari menembus melalui cela korden berwarna coklat muda dikamar itu. Thomas merasakan tangan kecil melingkar dari balik punggungnya. Ia terperanjat. Terkejut bukan main. Ia bangkit dari tidurnya.
"What the hell you doing here? " ia mendapati Anita tertidur disampingnya dengan hanya mengenakan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Anita terkesiap. Ia pun terkejut bukan kepalang.
Keduanya mencoba mengingat kembali kejadian semalam hingga mereka berakhir diranjang yang sama.
"Dasar bodoh. " Anita merutuki dirinya sendiri sembari memukul kepalanya.
"Emm, maafkan aku, aku harus pergi. " Thomas bergegas mengenakan pakaiannya yang berserahkan dilaintai kemudian melangkah keluar dari rumah bercat hijau itu. Meninggalkan Anita yabg masih terpaku di tempatnya. Ia masuk kedalam taksi yang ia cegat. Thomas menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Bodoh, you've done it again. Ia merutuk dirinya sendiri.
Hari itu ia tak masuk kantor. Ia memilih pergi ketempat kenangannya bersama Annisa. Ia ingin tenggelam dalam ingatan tentang gadisnya. Ia ingin melarikan diri dari kebodohan yang baru saja ia lakukan.
Hari-hari setelahnya Thomas sebisa mungkin menghindari Anita. Ia tidak ingin terperangkap lagi dalam kubangan dosa. Sedangkan Anita, ia merasa malu pada dirinya sendiri juga pada Thomas. Ia terlalu berani malam itu.
Dua bulan setelah kejadian malam itu, Anita mendapati perubahan pada dirinya. Pagi hari ia selalu merasa mual, kepala pening, juga mengalami mood swing. Ia sudah curiga bahwa dirinya hamil karena jadwal menstruasinya sudah lewat namun tamunya itu tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk memeriksakan diri kedokter kandungan. Ia dan Thomas masih saling menghindar. Thomas memindahkannya ke department lain dan tidak lagi menjadi sekretaris pribadinya. Terlihat kejam memang, tapi mungkin itulah yang terbaik bagi keduanya.
"Kandungan ibu berusia 7minggu 4 hari. Janinnya sehat. "
Dunia nya hancur seketika. Rasanya langit seolah runtuh menimpanya, berat. Hal yang paling ia takutkan, benar terjadi. Saat itu juga Anita memutuskan untuk memberitahu tentang kandungannya pada Thomas.
Langkahnya terhenti tepat didepan pintu ruangan Thomas. Tangannya hendak meraih gagang pintu yang tak tertutup itu. Ia menghentikan langkah dan samar mendengarkan percakapan Thomas dan ibunya.
"Lupakan dia son, jangan terus-terusan lari ditempat. You need to move on. Annisa sudah bahagia dengan hidupnya. "
"Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku mom, bagaimana bisa aku melupakannya? Bahkan saat ini aku hidup dengan seluruh kenangan yang dia ciptakan. "
"Jangan gila Thomas, kau harus terima kenyataan. Kau bahkan tidak pernah menjadi pilihan baginya. "
"Mom pulanglah, aku sedang banyak pekerjaan sekarang. "
Anita menyingkir dari depan pintu saat Irina membukanya. Irina sekilas menatapnya sebelum berlalu pergi.
Tok tok.
"Masuk. " Thomas sedikit terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Maaf mengganggu pak, ada yang ingin saya bicarakan. "
"Hmm, duduklah. "
"Saya ingin resign. "
Alis Thomas bertaut. Sedangkan Anita tengah menyembunyikan tangisnya. Ia mengurungkan niatnya memberitahu Thomas tentang janin yang ia kandung. Ia tak akan bisa mendapatkan hati bos nya itu, walaupun Thomas telah mereguk madunya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka pekerjaan barumu?"
"Bukan pak, saya akan pergi kerumah orang tua saya di kabupaten Sorong. "
"Baiklah, kau bisa menyerahkan surat pengunduran dirimu di HRD. "
Hatinya semakin hancur. Sebegitu tidak berharganya dia dimata Thomas. Lelaki itu bahkan tak meminta maaf atas kejadian malam itu. Saat itu juga ia bertekat akan membesarkan sendiri anaknya tanpa memberi tahu siapapun termasuk Thomas, ayah dari janin yang dikandungnya itu.
****
Hingga empat bulan lamanya, kondisi ummi tidak lebih baik dari sebelumnya. Ia menjalani serangkaian pengobatan untuk kanker darah yang dideritanya. Yang paling menyakitkan adalah kemoterapi. Ummi merasa seluruh tubuhnya sakit usai menjalani kemoterapi. Namun Annisa selalu meyakinkan ummi untuk tetap bertahan. Annisa dengan telaten merawat ummi. Orang tua Annisa juga seringkali mampir untuk menjenguk calon besannya. Bayu lebih sering video call untuk mengetahui perkembangan kesehatan ummi. Tak jarang lelaki itu tergugu saat tersambung dengan Annisa. Terakhir kali mereka bertelpon Bayu mengabarkan ia akan segera pulang ke indonesia. Ummi senang bukan kepalang mendengar kabar kedatangan putranya. Ia hanya bisa pasrah saat Bayu dan Annisa memilih menunda pernikahan dengan alasan kesehatannya.
"Nduk mas mu kapan pulang? " selalu itu yang ummi tanyakan selama sepekan setelah Bayu telpon.
"Insyaallah dua hari lagi sudah disini mi. "
"Nanti ummi ikut kamu jemput Bayu ya. Ummi kangen. "
"Mas Bayu pulang ke rumah dinas dulu mi, nggak langsung kemari. Biar Nisa aja yang jemput. Ummi istirahat saja dirumah ya. "
"Yasudah nduk, tapi setelah dari rumah dinas, langsung ajak Bayu pulang ya, jangan kemana-mana dulu. "
"Iya mi, pasti langsung pulang. "
Dua hari kemudian, sesampainya dirumah dinas, Bayu meletakkan ransel besar nya di lantai, dan sejenak merebahkan diri di sofa kemudian mengambil ponsel di saku PDL nya. Ia bermaksud mengabari Annisa bahwa ia sudah sampai di rumah dinasnya. Dia hendak memjamkan mata ketika pintu rumahnya diketuk. Apa itu Annisa? Batinnya. Bayu membuka pintu dan sesaat terpaku ditempat. Bukan Annisa yang datang melainkan serda Vina, juniornya sekaligus mantan pacarnya.
Gadis berambut lurus sebahu itu langsung masuk tanpa aba-aba membiarkan tuan rumah nya terdiam di depan pintu.
"Aku bawa makanan kesukaan abang. Makan bareng ya. " ucapnya sambil terus berjalan menuju dapur.
"Kamu ngapain disini? " Bayu mengikuti langkah gadis itu.
"Nganter makanan buat abang. Aku kangen sama abang. "
"Pulang saja, calon istri ku mau datang. Aku nggak mau dia salah paham. "
"Calon istri? Biar aku disini sekalian kenalan sama calon abang. "
"Jangan berulah Vin. Sebaiknya kamu pulang. "
"Abang ini sama sekali nggak peka ya. Abang pikir aku masuk AD demi siapa? Demi abang. Tapi abang malah mau nikah sama perempuan lain. Abang lupa sama janji abang utuk selalu jagain aku? "
"Jangan mulai lagi Vin, aku lelah. "
"Aku kesini untuk ajak abang makan, bukan berdebat. Duduk sini. " Vina menepuk kursi kosong disampingnya. Dan entah kenapa kali ini Bayu menurut saja.
"Seperti apa calon istri abang? "
"Abah dan Ummi sangat menyukainya. Bahkan dia dengan sukarela merawat ummi yang sedang sakit. "
"Aku juga akan ngelakuin hal yang sama seandainya kalian memberiku kesempatan."
Bayu beranjak dari duduknya. Ia membawa piring kosongnya ke tempat piring kotor. Vina mengikutinya.
"Sini piringnya. Biar aku aja yang cuci. " Vina menyerahkan piring ditangannya pada Bayu. Entah keberanian darimana, Vina kemudian memeluk Bayu dari belakang. Sebelumnya jarak mereka berdua tak pernah sedekat ini. Bayu menegang akibat pelukan dari Vina. Bayu memutar badan dan balas memeluk gadis didepannya. Mereka berpelukan lama, bisa dibilang terlalu lama. Vina mendapat dorongan yang lebih gila lagi. Ia mendongakkan wajahnya mendekat pada wajah Bayu. Terlalu dekat hingga keduanya saling merasakan napas menerpa wajah mereka masing-masing.
"Aku sangat mencintaimu bang. Aku nggak rela kamu nikah sama perempuan lain." ucapnya lirih. Vina mengecup bibir lelaki didepannya. Bayu tampak begitu terkejut. Ia hanya terdiam dan menikmati perlakuan Vina.
"Mas Bayu. "
****
"Yah, bu, Nisa kerumah mas Bayu dulu ya. Mau jemput mas Bayu di rumah dinasnya. "
"Iya nduk, nanti ayah dan ibu nyusul kerumah mertuamu. "
"Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. "
Annisa memacu mobilnya menuju batalyon tempat Bayu mengabdi. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di batalyon itu. Mobilnya berhenti tepat didepan pos penjagaan. Annisa membuka kaca mobilnya dan menyapa petugas.
"Siang pak. "
"Siang mbak, ada yang bisa saya bantu? " sapa petugas berpangkat praka itu. Namanya Dimas.
"Pak saya mau kerumah mas Bayu, apa sudah datang? "
"Bayu? Bayu yang mana mbak? Nama Bayu banyak disini. "
"Sertu Bayu pak. "
"Oh danru. Sudah dirumah mbak, sudah datang dari satu jam yang lalu. "
"Dengan mbak siapa? "
"Oh saya Nisa, calon istrinya. "
"Belum pak ini baru pertama kali saya kemari."
"Kalau begitu mari saya antar mbak. "
Praka Dimas menstater motornya dan melajukannya. Nisa mengikuti dari belakang. Ia baru pertama kali masuk kedalam asrama militer langsung dibuat takjub. Deretan rumah bercat hijau, yang sama modelnya. Terdapat nama tuan rumah beserta pangkatnya di atas pintu. Praka Dimas berhenti dirumah paling pojok di gang yang baru saja ia masuki kemudian turun dari motor. Annisa meminggirkan mobilnya dan bergegas turun.
"Ini rumahnya mbak. Saya permisi dulu. "
"Makasih pak. "
Praka Dimas tersenyum kemudian berlalu pergi. Nisa memasuki halaman rumah yang nampak asri itu. Rumah yang sederhana dengan taman kecil didepannya yang tampak terawat dan ditumbuhi beberapa jenis bunga. Entah siapa yang merawat semua tanaman itu saat Bayu tidak ada. Annisa mengetuk pintu sampai tiga kali namun sama sekali tidak ada sahutan. Ia memberanikan diri untuk masuk kedalam karena pintunya memang setengah terbuka. Diruang tamu kosong namun ia mendengar air mengalir dari arah dapur. Ia memanggil Bayu sekali lagi. Namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memasuki dapur.
"Mas Bayu. " Annisa terkejut bukan kepalang dengan apa yang terjadi didepannya. Ia tak dapat berkata-kata ketika mendapati calon suaminya tengah berciuman dengan wanita lain.
Bayu melepaskan pelukan Vina. Wajahnya mendadak pucat pasih.
"Aku bisa jelasin Nis, jangan salah paham. "
"Oh jadi mbak calon istrinya bang Bayu? Kenalin mbak, saya Vina pacarnya bang Bayu. Kita pacaran udah sejak SMA sampai mbak datang dan rebut bang Bayu dari saya. "
Annisa beringsut mundur ketika Bayu berjalan kearahnya.
"Maaf mas, aku dateng disaat yang nggak tepat. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Annisa memaksa kakinya melangkah dari tempat itu.
"Nis tunggu dulu, dengerin penjelasanku dulu. Aku sama Vina nggak ada hubungan apa-apa." Bayu berusaha mengejar. Namun Annisa tak menghiraukannya. Hingga Bayu meraih lengan Annisa dan menariknya. Annisa meronta.
"Harusnya kamu bilang mas kalau kamu sudah punya pacar. Harusnya kamu nggak perlu nerima perjodohan kita." matanya berkaca-kaca.
"Tapi aku sama Vina udah nggak ada hubungan apa-apa lagi Nis, kita udah lama putus."
"Lepasin mas, aku mau pulang. "
"Aku nggak akan biarin kamu pergi kemanapun sebelum kesalahpahaman ini selesai. Kita bicarakan semuanya baik-baik, ya." Bayu memelas.
"Lepasin atau aku teriak,"
"Nis, tolong, biar aku jelasin dulu. "
"Lepas. "
Bayu tetap mencekal lengan Annisa.
"Lepas sekarang juga atau--"
Bayu melepas cekalannya dengan terpaksa. Jika Annisa teriak, maka akan berakibat buruk buatnya. Dengan tergesah Annisa keluar dari rumah itu dan masuk kedalam mobilnya. Bayu mengejarnya.
"Nis kita bicarakan dulu semuanya baik-baik. Aku mohon. "
"Nggak sekarang mas. Mungkin besok atau lusa. Sebaiknya kamu cepat pulang. Ummi sudah nunggu kamu. Sampaikan maafku pada Ummi karena nggak bisa jenguk dia hari ini."
Annisa memacu mobilnya meninggalkan rumah Bayu. Ketika sampai dipos penjagaan ia membuka kaca mobilnya dan tersenyum tipis pada praka Dimas. Keluar dari gerbang batalyon, Annisa mempercepat laju mobilnya. Entah kemana. Ia tak tau arah sekarang.
****
Memasuki pelataran rumahnya, mendadak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia tau Annisa tidak akan kerumah Abahnya. Dalam hati, Bayu merasa sangat bersalah, entah bagaimana ia akan menjelaskannya pada ummi dan Abahnya. Namun yang ia pikirkan saat ini adalah ia merindukan umminya.
"Assalamualaikum. " Bayu membuka pintu rumahnya sambil mengucap salam. Terlihat orang tua Annisa dan orang tuanya tengah bercengkerama di ruang tamu. Ia langsung nersimpuh dan memeluk umminya.
"Waalaikumsalam nak, alhamdulillah kamu sudah datang. Ummi kangen sama kamu. "
"Ummi gimana keadaannya? "
"Alhamdulillah jauh lebih baik nak."
"Kamu nggak mau nyapa Abah dan calon mertuamu Yu? " Bayu melepaskan pelukannya dari ummi dan berjalan menuju Abah kemudian menyalaminya.
"Abah sehat? "
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat."
Kemudian Bayu mengahampiri orang tua Annisa yang duduk berdampingan dengan Abahnya.
"Pak bu, kalian sehat? " Bayu menyalami kedua calon mertuanya itu.
"Alhamdulillah sehat Yu. Kamu sendiri sehat kan. Lihat, ummi mu terlihat lebih bugar katena kedatanganmu sekarang. " Bayu tersenyum tipis. Kemudian ia duduk disamping umminya.
"Eh iya Yu Annisa mana? Kok belum masuk?" Umminya baru menyadari bahwa Annisa tak kunjung masuk kedalam.
Bayu tergagap. Ia sedang merangkai kata untuk mencari alasan.
"Yu, Annisa mana? Malah ngelamun. "
"Nisa, ehm sebenarnya Nisa nggak datang Mi."
Tampak raut terkejut dari empat orang tua tersebut. Sedangkan Bayu hanya menunduk."
"Loh bukannya tadi dia jemput kamu ke asrama Yu?" Calon ibu mertuanya bertanya.
"Iya bu tadi Nisa kesana. Tapi dia pergi. " Bayu masih belum menemukan kalimat yang pas untuk dijadikan alasan.
"Pergi kemana Yu? Kenapa nggak kamu ajak kesini dulu? " Ummi nya kini nampak khawatir. Bayu hanya bergeming.
"Yu kenapa diam? " kini ayah Annisa yang bertanya. Raut wajah Bayu semakin gelisah.
"Sebenarnya Annisa pergi karena salah paham pak."
"Salah paham apa le? "
Bayu menghela napas panjang. Ia mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tadi Nisa mergoki saya lagi--" ucapannya menggantung sehingga membuat semua orang yang berada diruangan itu semakin penasaran.
"Lagi apa Yu? Jangan bertele-tele. Ngomong yang jelas. " suara Abah meninggi.
Sekali lagi Bayu menghela napas. Bertepatan dengan pintu yang terbuka, Annisa muncul dari balik pintu.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. " semua orang yang berada disana serentak menjawab. Bayu begitu terkejut dengan kedatangan Annisa.
"Kamu dari mana nduk? Kenapa nggak bareng sama Bayu? "
"Maaf mi tadi Nisa ada urusan mendadak disekolah. Maaf ya mas tadi aku ninggalin kamu gitu aja, tadi kepala sekolah ngabarin kalau muridku pingsan. Jadi aku langsung kesana."
Sebenarnya itu hanya sebuah alasan. Annisa tidak ingin Bayu mengungkapkan yang sebenarnya karena takut kondisi ummi akan memburuk jika mendengar apa yang sudah Bayu lakukan.
"Yaallah, kamu bikin semua orang khawatir nduk. Yasudah kalau begitu kita makan siang bareng ya. Bi lilis, makanannya sudah disiapin kan?" Tanya Ummi setengah berteriak.
Bi lilis datang dengan tergopoh-gopoh.
"Sudah mi, monggo kalau mau makan sekarang."
Semua orang makan dalam diam. Termasuk Bayu dan Annisa. Terlihat jelas matanya sembab karena sempat menangis tadi. Bayu menatapnya penuh rasa penyesalan.
"Oh ya tadi kan kamu bilang kalau Nisa salah paham sama kamu Yu? Salah paham soal apa?"
****