Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Harusnya Kamu Yang Ada Disisiku



Akad nikah digelar satu bulan setelah Arini keluar dari rumah sakit. Setelah mendengar jawaban Annisa, dengan berat hati ia menuruti permintaan Umminya untuk menikahi Arini. Damar sempat terkejut saat Bayu tiba-tiba ingin menikahi adiknya, ia sempat tak setuju karena Damar tau bahwa Bayu hanya merasa kasihan pada adiknya. Namun Annisa berhasil meyakinkan Damar. Setelah mengurus seluruh dokumen untuk nikah kantor, untuk kedua kalinya Arini menghadap ke kesatuan tempat Bayu dan Indra mengabdi. Entah ia harus merasa senang atau sedih. Kini ia bisa mendapatkan cintanya namun ia harus merenggut kebahagiaan Annisa yang sedikit demi sedikit telah membuka hati untuk Bayu.


"Loh dek, kok kamu--" saat itu bu danyon tidak dapat melanjutkan pertanyaannya saking terkejutnya ia melihat Arini kembali menghadap bersama Bayu saat itu.


"Ijin ibu. Ini Arini calon istri saya."


"Iya om, silahkan duduk. Saya panggilkan bapak dulu."


Arini menjadi pendiam. Tak seceria dulu. Ia merasa tak enak hati pada sahabatnya. Belum lagi kini ayah dan ibu Annisa menudingnya sebagai duri dalam hubungan Annisa dan Bayu. Namun lagi, Annisa meyakinkannya untuk tetap menikah dengan Bayu. Annisa, bukannya tak sakit, ia berusaha tegar melihat calon suaminya harus menikah dengan gadis lain. Bayu, tentu saja hati dan hidupnya kacau. Ia kini menjadi uring-uringan. Ia tak tau harus marah pada siapa. Setiap kali bertemu Annisa, hatinya menangis. Sungguh berat melepaskan gadis itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa binti--"


"Yu bukan Annisa, Arini. Ulang sekali lagi ya." Ucap abahnya. Hanya Annisa yang ada dipikirannya. Ia tak mampu mengucapkan nama selain Annisa.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ann--" Bayu menghela napas kasar. Sekali lagi nama Annisa yang ingin ia sebutkan. matanya memanas. Perlahan air mulai menggenang di pelupuk matanya. Bayu mengusapnya sebelum semua orang menyadarinya.


"Tarik napas dulu. Istirahat sebentar."


"Dimulai saja bah. Insyaallah Bayu sudah siap."


"Yakin Yu? Jangan sampai salah lagi. "


"Insyaallah bah. "


"Baik mas Bayu. Kita ulang sekali lagi. " penghulu menarik napas sebelum kemudian melafalkan ijab.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Bayu Megantara dengan Arini binti Hermanto dengan maskawin kalung emas seberat tiga gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Penghulu menghentakkan tangan Bayu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arini binti Hermanto dengan maskawin tersebut tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah. "


Seisi ruangan serempak mengucap hamdalah. Dikamar Arini, Annisa duduk ditepi ranjang menemani mempelai wanita yang kini sudah sah menjadi istri Bayu, mantan calon suaminya. Keduanya saling memeluk, menangis haru.


"Maaf dan terimakasih Nis. " bisiknya pada Annisa. Annisa mengangguk.


"Udah jangan nangis. Nanti make up mu luntur. Kita keluar sekarang."


Annisa menggandeng Arini keluar menuju tempat Bayu mengucap akad. Sebagian keluarga Bayu menatap iba pada Annisa. Annisa mengulas senyum pada beberapa keluarga Bayu yang memang sudah ia kenal. Arini duduk di tepat disamping Bayu. Namun Bayu sama sekali tak memandang wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Matanya tak lepas menatap Annisa yang kini duduk disamping umminya. Lagi, matanya memanas. Ia menunduk dan mengusap beberapa bulir air yang tak sengaja jatuh dari pelupuk.


'Harusnya kamu yang ada disisiku Annisa.'


Abah menepuk pundaknya. Ia tau anaknya tengah menangis sekarang. Memang tidak mudah melepaskan cinta.


"Ini jodohmu sekarang Yu. Semua takdir Allah. Jalani saja dengan iklhas. " bisik abah pada Bayu.


"Jodoh yang dipaksakan maksud abah?" Ucapnya pelan. Abah diam. Ucapan Bayu sukses membuyarkan kebahagiaan di hati Arini.


"Aku pamit dulu Rin, mas. Dan maaf aku nggak bisa hadir di resepsi kalian besok malam." Annisa memeluk Arini sesaat. Kemudian ia menggeser kakinya tepat dihadapan Bayu.


"Titip Arini mas. Terimakasih untuk semua pengorbananmu." Sesaat tatapan mereka saling bertemu. Mata Bayu berkaca-kaca. Kemudian ia menunduk. Bahunya sedikit berguncang. Terdengar isakan pelan dari lelaki itu. Tanpa menunggu jawaban Bayu, Annisa segera beranjak meninggalkan tempat.


'Semoga kalian selalu bahagia.' Ucap Annisa dalam hati. Ia sedih, hatinya seperti diremas-remas saat mendengar Bayu melafalkan akad untuk perempuan lain. Tapi ini permintaannya sendiri. Ia tidak boleh lemah. Dengan mantap ia melangkah meninggalkan rumah Arini.


****


"Bisa-bisanya kamu dateng ke akad nikah mereka Nis?" Sang ayah begitu berapi-api begitu melihat Annisa yang baru saja duduk disofa.


"Yah, Nisa capek. Mau istirahat dulu. Marahnya nanti aja ya."


"Kamu kok bisa setenang itu? Ini kamu di permalukan loh Nis."


"Nggak ada yang dipermalukan yah. Kalau Nisa batal nikah sama mas Bayu, berarti emang bukan jodohnya."


"Nisa bener yah. Mungkin Bayu emang bukan yang terbaik untuk Nisa. Pun begitu sebaliknya. Udah kita makan dulu. Kamu belum makan kan nduk? "


"belum bu. Nggak nafsu makan disana."


"Lah ya iya. Gimana bisa makan di nikahan mantan. Ya sudah nggak apa-apa nanti biar ayah carikan lagi calon suami buat kamu. Yang lebih ganteng, yang lebih mapan, yang lebih baik dari Bayu. "


"Ayah! " ucap Annisa serentak dengan sang ibu. Sang ayah terkikik mendengar dua wanitanya memekik geram.


****


Seminggu setelah pernikahan, Bayu memboyong Arini ke rumah dinasnya. Hubungan keduanya menjadi canggung. Arini selalu melaksanakan kewajibannya sebagai istri Bayu. Menyiapkan makan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan segudang pekerjaan ibu rumah tangga lainnya. Untuk urusan ranjang, Bayu sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Tidurpun terpisah. Arini tidur dikamar utama, sedangkan Bayu memilih tidur di sofa ruang tamu. Arini tau diri. Ia tak akan menuntut lebih pada Bayu.


"Mas, nggak sarapan dulu?" Arini tengah menyiapkan makanan di meja makan, namun terhenti saat melihat Bayu mengenakan sepatu PDLnya.


"Nggak. Nanti aja pulang apel. Udah telat."


"Kamu pulangnya jam berapa?"


"Belum tau. Paling jam 10."


"Jam tujuh aku berangkat ngajar. Kamu makan sendiri nggak apa-apa kan?"


"Hemm." jawabnya singkat. Arini berdiri disamping Bayu saat lelaki itu telah siap beranjak. Arini mengulurkan tangan hendak meraih tangan suaminya. Namun lagi, sekali lagi Bayu menepisnya. Bayu seakan enggan menyentuhnya. Selama seminggu pernikahan mereka, Arini hanya satu kali mencium punggung tangan suaminya. Yaitu di hari pernikahan mereka.


"Aku berangkat. Jangan lupa kunci pintu. Kalau bisa sempatin berkunjung kerumah senior dan tetangga sebelah. Jaga sikap. Jangan bikin malu."


Perkataan Bayu benar-benar menyakiti hatinya. Apakah Bayu tidak bisa berkata sedikit lebih lembut? Ia tau bahwa Bayu tidak pernah menganggapnya. Tapi lelaki itu sungguh keterlaluan. Tepat setelah Bayu menghilang di balik pintu, air matanya luruh. Ia kecewa dengan sikap Bayu.


'Dulu kamu baik sama aku mas. Sekarang kenapa kamu jadi sejahat ini?' Ratapnya dalam hati.


****