
Author POV
2 weeks later
"Selamat siang. Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap satpam yang berada di pos.
"Selamat siang pak. Apa benar rumah ini membutuhnya pelayan baru?" tanya wanita berkacamata itu.
"Iya, kau benar. Pelayan rumah ini telah berhenti dari kerja karena memilih untuk pulang kampung. Mari saya antarkan."
Ia mengikuti langkah satpam itu. Dan tibalah ia di Mansion megah milik keluarga miliyuner, Haynsworth. Ia tampak ragu, namun ia mencoba untuk yakin dengan tujuannya.
"Ohya, Tuan muda Haynsworth sekarang lebih banyak tinggal disini, semenjak tunangannya meninggal karena kecelakaan. Tapi tolong jaga sikapmu dengan baik, karena Tuan Muda sangat mudah emosi. Mungkin karena ia menerima banyak tekanan."
Wanita itu hanya tersenyum kecil. Dan mengucapkan terima kasih pada security itu.
"Apa kau pelayan baru?" tanya sisca dengan gaya kekanakannya.
"Ah iya sis," jawabnya sambil tersenyum.
"Kau sudah tau namaku?"
"Ah iya, security tadi yang memberitahu namamu," jawabnya mencoba untuk tenang.
Ah, kenapa aku bodoh sekali?
Mereka pun saling berkenalan dan ia memberitahu namanya pada sisca.
"Aku ingin memastikan, apa benar rumah ini masih membutuhkan banyak pelayan? Jika ia, aku ingin memberitahu temanku dan menyuruhnya datang."
"Iya benar sekali, Sugar. Em, baiklah aku akan menunjukkan kamar tidurmu dulu. Aku akan membantumu membawa tasmu. Sepertinya hari ini sangat beruntung, karena kedatangan dua pelayan baru. "
Sisca tertawa dengan manja, sedangkan Sugar mengangguk pelan. Sugar pun mengikuti langkah Sisca menuju kamar barunya.
***
"Sisca, dia adalah temanku yang kuceritakan tadi."
Sugar menggandeng wanita memakai tudung merah di kepalanya, serta kacamata dan tahi lalat di bawah matanya. Sisca termenung ketika melihat wanita yang ia ketahui adalah teman Sugar. Sisca tiba-tiba teringat sesuatu. Yah, ia teringat sosok Adelaide.
"Sis? Mengapa kau melamun?" Sugar mengibaskan tangannya di hadapan Sisca, dan berhasil membuat Sisca buyar dari lamunannya.
"Ah, maafkan aku. Aku tiba-tiba teringat dengan tunangan Tuan muda, Ms. Adel," ucapnya dengan nada sedih.
Sugar pun langsung menyangganya, dan membantah perkataan Sisca tentang kemiripan temannya dengan Adel.
"Ah, bagaimana bisa kau bilang seperti itu? Ia tidak mungkin mirip dengan tunangan tuan muda,"ucap Sugar membantah.
"Ohya, kau tadi ingin pergi ke taman belakang kan? Pergilah, biar aku yang mengurusnya," imbuhnya. Sisca hanya menggangguk setuju.
"Kau sangat cantik dengan tudung itu, seperti dongeng-dongeng dulu," imbuh Sisca sebelum beranjak ke taman belakang.
Sugar pun segera membawanya ke kamar tadi.
"Hufft syukurlah. Apa kau aman?" tanya Sugar.
Ia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
"Apa kau sudah memastikan bahwa tidak ada yang mengikutimu kesini?"
Ia mengangguk lagi. "Aku baik-baik saja. Jadi, jangan terlalu khawatir padaku, Sugar," ucapnya sembari mencubit pipi tembem Sugar.
"Arghh, sakit Adel!"
Ia langsung menyentil kening Sugar, karena sudah menyebut namanya terlalu keras.
"Pelan-pelan, Sugar! Kita bisa ketahuan nanti!"
"Sorry," ia mengerjapkan matanya dan memasang wajah imutnya.
****
Flashback
"Selamat jalan Adel!"
Lirya lalu mendorong Adel. Adel tidak bisa menghindar karena posisinya yang sudah sangat dekat dengan ujung tebing.
"Key!"
Adel menutup matanya, bersiap untuk menemui ajalnya. Namun, keberuntungan sedang berpihak padanya. Bajunya tersangkut di pohon yang tumbuh di dinding tebing itu.
Ia menarik nafasnya perlahan dan mencoba untuk tidak melihat ke arah bawah. Melihat ombak besar yang siap melahap dirinya, jika ia jatuh ke dalamnya.
Cukup lama ia bergantungan di atas pohon. Sampai seorang gadis datang yang terdengar sedang menangis di atas tebing. Adel dapat mendengar suaranya, namun ia ragu untuk meminta tolong karena pasti akan sangat sulit suaranya terdengar.
"Help me, please!" teriak Adel.
Ia segera menghapus airmatanya dan mencoba untuk memberanikan diri mencari asal suara teriakan Adel.
"Siapapun di sana, tolonglah aku! Aku bukan penjahat, vampir ataupun jenis hantu lainnya," teriaknya lagi.
'Sepertinya suara itu berasal dari dinding tebing,' batin gadis itu.
Gadis itu pun menghidupkan flash light di ponselnya, untuk memastikan bahwa suara itu memang berasal dari manusia.
Sontak ia merasa terkejut ketika melihat Adel yang bergantungan dengan lemas di pohon. Reflek ia melangkah mundur untuk pergi.
"Hem, tunggu dulu! Dia kan memang seorang manusia, untuk apa aku harus pergi?" Ia mengetuk kepalanya sendiri, kemudian kembali ke tepi tebing yang curam itu.
"Syukurlah kau kembali. Apa kau bisa menolongku? Aku sudah sangat lemah sekali, aku tidak sanggup lagi bertahan di pohon ini."
"Ah tunggu sebentar! Sepertinya aku membawa tali di dalam mobilku."
Ia segera berlari ke mobilnya untuk mengambil tali, kemudian ia berlari secepat mungkin untuk kembali menolong Adel.
"Pegang yang erat tali itu! Tenang saja, aku adalah wonder woman."
Adel pun segera menggapai tali itu dan berpegangan erat. Sedangkan gadis bertubuh sedikit berisi itu menarik tali itu dengan sekuat tenaga.
"Sedikit lagi! Pegang yang kuat!" teriaknya lagi.
Tak lama kemudian, Adel pun berhasil naik ke atas tebing. Nafasnya tak beraturan, tangannya sudah sangat merah, dan penuh luka di wajahnya.
Nafas gadis itu pun juga tak beraturan, dan keringat mulai membasahi bajunya.
Adel mengusap wajahnya yang sudah sangat pucat, kemudian mencoba untuk duduk dengan normal.
"Terima Kasih sudah menolongku. Jika kau tidak ada disini, mungkin aku akan dimakan oleh ombak tibawah sana," Adel tersenyum kecil.
"Ah iya, sama-sama. Ohya, kenapa kau bisa jatuh ke bawah sana? Atau kau sedang bunuh diri."
"Ceritanya panjang. Ohya, kita belum berkenalan, siapa namamu?"
"Namaku Sugar, karena tubuhku yang berisi dan aku orangnya manis," ia menunjukkan sisi imutnya di depan adel, dan berhasil membuat Adel tertawa keras.
"Hahaha, iya kau memang cantik dan manis, Sugar."
"Terima Kasih atas pujianmu, dan kau adalah orang pertama yang bilang seperti itu padaku."
"Ohya?" tanya Adel memastikan.
"Yah, I'm sure. Ohya, siapa namamu?"
"Namaku Adelaide Rosseau, tapi kau bisa memanggilku Adel. Ohya, kenapa kau tadi menangis?"
"Cerita panjang, Adel. Kau berhutang cerita padaku dan aku juga berhutang cerita padamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Aku bisa mengantarmu pulang, dimana rumahmu?"
"Em, aku tidak ingin pulang. Tapi, apa kau bisa membantuku?"
"Sure,"
****
Akhirnya mereka sampai di depan apartemen milik Sugar. Namun banyak sekali polisi yang berada di sekitar apartemen.
Adel pun sontak kaget ketika ia melihat fotonya yang sedang dibawa beberapa polisi. 'Pasti Key sedang mencariku. Gawat!' batinnya. Adel reflek menarik tangan Sugar dan membawanya bersembunyi.
"Ada apa Adel?"
"Shutt! Mereka mencariku, dan aku harus bersembunyi. Kau ingatkan tentang cerita ku tadi?"
"Ah iya maaf, aku hampir lupa."
Setelah polisi pergi, mereka pun masuk kembali ke dalam apartemen dengan langkah yang cepat.
"Kau akan aman di penthouse ini Adel. Aku pastikan bahwa semua pelayanku menjaga rahasia tentang keberadaanmu disini. Aku akan pergi membeli beberapa pakaian untukmu," ucap Sugar sembari melangkah ke arah pintu lift.
"Sugar!"
"Yah?"
"Terima kasih," ucap Adel sambil menitihkan airmata.
Sugar kembali menghampiri Adel, dan memeluknya erat.
"Kita sedang sama-sama terluka, tapi kau lebih terluka dariku. Dan aku akan berjanji untuk membantumu," ucapnya lagi sembari menghampus airmata Adel.
Flashback end
to be continue..