Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Tinggalkan Dia



Jo senang bukan kepalang saat ia diajak ibu Annisa nya ke TMII. Jo bersorak riang. Raut wajahnya memancarkan bahagia. Annisa turut gembira melihatnya. Namun, berbeda dengan Thomas yang nampak sangat enggan mengikuti langkah kaki sang istri. Ia justru berjalan dibelakang Annisa dengan wajah ditekuk.


"Seharusnya kita sedang bulan madu sekarang ini." bisiknya pada Annisa yang tengah sibuk mengamati tingkah Jo.


"Kita sedang melakukannya, bukan?"


"Tadinya aku ingin mengajakmu ke Raja Ampat."


"Next time kita akan kesana. Bersama Jo."


"Kenapa kau nampak senang sekali dengan kehadiran Jo?"


"Lalu apa maumu, sayang? Kau mau aku marah?" Annisa menoleh pada Thomas dan menekankan suaranya pada kata marah.


"Tidak, jangan marah. Baiklah, seperti ini lebih baik."


"Nikmatilah kebersamaan kalian. Kalian harus saling mengenal bukan?"


"Tidak perlu, sayang."


"Nisa," dari jauh, terdengar suara lelaki memanggil Nisa. Mereka berhenti kemudian menoleh ke asal suara tersebut.


Nampak seorang lelaki mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek hitam, bersama wanita bergamis hijau tosca, mendekat kearahnya. Annisa tersenyum kearah keduanya.


"Mas Bayu, Arini. Lagi jalan-jalan juga?" Annisa memeluk Arini.


"Iya, sama Abah dan Ummi juga. Aku kira kamu masih di Merauke?"


"Abah dan Ummi dimana sekarang?"


"Di masjid." timpal Bayu.


"Kamu kok udah selesai aja honey moon nya?" Tanya Arini.


"Iya Rin, tiga hari aja disana. Ada urusan penting. Jadi harus cepet kembali."


"Oh, itu anak siapa? Keponakan? Mirip banget sama Thomas." Arini menunjuk ke arah Jo yang asik menikmati pemandangan didepannya.


"Ini anak ... " ucapannya terhenti ketika Thomas meremas tangannya.


"Ini keponakan, anak dari kakak sepupuku." Sahut Thomas.


"Kita mau makan nih, bareng yuk sekalian." Ajak Arini kemudian.


"Boleh,"


"Kalau begitu, aku jemput abah dan ummi dulu ya." Arini berlalu menuju masjid dimana Abah dan Ummi berada.


"Ibu, Jo mau pipis." Bocah kecil itu meringis sambil memegang bagian bawah celananya.


"Baiklah, ibu antar ke toilet. Aku pergi antar dia dulu." Ucapnya pada Thomas, Thomas mengangguk. Sedangkan Bayu, sedari tadi, ia terus saja menatap kearah bocah kecil itu. Tatapannya lenuh selidik.


"Ibu?" Tanya Bayu pada Thomas yang berdiri di sampingnya dengan jarak satu meter.


"Apa ada yang salah?" Thomas menatap tidak suka.


"kalau anak tadi memang keponakanmu, kenapa dia memanggil Annisa, ibu?"


"Lalu apa masalahmu?"


"Tentu akan jadi masalah kalau memang benar status anak itu seperti dugaanku. Jo, anakmu bukan?"


Thomas menatap nanar ke arah Bayu.


"dugaanku benar, bukan?"


"Bukan urusanmu, pak Bayu yang terhormat. Ini adalah rumah tanggaku. Kau tidak berhak sama sekali mencampuri urusan kami."


"Akui saja. Kau mengkhianati Annisa? Sampai memiliki seorang anak? Bukankah itu sangat keterlaluan. Asal kau tau, jika kau menyakitinya, aku bisa saja merebutnya darimu."


"Haruskah kita selesaikan ini dengan cara lelaki?" Raut wajah Thomas merah karena murka. Tatapannya semakin nanar.


"Kalau kau tidak bisa menjadi suami yang baik, lepaskan dia. Biar aku yang menjaganya."


Thomas mendekatkan wajahnya kearah Bayu. Jari telunjuk kanannya mengacung ke arah Bayu.


"apa-apaan kalian berdua?" Annisa dan Jo sudah berdiri di belakang mereka berdua.


"Sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang? Lebih lama lagi disini, mungkin aku akan hilang kendali dan menghajar siapa saja yang berani menggangguku." Thomas menghembuskan napas kasar. Kini dadanya di penuhi oleh emosi.


"Kita makan dulu, bersama Abah dan Ummi." Annisa berbalik dan meninggalkan keduanya menuju foodcourt. Abah, Ummi, juga Arini telah berada disana. Bayu tersenyum penuh kemenangan. Kemudian ia mengekor di belakang Annisa yang tengah menggendong Jo.


"Jadi benar, dia anak suamimu?"


"Mas Bayu tau darimana?"


"Kenapa kamu masih mau bersamanya? Tinggalkan dia. Kamu layak mendapatkan yang terbaik."


Annisa tak menjawab. Ia menatap lurus kedepan dan terus melangkah.


"Tinggalkan dia, aku akan ceraikan Arini."


Buuggh. Tinjuan Thomas tepat sasaran mengenai rahang kanan Bayu. Bayu hampir terjengkang. Namun ia masih menguasai beban tubuhnya. Ia memegang rahangnya yang kini mulai memerah.


"What the hell you doing, Thom?" Annisa mendorong Thomas menjauhi Bayu. Sesaat, orang-orang disekeliling mereka tampak berhenti dan memperhatikan pertikaian mereka.


"Aku sudah memperingatkanmu, pak Bayu!" Thomas kembali mengacungkan telunjuk kananya pada Bayu. Bayu hanya menyeringai.


"Shit! Bisakah kita pergi sekarang juga? Dan kau, sudah ku bilang jangan pernah sentuh apa yang sudah menjadi milikku. Tidakkah kau mengerti perkataanku?" Ucap Thomas setengah berteriak. Ia benar-benar emosi.


"Oke, kita pergi sekarang. Mas Bayu, aku minta maaf atas nama suamiku. Sampaikan juga maafku pada Abah, Ummi, juga Arini. Kami permisi." Annisa menggandeng Thomas dengan tangan kananya, dan menggendong Jo di tangan kirinya.


"Tinggalakan dia, Annisa. Lelaki itu tidak layak untukmu." Mendengar ucapan Bayu, thomas kembali menghentikan langkahnya dan hendak berbalik. Namun Annisa menahannya.


"That's enough, Thom. Please."


"Beraninya dia mengatakan hal itu tepat di depanku."


"Istighfar, Thom. Jangan terbawa emosi." Thomas menyugar rambutnya kasar. Dan beberapa kali membuang napas melalui mulutnya.


"Bagaimana tidak emosi, dia bilang, dia akan merebut mu dariku. Annisa, mulai sekarang, jangan pernah mendekatinya."


"Iya, aku tau."


Thomas, Annisa dan Jo meninggalkan TMII pada pukul 11 tepat. Rencana liburan mereka menjadi bubar setelah insiden tadi.


"Kalau ke Dufan bagaimana? Ini masih pukul sebelas."


"Boleh saja, yang penting kita tidak bertemu lagi dengan Bayu."


****


Ketiganya baru keluar dari Dufan sekitar pukul lima sore, kemudian mereka beranjak ke restoran seafood untuk makan. Setelah makan, mereka mampir ke masjid untuk sholat maghrib dan kemudian pulang. Joshua yang kelelahan, tampak tertidur lelap dipangkuan Annisa.


"Terimakasih untuk hari, Thom." Ucapnya pada Thomas.


"Sama-sama, sayang. Apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi? Setelah mengantarnya pada Anita, kita bisa berkencan berdua." Thomas mengerling ke arah sang istri. Membuat wajah istrinya bersemu merah.


"Entahlah. Lebih baik kita pulang saja."


"Kau yakin tidak ingin kemana-mana lagi?"


"Aku yakin kau lelah sekarang. Kita pulang saja."


"Oke, kita pulang."


Mereka sampai di rumah kontrakan Anita tepat saat adzan isya berkumandang. Annisa menggendong Jo yang sedang tertidur dan masuk kedalam, sedangkan Thomas langsung bergegas pergi menuju masjid.


Annisa mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada yang membukanya. Annisa memutuskan untuk langsung masuk, dan memanggil Anita.


"Mbak Anita?" Sampai tiga ia memanggil, wanita itu tidak juga muncul. Annisa menuju kamar Anita yang nampak tertutup. Sekali lagi ia mengetuk pintu itu.


"Mbak Anita, mbak tidur?" Lagi, tak ada sahutan sama sekali. Annisa memutuskan untuk membuka pintu kamarnya. Kamar itu kosong. Anita tidak ada didalam. Setelah menidurkan Jo di ranjang, Annisa beranjak menuju dapur dan mengelilingi seluruh rumah untuk mencari Anita. Namun Anita sama sekali tidak nampak. Setelah beberapa menit berkeliling, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan suara masuk.


'Maaf, aku pulang. Titip Jo.' Suara Anita terdengar parau. Annisa langsung menelpon nomor Anita. Namun nihil, ponsel Anita sudah tidak aktif. Annisa berlari keluar, ketika Thomas baru saja tiba dari masjid. Ia terisak dan langsung memeluk suaminya.


****