Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Lelaki Asing Itu ...



Matahari sudah tinggi ketika seorang gadis berlari kecil sepanjang trotoar menuju sekolah tempatnya mengajar. Ia sudah sangat terlambat pagi ini. Annisa Fahrani terlambat pagi ini karena harus berdebat terlebih dahulu dengan sang ayah. Perdebatan yang selalu membuatnya bosan. Lagi-lagi sang ayah memaksanya untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Masih dua puluh enam tahun umurnya, Nisa belum terlalu tua untuk ukuran seorang wanita karir. Namun sang ayah yang memang kolot itu selalu memaksanya.


"Ayah nggak mau tau, besok kamu harus mau ketemu sama Bayu. Kita omongin masalah pernikahan kalian. " Ucap sang ayah saat membuka perdebatan.


"Ayah sayang, Nisa masih belum siap menikah, lagian mas Bayu juga sudah punya pacar. " Jawabnya halus.


"Bayu sudah bilang, perempuan itu hanya sebatas teman kerja saja. Jangan mengelak lagi. Ayah nggak akan ijinin kamu kerja lagi kalo kamu masih bantah permintaan ayah."


Hah, permintaan? Bukankah itu terdengar seperti perintah, pemaksaan lebih tepatnya. Ia mencibir dalam hati.


"Sudahlah yah, jangan dipaksa terus, kasian Nisa, dia jadi tertekan karena perintahmu. Serahkan semuanya pada Nisa, biar dia sendiri yang atur hidupnya."


"Ibu ini gimana, kalo anak ini nggak di atur, mau jadi apa dia, dulu kalo aja dia nggak milih sastra inggris dan nurut sama ayah untuk mendalami fiqih, dia sekarang pasti sudah mengajar dipesantrennya abah Usman. Nggak jadi guru honorer, kerjanya ngotot. Duitnya nggak jelas, capek iya."


"Sudah yah sudah, biar dia berangkat kerja dulu, ini sudah siang, nanti dia terlambat."


"Kamu ini selalu manjain dia bu,"


"Yah udah dong marahnya, jangan emosi ,nanti darah tinggi ayah kambuh. Nisa berangkat dulu ya. Assalammualaikum." Ia tersenyum penuh kemenangan saat dirinya lolos dari amukan sang ayah.


Ayahnya seorang guru agama islam disalah satu SMP di kotanya. Sang ayah amat memegang teguh ajaran agama islam dan selalu melaksanakan perintah allah. Maka tak heran ia ingin sekali anak gadisnya menikah agar terhindar dari zina. Mengingat jaman sekarang ini anak muda begitu bebas mengumbar kemesraan. Ia takut anak gadisnya itu akan terperosok dalam dosa besar itu.


Bayu Meghantara, lelaki yang dijodohkan dengannya, seorang bintara muda, berpangkat sersan satu. Anak dari Abah Usman, sahabat sang ayah. Ayahnya mengenal lelaki itu dengan baik, taat pada agama, hormat kepada orang tua. Ayahnya sangat menyukai Bayu. Tapi tidak dengan Nisa, entahlah, dia tak terlalu suka dengan lelaki yang berprofesi sebagai tentara. Entah alasan apa lagi yang akan ia berikan kepada ayahnya untuk menolak pernikahan ini.


****


"Miss, ngelamun aja. Ini titipanmu. Lagian kamu kan masih belum ngurusin suami kenapa bisa nggak sempet sarapan?" Arini teman sesama gurunya, juga sahabat baiknya membuyarkan lamunan. Ia baru saja tiba dari kantin.


"Tadi kenyang sarapan pake omelan ayah, buat lari-lari eh laper lagi."


Arini terkekeh geli mendengar jawaban sahabatnya ini.


"Dasar kamu ini, udah maafin aja sih, mas Bayu kayak orang linglung Setelah kamu batalin perjodohannya."


"Kalo kamu mau ambil aja Rin, kamu kan suka ama cowok-cowok macem dia."


"Iya abis itu gue digorok ama bapakmu. Lagian udah dapet kok, lebih ganteng dari mas Bayu."


"Dapet mungut darimana?"


"Mungut di tong sampah depan sekolahan." Keduanya tergelak. Sejak SMA mereka berdua memang sahabat baik. Sampai perguruan tinggi pun keduanya juga satu fakultas, bedanya jika Anissa di sastra inggris, Arini memilih sastra indonesia. Arini kenal baik dengan orang tua Anissa, pun begitu sebaliknya.


Teeennngg teeennnggg


Suara lonceng berbunyi menginterupsi kegiatan ngerumpi mereka. Sudah jamnya mengajar. Keduanya beranjak menuju ruang kelas masing-masing.


****


Tepat pukul tiga sore, lonceng tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi. Sesaat kemudian disambut sorakan gembira dari para murid SMP yang langsung berhambur keluar. Annisa sedang membereskan barang-barang nya saat sahabatnya, Arini masuk.


"Pulang bareng yuk, aku anterin."


"Nggak usah Rin, aku balik sendiri aja, lagian kita nggak searah kan."


" Yaudah kalo nggak mau, dahh." Arini segera berbalik dan melambaikan tangan.


"Masa gitu doang, dipaksa kek biar mau nebeng sama kamu."


Arini terkekeh,


"Oh jadi mau yang di paksa-paksa gitu? Sok jual mahal padahal ngarep. Tipikal cewek sekali."


"Jadi mau nganterin nggak?"


"Nggak jadi, aku mau kencan dulu, bye."


"Eh kencan ama siapa Rin?"


" Kepo amat. Dah sana balik, ntar dicariin ayah tercinta. Ntar kalo udah resmi, baru aku kenalin."


"Dasar pelit. Udah ah, aku balik dulu."


"Iya hati-hati dijalan."


Annisa segera berlari menuju halte busway saat hujan deras mulai turun. Padahal hari ini cerah, entah kenapa hujan tiba-tiba turun. Banyak orang berteduh disana. Saat bus datang kerumunan orang itu mulai merangsek masuk kedalam bus. Tinggal dirinya sendiri. Annisa memang tidak naik bus untuk pergi ataupun pulang dari sekolah tempatnya mengajar. Jarak dari rumahnya ke sekolah hanya sekitar setengah kilometer saja. Ia membiasakan diri untuk berjalan kaki. Ia ingin menerapkan gaya hidup sehat dengan cara yang paling sedrhana.


Annisa duduk di bangku halte. Hanya sendiri, sambil memandangi rinai hujan yang begitu deras. Ia ingin menikmati hujan. Rasanya mendamaikan. Dinginnya, harumnya, ah, kalo tak mengingat usianya, mungkin saat ini ia sudah terjun menerobos hujan dan menari didalamnya.


"Kau tau, apa bagian terbaik dari hujan?"


"Apa?"


"Rinainya akan menyembunyikan tangismu."


Ia memejamkan mata, teringat percakapan beberapa tahun lalu dengan lelaki masalalunya. Lelaki yang dulu ia cintai. Bahkan mungkin sampai sekarang pun ia masih mencintainya.


Derap langkah seseorang terdengar mendekat. Annisa membuka mata. Samar-samar terlihat seorang lelaki berperawakan tinggi, besar dan berwajah asing berlari kearahnya.


Tunggu, bukankah dia... Thomas.


Ia memalingkan wajah, meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya tidaklah benar. Bukan, itu pasti orang lain. Bukan Thomas. Derap langkah itu semakin mendekat, dan berhenti tepat di sampingnya. Ia tak berani melihat.


"Hei nona, apa bus nya sudah lewat?" Lelaki itu mencoba melihat Annisa, sejurus kemudian ia terkejut bukan kepalang. Annisa memberanikan diri menoleh ke arah lelaki itu.


"Kau.."


Keduanya saling tatap. Tuhan takdir apa lagi ini. Baru saja ia memikirkan lelaki itu, dan kini lelaki itu telah berdiri dihadapannya.


****


Tahun 2014


KM Labobar, kapal motor yang tengah berlayar melintasi lautan indonesia dari ujung paling barat Jakarta menuju indonesia bagian timur Merauke. Ada cerita indah didalamnya. Melalui campur tangan tuhan, dua insan yang baru saja bertemu, diam-diam saling menautkan hati mereka.


"are you going to kill yourself, miss?" Teriak seorang lelaki asing saat mendapati seorang wanita berjilbab coklat susu dengan setelan jeans dan blouse hitamnya tengah berdiri diujung buritan kapal yang sedang melaju di lautan lepas. Tidak, gadis itu bukan hanya berdiri, tapi ia memanjat pagar besi pembatas kapal, tangan kirinya berpegangan pada tiang disampingnya sedangkan tangan kanannya merentang seakan menantang angin. Membiarkan angin menerpa seluruh tubuhnya.


"Me?" Gadis itu menoleh dan menunjuk dirinya sendiri.


"Apa ada orang lain disini selain kita berdua?"


Gadis itu membalikkan badan dan mengahampiri lelaki asing itu.


"Bisa bahasa indonesia?" Tanyanya heran.


"Of course, ibuku asli Indonesia. Jadi benar? Kau akan terjun ke laut?"


Gadis itu tersenyum.


"Apa aku terlihat segila itu sir?"


Ada sesuatu yang menyusup dalam hatinya ketika melihat gadis didepannya tersenyum. Begitu manis. Love at the first sight, mungkinkah? Ah masih terlalu dini jika ini disebut cinta. Dia dan gadis itu bahkan baru bertemu tiga menit yang lalu.


"Lalu apa yang kau lakukan disana?"


"Hanya menikmati tiupan angin. Rasanya damai. You wanna try?"


"No thanks, it's too.. dangerous."


"Apa kau takut?"


Lelaki asing itu hanya mengangguk, kemudian disusul oleh tawa lepas sang gadis.


"Of course. Kau tau, jika kau terjatuh kedalam sana, tubuhmu akan membeku."


"Bukankah itu dialog dalam film titanic?" Gadis itu terkekeh.


"Ya, aku mengutipnya sedikit." Lelaki itu turut tersenyum.


"Hi, Iam Thomas by the way. Thomas Williams." Lelaki mengulurkan tangan hendak menjabat tangan gadis didepannya.


" Hi Thomas, Iam Annisa, just call me Nisa." Bukannya menerima jabat tangan Thomas, Nisa menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Ah, yeah, hi Nisa, nice to meet you." Ia kikuk. Ia heran kenapa gadis itu tidak menerima jabat tangannya.


" Maaf, aku harus pergi, senang bertemu denganmu Thom." Nisa berlalu meninggalkan Thomas. Namun langkahnya terhenti ketika Thomas memanggilnya.


"Nisa, bisakah aku mengenalmu lebih dalam?"


Nisa hanya tersenyum dan mengangguk.


****


"Apa yang kau lakukan disini Thom?"


"I miss you so much Annisa." Matanya berkaca kaca. Setelah sekian tahun tak bersua, kini akhirnya ia bertemu dengan gadis pujaannya.


"Hujan sudah reda, aku harus pergi Thom. Glad to see you here." Gadis itu tersenyum tipis dan berlalu pergi meninggalkan Thomas yang masih terpaku di tempatnya. Sejurus kemudian ia tersadar dan kemudian mengejar Annisa.


"No Annisa, please don't go. We need to talk. Please." Thomas menahan lengan Annisa.


"Lepaskan Thom, atau aku akan teriak."


"Persetan Annisa, teriak saja, aku tak akan melepasmu kali ini."


"Lepaskan aku Thom, semua orang menatap kita. " ia meronta.


"I don't care Nisa, come with me. Please." Lagi-lagi ia menghiba.


"Ada masalah apa Nis?" Seorang lelaki memakai seragam loreng, baru saja turun dari motor yang dikendarainya menghampiri.


"Mas Bayu. Bisa antar aku pulang?"


"Iya, aku antar, apa dia ganggu kamu?"


"Tidak apa mas."


"Nisa, apa dia suamimu? Apa kau sudah menikah?" Cecarnya.


"Aku belum menikah Thomas, dia tunanganku. Aku harus pergi."


Thomas mengalah. Ia membiarkan Annisa pergi bersama tunangannya. Pupus sudah harapannya untuk menjalin kasih dengan gadis pujaannya. Ah, harus setragis inikah kisah cintanya.


****


Thomas baru saja memasuki pelataran sebuah rumah mewah bergaya victoria, khas inggris. Dengan taman didepannya yang terawat rapi. Juga bunga-bunga mawar yang merekah indah. Seakan mereka tau bahwa sang pangeran istana itu akan kembali. Mereka berlomba menunjukkan pesonanya.


'ah disini indah sekali, andai kau ada disini Nisa.' gumamnya dalam hati. Ia menutup mata dan merasakan udara dingin yang menerpa tubuhnya.


"Hei son." Seorang perempuan berumur lima puluhan datang menghampiri Thomas dan langsung memeluknya. Irina, ibunya tercinta


"How are you mom? I miss you so much."


"Kenapa tidak mengabariku? Agar aku bisa menjemputmu di bandara?"


"Kau tau mom, aku jatuh cinta pada lautan."


"Maksudmu?" Irina menatap tak mengerti.


"Ah sudahlah bu, ayo masuk, aku mau makan, aku begitu lapar sekarang."


"Kenapa kau suka sekali bermain teka teki nak?"


Thomas hanya terseyum, kemudian merengkuh bahu ibunya dan masuk kedalam rumah. Ah, biarlah ia sendiri yang bergelung dengan rindu dan masalalu.


"Kenapa tidak makan Thom? Kau bilang kau sangat lapar tadi? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" Irina menatap putra sulungnya yang sedang melamun sambil memainkan garpu ditangannya.


"No mom, aku tak apa. Apa kevin belum pulang?"


"Ya, ini masih pukul empat, dia akan pulang pukul enam nanti."


"Mom, kau bilang, kau punya seorang kakak yang punya pesantren di sini."


"Hmm, ada apa? Dia sepupuku,"


"Kenalkan aku padanya. "


"Untuk apa?"


"Kenalkan saja, kau akan tau tujuanku nanti."


"baiklah. Besok kita kesana."


****


"Assalamualaikum bu." Ucap Bayu dan Annisa saat mereka sampai dirumah Annisa dan di sambut oleh ibunya.


"Waalaikumsalam. Wah kok bisa pulang sama Bayu? Janjian ya?"


"Iya bu, tadi ketemu dijalan, saya lihat Annisa sedang diganggu seorang lelaki. Makanya Nisa saya antar pulang."


"Diganggu lelaki? Siapa nduk?"


"Nggak diganggu bu, tadi cuma nanya alamat aja. Nisa mandi dulu ya." Nisa berlalu pergi. Sedangkan sang ibu mempersilahkan Bayu untuk duduk.


"Siapa yang ganggu Yu?" Suara sang ayah menyahut. Ia juga baru saja pulang dari mengajar.


"Assalamualaikum pak." Sang ibu menginterupsi suaminya yang masuk rumah tanpa salam.


"Iya waalaikumsalam. Siapa yang ganggu Annisa."


"Tadi dia cegat sama lelaki asing pak. Kebetulan saya lewat, akhirnya Nisa saya antar pulang."


"Apa itu lelaki yang tempo hari itu bu?"


"Nisa bilang dia cuma nanya alamat. Sudahlah jangan dibahas, ibu bikinin kopi dulu ya."


"Memangnya ganggu gimana yu? Apa lelaki ini yang kamu lihat tadi?" Ayahnya menunjukkan sebuah foto, ada dua orang, lelaki yang ia lihat tadi, juga Annisa. Memakai pakaian casual dan masing-masing membawa ransel dengan background puncak gunung.


"Lelaki ini siapa pak? Sepertinya mereka dekat. Tadi lelaki itu sempat menahan Nisa, tapi setelah Nisa bilang bahwa saya calon suaminya, lelaki itu membiarkan Nisa pergi."


"Dia ini lelaki yang membawa pengaruh buruk pada Nisa. Entah bagaimana bisa mereka saling mengenal. Mereka sempat pacaran sebelum akhirnya bapak bubarkan."


"Kenapa begitu pak? Kelihatannya mereka saling mencintai."


"Dalam islam, seseorang itu dinikahi karena empat hal, pertama karena rupanya, kedua karena hartanya, ketiga nasabnya, dan keempat karena agamanya. Dan bapak melihat keempat kriteria itu ada dalam dirimu. Sedangkan lelaki asing itu kau tahu bagaimana tingkah seorang asing. Miras, narkoba, zina juga agamanya yang tidak jelas."


"Pak, tidak baik berburuk sangka pada orang lain. Belum tentu dia seburuk yang bapak kira. Kita hanya sekilas mengenalnya. Jika tidak setuju dengan dia tak apa, tapi tak usah mencelanya. Kau tak tau apa-apa tentang dia." Ibu Nisa datang dengan membawa nampan berisi dua gelas kopi, juga sepiring pisang goreng hangat.


Sedangkan Nisa, ia sedang bergeming dalam kamarnya, meratapi nasib. Mencoba memeluk luka yang membuatnya nelangsa. Hampir saja ia berhasil mengalahkan egonya untuk melupakan lelaki asing itu. Namun kehadirannya kembali, membuat pertahanannya hancur. Hatinya mulai merajut kembali harap yang telah ia pendam dalam-dalam.


****