Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Menagih Janji



Adrian benar-benar gembira setelah mendapat kan kontak Annisa. Tak henti-hentinya ia tersenyum sendiri. Hingga Thomas yang keheranan menegurnya. Thomas mendapati Adrian yang tengah duduk di balkon apartment nya sedang tersenyum sambil memandangi ponselnya. Thomas dan Adrian memang tinggal dalam satu apartment yang bisa dibilang hanya tempat untuk tidur saja. Karena pekerjaan mereka tak kenal waktu, dari pagi hingga larut malam.


"Apa kau masih waras Dri? "


Adrian tersentak kaget.


"Kau kira aku gila? " wajahnya langsung berubah datar.


"Kulihat dari tadi kau senyum-senyum sendiri. Setelah Reva pergi aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti ini. "


Adrian menatap lamat-lamat sahabatnya.


"Aku jatuh cinta. " senyumnya terkembang kembali.


Thomas turut tersenyum.


"Ah, syukurlah kukira kau sudah tidak waras tadi. "


"Dasar kau ini. "


"Perkara cintaku saja belum terpecahkan, sekarang malah kau ingin menambah perkara lain. "


"Hei, perkara apa maksudmu? Aku tak bodoh sepertimu, bahkan di hari pertama bertemu pun aku sudah mengantarnya pulang. "


"Serius? Bukankah wanita itu terlalu mudah menyerahkan diri? "


"Menyerahkan diri? Kau kira dia penjahat? " Adrian melotot. Sedangkan Thomas terkikik. 


"Baiklah, memang susah bicara pada orang yang sedang jatuh cinta, bagaimana jika kita lanjutkan mencari Annisaku? "


Sejenak Adrian terdiam. Dalam hati ia takut bahwa Annisa yang Thomas cari adalah Annisa yang kini tengah menawan hatinya.


"Besok saja Thom, aku lelah sekarang. "


"Okay, take a rest. "


****


[Assalammualaikum Annisa.]


Pukul sebelas waktu indonesia timur, Annisa belum bisa memejamkan matanya. Ia memilih memainkan ponselnya dan menghidupkan kembali data selularnya. Sebuah pesan dari nomor baru masuk. Nisa membaca pesan itu. Sebuah nomor baru yang ia yakini adalah nomor lelaki yang baru ia kenal sore tadi. Ia mengetikkan salam balasan, kemudian mengirimnya.


[Waalaikumsalam.]


[Kau masih belum tidur? Apa aku menganggumu? Aku Adrian. ]


[Belum, kau tak mengganggu. Ada perlu apa?]


[Tak ada apa-apa. Tapi mengapa kau selalu menanyakan keperluanku?] Adrian tersenyum.


[Karena tidak mungkin kau menghubungiku tanpa suatu alasan.]


[Ya, kau benar juga. Sebenarnya aku penasaran bagaimana kau bisa mengenal Roby.]


[Dia seniorku dikampus, dan istrinya itu, dia dulu sahabatku. Bisakah kau tidak membahasnya sekarang?]


[Oke, maafkan aku. Sekarang bagaimana jika kita membahasmu? ]


[Aku?]


[Ya, kau. Katakan apa yang kau lakukan di tempat ini?] 


[Tuntutan profesi mungkin.]


[Apa profesimu? ]


[Apa kau detektif? Atau mata-mata? ]


Adrian tergelak.


[Bisa jadi keduanya. Aku sedang ingin tahu semua tentangmu sekarang. Apa besok kau ada waktu luang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. ]


[Baiklah, jemput aku pukul dua di SDN 1 Manoi. Aku senggang sepulang mengajar.]


Adrian tersentak saat membaca pesan Annisa. Dia seorang guru, dan namanya Annisa. Juga dia baru ditempat ini. Bukankah itu ciri-ciri Annisa nya Thomas.


[Kau seorang guru? ]


[Ya, aku guru]


****


"Hei Dri bagaimana kalau sore ini kita berkeliling lagi mencari gadisku? "


Saat dikantor, Adrian tak banyak bicara terutama pada Thomas. Pun pada saat makan siang. Keduanya saling berhadapan namun Adrian enggan mengajak Thomas bicara. Ia sangat yakin bahwa Annisa yang Thomas cari adalah Annisa yang kini tengah ia dekati. Dan Adrian tidak rela jika benar begitu kenyataannya.


"Kenapa kau tak menyerah saja Thom, ini bahkan sudah tiga bulan lebih. Kenapa kau tak mencari gadis lain? "


"Aku tidak bisa melupakannya Dri. Kurasa dia jodohku. " Thomas tersenyum. Matanya menerawang keluar jendela. Bahkan matamya selalu berbinar saat membicarakan Annisa.


"Dan juga, gadis itu berhutang padaku. Aku harus membuatnya segera membayar hutangnya padaku. "


"Hutang apa? "


"Dulu kubilang padanya bahwa jika kami bertemu kembali dikota ini, maka dia harus mau menjadi kekasihku. "


Adrian hanya tersenyum datar.


"Jangan hari ini Thom, aku masih ada urusan."


Thomas mencebik kesal.


"Baiklah, aku akan mencarinya sendiri. "


****


Thomas berjalan kaki menyusuri jalanan kelurahan Manoi. Ia memang lebih senang berjalan daripada menaiki mobil atau motor. Dari kantornya, ia naik ojek sekitar kilometer kemudian turun tepat di dermaga pemberhentian perahu. Bila diingat dia samasekali belum pernah menginjakkan kaki ditempat ini. Ia bertanya sana sini mencari sekolah SD, SMP, dan SMA yang ada di wilayah itu. Sampai akhirnya ia berhenti di SDN 1 Manoi dan masuk kedalamnya.


Baru memasuki pintu gerbang utama saja, dia sudah disambut riuh pekikan anak-anak SD yang baru saja keluar kelas. Bel tanda usainya jam belajar memang baru saja berbunyi.


"Mister, mister. " seru anak anak itu bersemangat. Thomas menyapa dan sesekali mendengarkan celotehan mereka. Sampai matanya tertuju pada sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil milik Adrian. Ia segera bersembunyi di balik mobil-mobil yang sedang terparkir dihalaman. Ia ingin tau apa yang sedang Adrian lakukan ditempat ini.


Setelah meminggirkan mobilnya, Adrian turun dan sesekali mengecek ponselnya. Ia tampak sumringah tapi juga terlihat tegang. Thomas terus mengawasinya. Hingga seorang wanita yang ia yakini adalah salah satu guru disekolah  ini datang menghampirinya. Senyum Adrian terkembang saat wanita itu mendekat. Sedetik kemudian Thomas terkejut bukan kepalang. Gadis itu menoleh kebelakang karena panggilan seseorang. 'Annisa. Benarkah itu kau? ' batin Thomas. Untuk sejenak Thomas terpaku ditempatnya. Hingga ia sadari Annisa memasuki mobil milik Adrian dan berlalu pergi.


Thomas melangkah gontai. Dalam hati ia bertanya ada hubungan apa gadis itu dengan sahabatnya. Apakah Annisa yang telah membuat Adrian jatuh cinta. Thomas tak memperhatikan jalan sehingga ia menabrak seorang wanita. Wanita itu tersungkur.


"Maafkan saya bu guru, saya kurang memperhatikan jalan. " ia membantu wanita itu berdiri.


"Tak apa mister. Taoi kalau boleh saya tau, ada keperluan apa mister berada dilingkungan sekolah kami? " wanita itu menyelidik.


"Sebenarnya saya sedang mencari seseorang. Wanita yang tadi kau panggil, namanya Annisa bukan? "


"Iya, namanya Annisa, tapi bagaimana kau mengenalnya. " alisnya mengernyit.


"Sebenarnya sekitar empat bulan yang lalu aku bertemu dengannya. Saat perjalanan menuju kemari. Mati-matian aku mencarinya. "


"Mengapa mister mencarinya? "


"Ah, sebenarnya itu alasan pribadi. Tapi apakah kau tau dimana ia tinggal? Aku sudah hampir putus asa mencarinya. "


"Kenalkan, namaku Rani. Dia tinggal bersamaku, tepatnya di seberang sungai. Sepertinya kau sedikit terlambat menemuinya. " Rani mengulurkan tangannya pada Thomas.


"Thomas. " Ia menjabat tangan wanita itu.


"Jika aku boleh tau, ada hubungan apa Annisa dengan lelaki yang menjemputnya tadi? "


"Namanya Adrian, kami baru kemarin bertemu. Sepertinya Adrian ingin mengajaknya kencan. Terlihat sekali bahwa Adrian menyukai Annisa. "


"Begitu ya. Apa aku boleh meminta nomor telpon Annisa? "


"Sebenarnya Annisa melarangku memberikan nomor ponselnya pada orang asing. "


"Dia mengenalku, tenang saja jika ia marah padamu, aku yang akan bertanggung jawab. "


"baiklah. Berikan ponselmu. "


Thomas menyerahkan ponselnya pada Rina. Kemudian dengan lincah gadis itu mengetikkan beberapa angka dan menyimpannya.


"Terimakasih. Satu lagi, tolong jangan beri tahu Annisa jika aku kemari dan menemuimu. Aku pamit dulu. "


"Baiklah. "


Thomas berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia memutuskan kembali ke apartmentnya dan menunggu Adrian pulang. Ia akan meminta penjelasan tentang hubungannya dengan Annisa.


Thomas baru sampai pukul tujuh malam. Setelah membersihkan diri dan makan ia memainkan ponselnya. Ia memandang lama sekali nomor ponsel Annisa. Ia merasa di hianati oleh sahabatnya sendiri. Hingga pintu apartment nya terbuka dan sosok Adrian muncul dari balik pintu.


"Hai Thom, kukira kau sedang mencari gadismu. " ucap Adrian basa basi.


"Sudah kutemukan. " Thomas menjawab datar.


"katakan Adrian, seperti apa gadis yang kau cintai itu? "


"Kenapa kau malah balik bertanya? "


"Dia seorang guru bukan? Namanya Annisa. Am I wrong? " Thomas berdiri dan menatap tajam pada Adrian.


Adrian tergagap. Wajahnya memdadak pucat. Bibirnya keluh tak dapat berkata-kata.


"Kenapa kau diam? kurasa aku mencium bau penghianatan disini. "


"Apa maksudmu Thom? Siapa yang berkhianat? "


"Jangan berlaga bodoh Adrian. Jelas kau tau gadis yang setengah mati ku cari-cari, namanya Annisa dan dia seorang guru. Kenapa kau tak memberi tahuku tentang gadis itu? " rahangnya mengeras, mukanya memerah menahan amarah.


"Jadi benar, dia Annisa yang kau cari? "


Thomas hanya bergeming, tatapan matanya tak lepas  sahabatnya.


"Aku sudah melamarnya. Maafkan aku. "


Buuuggg


Thomas meninju wajah pria yang ada didepannya dengan keras. Adrian terpelanting kebelakang.


"Jadi seperti ini persahabatan kita Dri? Seperti ini kau memperlakukanku sebagai sahabatmu. Kau tau mati-matian aku mencarinya dan kau menusukku dari belakang. " Thomas menumpahkan amarahnya. Sedangkan Adrian hanya diam. Percuma beradu agumen dengan Thomas untuk saat ini.


"Apa dia menerima lamaranmu? " Thomas masih menatap tajam. Sedangkan Adrian mengalihkan pandangan.


"Dia belum menjawab. "


Ada kelegaan pada binar mata Thomas. Setidaknya ia masih ada kesempatan untuk merebut gadisnya.


"Pergilah, aku tak ingin melihatmu. " Adrian membalik badan dan hendak beranjak pergi.


"Dan satu lagi Adrian jangan coba mendekatinya lagi. "


"Sudahlah Thom, kita bicarakan soal ini besok. Sebaiknya kau istirahat. Aku pergi dulu. "


Adrian berlalu pergi. Thomas menghempaskan tubuhnya pada kasur empuknya. Ia berniat akan menghubungi Annisa dan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.


[Hallo?] Sambut suara dari seberang. Untuk sesaat Thomas terdiam. Ia ingin menyimpan suara gadis terkasihnya dalam hati.


[Hallo, ini siapa?] Gadis itu bersuara kembali. Namun detik berikutmya Thomas menekan tombol merah dan memutus panggilan telepon. Ia meletakkan ponselnya diatas meja. Dan mencoba memejamkan mata. Mendengar suara Annisa benar-benar membuat jantungnya memacu dua kali lipat lebih cepat.  Ia terbuai oleh suara lembut gadisnya yang terus terngiang di telinganya. Hingga ia terlelap dan tenggelam dalam mimpi.


****


Annisa menutup telpon dengan gusar. Telpon dari nomor tak dikenal itu sedikit mengganggunya karena dia baru saja terlelap dalam tidurnya. Setelah diangkat, telponnya dimatikan begitu saja tanpa mengucap apapun.


[Pikirkan pinanganku. Jika iya, lusa kita berangkat menemui orang tuamu, juga orang tuaku.]


Pesan dari Adrian. Annisa benar-benar terkejut saat Adrian menunjukkan keseriusannya. Lelaki itu melamarnya di pertemuan kedua mereka. Bukankah ini terlalu cepat. Ia tahu bahwa wanita yang telah dewasa memang tidak baik untuk berlama-lama sendiri. Tapi menikah dengan seseorang yang sama sekali belum ia kenal bukanlah pilihan bijak.


[Kurasa kau terlalu terburu-buru Adrian, kita bahkan baru dua kali bertemu. Kau tak mengenalku, aku tak mengenalmu. Paling tidak, beri ruang untuk kita saling mengenal satu sama lain. ] balas Annisa panjang lebar.


Sedangkan yang diseberang sana, Adrian yang tengah duduk di sebuah warung kopi, melempar ponsel dan mengusap wajahnya kasar. Lebam disudut kiri bibirnya mulai nampak. Baru kali ini Thomas sungguhan memukulnya. Tapi ia tak akan mengalah. Sebab ia tau Thomas dan Annisa berbeda. Annisa tak akan memilih Thomas. Mungkin ia memang terlalu percaya diri, namun faktanya Annisa adalah muslim yang taat, sedangkan Thomas seorang kristiani, yang meskipun tak setiap minggu ia kegeraja tapi Thomas seseorang yang berprinsip kuat apalagi jika menyangkut kepercayaan.


****


Sinar matahari menembus kaca sebuah mobil putih. Membuat penghuninya yang tengah tidur terganggu dan terpaksa membuka mata. Semalaman Adrian tertidur didalam mobil setelah dihajar dan diusir oleh Thomas dari apartment mereka. Entah bagaimana ia akan menampakkan muka di hadap Thomas, bagaimana jika Thomas nanti kembali menghajarnya.


Adrian melajukan mobilnya menuju salah satu SPBU untuk mengisi bahan bakar mobilnya juga untuk mandi. Untung saja kemarin ia sempat mengambil bajunya di laundry dan belum sempat merapikannya di lemari. Ia bersiap menuju kantor, juga bersiap menerima kemarahan Thomas sahabatnya.


Benar saja, Thomas sudah menunggu diruangannya. Begitu masuk, ia langsung disambut tatapan tajam mata Thomas. Seakan hendak menerkamnya. Kilatan emosi nampak disudut matanya.


"Pagi Thom, kau sudah sarapan? " Adrian bersikap seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Tidak usah basa-basi Dri. Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan. "


"Baiklah. Biar ku jelaskan. "


Adrian menceritakan pertemuan pertamanya dengan Annisa dan mantan kekasihnya yang tak lain adalah temannya semasa SMA. Thomas hanya menatap datar dan penuh emosi.


"Jadi kau akan tetap mendekatinya? " Thomas bersuara.


"Tentu saja. Tinggal selangkah lagi aku akan mendapatkannya. Maaf kali ini aku akan egois.


Kali ini aku tidak akan mengalah. "


"Kau benar benar brengsek Adrian. " Thomas hendak beranjak dari duduknya.


"Kau harus realistis Thom, kau dan Annisa berbeda. "


"Apa maksudmu? "


"Agamamu dan dia jelas berbeda, kau mengerti maksudku bukan. "


"Kenapa kau bawa-bawa agama? "


"Asal kau tau Thom, wanita seperti Annisa tak akan pernah bersedia menikah dengan lelaki yang tidak seaqidah dengannya. "


"Tidak kusangka kau sepicik ini Adrian. " Thomas beranjak dan berlalu pergi meninggalkan Adrian.


Thomas melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Ia sudah memutuskan akan menemui Annisa secara langsung. Ia tak ingin gadisnya itu menjadi milik sahabatnya. Setelah sampai di sekolah tempat Annisa mengajar, Thomas memarkir mobilnya dan bergegas turun. Ia menuju kerumunan anak-anak yang tampak baru saja selasai olahraga untuk bertanya dimanakah dia bisa bertemu Annisa.


Anak-anak itu menunjuk kearah sebuah kelas yang berada dipojok. Thomas melangkah perlahan. Hingga tanpa sadar Thomas sudah berdiri di depan kelas tempat Annisa mengajar. Ia bisa melihat betapa anggunnya wanita itu. Matanya berbinar, setelah sekian lama ia menabung rindu, kini Annisa berada di hadapannya.


"Mister. " salah satu murid Annisa memanggilnya, sontak membuat seluruh penghuni kelas menoleh kearahnya termasuk Annisa.


"Ehm, hai. " Thomas menggaruk tengkuknya dan tersenyum. Ia salah tingkah, sedangkan Annisa terkejut akan kehadiran lelaki asing itu.


"Anak-anak silahkan salin semua yang ibu tulis di buku catatan masing-masing. Ibu keluar sebentar. "


"Baik bu. " sahut anak-anak serempak.


Annisa menghampiri Thomas. Jantungnya berdegup kencang. Setelah sekian lama ia menunggu kehadiran lelaki asing ini. Sejenak pandangan mereka saling bertaut.


"Hai Annisa, bagaimana kabarmu? "


"Bagaimana kau bisa ada disini? "


"I told you, I'll find you. "


"Tunggu satu jam lagi, aku akan menemui. "


"Baiklah. "


Thomas beranjak menuju kantin sekolah yang terletak di sebelah ruang guru. Tak urung membuat seisi ruangan penuh guru-guru itu heboh. Tak hanya guru wanita saja, beberapa guru pria juga ikut penasaran pada pria bule itu. Satu jam kemudian Annisa juga Rina memasuki ruang guru dan terkejut saat melihat para guru itu menatap kearah jendela yang langsung menghadap kantin. Rina tak kalah terkejut saat melihat objek yang sedang dinikmati para guru wanita itu.


"Dia kemarin nyariin kamu Nis, " ucap Rina kemudian.


"Mbak tau dia? "


"Iya, kemarin dia kemari tepat setelah kamu pergi sama Adrian. "


"Aku samperin dia dulu ya mbak. "


"Kekantin? " Rina melirik para guru yang tak henti menatap Thomas dengan tatapan lapar.


"Iya, nanti aku ajak pergi dari kantin. " Annisa keluar dari ruang guru. Dan Thomas yang melihatnya, langsung berdiri setelah membayar makanannya kemudian menghampuri Annisa.


"Tak apa kan jika aku mengajakmu pergi? "


"Tak apa, kelasku sudah selesai. "


"Baiklah. " Thomas berjalan menuju mobilnya dan Annisa di belakangnya. Sedikit kewalahan mengikuti langkah besar Thomas.


Thomas mengajak Annisa menuju sebuah wisata diatas bukit yang berbatasan langsung dengan laut. Sebenarnya bukan tempat wisata yang sesungguhnya, penduduk setempat memanfaatkan bukit yang subur itu sebagai tempat nongkrong. Apalagi bukit tersebut berbatasan langsung dengan laut lepas membuatnya semakin ramai dikunjungi. Terdapat pagar beton setinggi pinggang orang dewasa mengelilingi tepi bukit yang langsung berbatasan dengan laut tersebut. Thomas mengajak Annisa duduk di belakang pagar beton dan langsung menatap kearah laut lepas.


"Kau suka disini? " Thomas memandang gadisnya. Nampak Annisa begitu berbinar menatap lautan lepas dihadapannya.


"Ternyata ada tempat seindah ini di sini. "


"Tentu saja. Kau harus mengelilingi kota ini. Banyak tempat-tempat menakjubkan disini. Dan satu lagi, kau akan membutuhkan seorang guide. "


Pandangan Annisa beralih, kini ia menatap Lelaki asing disampingnya. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat.


"Aku sangat merindukanmu Annisa. " Matanya berkaca-kaca.


Annisa mengalihkan pandangan.


"Aku hampir putus asa mencarimu. Tapi tuhan menurunkan pertolongannya disaat terakhir."


Thomas menjeda kalimatnya. Kini matanya menerawang jauh kedepan.


"Aku ingin menagih janji, Annisa. Kali ini aku tak akan memintamu untuk menjadi kekasihku. Aku ingin memintamu untuk menjadi istriku. Menikahlah denganku Nisa. "


****