Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Calon Suami Annisa



"Berhenti menggangguku mas Bayu. Ingat statusmu, sekarang ini kamu suami Arini. Jaga tingkah lakumu." Annisa geram. Bayu nekat menjemputnya ke sekolah saat Arini sedang ijin karena sakit.


"Kamu yang membuatku jadi seperti ini Nis. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Arini sudah sembuh. Aku akan ceraikan dia agar bisa menikahimu."


"Jangan konyol mas. Kurang apa Arini sampai kamu tega seperti ini. Lebih baik kamu pergi atau aku akan teriak."


"Ikut aku." Bayu menarik lengan Annisa dan menyeretnya masuk kedalam mobil. Tanpa keduanya sadar, Thomas tengah memperhatikan mereka. Thomas menghampiri Bayu dan Annisa.


"Bisa lepaskan tangannya, pak Bayu?"


Keduanya terperanjat melihat Thomas tengah berdiri sambil bersendekap di depan mereka.


"Minggir. Jangan ikut campur." Ucap Bayu.


"Kenapa kau selalu berurusan dengan lelaki kasar sayang?"


"Sudah kubilang jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Annisa."


"Pak Bayu yang terhormat, aku sudah pernah bilang bukan? Segala sesuatu yang menyangkut Annisa, jelas itu adalah urusanku juga. Bisa kau lepaskan tangannya?" Pandangan kedua lelaki itu saling beradu. Bayu menatap tajam.


"Pergilah. Jangan sampai aku menghajarmu."


"Jika perlu, kita bertarung sekarang juga. Lepaskan Annisa." Thomas menyentakkan tangan Bayu. Annisa mundur, sedangkan dua lelaki itu telah memasang kuda-kuda.


"Cukup. Jangan buat keributan disini. Aku akan pergi. Dan aku harap, kalian berdua tidak menggangguku lagi."


"Biar kuantar. Aku tidak ingin kau diganggu lelaki yang sudah beristri ini."


"biar aku yang antar. Urusanku dan Annisa belum selesai."


"Ternyata kau keras kepala sekali pak tentara. Baiklah, mari kita selesaikan secara jantan."


"Both of you, please stop. Just stay away from me!"


"Nisa. Aku hanya ingin memastikan lelaki ini tidak mengganggumu lagi." Thomas mencoba mendekat.


"Aku mohon. Kalian berdua, berhenti menggangguku." Mata Annisa berkaca-kaca. Annisa berlalu pergi meninggalkan dua lelaki yang kini tengah sama-sama mematung.


****


Sesampainya dirumah, Annisa masuk dengan wajah sendu. Harinya benar-benar dibuat kacau oleh dua lelaki yang pernah mengisi hatinya.


"Nduk, ayah sudah punya kandidat untuk calon suamimu. Guru juga. Kemarin baru lolos seleksi pns." Sang ayah langsung duduk di samping Annisa yang tengah tertunduk lesu.


"Yah. Nggak sekarang ya. Nisa capek. Nisa masih belum mau mikirin nikah."


"Ya nggak sekarang nduk. Minggu depan aja kamu coba ketemu sama dia. Namanya Angga. Sepertinya kalian akan cocok."


"Sudah yah. Nisa pasti capek. Biar dia istirahat dulu. Nanti saja bicara jodohnya." Ucap sang ibu sembari mengelus puncak kepala Annisa.


"Sudah nduk bersih-bersih dulu sana. Abis itu makan." Lanjut sang ibu kemudian. Annisa beranjak dari duduknya dan meninggalkan kedua orang tuanya.


"Yah, Nisa tuh baru aja ditinggal nikah sama calon suaminya. Tolong ayah tahan dulu rencana perjodohan Annisa. Kasihan dia yah."


"Loh justru itu bu, Nisa itu harus move on. Biar nggak mikirin Bayu sama Arini, ayah kasih dia penggantinya."


"Ayah ini mana pernah mikirin perasaan anaknya. Kemauannya selalu harus diturutin. Sekali-kali pikirin perasaan Nisa gitu yah."


"Iya bu, iya. Perjodohannya nggak sekarang. Nunggu Annisa sudah siap aja. Udah, ayo makan bareng."


****


Usai sholat maghrib, ayah Annisa kembali kerumah. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki berwajah asing tengah melaksanakan sholat di luar masjid. Dengan seksama ia mengamati wajah lelaki asing itu. Ia begitu mengenal laki-laki asing itu. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk diteras masjid sembari menunggu pemuda asing itu menyelesaikan sholatnya. tak disangka, usai sholat pemuda itu menghampirinya.


"Assalammualaikum pak Diono. Apa kabar?" Ayah Annisa menoleh dan memandangi wajah lelaki itu.


"Iya pak, bapak mengenal saya. Saya Thomas. Lelaki yang bapak tolak lamarannya untuk Annisa, putri bapak." Ucap Thomas. Ia tersenyum.


"Apa yang kamu lakukan ditempat ini?"


"Tentu bapak sudah tau pasti, apa yang dilakukan seseorang saat di dalam masjid. Saya baru saja melaksanakan sholat maghrib pak."


"Maksudnya, kamu seorang muslim sekarang?"


"Iya pak. Beberapa bulan yang lalu saya memustuskan untuk pindah keyakinan."


Thomas tersenyum dan menggaruk tengkuknya.


"Emm, sebenarnya saya hanya ingin memperhatikan Annisa dari jauh. Sembari mengumpulkan keberanian untuk menemui bapak selaku wali dari Annisa."


"Maksudnya kau mau melamar Annisa putriku?"


"Iya pak, jika bapak berkenan, saya akan berkunjung kerumah bapak untuk lamaran resminya."


"Kenapa kau begitu yakin aku dan putriku akan menerima lamaranmu?"


"Apa saya kurang memenuhi syarat untuk melamar Annisa pak?"


"Islam saja tidak cukup anak muda. Dalam rumah tangga, lelaki adalah pemimpin. Jika kau tidak tau apa-apa tentang bagaimana islam, bagaimana bisa kau membimbing putriku?"


Thomas menunduk dan terdiam beberapa saat. Ayah Annisa beranjak dari duduknya dan berdiri didepan Thomas.


"Thomas, belajarlah dulu. Pahami dulu apa itu islam. Mintalah pada allah jodoh yang baik. Jika memang Annisa jodohmu, maka suatu saat ia pasti akan menjadi milikmu." Ayah Annisa menepuk lembut pundak Thomas sebelum ia beranjak pergi.


****


Sesampainya dirumah, ayah Annisa bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu ia menuju meja makan dimana istri dan anaknya tengah menyiapkan hidangan makan malam.


"Jadi gimana nduk? Mau coba sama Angga?" Ucap sang ayah membuka pembicaraan saat Annisa baru saja memasukkan suapan pertamanya.


"Nanti dulu ya yah. Jangan sekarang."


"Sebenarnya ayah punya dua kandidat sih, kamu bisa pilih kalau mau."


"Ayah--" iya sudah membuka mulut untuk menginterupsi omongan ayahnya namun terpotong.


"Yang satu ini ayah yakin kamu akan suka."


"Siapa lagi yah?" Sahut sang ibu.


"Ada, ibu pasti juga bakal seneng sama dia."


"Siapa sih yah, bikin penasaran aja."


"Ada lah bu, nanti kalau udah pasti, akan ayah kasih tau. Gimana kamu mau ketemu sama dua-duanya Nis?"


"Terserah ayah aja lah. Tapi nanti kalau nggak cocok Nisa nolak nggak apa-apa kan yah?"


"Iya. Yang penting temuin dulu mereka."


"Jangan dua-duanya yah, salah satu aja. Ya? Yang sekiranya ayah sama ibu suka."


"Ya kalau ayah sih suka dua-duanya Nis, tapi kalau kamu sama ibumu pasti akan lebih suka sama kandidat yang kedua."


"ayah bikin penasaran aja. Siapa sih kandidatnya? Ibu kenal sama dia?"


"Nggak, ibu nggak kenal. Udah nanti aja. Ayah akan atur pertemuan kalian."


"Ibu ikut ya yah?"


"Ini urusan anak muda bu, masa mau ikut sih? Nggak malu sama umur?"


"Anak gadis kita perlu dijaga dan diawasi yah."


"Ya udah kalau gitu ketemunya dirumah aja yah, suruh calon pilihan ayah datang kerumah."


"Nah Nisa bener yah, suruh dateng aja kesini, ibu juga mau lihat."


"Iya, iya nanti ayah bicara sama dia. Ayah suruh dia kemari."


"Emm, yah, kandidat ayah bukan tentara lagi kan?" Nisa bertanya ragu. Ia merasa enggan untuk menjalin lagi hubungan dengan para abdi negara.


Sang ayah tersenyum.


"Dia orang kantoran. Menejer. Masih baru sih. Tapi kamu akan suka."


****