
Annisa telah kembali pada aktifitas mengajarnya. Ia sudah dua hari cuti dan tidak mungkin ijin lagi. Tepat pukul 10 bel tanda istirahat berbunyi. Setelah membereskan barangnya, ia bergegas keluar untuk menuju ruang guru. Saat berjalan keluar kelas, ia melihat Arini juga tengah berjalan ke arah yang sama.
"Rin, tunggu. " Arini menoleh, kemudian berhenti. Annisa berjalan lebih cepat menghampiri Arini.
"Duh yang baru dapet cuti. Udah kelar dong persiapannya. " Annisa berdecih mendengar perkataan Arini. Kini hubungan keduanya telah membaik. Arini sudah mengerti semua masalah yang Annisa alami dan memakluminya. Pun Annisa kini mengerti bahwa sahabatnya itu menyukai calon suaminya. Ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Namun Arini selalu bersikap wajar, seperti tak pernah tertangkap bahwa ia mencintai Bayu. Pada akhirnya Annisa hanya bisa diam.
"Ummi sakit Rin. " rautnya tampak sendu.
"Sakit apa? "
"Blood cancer. " Arini mengentikan langkah demi mencerna apa yang baru saja ia dengar. Sedetik kemudian ia tergelak.
"Haha, bercandamu nggak mutu. Masa iya doain calon mertuanya sakit keras. "
"Aku nggak lagi bercanda Rin. Ummi terindikasi terkena kanker darah, aku sendiri yang nganter periksa kemarin. " Arini masih memandangi wajah sahabatnya itu. Ia menatap lekat mata Annisa seolah mencari cela kebohongan didalamnya. Namun sial, ia sama sekali tak menemukannya. Annisa serius, ia tidak berbohong.
"Kok bisa kena penyakit serem itu? Mas Bayu udah tau? " yang pertama kali Arini tanyakan adalah Bayu. Ia tau Bayu begitu mencintai umminya.
"Aku belum bilang belum di bolehin ummi." Annisa kembali melangkah dan diikuti Arini dibelakangnya.
"Mas Bayu pasti langsung down kalau dengar ummi sakit begitu. Mana lagi jauh, pulangnya masih lama juga. " kini Arini terlihat amat mengkhawatirkan Bayu. Kentara sekali jika ia begitu menyukai Bayu.
"Nanti sore jenguk ummi yuk. beliau pasti seneng kalau kamu jenguk. "
"Iya nanti kita kesana barengan. "
****
Bayu baru saja kembali dari desa Kabwela propinsi Tanganyika Republik Demokratik Kongo. Terjadi pertikaian antar suku disana. Kerusuhan dimana-mana. Pasukan satgas Kontingen Garuda mencoba menengahi dan mempertemukan para kepala suku. Setelah sepakat dicapai, akhirnya kedua suku tersebut berdamai.
Ia baru saja menyelesaikan mandinya, kemudian kembali ke barak. Umminya menelpon saat ia sedang memasang kaus hijau lumut pada tubuhnya. Ia segera meraih ponselnya dan mengangkatnya.
"Assalamualaikum ummi, ummi sehat? Baru saja Bayu mau telpon ummi. "
"Waalaikumsalam Yu, kamu sehat? Kamu kapan pulang nak? " suaranya sedikit bergetar. Kini Bayu semakin rindu pada malaikatnya itu.
"Alhamdulillah baik mi, ummi dan abah sehat kan? "
"Alhamdulillah nak, kami sehat. Kamu kapan pulang? " Bayu tersenyum mendengar pertanyaan umminya.
"Mi, Bayu disini baru dua bulan, masih ada empat bulan lagi." jawabnya halus. Hening sesaat. Namun kemudian ia mendengar sang ummi terisak.
"Yu, ummi kangen sama kamu. " hatinya teriris mendengar malaikatnya menangis. Sungguh ia tak suka mendengar umminya menangis.
"Ummi yang sabar ya, empat bulan nggak lama kok."
"Yu, ummi takut nggak punya waktu sampai empat bulan, dan ummi tidak sempat ketemu kamu, ummi cuma ingin bilang tolong maafkan semua kesalahan ummi, baik yang disengaja ataupun tidak. Maafkan ummi yang belum mampu menjadi ibu yang baik buat kamu. Setelah menikah nanti jadilah imam seperti abahmu. Belajarlah untuk menjadi suami juga ayah yang baik dari abahmu. Bahagiakan menantu ummi. "
"Ummi kenapa ngomong gitu,? " matanya berkaca-kaca.
"Umur manusia nggak ada yang tau le, mana tau allah ngambil nyawa ummi besok, lusa atau bahkan setelah telpon kamu."
"Jangan ngomong gitu mi, katanya ummi mau lihat Bayu menikah? "
"Insyaallah, Ummi usahakan nak. Ummi cuma ingin mengabarkan kalau saat ini ummi sedang sakit. Tapi jangan sampai kabar ini mempengaruhi tugasmu disana. "
"Sakit? Ummi sakit apa? Sudah kedokter? Bayu telponkan Annisa ya, biar Nisa antar ummi ke dokter. " cecarnya.
"Sudah nak tidak perlu khawatir, Nisa mengurus ummi dengan baik. Belum jadi mantu saja dia sudah rela merawat ummi, rela mondar-mondir untuk mengurus semua keperluan ummi. Nak, satu pesan ummi. Annisa perempuan berhati baik. Amat baik malah. Jaga dia, jangan sakiti dia. Ummi doakan semoga kalian berdua berjodoh dunia akhirat, agar bisa berkumpul bersama disurganya allah kelak. "
"Mi, ummi sebenarnya sakit apa? Kenapa ummi ngomong kayak gitu? "
"Mati itu pasti Yu, mau sakit atau sehat. Muda tua, kaya miskin semua pasti mati. Maka tugas kita manusia adalah mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita menemui allah. "
"Jawab Bayu mi, ummi sakit apa? Kenapa ngomongin mati? "
"Tanyakan pada Annisa. Dia sangat mengerti bagaimana kondisi ummi sekarang ini. Bukan ummi ingin mengganggu ketenanganmu dalam bertugas disana, hanya saja abahmu memaksa ummi menelpon untuk memberitahu keadaan ummi. Ummi tutup dulu ya, jaga diri baik-baik disana. assalamualaikum. "
Airmata Bayu luruh. Ia terisak. Ia amat takut kehilangan malaikat yang ia panggil ummi itu, karena ia belum sempat membahagiakan perempuan yang paling ia cintai.
****
Jam pelajaran telah usai. Seluruh siswa telah menghambur keluar. Tinggal Annisa sendiri didalam kelas dan masih membereskan barangnya. Kemudian telponnya berdering. Panggilan masuk dari Bayu.
"Assalamualaikum mas. " sapanya terlebih dahulu. Namun tak kunjung mendapat balasan dari seberang sana. Hanya terdengar suara isakan.
"Mas, mas Bayu kenapa? Mas nangis? "
"Ummi sakit apa Nis? " tanyanya tanpa basa-basi.
"Ummi sudah beritahu mas kalau beliau sakit?"
"Sudah, beliau cuma bilang kalau beliau sakit. Selebihnya aku disuruh nanya kamu. "
"Mas yang tenang ya. Diindikasi ummi kena leukimia mas. Insyaallah hari ini beliau tes sumsum tulang belakang. "
Isakan semakin menghebat. Lelaki itu tergugu.
"Mas doakan saja. Leukimia itu masih bisa sembuh asal perawatannya cepat dan tepat. Jangan khawatir. Insyaallah aku akan selalu temani ummi berobat, ya. "
Perlahan isakan itu memelan dan akhirnya berhenti setelah beberapa saat.
"Makasih ya Nis. Aku titip ummi sama kamu."
"Sama-sama mas. Emm, sebenarnya ada satu hal lagi yang mau aku omongin. " ucapnya ragu.
"Ngomong aja Nis, aku dengerin. "
"Mas, soal pernikahan gimana kalau kita tunda dulu sampai pengobatan ummi selesai. Minimal sampai tugas kamu selesai. "
Bayu diam untuk beberapa saat.
"Kamu jangan salah paham dulu mas, aku cuma nggak mau ummi lebih sibuk ngurus pernikahan kita dari pada pengobatannya. Dan lagi, beliau tidak boleh terlalu lelah. "
"Iya, kamu bener juga. Tapi ummi pasti kecewa dengernya Nis. Beliau ingin banget lihat kita segera menikah. "
"Nanti kita ngomong pelan-pelan sama ummi ya."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau begitu aku tutup telponnya ya. Titip ummi. Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. "
Annisa bernapas lega. Ia bersyukur Bayu setuju untuk menunda pernikahan mereka. Sebenarnya Annisa belum benar-benar siap untuk menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai. Ditambah lagi kondisi ummi yang sakit, dan juga Arini sahabatnya yang menyukai calon suaminya itu. Rasanya ia masih butuh waktu lebih lama untuk mencerna setiap episode yang allah takdirkan padanya.
****
Thomas sedang berdiri di balik jendela, di gedung kantornya yang menjulang. Ia tengah menerawang jauh keluar. Pikirannya berkecamuk. Tentang Annisa tentu saja. Ia seperti terkena karma karena telah banyak membuat perempuan disekitarnya menanggung malu karena ulahnya. Entah sudah berapa banyak gadis yang ia tiduri, kemudian hamil, lalu ia campakkan begitu saja. Teringat masa kelamnya jauh sebelum bertemu Annisa.
"Kau harus tanggung jawab Thomas. Bayi ini anakmu, darah dagingmu. Aku akan bunuh diri jika kau menolak menikahiku. "
"Anakku? Siapa yang bisa menjamin bahwa janin itu anakku? Siapa yang tau diluar sana kau juga tidur dengan laki-laki lain, bukan hanya denganku. Gugurkan saja bayi itu, kemudian lanjutkan hidupmu. "
Plakkk, tamaparan keras mendarat di pipi Thomas. Gadis itu menampar dengan sekuat tenaga. Thomas hanya menyeringai. Gadis itu berlalu meninggalkan Thomas. Keesokan harinya, Thomas mendapat kabar bahwa teman kencannya itu meninggal akibat terjun dari balkon apartment nya. Tepatnya dari lantai 20. Thomas hanya tersenyum mendengar kabar itu. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Tok tok
Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunannya. Setelah pintu terbuka, masuklah seorang gadis mengenakan blazer berwarna abu, kemeja berwarna coklat muda juga rok selutut berwarna abu. Gadis itu mendekap sebuah map berwarna kuning.
"Ya? " Thomas menoleh dan memandang gadis itu. Sedangkan gadis itu, tetap terpaku ditempatnya. Seakan waktu berhenti berputar. Rasanya ia seperti terhipnotis oleh ketampanan lelaki didepannya.
"Ada yang bisa saya bantu nona? "
Gadis itu segera sadar dari lamunannya.
"Eh iya pak, maaf. Boleh saya masuk? "
"Of course. Duduklah. " Thomas kemudian duduk dikursi kebanggaannya. Manager. Sebenarnya ia sama sekali tidak bangga dengan jabatan itu, karena apa yang ia capai sekarang bukanlah karena usaha dan kerja kerasnya sendiri, melainkan karena ia putra dari seorang Christian Williams.
"Ada yang bisa saya bantu nona? "
"Saya Anita pak, pengganti ibu Cindy. "
"Bapak tidak ingin melihat Cv saya, atau wawancara mungkin? "
"Kau sudah menemui HRD? "
"Sudah pak. "
"Kau sudah di interview oleh mereka bukan?"
"Sudah pak. "
"Kalau begitu untuk apa membuang waktu untuk mengerjakan hal yang sudah dikerjakan sebelumnya? It's wasting time."
Anita bergeming. Ternyata bosnya sama sekali tidak ingin basa-basi.
"Kau masih mau duduk disini? "
"Eh iya pak maaf, saya permisi. "
"Satu lagi Anita, jika kau tidak mengerti tentang sesuatu, tanyakan saja pada Agung. Dia akan membantumu. "
"Baik pak terima kasih. "
****
Dua bulan bekerja dengan Thomas, membuat Anita benar-benar betah dengan pekerjaannya. Walaupun Thomas selalu memberinya pekerjaan yang tidak manusiawi, ia tetap lakukan. Ia betah berlama-lama menatap bos barunya itu. Suatu ketika, usai makan siang dengan klien Anita yang berjalan dibelakang Thomas menyatakan perasaannya pada Thomas. Tentu saja hanya di tanggapi dingin oleh lelaki itu.
"pak sepertinya saya menyukaimu. " Thomas berhenti sejenak dan menoleh kearah gadis dibelakangnya. Ia menatap tajam.
"Berani sekali kau bicara seperti itu. " ucapnya begitu angkuh.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Apa salah? Lagipula banyak sekali dongeng yang mengisahkan atasan dan sekretarisnya saling jatuh cinta. Saya lihat bapak juga selalu sendiri."
"Dongeng? Kalau begitu bermimpi saja. Dan bersiaplah terjatuh saat mimpi itu menghempaskanmu. Lagipula apa urusanmu dengan kesendirian saya. " Ia kembali melangkah.
"Kau tau bos, orang yang tidak bisa berdamai dengan masalalunya, sejatinya tengah membawa beban dalam hatinya kemana-kemana. Otaknya dipengaruhi oleh perasaan. Just, let it go.. "
"bisakah kau berhenti mengoceh nona? " Thomas mencebik kesal. Bisa-bisanya gadis itu menceramahinya tentang masalalu.
"Hal terbodoh yang dilakukan oleh orang yang sedang patah hati adalah menunggu. Menunggu sesuatu yang dia sendiri pun tidak tau sampai kapan dan dimana ujungnya. "
Thomas menghentikan langkahnya. Kini ia benar-benar dibuat kesal oleh sekretarisnya itu. Ia membalikkan badan dan menatap tajam ke arah Anita.
"Kau tau Anita, sekarang kau benar-benar sudah membuatku kesal. Kau pilih mau berhenti mengoceh atau berhenti dari pekerjaanmu?" Ucap Thomas mengancam.
Anita terdiam seribu bahasa, kemudian kembali mengekor di belakang Thomas.
****
Usai menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Anita segera membereskan barang-barangnya. Ia bergegas turun ke area parkir. Mendung semakin pekat pertanda akan segera turun hujan. Anita bergegas memacu motornya agar tidak sampai kehujanan. Namun sialnya hujan tidak mau berkompromi dengannya. Dia sedang tidak membawa jas hujan, mau tidak mau pilihannya ada dua menerjang hujan atau menunggu hujan reda. Namun jika ia menunggu reda, tentu saja akan lama, akhirnya Anita memutuskan untuk menerjang hujan.
Ditengah jalan, ia melihat sosok yang begitu ia kenal. Punggungnya, cara berjalannya. Setelah melewati sosok itu, ia menoleh kebelakang. Dugaannya benar, itu Thomas bosnya. Ia menghentikan motornya dan memutuskan untuk menunggu Thomas yang sedang berjalan kearah yang sama. Hingga Thomas telah berada di depannya, ia mengejutkan Thomas. Lelaki itu tampak begitu menikmati hujan. Tatapannya begitu sendu
"Hai bos. " ia setengah teriak karena suaranya tertelan oleh suara derasnya hujan.
Thomas menoleh, dan terbelalak kaget mendapati Anita berdiri didepannya.
"Kau seperti hantu. Muncul begitu saja. " Thomas melanjutkan langkahnya. Menikmati hujan.
"Sedang menikmati genangan? Eh maaf, maksudku kenangan. " Anita mengekor dibelakang Thomas meninggalkan motornya yang sudah dipinggirkan ke bahu jalan.
"Kau ini benar-benar. " Thomas ingin mengumpat namun ia urungkan. "Ah sudahlah, untuk apa kau mengikutiku. Pulang sana. "
"Jangan terlalu tenggelam dalam kenangan bos, nanti kau bisa mati karena kehabisan napas. " Gadis itu tergelak. Thomas hanya menatap dingin.
"Baiklah maafkan aku bos, bagaimana kalau kau berkunjung kerumahku, aku punya teh yang amat istimewa. Minumlah bersamaku. "
"Teh? " Hanya sebuah tawaran untuk minum teh saja sudah mampu membangkitkan seluruh kenangannya tentang Annisa.
"Ya, teh houjicha. Dari jepang. Kau mau? "
Thomas menunduk.
"Punya kenangan buruk dengan teh? "
"Baiklah, dimana rumahmu? "
"Masih jauh, dan kita akan sampai larut malam jika hanya jalan kaki. Tunggu disini, akan kuambil motorku. " Anita berlari menuju motornya, kemudian memacunya kearah Thomas.
"Mundurlah, biar aku yang bawa. "
"Baiklah. "
Tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Thomas tenggelam dalam lamunanya.
"Kenapa menangis? " gadis didepannya hanya bergeming. Ia dan Annisa tengah duduk di depan minimarket. Dan sedang menunggu hujan reda. Thomas membawa motor saat itu, siapa sangka hujan akan turun.
"Kemarilah, " Thomas meraih tangan Annisa dan menariknya masuk kedalam rinai hujan.
"Kau tau bagian terbaik dari hujan? "
"Apa? "
"Rinainya akan menyembunyikan tangismu. " gadis itu tersenyum kemudian memeluknya.
"Depan belok kiri bos, rumahku yang berwarna hijau. "
Thomas menghentikan motor tepat di depan runah bercat hijau. Bergaya minimalis dan terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi bunga.
"Ayo masuk bos. "
Thomas mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan Anita. Ia mengenakan kaos berwarna putih juga celana selutut. Milik kakak laki-laki Anita.
Anita datang dengan membawa satu nampan berisi dua gelas teh, kemudian meletakkannya di atas meja. Sedangkan Thomas, sedang memainkan remote untuk memindah saluran televisi.
"Minum teh mu dulu bos. "
Thomas menyesap tehnya, kemudian alisnya bertaut.
"Kenapa rasanya aneh? "
"Houjicha namanya. Ibuku membelinya dijepang. Keistimewaan teh ini terletak pada aromanya yang lebih kuat karena terbuat dari daun teh hijau yang dipanggang hingga berubah menjadi lebih gelap.
Proses pemanggangan ini membuat air seduhan houjicha menjadi merah kecokelatan. Meski warna dan aromanya lebih pekat dibandingkan teh hijau, namun teh ini justru memiliki kandungan kafein yang jauh lebih rendah. "
"Detail sekali. " komentar Thomas.
"Apanya? "
"Penjelasanmu. "
"Kau tau, aku sebenarnya tidak terlalu menyukai teh. " Thomas melanjutkan kalimatnya.
"Lalu kenapa kau mau menerima tawaranku?"
"It's always reminds me to someone. "
"Pacarmu? " Anita menatap penuh minat.
"Ex. "
"Well aku sangat penasaran bagaimana rupa mantan pacarmu itu, but come on, lupakan dia untuk sementara waktu. Ada aku didepanmu. "
Thomas menatap lekat gadis didepannya. Jika dilihat, wajahnya lumayan cantik, mata bulat, hidung yang lancip dan mungil, pipi tirus dan bibir tipisnya. Thomas mengalihkan pandangannya. Naluri lelakinya terusik.
"kenapa kau sama sekali tak ingin memandangku bos? Apa aku tidak selevel dengannya? " Anita mendekatkan wajahnya kearah Thomas, tercium aroma parfum maskulin milik lelaki itu.
Thomas menatap gadis itu. Pandangan mereka saling bertemu, dan semakin dekat. Hingga tak ada jarak antara keduanya. Thomas dan Anita tersesat dalam kabut nafsu. Sementara hujan diluar, turun semakin lebat.
****