Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Sebaiknya Berakhir



Annisa tengah duduk dirooftop sebuah kafe yang terletak tak jauh dari sekolah tempatnya mengajar. Sekitar dua kilometer. Sepulang mengajar ia langsung menuju kafe ini. Ia duduk ditemani laptop yang sengaja ia bawa untuk memeriksa materi soal yang akan ia berikan saat ujian akhir semester. Ia tengah menunggu Thomas dan ibunya datang. Semalaman Thomas memohon padanya agar mau menemui sang ibu. Annisa ingin menolak, namun ia sudah terlanjur berjanji.


"Kau sudah lama? Maaf aku terlambat. " Thomas mengenakan kaus berwarna abu dan celana jeans favoritnya datang sambil setengah berlari.


"Kau sendiri? " Annisa mengernyit bingung.


"I miss you so much. " Thomas menatap lamat-lamat gadisnya, detik berikutnya ia menghambur memeluk Annisa. Tanpa Annisa sadar, ia tengah diperhatikan oleh sepasang mata dengan tatapan penuh amarah. Arini tengah berada di rooftop kafe yang sama untuk makan siang tanpa diketahui Annisa. Gadis itu mengambil ponsel dan memotret moment di depannya.


"Thom, lepaskan. " Annisa berusaha mendorong tubuh Thomas, namun ia tak cukup kuat dan akhirnya pasrah. Menikmati aroma Bvlgri aqva man yang menguar dari tubuh Thomas. Aroma parfum yang menjadi favoritnya. Setelah beberapa saat Thomas melepaskan gadisnya.


"Ibuku sedikit terlambat. Mungkin setengah jam lagi baru datang. Kau sudah pesan makanan?"


"Sudah. Aku tak bisa lama-lama Thom. "


"Kenapa? Kau tidak merindukanku? Aku merasa bahwa kau sedang menghindariku akhir-akhir ini. "


"Aku sibuk, kau juga sibuk. Kenapa kau hanya menyalahkanku? "


"I'm sorry. Aku yang bersalah. Jangan menghindariku lagi. Okey? " Thomas menggenggam jemari Annisa. Membuat Arini yang melihat semakin geram. Arini kemudian beranjak meninggalkan tempat itu.


Setengah jam kemudian Irina, ibu Thomas datang. Wanita itu berusia lima puluhan namun masih nampak seperti umur empat puluhan. Mengenakan dres sebetis berwarna maroon di padu dengan blazer bunga-bunga berwarna biru tua. Dia orangtua yang cukup fashionable.


"Mom, kenapa kau lama sekali? "


"Kau tau kan kalau jakarta itu macet. Kenapa kau kesal kepadaku. " Irina langsung mengambil tempat disamping Annisa.


"So this is your girl huh? "


"Yup, namanya Annisa. Annisa, this is my mom, Irina. " Annisa tersenyum dan hendak meraih tangan wanita didepannya. Namun Irina menarik dan memeluknya.


"Hai Annisa, nice to meet you. "


"Hai tante nice to meet you too. "


"Kau tau, Thomas sangat bersemangat saat bercerita tentangmu. Dia tampak sangat mencintaimu. " Annisa tersipu


"Bukan tampaknya mom, aku memang sangat mencintainya. "


"Jadi Annisa ceritakan semua tentangmu. "


Kemudian cerita mengalir dari dua wanita berbeda generasi itu. Annisa dan Irina tampak begitu akrab walau baru hitungan menit mereka bertemu. Hingga akhirnya satu pertanyaan dari Irina mampu membuat Annisa terdiam seribu bahasa.


"Jadi kapan kalian berencana akan menikah?"


"Entahlah mom, wanita ini begitu sulit digapai. Entah kapan aku bisa menahklukkannya. " Thomas menatap tajam pada Annisa. Sedangkan gadis itu hanya menunduk.


****


Arini mendengus kesal saat melihat Annisa tengah berpelukan dengan lelaki lain. Bukankah dia calon istri Bayu. Bukankah seharusnya ia tidak boleh semesra itu dengan lelaki lain. Apalagi saat ini Bayu tengah bertugas diluar negeri. Tidakkah seharusnya Annisa bisa menjaga perasaan calon suaminya. Kalau dia memang tidak menyukai Bayu, untuk apa menerima perjodohan ini.


Arini begitu sesak saat mengetahui Bayu telah memiliki calon istri, ia cemburu. Ia telah lama menaruh hati pada teman abangnya itu. Namun saat melihat Annisa yang menjadi calon istri Bayu, ia mencoba mengikhlaskan karena Annisa adalah sahabatnya. Namun kini dadanya kembali sesak. Ia tak rela jika Bayu disakiti. Tak terasa taksi yang ia tumpangi telah sampai di pelataran rumah Annisa. Ia turun, kemudian mengetuk pintu. Ibu Annisa yang membuka pintu dan mempersilahkan Arini masuk.


"Nisa kemana bu? "


"Nggak tau Rin, tadi katanya mau ketemu temennya, ibu kira sama kamu. "


"saya mau nanya sesuatu boleh bu? "


"Nanya apa Rin? "


"Kenapa Nisa mau terima perjodohannya sama mas Bayu? "


"Kamu kenal sama Bayu? "


"Iya bu, mas Bayu temennya abang saya. "


"Nisa nggak bisa nolak perintah ayahnya Rin. Mau nggak mau suka nggak suka dia harus tetep terima perintah ayahnya. "


"Tapi kalau akhirnya berkhianat untuk apa bu? Kasian mas Bayu. "


"Berkhianat maksudnya gimana Rin? " Arini mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto Annisa dan Thomas saat di kafe tadi. Sang ibu terkejut melihat foto itu.


"Nggak seharusnya Nisa kayak gini bu, dia sama aja udah nyakitin mas Bayu. Mas Bayu sedang tugas diluar dan disini Annisa malah mesra-mesraan sama lelaki lain. "


Tak disangka ponsel yang berada ditangan Arini di ambil paksa oleh seseorang. Ayah Annisa baru saja masuk kedalam rumah, dan kedua wanita itu tidak menyadarinya.


Wajah sang ayah seketika berubah saat melihat foto itu. Merah penuh kemurkaan.


"Dimana mereka? " ucapnya sambil menatap tajam pada Arini.


"Yah, ibu ambilin minum ya. Ayah duduk dulu." Ucap ibu Annisa menenangkan.


"Arini, dimana mereka sekarang? " tanyanya sekali lagi.


"Tadi saya ketemu Nisa di kafe dekat sekolah pak. Pas mau saya samperin ternyata dia disamperin laki-laki ini. "


"Ibu lihat, kelakuan Nisa benar-benar bikin malu. Telpon anak itu, suruh pulang sekarang juga. " suaranya meninggi. Sang ibu hanya mengangguk.


"Assalammualaikum. " pintu terbuka, sosok Annisa muncul dari balik pintu.


"Loh Arini, kok nggak bilang mau kesini? " ia menatap bingung. Melihat Arini dengan raut kecewa, juga sang ayah yang tampak murka.


"Kalian kenapa? Kok diem aja? "


"Ini apa? Bisa kamu jelaskan ini apa? " sang ayah menunjukkan ponsel milik Arini pada Annisa. Ia menutup mulut dengan tangan kirinya dan beringsut mundur. Sesaat ia menatap Arini.


"Saya pulang dulu pak, Assalamualaikum. " Arini mengambil ponsel yang ada di tangan ayah Annisa kemudian nerlalu pergi.


"Nisa bisa jelasin yah. " mata Annisa berkaca-kaca. Ia begitu takut melihat murka sang ayah.


Plakk. Tangan besar itu mendarat tepat di pipi kiri Annisa. Ia terhuyung kebelakang dan terjatuh.


"Yaallah pak, istighfar pak. Istighfar. " sang ibu bersimpuh meraih Annisa yang terjatuh.


"Ayah sudah peringatkan kamu. Dan ternyata kamu main petak umpet sama Ayahmu? " suaranya masih tinggi. Annisa menunduk sambil memegang pipi kirinya. Air matanya luruh.


"Maafin Nisa yah, maaf. "


"Maaf kamu bilang, apa kamu nggak mikirin perasaan Bayu? "


"Yah, pelankan sedikit suaramu, semua bisa dibicarakan baik-baik. "


"Terus bela anakmu ini bu, meskipun salah terus bela anak tidak tahu diri ini. "


Annisa merangkak, memeluk kaki sang Ayah.


"Maafkan Nisa yah. " hanya kata maaf yang mampu Annisa ucapkan.


"Sebentar lagi kamu menikah sama Bayu, dan kamu pelukan dengan laki-laki lain? Apa Ayah mengajarkan mu untuk menjadi perempuan murahan? "


"Sadar Annisa, kamu dan dia berbeda, sampai kapan kamu dibutakan oleh cinta lelaki itu. Dimana harga dirimu sebagai seorang muslimah?" Annisa hanya menunduk dan menangis. Ayahnya benar-benar murka.


"Sejauh mana hubunganmu dengan lelaki itu? Sejauh mana dia berani menyentuhmu? " suara lelaki itu bergetar. Matanya berkaca-kaca. Tampak kekhawatiran pada sorot matanya.


"Jujur sama ayah, sejauh mana hubunganmu dengan lelaki itu? "


"Yah, Thomas bukan lelaki seperti itu. Dia tidak seperti yang ayah pikirkan. Nisa janji akan jauhin dia yah. Nisa janji. " Annisa menghiba. Sekali lagi ia memeluk kaki sang ayah. Ia sungguh menyesal karena telah mengecewakan cinta pertamanya itu.


****


Suasana pagi menjadi amat dingin dan mencekam. Ayah Annisa sama sekali tidak mau berbicara baik pada istrinya maupun pada Annisa. Ia benar-benar kecewa dengan kelakuan anak gadisnya itu. Sedangkan Annisa, dia hanya diam tanpa bisa melakukan apapun. Jika sang ayah sedang murka, maka hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah diam. Sampai amarahnya benar-benar menguap.


Hari itu juga Annisa memutuskan untuk menemui Thomas. Ia ingin membicarakan tentang hubungan mereka. Atau lebih tepatnya ingin memutus hubungan percintaan mereka. Ia ingin benar-benar lepas dari lelaki itu.


"Kau sudah merindukanku honey? Baru kemarin kita bertemu. Ibuku sangat menyukaimu by the way. " Thomas berdiri menyambut Annisa yang baru saja masuk kedalam kafe.


"Ya, akupun ingin membicarakan tentang hubungan kita. Jadi kau mau bilang apa? " Thomas tampak begitu sumringah.


"Thom, akhiri semuanya sampai disini. Lupakan aku. "


"What? Apa maksudmu? "


"Hubungan kita, sebaiknya berakhir sampai disni. "


"Kenapa? Apa aku membuat kesalahan? Kemarin kita baik-baik saja bukan? "


"Hubungan kita sudah salah dari awal. Aku sudah pernah bilang bukan. Kali ini aku serius. Kita akhiri saja semuanya. "


"Kau bilang kau bersedia menunggu? "


"Aku tak pernah bilang iya Thom. "


"Kau sedang bercanda bukan? Jangan bicara omong kosong sayang. Aku tak suka. "


"Aku serius Thom. "


"Kau mau mencampakkanku? "


"Carilah wanita lain. "


"Shit. Berhenti menyuruhku untuk mencari wanita lain. " Thomas mengumpat.


Annisa hanya terdiam. Ia menatap lekat Thomas yang tengah memuncak emosinya.


"Apa ini karena kita berbeda keyakinan? "


"ya. Itu salah satunya. "


"Ada lagi? "


"Aku akan menikah dengan pria pilihan ayahku. Aku sudah berjanji padanya. "


Thomas mengusap wajahnya kasar. Rahangnya mengeras. Ia tampak begitu emosi.


"Lalu bagaimana dengan janjimu padaku?"


Lagi-lagi Annisa hanya terdiam.


"Bagaimana? " suaranya meninggi, kemudian Thomas membanting meja yang ada didepan. Piring dan gelas diatasnya turut terpelanting jatuh dan pecah. Seluruh pengunjung kafe menatap kearah mereka. Annisa beringsut mundur.


"Thom tenanglah. "


"Pergilah. " ucapnya. Begitu lirih. Annisa hampir tidak mendengarnya.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga. " kali ini suaranya sedikit lebih keras. Annisa meraih tas yang ada dikursi kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Thomas yang kini bersimpuh dilantai. Ia tergugu.


****


"kalo kamu nggak suka sama mas Bayu nggak apa-apa Nis, tapi jangan diselingkuhin. Kasian mas Bayu. " Arini tiba-tiba saja duduk didepannya saat ia sedang berada diruang guru. Ada beberapa guru yang berada disana.


"Rin, kamu ngomong apa sih. Siapa yang selingkuh? "


"terus apa namanya kalo bukan selingkuh. Kamu pelukan sama laki-laki lain disaat calon suamimu sedang tugas diluar negeri. "


"Rin jangan jangan keras-keras. Nanti aku ceritain semua tapi nggak disini. " Annisa melirik beberapa guru yang tampak menatap ke arahnya. Arini mendengus kesal kemudian beranjak meninggalkan Annisa.


Usai mengajar, Annisa mengajak Arini ke kafe langganan mereka. Arini hanya diam dan menjawab seperlunya saat Annisa mengajaknya bicara.


"Tolong masalah ini jangan sampai mas Bayu dan keluarganya tau. Aku akan ceritain semuanya ke kamu. Janji? "


"Ya udah cepetan cerita, nggak usah kebanyakan basa-basi. "


"Aku sama dia ketemu di Merauke. Kita kenal dan dekat hampir tiga tahunan. Dan aku sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. "


"Terus kemarin kenapa kamu pelukan sama dia? Kalo mas Bayu lihat dia bisa salah paham."


"Dia baru sampe di Jakarta, aku belum sempat mengakhiri semuanya. Baru tadi aku bilang putus ke dia. "


"Belum sempat apa emang menikmati indahnya selingkuh? Sama bule lagi. Mas Bayu nggak ada apa-apanya sama bule itu. " ucap Arini sarkas.


"Kenapa kamu jadi sinis gitu sih Rin. Aku sama Thomas emang udah lama deket jauh sebelum kenal sama mas Bayu."


"Oh namanya Thomas, kalo emang dari dulu udah punya calon kenapa masih mau terima perjodohan sama mas Bayu? Aku nggak rela ya mas Bayu disakitin. "


Annisa menyadari kecemburuan pada diri Arini. Arini cemburu padanya karena posisinya sebagai calon istri Bayu.


"Kamu suka sama mas Bayu? "


Arini gelagapan. Ia menyambar gelas yang berisi jus melon didepannya dan langsung meminumnya. Detik berikutnya ia tersedak jus itu. Annisa mengangsurkan botol air mineral pada Arini.


"Apa kamu suka sama mas Bayu? " Annisa mengulang pertanyaannya lagi.


"Ngomong apa sih kamu? Mana mungkin aku suka sama mas Bayu. Dia udah aku anggep kayak mas sendiri, kayak bang Damar. Makanya aku nggak rela kalau sampai dia kamu sakitin. "


Annisa menatap lamat-lamat sahabatnya itu. Ia tengah mencari kejujuran pada mimik wajah Arini. Ia tau bahwa Arini sedang menyembunyikan perasaannya.


"Intinya jangan pernah nyakitin mas Bayu, kalo nggak suka, lepasin dia. " tegas Arini kemudian.


"Iya Rin, aku tau. "


****


Thomas melangkah gontai dengan menyeret koper hitamnya keluar dari pelataran bandara Merauke. Sejak di campakkan oleh Annisa, ia memutuskan untuk langsung kembali ke Merauke. Menjalani hidupnya kembali, tanpa kehadiran Annisa. Sang ibu memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di jakarta. Irina akan menginap di rumah sepupunya.


Thomas menyusuri jalan jalan yang dulu ia dan Annisa sering lewati. Rumah kos Annisa, juga sekolah tempat Annisa mengajar dulu. Hatinya perih bila mengingat semua kenangan bersama Annisa. Thomas perlahan menerima kenyataan. Ia tak ingin terpaku ditempat karena dicampakkan. Meski ia merasa benar-benar sendiri sekarang. Setelah Adrian pergi, kini Annisa meninggalkannya. Ia mulai belajar melangkah, tapi bukan melupakan. Annisa masih dihatinya walau Annisa bukan lagi miliknya.


****


Selasa pagi, Annisa meminta ijin cuti untuk mempersiapkan pernikahannya. Ia pergi kebutik untuk menjahit baju, mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan. Sewa gedung, mencari catering, semuanya ia lakukan sendiri. Melelahkan memang. Seandainya ia menikah dengan pria yang ia cinta, mungkin rasanya tidak akan semelelahkan ini.


[Mbak, bisa kerumah? Ummi sakit, abah sedang ngisi ceramah di Bandung. Nggak ada orang dirumah.] Bi Lilis mengirimkan pesan padanya ketika ia sedang mengukur badan di butik. Usai urusannya dibutik selesai, ia bergegas menuju rumah Bayu. Urusan gedung dan lainnya ia pikirkan nanti.


"Ummi sakit apa bi? " ucapnya ketika bi Lilis membukakan pintu.


"Dari kemarin malem nggak kuat bangun mbak. Saya khawatir ummi kenapa-kenapa. " Annisa melesat masuk menuju kamar ummi, dan melihat sang ummi tengah terbaring lemas.


"Assalamualaikum mi. " Annisa mencium punggung tangan ummi dan duduk di tepi ranjang.


"Waalaikumsalam nduk, kamu nggak ngajar? "


"Cuti mi, barusan abis dari butik. Ummi sakit apa? "


"Nggak tau nduk, lemes aja dari kemarin malem, kayaknya kurang darah. "


"Kita kerumah sakit ya mi. Nisa antar. "


"Nggak usah nduk, paling besok udah sembuh. Nggak perlu ke dokter. "


"Tapi ummi pucat banget mi, Nisa anter ke dokter ya. Nisa liat ummi juga makin kurus sekarang. Ummi periksa ya." Ummi tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia akan membuka suara namun Annisa langsung menyahut.


"Apa perlu Nisa telponkan mas Bayu mi?"


"Yaudah nduk kita periksa, tapi nggak usah telpon Bayu, nanti di khawatir. "


"Iya mi, ummi siap-siap ya. Biar Annisa pesan taksi. "


****