
Author POV
"Jadi, apa kau sudah memaafkan ku sekarang?" tanya Key setelah ia selesai menceritakan semua rencananya.
"Siapa bilang aku sudah memaafkanmu hem?" Adel memasang wajah cemberutnya.
"Oke, jadi aku harus melakukan apa, agar kau tidak marah lagi padaku?" tanyanya sambil memegang jemari Adel. Namun Adel dengan sigap menepis tangannya, karena ia takut jika ada mata-mata Lirya yang melihat mereka.
"Jangan lupa Key, kita makan diluar hanya sebagai partner." Adel mengamati sekelilingnya.
"Jadi, apa aku boleh meminta sesuatu yang lain bila kita tidak makan di sini?" ucapnya sambil smirk.
Adel hanya memberikan tatapan tajam untuknya. Ia pun terkekeh lagi. Bagaimana mungkin Key masih dengan tenang bercanda di depan umum seperti saat ini.
"Tenanglah Adel, tidak akan ada yang bisa mendengar percakapan kita. Ruangan ini kedap suara, dan diluar sana banyak sekali bodyguard ku yang sedang menjaga kita," jelasnya cukup panjang.
"Baiklah. Jadi, kapan misi pertama akan dimulai?"
"Tonight."
"All right." Adel mengangguk setuju.
***
Adel segera bersiap-siap menjalankan misi pertama mereka, dengan dibantu oleh Sugar. Ia memakai jubah merah dan berdandan seperti Red Riding Hood.
Meskipun menurutnya, ia lebih terlihat lucu dan bukan terlihat menakutkan. Teringat akan kartun anak kecil dari rusia yang terkadang ia lihat di youtube.
Drtt drtt
Sugar pun membuka ponselnya yang bergetar, dan mendapati sebuah pesan dari Key.
"Ini untukmu, Adel." Sugar memberikan ponselnya pada Adel.
From : Key
Aku sudah hampir dekat dengan taman. Kalian bersiap-siaplah pergi ke taman sekarang. Pelan-pelan saja dan jangan sampai ada yang tahu keberadaan kalian.
"Key sudah membawa Lirya ke taman. Ayo!" ajaknya. Sugar mengangguk setuju.
Mereka pun segera turun dari mobil dan menuju ke lokasi yang sudah mereka rencakan sebelumnya.
Sedangan Key, ia baru saja sampai di depan gerbang taman. Setelah sampai, Ia pun segera menuntun Lirya menuju tempat yang sudah ia rencanakan tadi.
"Oh My God! I dont believe this! Its so sweet," ucapnya dengan senyum sumringah sambil memeluk Key.
Adel yang menyaksikan itu secara langsung dari balik pohon pun mengepalkan tangannya. Ia pun memberikan tatapan tajam pada Key, meskipun Key sendiri tidak melihatnya.
Key tersenyum licik, ia pun membalas pelukan dari Lirya. Dan tentu saja Adel terbakar cemburu karena melihat adegan .
'Awas saja kau Key! Aku akan membunuhmu nanti' batinnya.
Sugar yang melihat Adel sedang geram pun, hanya terkekeh pelan. Meskipun hanya akting, ia pun terbawa suasana ke perasaan sebenarnya.
"Ah, Lirya. Kau tunggu di sini sebentar, aku ada telpon sebentar." Lirya mengangguk mengerti.
Tak lama setelah Key pergi, mereka mulai menjalankan aksinya. Sugar mulai melempar beberapa batu ke kolam yang berhadapan langsung dengan Lirya.
"OMG! Apa itu?"
Lirya terkejut dan langsung beranjak dari kursinya ketika ia terkena cipratan air kolam. Sedangkan Sugar dan Adel hanya terkekeh pelan.
"Oh, ternyata hanya seekor katak," ucapnya lega ketika ia melihat seekor katak di pinggir kolam.
Ia pun kembali memperhatikan jamuan makan malamnya bersama. Sugar dan Adel terlihat geregetan karena reaksi Lirya yang tidak menunjukkan tanda ketakutan.
Setelah itu, Sugar melanjutkan inisiatif selanjutnya dengan langsung memutar suara hembusan angin di ponselnya. Sebenarnya itu tidak perlu dilakukannya, menurut Adel. Tapi, Sugar sengaja membuat lelucon awal untuk menakuti Lirya.
"Oh my! Suara apa itu? Sepertinya tidak ada tanda-tanda angin berhembus." Lirya mulai merasakan bulu kuduknya berdiri.
'Kenapa kau lama sekali, Key,' batinnya.
"Oh ayolah Lirya! Kau bukan tipe orang yang penakut," ucapnya srmbari menepuk-nepuk wajahnya.
Lagi-lagi mereka terkekeh melihat Lirya mulai menunjukkan reaksi ketakutan. Tak lama kemudian, Adel pun segera melangkah ke tempat Lirya. Dengan berbusana mirip dengan tokoh Si jubah merah, ia yakin Lirya pasti akan ketakutan.
Seperti yang dikatakan Key, Lirya adalah seseorang yang sangat membenci film horor.
Adel menepuk bahu Lirya. Seketika Lirya terlonjak kaget dari kursinya dan jatuh tersungkur ke pinggir kolam.
"Shit!" desisnya sambil memegang lututnya yang sakit.
Bersamaan dengan Lirya yang mengarah padanya, Adel membuka jubahnya. Reflek mulut Lirya terbuka lebar, dan matanya melotot.
"A ..a... a..Adel?" ucapnya terbata-bata.
"Hi Lirya! Long time no see." ucap Adel sembari memberikan senyum simpul.
"Tidak mungkin! Ini semua pasti hanya mimpi! Tidak... tidak! Kau sudah mati!" Lirya segera bangkit dan berlari secepat mungkin.
Key yang baru saja masuk ke jalan menuju ke tempat perjamuan makan malam mereka, segera di tarik oleh Lirya untuk kembali keluar.
"Kita pergi saja dari sini Key, aku mohon padamu!" ucapnya meyakinkan Key.
"Okay-okay, baiklah!" ucapnya dengan berpura-pura simpati.
"Tapi, mengapa begitu tiba-tiba?" tanya Key.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang sakit kepala dan membutuhkan sedikit istirahat," bohong Lirya.
Sedangkan di tepi kolam tadi, Sugar dan Adel sedang merayakan misi pertama mereka yang sudah berjalan dengan mulus.
"Bersulang!" ucap mereka bersama.
***
"Mr. Haynsworth?" tanya sekretaris Sugar pada Key yang baru saja tiba di depan mejanya.
"Yes I am," jawabnya singkat.
"Silahkan, Ms. Sugar dan Ms. Alexa sudah menunggu Anda di dalam ruangannya."
Key mengikuti langkah sekretaris itu, meskipun itu tidak penting baginya. Tapi ia harus melakukannya sebagai formalitas saja.
"Oh Key!" teriak Sugar, ketika Key masuk ke ruangannya.
Sedangkan Adel, duduk di sudut ruangan tanpa menghiraukan kedatangan Key sambil memasang wajah cemberut. Key terkekeh pelan melihat Adel, dan beranjak mendekati Adel.
"Owh, aku akan pergi dulu."
Sugar segera keluar dari ruangannya sendiri.
"Ekhem!"
Key berdehem, untuk menarik perhatian Adel. Tapi, Adel tak berkutik sedikitpun.
"Kenapa kau marah?"
"Apa yang tadi malam kau lakukan?"
Key mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti dengan ucapan Adel. Sudah jelas bahwa tadi malam ia dan Adel sedang mengerjai Lirya. Tapi, Adel malah bertanya lagi padanya.
"Bukankah kau sudah tau jawabannya?"
"Aku tau tentang hal itu. But, bagaimana dengan pelukan itu?"
Ia langsung tertawa mendengar pertanyaan Adel. Ia baru ingat bahwa semalam Lirya dan ia sedang berpelukan. Sedangkan Adel masih memasang wajah datarnya.
"Kalau kau mau, aku bisa memberikanmu lebih dari sekedar pelukan?" ucapnya menantang Adel.
"Jangan berpikiran kotor di pagi hari!" Adel memukul perut Key.
"Argh!"
Adel tersenyum mendengar jeritan Key, kemudian memeluk Key dengan erat.
"Percayalah bahwa aku tidak akan menyakitimu dan meninggalkanmu lagi, Adel. Karena aku sudah pasti hanya akan mencintaimu dan selamanya hanya milikmu," ucapnya kemudian mengecup kening Adel.
Aku bukan hanya sekedar malaikat penjaga, tapi aku bisa menjadi sebuah pena yang tanpa henti menuliskan kata-kata cinta dan menggambarkan isi hatiku untukmu.
Bila kau tahu, bahwa aku juga bisa menjadi seutas tali yang akan memberimu petunjuk ketika kau tersesat diantara keraguan akan cintaku.
To be continue....