
"Jadi pas menghadap komandan, disuruh ngapain aja Rin?" Siang itu, usai mengajar, Arini dan Annisa tengah menghabiskan waktu untuk jalan-jaln di mall.
"Disuruh sikap tobat bareng sama calon suami selama setengah jam." Arini terkekeh. Sedangkan Annisa memasang wajah kesal karena pertanyaanya tidak ditanggapi serius oleh Arini.
"Serius Rin. "
"Iya iya, ini serius. Bu Danyon suruh nyanyiin mars persit sama di kasih wejangan tentang bagaimana kita saat berumah tangga."
"Itu aja?"
"Ditanyain juga seberapa kenal kamu sama calon suamimu, ditanya data diri calon suami dan segala pencapaiannya selama menjadi anggota TNI. "
"Terus?"
"Garis besarnya itu aja sih. Nanti kalau kamu beruntung, juga bakal dikasih pertanyaan kejutan yang bikin kamu dijamin melongo. "
"Pertanyaan apa? "
"Ya rahasia dong. Namanya juga kejutan. Ntar kalau kamu menghadap bu Danyon pasti deh di kasih itu pertanyaan kejutan. "
"Apa sih? Bikin penasaran aja. "
"Persiapkan fisik dan mental aja. Prosesnya benar-benar melelahkan. Capek banget."
"Bu danyonnya galak nggak? "
"Kata bang Indra, beliau cuma pasang tampang galak aja. Aslinya baik. Terus kamu sama mas Bayu kapan pengajuan? "
"Belum tau. " ucap Annisa sembari tersenyum. Ia sendiri juga tidak tau kapan ia dan Bayu akan mengurus pernikahan mereka. Kini fokus Bayu hanya tertuju pada umminya yang sedang menunggu pendonor yang cocok untuknya.
****
"Kalian kapan nikah si Yu? Ummi pengen liat kamu dan Nisa cepet nikah, biar nggak terus nimbun dosa. " Saat itu Ummi terbaring lemah di rumah sakit. Setelah serangkaian tes dilakukan pada adik dan kakak kandungnya, adik bungsu Ummi, dinyatakan cocok dan memenuhi syarat sebagai pendonor sumsum tulang belakang untuk Ummi.
"Insyaallah secepatnya mi, tunggu ummi operasi dulu ya. Sekarang ummi fokus saja sama kesembuhan ummi. "
"ummi takut nggak punya banyak sisa waktu Yu. Dulu kan kalian janji nikah pas kamu cuti tugas, sekarang tugasnya udah selesai malah nggak nikah-nikah. Itu Arini aja udah nikah minggu depan. "
"Yang sabar mi, nikah kan bukan perlombaan. Yang penting ummi sehat dulu. Nanti setelah ummi operasi, Bayu akan segera urus berkas pernikahan ya. "
"Janji ya jangan ditunda lagi setelah itu. Ummi pengen segera nimang cucu le."
"Iya mi janji, insyaallah nggak ditunda lagi."
****
Annisa sedang berada dirumah Arini seminggu sebelum pernikahan Arini digelar. Arini begitu gugup. Ia meminta sahabatnya itu agar menginap dirumahnya.
Usai makan malam, Annisa beranjak menuju kamar Arini, sedangkan Arini tengah berbincang dengan MUA yang akan meriasnya saat akad dan resepsi. Annisa memainkan ponselnya sambil berbaring. Ia sedang membalas pesan Bayu saat itu. Bayu mengabarkan kondisi ummi sudah stabil dan siap untuk tindakan operasi. Ia hendak menelpon Bayu, namun sayang battery ponselnya habis. Ia membuka laci sebelah tempat tidur Arini. Biasanya Arini menyimpan charger di laci. Namun saat membuka laci, matanya menangkap sebuah foto. Foto Bayu dan Arini, Bayu mengenakan PDL tengah merangkul bahu Arini. Annisa tersenyum tipis. Ia membalik foto itu dan melihat tulisan dibalik foto itu. 'Love you for a thousand years mas. ' Annisa meletakkan kembali foto itu dilaci saat mendengar namanya dipanggil.
"Nis, udah tidur? "
"Eh, Rin, belum. Pinjem chargermu dong, ponselku habis baterai."
"Oh, iya bentar. " Arini berjalan menuju lemari besarnya, kemudian membuka pintunya. Ia meraih charger yang ada di rak paling atas. Kemudian ia menyerahkan charger itu pada Annisa.
"Rin, " Annisa duduk ditepi tempat tidur Arini sedangkan Arini tengah memainkan ponselnya sambil berbaring.
"Apa? "
"Kamu ada perasaan sama mas Bayu? " Arini meletakkan ponselnya dan bangun dari berbaringnya.
Arini hanya bergeming.
"Rin, jujur aja. Aku nggak akan marah."
Arini menghela napas.
"Iya Nis, aku jatuh cinta sama mas Bayu. Jauh sebelum kamu kenal sama dia. Itu udah bertahun-tahun yang lalu, sampai kamu hadir dalam kehidupan mas Bayu."
"Kenapa kamu nggak jujur sama mas Bayu?"
"Mas Bayu cuma anggap aku seperti adiknya. Nggak lebih. "
"Udahlah Nis, aku udah ikhlas mas Bayu sama kamu. Aku seneng akhirnya mas Bayu bisa nemuin perempuan yang baik dan bisa move on dari Vina."
"Aku jadi nggak enak sama kamu Rin. Kita sahabatan udah lama, tapi kamu malah sembunyikan hal ini."
"Justru karena kita udah sahabatan sejak lama nggak perlu kamu merasa nggak enak. Asal, kamu jaga mas Bayu, kamu bahagiain dia. Lagian aku udah mau nikah sama bang Indra. Udahlah Nis, jangan dipikirin. Mending kita tidur." Arini membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
"Satu lagi Nis. "
"Apa?"
"Jangan pernah ngomong masalah ini ke mas Bayu. Ya."
"Iya Rin, insyaallah aku nggak akan bilang."
"Kenapa insyaallah? Emang ada kemungkinan kamu bakal beritahu mas Bayu soal ini?"
"Ya, yang namanya takdir siapa yang tau Rin? Siapa tau besok atau lusa keadaan mengharuskanku untuk memberitahu mas Bayu tentang hal ini. " Arini hanya menghela napas.
****
Persiapan seluruh prosesi pernikahan sudah hampir 100% hanya tinggal pelaksanaannya saja. Arini benar-benar gugup. Ada banyak prosesi yang harus dilangsungkan. Salah satunya siraman. Pelaksanaannya hanya tinggal 5 jam. Mama dan papa Arini tengah ke kebutik untuk mengambil pakaian mereka. Sedangkan Damar ia baru cuti saat akad digelar. Arini ditemani Annisa untuk menyiapkan prosesi siramannya.
"Assalammualaikum mas. " Siang itu, Bayu tiba-tiba saja menelpon Annisa.
"Waalaikumsalam. Kamu dimana?" Nada suaranya terdengar begitu gelisah.
"Dirumah Arini mas. Kenapa? "
"Arini sama kamu?"
"Nggak mas, dia lagi dikamar mandi. Ada apa? Mau aku panggilin?"
Terdengar Bayu sejenak menghela napas.
"Aku lagi dirumah sakit Nis. "
"Rumah sakit? Kamu sakit mas?"
"Indra kecelakaan. "
"Innalillah, kecelakaan? Gimana kondisinya mas? Dirumah sakit mana? Aku sama Arini kesana ya."
"Bukan hanya Indra Nis, mama papa Arini juga turut jadi korban. Keadaan Indra kritis. Sedangkan mama sama papanya.. "
Bayu menjeda kalimatnya dan menghela napas panjang lagi.
"Mama papanya kenapa mas? " Annisa panik karena Bayu tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
"Mama papanya meninggal. Damar sudah on the way kemari. Bisa kamu antar Arini kan? Jangan bilang apa-apa dulu sama dia."
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun. " mendadak lutut Annisa lemas. Ia terjatuh ke lantai. Bagaimana ia akan menjelaskan hal ini pada Arini. Annisa segera memutus panggilan ponselnya ketika mendengar Arini masuk.
"Nisa kamu kenapa?" Arini panik saat mendapati sahabatnya tengah bersimpuh dilantai.
"Rin, ikut aku kerumah sakit ya. "
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa ummi masuk rumah sakit? "
Annisa hanya tersenyum dan lekas berdiri.
"Kita berangkat sekarang Rin. Mas Bayu udah nunggu."
Sepanjang perjalanan, Annisa hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Arini. Hingga ia sampai di pintu UGD. Tampak Bayu yang tengah memeluk Damar. Juga tampak orang tua Indra terduduk dikursi dengan ibu Indra yang menangis tersedu dan suaminya yang mencoba menenangkannya.
"Mas Bayu." Bayu menoleh kearah Annisa. Mata dan pipinya tampak basah.
"Gimana keadaan bang Indra?" Bayu menghela napas dan menggeleng pelan.
****