
Annisa, Thomas, Anita juga Jo memasuki sebuah rumah sederhana ukuran lima kali lima meter. Rumah itu terletak sekitar satu kilometer dari rumah orang tua Annisa.
"Mbak, kalau butuh apa-apa langsung telpon saja. Rumahku ada di kompleks depan sana."
"Terimakasih Annisa. Semoga allah membalas semua kebaikanmu." Anita memeluk singkat Annisa.
"Amiinn, insyaallah mbak. Jangan ambil hati semua ucapan Thomas mbak."
"Iya, tenang saja. Aku sudah tau bagaimana sifatnya."
"Kami pulang dulu, mbak silahkan istirahat. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk telpon mbak."
"Sekali lagi terimakasih ya Nisa."
"Sama-sama mbak. Jo, kami pulang dulu ya. Besok tante dan ayahmu akan kembali lagi untuk membawamu jalan-jalan." Annisa berjongkok, kemudian memeluk Jo.
"Iya tante. Terimakasih."
"Jangan panggil tante, dia juga ibumu Jo, panggil dia ibu." sahut Anita.
"Benarkah ibu? Bolehkah aku memanggilnya ibu Annisa?"
"Boleh sayang. Panggil aku ibu." Annisa kembali merengkuh Jo kedalam pelukannya.
"Kita pulang sekarang, Nisa." sahut Thomas yang muncul dari arah pintu.
"Ya, tapi setidaknya pamitlah pada anakmu."
"Tidak perlu. Aku tidak ingin basa-basi." Thomas meraih lengan Annisa dan menyeretnya keluar dari rumah itu. Annisa menghela napas kasar melihat sikap angkuh suaminya itu.
****
Memasuki rumah milik orang tua Annisa, tampak sang ayah, pak Diono telah menunggu di depan rumah. Ia menyambut anak menantunya dengan senyuman sumringah.
"Ini kan belum satu minggu, kenapa kalian sudah pulang?" ucapnya sembari bergantian memeluk anak menantunya.
"Tiba-tiba Nisa ingin pulang yah. Honeymoon nya dirumah saja." sahut Annisa. Kemudian ia masuk dan mencari keberadaan ibunya. Disusul oleh suami dan ayahnya.
"Ibu sudah siapkan makanan untuk kalian. Cuci tangan, setelah itu kita makan bersama." Sahut perempuan paruh baya itu.
"Nisa sudah .... " Thomas meremas lembut tangan istrinya. Kemudian berbisik. "Hey, makanlah sedikit. Ibu sudah susah payah memasak untuk kita."
"Baiklah."
Usai makan, Thomas dan Annisa duduk diruang tengah menyusul ayah dan ibu Annisa. Mereka akan menceritakan semua tentang Anita dan Jo. Thomas dan Annisa sudah siap dengan apa yang akan ayah ibunya katakan.
"Ayah, ibu, sebenarnya ada hal penting yang membuat aku dan Thomas memutuskan untuk pulang."
"Hal penting apa Nisa?" Sang ibu menyahut.
Annisa menatap Thomas yang juga sedang menatapnya. Thomas menghela napas panjang.
"Ayah, ibu, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin setelah ini kalian akan membenciku, atau bahkan mengusirku dari rumah ini. Tapi yang perlu kalian ketahui, saya sangat mencintai putri kalian Annisa. Sejak awal bertemu bahkan sampai detik ini, saya sangat mencintainya."
"Sebenarnya ada apa? Kenapa harus minta maaf?" Kini pak Diono yang menyahut.
"Ayah, ibu sebenarnya saya punya anak dari wanita lain."
Sesaat, suasana menjadi hening. Ayah dan ibu Annisa terhenyak. Mereka menatap tajam ke arah menantunya. Sedangkan Thomas hanya menunduk. Annisa meremas lembut tangan suaminya seolah sedang memberi kekuatan.
"Maksudnya? Kau punya anak dari selingkuhanmu?"
"Bukan selingkuhan yah. Wanita itu dulu mantan sekretarisnya. Mereka berhubungan setelah aku mencampakkannya dan memilih menikah dengan mas Bayu." Annisa segera menyahut. Ia tau Thomas tidak mampu berbicara lebih lagi. Lidah lelaki itu terasa membeku.
Sejenak, pak Diono menatap kearah istrinya. Ia tersenyum tipis.
"Sekarang dimana perempuan itu? Juga anaknya?" Di luar dugaan, bukannya marah, pak Diono malah bertanya dengan nada yang bersahabat.
Thomas dan Annisa saling pandang. Thomas menelan salivanya. Ia sedikit was-was dengan sikap tak terduga dari ayah mertuanya ini.
"Ehm, apakah ayah tidak marah?" tanyanya ragu. Sejenak pak Diono menatapnya, kemudian senyuman tipis menghiasi bibirnya.
"Terima kasih ayah ibu, maafkan aku. Aku memang sangat ceroboh waktu itu." Thomas menghampiri ayah dan ibu mertuanya kemudian mencium punggung tangan mereka berdua.
"Ingat satu hal lagi, Thomas, jangan pernah menyakiti atau menghianati putriku. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan segan menendangmu dari kehidupan Annisa."
"Tidak akan ayah, aku berjanji akan selalu membahagiakannya."
****
Keesokan harinya, Annisa mengajak Thomas menjenguk Anita dan Jo. Cuti mereka masih ada dua hari lagi sebelum kembali bekerja. Annisa ingin Thomas belajar bersikap baik pada Jo, anak kandungnya.
"Kenapa harus denganku sayang, aku lelah. Ingin tidur. Pergilah sendiri." Thomas menjawab malas ajakan sang istri. Ia benar-benar tidak ingin bertemu Anita juga Jo. Tapi Annisa terus saja memaksanya.
"Kau tega membiarkanku pergi sendiri?"
"Kau tidak sendiri, Annisa. Kau pergi dengan Anita juga Jo, bukan? Biarkan aku tidur hari ini."
Annisa mendesah kasar. Ia kecewa. Ia meraih kunci mobil diatas meja dan berlalu meninggalkan Thomas yang enggan beranjak dari kasurnya. Saat hendak menstater mobilnya, pintu mobilnya terbuka.
"ayo, aku antar." Thomas berdiri dengan wajah yang tampak enggan. Annisa beranjak dari kursi kemudi ke kursi penumpang.
"Kau marah?" tanya Thomas sesaat setelah ia mengemudikan mobilnya. Annisa bergeming. Kemudian lelaki itu meraih tangan sang istri dan menggenggamnya lembut.
"Maaf," Annisa tetap bergeming. Dan memandang lurus kedepan.
"Hei, maafkan aku. Mengertilah, ini sulit untukku."
"Kau harus terbiasa dengan keadaan ini Thom,"
"Aku tidak bisa, sayang. Ini benar-benar sulit."
Selanjutnya, hening tercipta diantara keduanya. Annisa hanya diam dan memandang lurus kedepan. Sedangkan Thomas, ia sesekali melirik dan memperhatikan sang istri yang nampak sangat kecewa terhadapnya.
****
Memasuki rumah kontrakan Anita, Thomas dan Annisa di sambut pekikan Jo yang nampak kegirangan. Bocah kecil itu langsung memeluk Annisa dan meminta digendong.
"Hallo sayang,"
"Hai ibu," Annisa menghujani bocah kecil itu dengan kecupan.
"Sudah siap?"
"Sudah ibu." Annisa tersenyum, sesaat Annisa melirik ke arah Anita yang tampak masih berantakan.
"Mbak kok belum siap-siap?"
"Aku nggak ikut ya Nis, badanku capek semua. Kalian pergi bertiga saja."
"Kalau begitu, kita ke dokter dulu ya mbak? Kita periksa kondisi mbak dulu."
"Nggak perlu Nis, kalian berangkat aja. Biar aku istirahat di rumah."
"Ya sudah sayang, kita berangkat sekarang." ajak Thomas yang mulai jengah.
"Sebentar, Mbak benar nggak apa-apa kalau kita tinggal?"
"Nggak apa-apa Nisa. Titip Joshua ya."
"Kalau begitu, kami berangkat dulu mbak. Kalau ada apa-apa, mbak langsung telpon saja."
"Pasti, kalian hati-hati dijalan." Anita berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Jo, kemudian memeluknya erat.
"Jo, baik-baik dengan ayah dan ibu Annisa ya. Yang nurut. Jangan nakal, oke?"
"Iya ibu, Jo janji, Jo tidak akan nakal." ucap bocah itu polos. Anita mengacak rambut coklat putranya tersebut kemudian mengecup pelipisnya.
"Kita berangkat mbak, assalamualaikum." Anita dan Annisa berpelukan sekilas. Kemudian Annisa menggendong Jo dan beranjak menuju mobil. Anita melambaikan tangan, dan di balas lambaian dari Jo yang berada dalam gendongan Annisa.
****