Assalamualaikum Thomas

Assalamualaikum Thomas
Syahadat Ali



Pukul sebelas siang waktu Merauke.


Thomas telah berdiri di sebuah bangunan seperti sekolah. Begitu luas. Ada masjid besar di pojok kanan bangunan tersebut. Terdapat papan nama di depan gerbang sekolah tersebut. Pondok Pesantren Annajah Yamra. Terletak sekitar sepuluh kilometer dari kantornya. Untuk beberapa saat ia berdiri di depan papan nama itu sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya ke halaman sekolah itu.


Siang itu begitu ramai riuh para remaja berusia dua belasan tahun, yang juga santri di pesantren itu berlarian menuju masjid. Seakan berlomba ingin cepat sampai kedalamnya. Mereka tampak riang tanpa beban. Thomas turut tersenyum melihat betapa serunya mereka membahas tentang pelajaran sekolah, tentang kitab-kitab yang telah mereka pelajari dan lain sebagainya. Ia turut melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Memperhatikan dari jauh bagaiman para santri itu berwudhu kemudian masuk ke dalam masjid. Ada pula yang tetap berada di teras masjid dan langsung melaksanakan sholat. Ia pernah melihat gerakan ini dari Kevin. Thomas duduk diteras masjid hingga adzan dzuhur berkumandang.


Para jamaah berdiri kemudian merapatkan shaf nya. Thomas masih duduk di di teras masjid saat sholat dimulai hingga sholat selesai di laksanakan. Dengan seksama ia melihat dan memperhatikan begitu rapi nya gerakan para jamaah.


"Is there something you want to ask sir?"


Seseorang menepuk punggungnya saat ia sedang asyik mengamati para jamah yang kembali melaksanakan sholat secara sendiri-sendiri. Thomas menoleh. Mendapati sosok pria yang ia perkirakan seumuran dengannya. Lelaki itu mengenakan songkok hitam, koko berwarna putih dan sarung bermotif batik khas papua. Kulitnya terang. Jelas ia bukan warga asli papua.


"Em, maaf jika saya mengganggu. Tadi saya sedang lewat didepan sana dan kebetulan ingin beristirahat sejenak. Apakah anda keberatan?"


"Ah, ternyata anda fasih berbahasa indonesia. Tentu tidak keberatan. Ini rumah allah. Siapapun boleh berada disini. "


"I'm not muslim by the way. Thomas. Nama saya Thomas." Thomas mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh uluran tangan dari lelaki didepannya.


"Zulfikar. Panggil saja Zul. Jadi apa yang dilakukan seorang nonmuslim ditempat ibadah orang muslim?" Ali tersenyum ramah.


Zulfikar adalah anak dari kyai Sholeh pemilik pondok pesantren Annajah Yamrah.


"Ketika aku sedang pusing, tertekan dan jenuh dengan beragam masalah dalam hidupku aku selalu tenang saat mendengar suara adzan. Is there something wrong with me?"


"Tidak ada yang salah kawan. Mungkin Allah sedang mengirimkan secuil hidayah kepadamu. Sering-seringlah berkunjung kemari. Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja. Dengan senang hati aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu sebisaku."


"Sebenarnya aku mencintai seorang gadis dari kaum mu. Aku sangat mencintainya. Tapi dia mencampakkanku. "


"Biar kutebak. Pasti karena perbedaan agama bukan?"


"Yupp. Itu memang alasannya meninggalkanku."


"Dia sudah benar Thomas. Agama kami memang melarang kami menikahi nonmuslim."


"Kenapa tuhan kalian begitu egois? Kenapa orang-orang dalam agamamu begitu egois?"


"Itu tidak benar kawan. Allah Azza wa Jalla berfirman :


وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ


“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.[al-Baqarah/2:221]


perlu kau ketahui Thomas. Semua larangan Allah adalah demi kebaikan hambanya. Ada hikmah besar dalam masalah ini. Salah satunya adalah seorang muslimah dimungkinkan akan menghadapi godaan keimanan apabila menikah dengan lelaki yang tidak seakidah. Dia dapat melecehkan, mengolok-olok agama atau menghina nabinya. Dalam kondisi seperti ini, seorang muslimah tidak akan dapat hidup berdampingan dengan suaminya. Larangan ini bertujuan untuk melindungi hak-hak wanita."


"Sungguh, aku sama sekali tidak ada niat sedikitpun untuk mengolok-olok agamamu ataupun nabimu. Aku mencintainya, tentu saja dengan segenap hati aku akan melindungi dan mengasihinya."


"Posisi wanita dalam keluarga adalah menjadi makmum. Belum tentu bisa membimbing suaminya. Jadi jika suaminya non muslim maka bisa berisiko merusak pondasi keimanan si wanita."


"Lalu jika aku berpindah keyakinan mengikuti keyakinan kalian, apakah aku bisa menikahinya?"


"Jika kau masuk islam hanya untuk meraih gadismu, semuanya akan sia-sia Thomas. Kau tidak akan dapat apa-apa dari keislamanmu. Jika kau menikahinya, apa kau yakin bisa membimbingnya? Atau kau malah akan menjerumuskannya kedalam neraka?"


Thomas terdiam sejenak. Meresapi kalimat demi kalimat yang Zul ucapkan. Ia tau benar. Annisa adalah muslimah yang taat. Bagaimana bisa ia membimbing Annisa sedang ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang islam. Ia mendesah kasar.


"Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Jalani saja. Belajar dulu tentang islam. Kenali allah dulu. Insyaallah Allah akan memberimu hidayah. Belajarlah disini jika kau mau."


"Bolehkah?"


"Tentu saja boleh."


"Baiklah. Kalau begitu bolehkah aku meminta nomor telpon mu?"


"Tentu." Zul mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah pena. Kemudian menulis beberapa angka diatas kertas lalu menyobeknya.


"Ini nomor telponku. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus melanjutkan mengajarku."


"Baiklah. Aku juga ingin pamit. Akan kuhubungi kau saat aku ingin kemari. Terimakasih."


"Ya sama-sama. Hati-hati di jalan."


****


"Ikuti kata-kataku Thomas." Ucap kyai Sholeh sambil menepuk pundak Thomas. Kini ia berada ditengah masjid dikelilingi oleh puluhan santri yang baru saja usai melaksanakan sholat ashar.


"Asyhadu--"


"Asyhadu--"


"al la--"


"al la--"


"ilaha--"


"ilaha--"


"illallah--"


"illallah--"


"Wa asyhadu--"


"Wa asyhadu--"


"anna--"


"anna--"


"muhammadar--"


"muhammadar--"


"rasulullah. "


"rasulullah. "


"Alhamdulillah." kyai Sholeh menengadahkan tangan lalu berdoa dan diAmiini oleh para santri yang berada disana.


"Baiklah Thomas, sekarang kau seorang muslim. Apa kau sudah khitan?"


"Tentu sudah. Khitan itu menjadikan tubuh kita lebih sehat. Aku sudah khitan saat masih bayi. "


"Baiklah, kalau aku boleh tau apa arti dari namamu itu?"


"Namaku? "


"Iya. Namamu. Apa kau tau artinya?"


"Em, tidak ada arti khusus. Dalam bahasa yunani artinya kembar. "


"Kembar? Apa kau kembar?" Tanya Zul kemudian.


"Hahaha, tentu tidak. Mungkin orang tuaku hanya asal memilih nama. Apakah ada masalah dengan namaku?"


"Apa kau keberatan jika aku menyuruhmu memilih satu nama yang dapat mencerminkan keislamanmu?" Kyai Sholeh bertanya dengan ragu.


"Tentu aku tak keberatan. Pilihkanlah satu untukku."


"Baiklah. Bagaimana dengan Ali Imran?"


"Ali Imran? " Thomas menimbang sesaat.


"Artinya keluarga Imran. Nama salah satu surah dalam al quran." Sambung Zul kemudian.


"Kurasa itu bagus."


Thomas mulai belajar sholat. Awalnya ia hanya menirukan gerakannya. Setelahnya ia mulai menghapal doa-doa dalam sholat. Lambat laun ia semakin mendalami agama barunya. Dan ia merasa benar-benar jatuh cinta pada agama barunya sekarang.


****