
"What's wrong? Kenapa menangis?" Thomas terlihat panik saat melihat istrinya menghambur memeluknya sambil menangis.
"Kita cari mbak Anita, Thom."
"Anita? Kemana?" Annisa menyodorkan ponselnya pada Thomas setelah
membuka pesan suara dari Anita. Thomas hanya bergeming usai
mendengarnya.
"Kita cari dia, ya?"
"Mau cari kemana, Nisa? Ini sudah malam."
"Justru karena ini sudah malam, kita harus segera mencari mbak Anita. Kalau sampai ada apa-apa di jalan bagimana?"
Thomas berjalan masuk mendekat ke kursi di ruang tamu. Ia meraih sebuah surat yang tergeletak di meja.
Assalamualaikum, Annisa.
Kalian bersenang-senang hari ini? Terimakasih sudah berkenan
menjaga Jo hari ini. Maaf jika aku merepotkanmu. Maaf karena aku sempat
ingin mengacaukan pernikahanmu dengan Thomas. Aku pulang ke Makasar.
Jangan mencariku. Aku titip Jo. Jaga dia. Rawat dia dan anggaplah
seperti anakmu sendiri. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku yakin,
kau akan menjadi ibu yang baik buat Jo.
Sampaikan salamku pada Thomas, juga Jo. Berbahagialah. Lupakan aku.
Annisa menggenggam erat kertas itu, tangisnya menghebat. Baru
beberapa hari saja bertemu dengan Anita, ia sudah mampu merasakan
bagaimana penderitaan wanita itu. Thomas memeluknya erat dan menepuk
lembut punggungnya. Ia tak sampai hati melihat wanitanya menangis.
"Sayang, sudahlah. Jangan menangis."
"Kita harus bagaimana? Kalau terjadi hal buruk pada mbak Anita, bagaimana? Lalu Jo? Kenapa dia tega ninggalin anaknya sendiri?"
"Ssshh, semua akan baik-baik saja. Tenanglah. Kita bawa Jo pulang ke
rumah. Besok kita coba telpon Anita, oke?" Annisa hanya mengangguk.
Kemudian Thomas masuk ke dalam kamar dan menggendong Jo yang sedang
terlelap.
"Biar aku yang gendong Jo." Pinta Annisa.
"Tidak usah, biar aku saja. Kau duduklah dengan tenang."
"Tapi kau kan mengemudi?"
"Tidak apa sayang. Lagipula rumah kita dekat dari sini."
"Baiklah." Annisa mengekor di belakang Thomas menuju mobil. Thomas
membukakan pintu mobil dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya sibuk
menggendong Jo.
Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh ayah dan ibu Annisa.
Mereka duduk di teras rumah. Raut wajah mereka nampak sedikit terkejut
saat melihat Thomas turun dengan menggendong bocah lelaki berumur tiga
tahunan.
"Ini anak yang kau ceritakan?" Pak Diono langsung memandangi wajah Jo dengan seksama.
"Iya yah, namanya Joshua." Timpal Annisa singkat. Ia langsung beranjak menuju kamar.
"Kami ke kamar dulu." Ucap Thomas sambil mengekor di belakang Annisa.
Setelah merebahkan Jo, Thomas hendak keluar dari kamar, namun Annisa menahan lengannya. Ia kembali terisak. Thomas mendekapnya.
"Istirahatlah. Aku akan bicara dengan ayah dan ibu."
"hmm, cepat kembali."
Thomas beranjak meninggalkan Annisa setelah ia mengecup puncak kepala
istrinya. Wanita itu kemudian merebahkan badan di samping Jo. Saat di
luar ayah dan ibu mertuanya sudah menunggunya. Keduanya nampak sedikit
gelisah.
"Jadi dia anakmu?" tanya o\pak Diono saat ia sudah berhadapan dengan ayah mertuanya itu.
"iya, ayah. Ibunya sudah pergi. Wanita itu sudah kembali ke tempat asalnya, wanita itu ke Makasar."
"Lalu anak itu, akan tinggal di sini?" Timpal ibu mertuanya.
"Ya, jika ayah dan ibu tidak keberatan."
"Tentu kami tidak keberatan,Thomas. Kami akan sangat senang jika ada anak anak kecil di rumah ini."
"Syukurlah. Terimakasih ayah, ibu."
"iya, sama-sama. Sekarang istirahatlah. Ini sudah malam."
"Baik ayah, sekali lagi terimakasih."
****
"Apa kita susul saja mbak Anita ke Makasar?" Ucap Annisa ketika is
selesai memandikan Jo dan memakaikan pakaian pada bocah kecil itu.
"Ini pilihannya, Annisa, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia akan
baik-baik saja." Thomas menanggapi malas perkataan sang istri dengan
"Tapi bagaimana dengan Jo? Dia ibunya, bagaimana bisa Dia anaknya sendiri di sini."
"Tapi sekarang kau juga ibunya bukan?"
"Tapi setidaknya dia berpamitan, bukan pergi begitu saja."
"Dia sudah meninggalkan surat, kau lupa?"
"Apa kau tidak tau di mana alamatnya? Dia sekretarismu bukan? Harusnya kau tau dimana dia tinggal."
"Tidak tahu dan tidak ingin tahu. Bersiaplah. Setelah ini aku akan mengajakmu ke rumah Kevin."
"Oke, tapi coba ingat-ingat, mungkin kau pernah menyimpan alamat mbak Anita?"
"That's enough, babe. Tolong biarkan dia pergi dengan tenang.
Bukannya kau sendiri dengan senang hati mau merawat Jo? Kenapa sekarang
kau ingin mencari ibu kandungnya?"
"Tapi dia masih kecil Thom. Mbak Anita juga sedang sakit keras. Harusnya kita menemaninya."
Thomas menggenggam jemari istrinya, dan menatapnya lekat.
"Percayalah,
Anita akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir padanya.
Bersiap-siaplah. Kevin bilang dia ingin bicara hal penting pada kita."
"Iya, baiklah. Aku akan bersiap. Gendong Jo dulu." Thomas meraih Jo, dan mengajaknya keluar kamar.
"Kalian akan pergi?" Tanya ayah mertuanya ketika melihat Jo dan dirinya sudah rapi.
"iya, kami akan mengunjungi adikku sebentar."
"Makanlah dulu, Jo biar ayah yang pegang."
"baik, yah. Terima kasih."
Pukul
sembilan pagi, Annisa, Thomas dan Jo sampai di rumah orang tua yang di
tempati Kevin. Semalam, Kevin menelpon bahwa ada yang ingin ia bicarakan
dengan kakak, juga kakak iparnya itu.
"Kev, kau
dimana? Kami sudah datang!" Seru Thomas. Sambil menggendong Jo, Thomas
langsung masuk menuju ruang tamu, dan betapa terkejutnya ia, ketika
mendapati siapa yang tengah duduk berhadapan dengan adiknya itu. Sang
ayah, dengan tatapan dinginnya, seakan mengintimidasi. Kevin menunduk.
"Nisa,
pergilah ke kamar Qiara, ajak Jo bersamamu." Annisa tampak gugup.
Terakhir kali bertatap muka dengan Christian, pertemuannya benar-benar
kacau, lelaki tua itu bahkan berkali-kali menyumpahi anak kandungnya
sendiri. Ia merauh Jo, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri.
"Siapa anak itu?" Suara berat Christian menghentikan langkahnya. Thomas duduk berhadapan dengan sang ayah.
"Bukan urusan mu, Dad. Bukankah kau tidak peduli lagi pada kami, untuk apa lagi kau datang kemari."
"Thomas!
dimana sopan santunmu pada orang tua?" Sahut Irina yang baru saja turun
dari lantai atas, ia duduk disamping putra sulungnya. Lelaki itu
menyugar rambutnya kasar.
"I'm sorry, dad." lirihnya.
"Namanya Joshua, he's my son." lanjutnya.
"Dari perempuan yang mana lagi?" Kini Irina menyelidik.
"Anita, mantan sekretarisku." Irina menghela napas panjang, kemudian menatap ke arah Annisa dan Joshua.
"Duduklah Nisa." Sahut Irina. Ia menatap iba ke arah menantunya tersebut. Irina membelai rambut coklat Jo.
"Kau masih sudi menerimanya Annisa?" Kini Christian pun turut memandang iba pada Annisa. Annisa terdiam dan menunduk.
"Kau
boleh meninggalkannya Annisa, lelaki ini sungguh tidak layak untukmu."
Thomas menatap nanar ke arah sang ayah yang juga tengah menatapnya.
"Joshua, biar kami yang urus. Kau boleh menjalani kehidupanmu dengan layak. You deserve the best,"
"Kau
tidak berhak bicara seperti itu, dad. Dia istriku, dan dia tidak bisa
pergi kemanapun tanpa seijinku. Jangan coba mempengaruhinya, jika kalian
mau merawat anak itu, kalian ambil saja. Tapi jangan pernah kalian
mengusik hubunganku dengan Annisa." sahutnya tegas.
"serahkan
anak itu Annisa, kita pergi sekarang juga." Thomas sudah beranjak dan
menarik lengan Annisa. Namun Annisa hanya bergeming. Ia menunduk.
****