
Adel POV
Setelah mata kuliah Mr Bardon selesai, aku membaringkan kepalaku sebentar di atas meja. Setelah sedikit lama aku membaringkan kepalaki, aku berdiri dan pergi menuju perpustakaan. Aku berharap hari ini aku tidak bertemu Key lagi. Perasaanku terkadang tidak tenang saat bertemu dengannya, sepertinya aku mulai menyukainya.
Bukan karena kekayaannya, ketampanannya, atau karena kehebatannya. Aku tidak membutuhkan alasan apapun. Tapi, aku harus membuang perasaanku padanya. Aku tidak boleh sampai jatuh cinta padanya. Mungkin dengan satu hari saja aku tidak bertemunya, itu akan membuat pikiranku menjadi tenang.
Aku kembali memikirkan tawaran yang diberikan oleh Cathrine kemarin. Sebenarnya aku masih ragu, tapi aku menolak saja tawaran Cathrine. Aku tidak mau karena diriku, tugas mereka menjadi gagal. Yah, itu semua bisa saja terjadi karena kecerobohanku.
Bukannya mengambil salah satu novel di rak buku ini, tapi aku hanya memandangi ratusan buku yang tersusun rapi di rak-rak buku. Sepertinya aku sudah lupa akan tujuanku kesini.
Aku memutuskan untuk duduk di lorong-lorong rak buku. Aku mengambil salah satu novel yang tebalnya sekitar 600 halaman. Bukan membacanya, tapi akan kugunakan sebagai penutup wajahku. Seperti biasa, aku akan tidur sebentar. Sepertinya aku mulai ketagihan tidur di perpustakaan.
Belum sampai satu menit aku memejamkan mataku, aku kembali membuka kelopak mataku. Aku merasa seseorang sedang mendatangiku.
Arggh, suasana perpustakaan sepertinya sedang tidak bersahabat denganku. Aku segera berdiri dan hendak pergi, namun aku menghentikan langkahku ketika aku menyadari apa yang baru saja aku lihat saat ini.
Lagi-lagi dia, Key Armstrong Haynsworth. Padahal baru tadi aku berdoa agar aku tidak bertemu dengannya. Ia menatapku sambil menyeringai.
Aku sedikit takut melihat manik matanya itu. Manik mata yang selalu berhasil membuatku terhipnotis.
Ia berjalan mendekatiku, aku mundur perlahan.
Baru saja aku akan berbalik, ia dengan secepat kilat menarikku dan menyenderkanku di rak buku yang tingginya melebihi diriku.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana lagi," ucapnya sambil menyeringai. Lagi-lagi ia mencuri ciumanku untuk kedua kalinya.
Sontak aku mendorong dadanya, dan memukul dadanya. Apalah dayaku yang bertubuh lebih kecil darinya. Entahlah ini mimpi atau bukan, tapi rasanya berat sekali melangkah.
Tiba-tiba pandanganku menjadi sedikit kabur. Aku hanya bisa melihat cahaya putih yang sangat terang sekali, dan aku pun menutup mataku.
Aku kembali membuka mataku, namun suasananya berbeda.
'Apa tadi hanya mimpi?'
Aku membuang nafas lega. 'Tunggu dulu. Bukankah aku tadi sedang berada di lorong buku?'
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.
Bukan berada di perpustakaan, melainkan aku sedang berada di kelas. Semua orang sepertinya sudah pulang.
'Astaga!'
Aku baru ingat, bahwa setelah kelas selesai, aku tidak jadi ke perpustakaan. Melainkan membaringkan kepalaku di meja.
Aku segera membereskan buku ku yang masih berhamburan di mejaku. Aku melirik jam tanganku, jam menunjukkan sudah pukul 3 sore. 'Arggh' kenapa bisa aku tertidur lama sekali. Bahkan Cath sepertinya sedang mengerjaiku. Aku mengambil ponselku yang sedang bernyanyi di atas mejaku.
"Hallo Adel?"
"Hallo Cath"
"Haha, apa kau sudah bangun Miss France?"
Sudah kuduga, dia pasti sedang mengerjaiku hari ini.
"Kau jahat sekali Cath. Kenapa kau tidak membangunkanku," jawabku dengan nada kesal.
"Haha, maafkan aku Adel. Anggap saja ini hadiah selamat ulang tahun dariku," jawabnya sambil tertawa.
"Terserahmu, " jawabku sedikit jutek.
"Oh tidak, Miss France kesal lagi padaku. Lebih baik aku laporkan pada Key, supaya kau segera dinikahinya, dan kita bisa lebih sering berkelahi."
"Jangan marah lagi Miss France. Nanti Key bisa kabur kalau kau cepat sekali marah. Aku mau jalan dulu, bye!" Cath menutup ponselnya.
Untung saja Cath hanya berbicara padaku melalui ponsel. Jika tidak, aku bisa ketahuan sedang malu, karena wajahku yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Setelah kurang lebih setengah jam bersiap-siap, aku segera pergi bekerja. Tidak lupa aku mengunci pintu apartemenku. Aku tidak boleh lagi ceroboh seperti beberapa waktu yang lalu. Untung saja, tidak ada sembarang orang yang masuk ke dalam apartemenku.
Setibanya di cafe, aku langsung bekerja seperti biasanya. Mendatangi setiap meja yang baru di datangi pelanggan. Melayani seramah mungkin, meskipun terkadang banyak pelanggan yang bertingkah tidak sopan.
"Hi Adel," sapa Richard ketika aku kembali ke dapur untuk mengantar catatan pesanan.
"Hi Richard," sapaku balik sambil menyunggingkan senyum terbaikku.
"Sudah dua hari kau tidak masuk kerja, rasanya aku kangen sekali padamu," ucapnya sambil terkekeh.
"Ahh, iya. Belakangan ini aku banyak sekali tugas kuliah, jadi aku terlalu lelah untuk pergi berkerja malam harinya," ucapku berbohong.
'Maafkan aku Richard, aku terpaksa berbohong'
Kalian pasti tidak menyangka, bahwa sebenarnya Richard adalah anak seorang miliyuner. Aku sendiri masih bingung dengannya. Dia rela meninggalkan semua harta kekayaannya, dan lebih memilih untuk tinggal di apartemen sederhana seperti apartemenku. Dia bahkan mencari uang sendiri.
Aku dulu sempat menyukainya, tapi sepertinya perasaanku tidak terbalaskan. Ia hanya menganggapku adik, dan aku hanya memaklumi semua kenyataan itu. Wajahnya yang khas sekali dengan asia, ditambah senyumnya yang bisa membuatku hampir pingsan.
"Semangat!" Ucapnya sambil mengancungkan jempolnya.
Aku duduk sebentar di pinggir meja bar cafe, ia menyusulku.
"Adel, apa kau besok sibuk?"
'Kenapa dia tiba-tiba bertanya? Bukankah besok juga bekerja.'
"Seperti biasa, kita kan selalu sibuk bekerja."
"Ohiya, sepertinya kau belum diberi tahu," ucapnya yang membuat tanda tanya sedang menghantam kepalaku.
"Memangnya ada apa besok?"
"Besok cafe kita akan tutup sementara, karena ada sedikit renovasi."
"Oh jadi begitu. Lalu, kenapa tiba-tiba bertanya padaku tadi?"
Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya malu, bibirku begitu saja bertanya.
"Em, aku ingin mengajakmu ke festival besok. Tapi kalau kau sedang sibuk, aku tidak akan memaksamu."
'Adel ini adalah kesempatan emas! Jangan sia-siakan lagi!'
Kalimat di kepalaku ini bisa membuat kepalaku tambah besar. Baiklah, aku tidak akan menolak ajakannya.
"Oh aku tidak sibuk besok. Jadi kita bisa bersama-sama pergi ke festival besok," jawabku sambil senyum sumringah.
Aku kembali melanjutkan kerjaku, begitu pun juga dengan dia. 'Dia tambah tampan sekarang.' Aku hanya bisa memujinya dari dalam hatiku.
Rasanya aku jadi tidak sabar menunggu hari esok.
to be continue...