
Author POV
'Oh tidak!'
Pria berbadan besar dan tinggi, dengan seragam hitam, berada di belakang Key. Ia sudah bersiap-siap untuk menghajar Key.
"Awas Key! Dibelakangmu!" Teriak Cathrine melalui alat komunikasi canggihnya.
'Oh God! Aku mohon, tolong selamatkan Key."
Key menoleh ke belakang. Belum sempat pria itu memukulnya, dengan gerakan yang gesit, ia menghajar pria bertubuh lebih besar darinya itu. Adel mengelus dadanya, dan membuang nafasnya perlahan. Ia merasa lega sekarang, karena Key baik-baik saja.
"Aswin, apa kau sudah siap?" Aswin mengangguk siap, dan menarik slide pistolnya. Telunjuknya sudah siap menekan trigger. Cathrine juga melakukan hal yang sama.
Adel sendiri, menutup matanya dengan telapak tangannya. Ia tidak berani menyaksikan pertempuran ini.
"One..."
Telunjuk Cath dan Aswin bersamaan mulai menekan trigger.
"Two..."
"Now!"
Dengan kecepatan penuh, peluru itu sampai pada sasaran. Pria itu terjatuh sebelum ia sempat menembak Menteri Sosial.
'Yes'
Peluru itu tepat mengenai tangan dan paha pria itu. Adel berlompat kegirangan. Kini keringat dinginnya sudah berhenti mengalir. Mereka bertiga berpelukan. Tidak lupa, sebelum berpelukan Aswin dan Cathrine sudah melepaskan senjatanya.
Tak lama kemudian, Key kembali bergabung dengan mereka. Nafasnya tak beraturan, sepertinya ia banyak menghadapi rintangan sebelum akhirnya sampai di tempat mereka menunggunya.
"Maafkan aku guys. Aku ada sedikit pekerjaan tadi," ucapnya sambil menarik nafas perlahan.
"Polisi akan kesini sebentar lagi," imbuhnya.
Adel kembali khawatir, ketika ia melihat bibir Key yang sudah tidak mulus lagi. Bibirnya sedikit robek dan ada sedikit darah yang mengalir. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengambil sapu tangan dari dalam tasnya, lalu mengelap luka di bibir Key.
"Aswin, bagaimana kalau kita duluan saja. Daripada kita menjadi obat nyamuk disini." Cathrine tersenyum geli sambil mengedipkan matanya sebelah pada Key, sebelum ia dan Aswin melangkah pergi.
"Are you okay?" Tanya Adel khawatir. Kedua alisnya saling mendekat dan terlihat seperti tersambung.
"Aku lebih dari kata baik Adel." Key tersenyum simpul, namun sangat sayang sekali senyum itu dihiasi oleh goresan luka yang sudah berwarna biru lebam.
Air mata Adel jatuh begitu saja. Rasa perih itu kembali muncul kembali. Ia merasa bahwa ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Ia mencoba menjauh dari Key, tapi Key justru menyelamatkan dirinya terus. Key mengelus pipi mulus Adel, menghapus airmata Adel yang menurutnya tidak pantas untuk dipertontonkan.
"Mengapa kau menangis?"
Adel terus saja menangis tanpa menghiraukan pertanyaan Key. Ia hanya bisa menunduk dan merutuki dirinya sendiri. Ia sendiri masih terus berpikir bahwa dirinya adalah orang yang tidak tau diri dan tidak tau berterima kasih.
"Adel, tatap mataku!" Pintahnya.
Adel mengangkat pandangannya. Menatap manik mata Hazel milik Key yang selalu sukses membuatnya terpesona. Ia menjadi rindu dengan binar mata itu.
"Jangan menangis lagi. Aku mohon padamu."
Key mulai ikut terbawa suasana. Adel mengelus lembut luka di ujung bibir Key yang masih segar. Adel mencium sekilas luka itu.
"Aku minta maaf karena sudah banyak merepotkanmu." Adel memaksa dirinya untuk tersenyum lagi. Tapi airmatanya tidak bisa ia paksa untuk berhenti sekarang. Melihat wajah Key dari dekat, justru membuat airmatanya mengalir deras.
***
Tok...tok...tok...
Pandangan Adel teralih ke pintu kamar yang tertutup rapat tak terkunci. Adel menyuruhnya masuk, seolah ia tau siapa yang mengetuk pintu.
Insting Adel memang selalu benar. Key menghampiri Adel yang sedang duduk sendiri. Adel segera menyembunyikan kado kecil itu, namun sepertinya Key sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku Miss France?" Tanyanya sembari duduk di sebelah Adel.
Adel hanya menggelengkan kepalanya, dan masih berusaha menyembunyikan kado kecil tadi. Dengan tangan yang sudah lihai dan cepat, ia mengambil kado itu dari tangan Adel.
"Key! Kembalikan padaku!" Teriak Adel sambil berusaha menggapai tangan Key yang jauh dari jangkauannya.
"Apa ini?" Pertanyaan singkat Key sukses membuat Adel bisu sejenak.
"Lupakanlah! Berikan padaku, karena aku akan membuangnya." Jawab Adel malas.
Key terus menjauhkan kado kecil itu dari jangkauan Adel. "Kenapa membuangnya? Lebih baik kau berikan padaku saja?"
Adel berpikir sejenak, kemudian menjawabnya, "apa kau tidak malu memakai barang murah dan pasaran itu?"
Key mengerutkan keningnya sambil tersenyum simpul. "Apapun pemberianmu, pasti akan aku pakai. Ekhm, tapi jika kau memberikannya." Key pura-pura batuk.
"Berikan dulu padaku, nanti aku akan membukakannya untukmu," katanya sambil memanyunkan bibirnya.
Adel membuka tutup kotak kado kecil itu, kemudian mengambil isinya dan memperlihatkannya pada Key. Gelang berbahan dasar kulit sintetis berwarna coklat adalah isi dari kado itu. Key tersenyum simpul, lalu mengambil gelang itu dari tangan Adel.
Gelang itu mungkin sangat murah bagi Key, atau mungkin tidak pantas diberikan pada Key. Tapi bagi Adel, gelang itu adalah gelang paling berharga. Key menyukainya, tapi menurutnya Key hanya tidak ingin melukai hatinya.
"Ini sangat bagus. Tapi, sepertinya ada yang kurang." Key masih memandangi gelang itu.
"Ambil kembali gelang ini! Dan belikan lagi yang couple! Aku mau kita mempunyai barang couple." Key mengembalikan gelang itu ke tangan Adel.
Adel terlihat ragu, namun ia menunjukkan tangan kirinya pada Key. "Apa kau tidak menyadarinya dari tadi?" Key menggaruk kepalanya, padahal sama sekali tidak gatal. Ia menjadi malu sendiri karena tingkahnya.
"Kalau begitu, pakaikan gelang itu padaku," pintahnya sambil menaikkan dagunya sombong. Adel hanya menggelengkan kepalanya.
Key menggenggam lembut tangan Adel, sehingga gelang mereka juga saling bertemu.
'Meskipun gelang ini tadinya sangat ku benci dan rasanya ingin kubuang, tapi saat berada di pergelangan tanganmu, aku menjadi khawatir jika gelang itu hilang. Maafkan jika aku belum bisa memberikanmu yang lebih baik. Mungkin aku jatuh cinta padamu, tapi aku sadar bahwa Tuhan hanya mengirimmu padaku sebagai Guardian Angel saja, tidak lebih. Kau tahu dimana semua hal tentangmu saat ini? All in my head.'
Adel tersenyum mendengar sendiri kata batinnya. Ingin sekali ia mengatakan semua yang ia rasakan sekarang pada Key. Semakin ia menjauh dari Key, maka Key akan semakin dekat dengannya. Ia menghapus airmatanya yang baru keluar dari kelenjar airmatanya.
Key menoleh pada Adel yang masih menyandarkan kepala di bahunya.
"Why are you crying?"
"I'm Happy," jawabnya singkat dengan suara sedikit serak. Adel kembali duduk tegak menghadap Key.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya Key, yang disambut dengan wajah penasaran Adel.
"Apa kau mencintaiku?"
Kedua alisnya terangkat, dan ia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sedikit mendelik. Mulutnya sedikit mengaga, tangannya mulai berkeringat dan tubuhnya sedikit bergetar. Seketika tubuhnya mematung seperti patung lilin.
'Apa aku sedang bermimpi? Aku rasa ia," batinnya.
"A..a..aku," Adel mencoba menarik nafas karena bibirnya sedikit bergetar untuk berbicara.
to be continue...